NovelToon NovelToon
MAS KADES, I LOVE YOU

MAS KADES, I LOVE YOU

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Tamat
Popularitas:884.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Cerita ini hanyalah fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat, desa ataupun kota, itu hanyalah kebetulan Semata.

Amelia, putri seorang konglomerat, memilih mengikuti kata hatinya dengan menekuni pertanian, hal yang sangat ditentang sang ayah.

Penolakan Amelia terhadap perjodohan yang diatur ayahnya memicu kemarahan sang ayah hingga menantangnya untuk hidup mandiri tanpa embel-embel kekayaan keluarga.

Amelia menerima tantangan itu dan memilih meninggalkan gemerlap dunia mewahnya. Terlunta-lunta tanpa arah, Amelia akhirnya mencari perlindungan pada mantan pengasuhnya di sebuah desa.

Di tengah kesederhanaan desa, Amelia menemukan cinta pada seorang pemuda yang menjadi kepala desa. Namun, kebahagiaannya terancam karena keluarga sang kepala desa yang menganggapnya rendah karena mengira dirinya hanya anak seorang pembantu.

Bagaimanakah Amelia menyikapi semua itu?
Ataukah dia akhirnya melepas impian untuk bersama sang kekasih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Tawaran dari Raka

.

Siang yang panas, sang surya bersinar dengan gagahnya. Peluh membasahi kening Raka. Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 siang. Jarum jam seolah berputar lebih lambat dari biasanya. Akhirnya, tugas-tugasnya sebagai kepala desa hari ini selesai juga. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah berjam-jam duduk di depan meja.

Ia ingin segera pulang untuk beristirahat. Namun, sebelum itu ia ingin melihat Amelia. Ada satu perasaan yang tak dimengerti tiba-tiba menyeruak. Sebuah kerinduan yang begitu kuat. Sebuah keinginan untuk melihat senyum gadis itu. Seolah sudah bertahun tak bertemu, karena terakhir dia melihat gadis itu adalah saat ia mengantar Bu Sukma pulang dari sawah.

Baru saja Raka hendak menstater sepeda motornya, seorang gadis yang juga mengenakan seragam perangkat menghampiri. Dia adalah Safitri, putri juragan beras yang sudah menjadi perangkat desa sebagai Kaur Keuangan bahkan sebelum Raka menjadi kepala desa.

"Mas Raka, mau pulang ya?" sapa Safitri dengan nada dibuat semanis mungkin.

Raka menghela napas dalam hati. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Sejak ia menjabat sebagai kepala desa, Safitri semakin gencar mendekatinya.

"Iya, Fitri," jawab Raka singkat, berusaha untuk tidak terpancing emosi.

"Aku boleh numpang nggak Mas?" tanya Safitri dengan nada manja. "Tadi pagi aku diantar Bapak, tapi sekarang Bapak lagi ada urusan. Jadi nggak bisa jemput."

Raka menatap Safitri dengan tatapan datar. "Maaf Fitri, nggak bisa," jawab Raka dengan tegas. "Rumahmu kan arahnya berlawanan dengan rumahku. Lagipula, aku ada urusan lain."

"Tapi kan bisa diantar dulu Mas," bujuk Safitri. "Nggak jauh kok, cuma muter sedikit."

Raka menggelengkan kepalanya. Ia sudah muak dengan segala upaya Safitri untuk mendekatinya. Bukan hanya karena Safitri sendiri, tapi juga karena gadis itu adalah pilihan ibu tirinya. Apapun itu, jika berkaitan dengan Sundari, sudah pasti akan mendapat nilai minus di mata Raka.

"Maaf Fitri, aku nggak bisa," jawab Raka sekali lagi dengan nada yang lebih tegas. "Aku buru-buru."

Tanpa menunggu jawaban Safitri, Raka langsung menstater motornya dan meninggalkan Safitri yang tampak kesal dan kecewa.

Raka tahu, Safitri pasti akan mengadu kepada ibu tirinya. Tapi ia tidak peduli. Ia tidak akan membiarkan Sundari mengatur hidupnya, apalagi menjodohkannya dengan wanita yang tidak masuk dalam kriterianya.

Mengabaikan tatapan kesal Safitri, Raka melajukan motornya. Seharusnya, ia mengambil jalan belok kiri untuk sampai ke rumahnya. Tapi, ia malah berbelok ke arah yang berlawanan.

Terkadang perasaan manusia memang di luar nalar. Padahal dari kantor desa, arah rumah Bu Sukma juga berlawanan dengan arah rumah Raka. Dan tadi dia memberikan alasan seperti itu pada Safitri. Tidak mau memutar, membuang waktu, dan membuang tenaga. Tapi, demi bisa melihat Amelia ia rela melakukan itu semua.

Ia ingin melihat Amelia.

Ia ingin memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

Ia ingin... entahlah, ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan. Yang jelas, ia merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya selama beberapa hari tidak bertemu dengan Amelia. Kesibukannya memang benar-benar padat beberapa hari terakhir ini.

Ia memacu motornya dengan kecepatan sedang. Sesampainya di dekat rumah Bu Sukma, Raka memperlambat laju motornya. Ia melirik ke arah beranda rumah Bu Sukma. Hatinya berdebar kencang.

Dan benar saja...

Ia melihat Amelia sedang duduk di beranda, memegang ponsel. Gadis itu tampak serius dengan kening sedikit berkerut. Raka tersenyum. Ia tidak salah datang.

Ia memarkirkan motornya di pinggir jalan dan berjalan masuk ke beranda rumah Bu Sukma. Jantungnya berdegup semakin kencang.

"Assalamualaikum, Mbak Amel," sapa Raka, dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

Amelia terkejut dan mengangkat wajahnya dari buku. Ia menatap Raka dengan tatapan bingung. Pemuda tampan itu masih mengenakan seragamnya. Apakah baru pulang dari kantor desa?

"Mas Raka?" sapa Amelia balik. “Ada apa, Mas?"

Raka tersenyum. "Nggak ada apa-apa kok," jawab Raka. "Cuma lewat aja, terus lihat Mbak Amel lagi duduk di sini. Jadi, aku mampir deh."

"Oh..." sahut Amelia singkat. "Hanya lewat?" tanya Amelia, dengan nada menyelidik.

Ada sesuatu yang ganjil. Jelas-jelas arah rumah Raka dari kantor desa tidak melewati jalanan ini.

Raka terdiam sejenak. Ia bingung harus mengatakan apa. Tidak mungkin, kan, mengatakan bahwa ia sengaja memutar jalan hanya untuk melihatnya. Itu akan terdengar konyol.

"Iya, cuma lewat," jawab Raka, berusaha meyakinkan. "Tadi habis dari rumah teman, terus pulangnya lewat sini."

Amelia menatap Raka dengan tatapan tidak percaya. Ia tahu, Raka berbohong. Dan sebenarnya ia juga tahu untuk apa.

Suasana menjadi canggung. Raka dan Amelia sama-sama terdiam. Mereka berdua tidak tahu harus mengatakan apa.

Raka mengedarkan pandangannya ke sekitar beranda, mencoba mencari topik pembicaraan. Ia terkejut melihat adanya terpal berisi semaian bibit padi di halaman rumah Bu Sukma. Sejak kapan? Perasaan terakhir kali ia datang saat mengantar Bu Sukma, semaian itu belum ada.

"Itu apa Mbak?" tanya Raka, menunjuk ke arah terpal. Terkadang jatuh cinta membuat orang menjadi bodoh. Padahal dia sudah tahu persis bahwa itu adalah bibit padi, tapi masih pura-pura bertanya.

Amelia mengikuti arah telunjuk Raka. "Oh, itu persemaian bibit padi," jawab Amelia.

“Kenapa bikin persemaian di halaman? Kenapa tidak di sawah?" Itu yang Raka tidak mengerti.

"Sebelumnya sudah bikin di sawahnya pak Bayan. Tapi sudah habis diserang tikus. Jadi terpaksa bikin lagi,” jawab Amelia.

"Terus, siapa yang bikin persemaian itu?" tanya Raka benar-benar penasaran. Walaupun tampak baru mulai menghijau, bibit itu terlihat begitu subur.

"Ya aku, Mas," jawab Amelia.

Raka terkejut mendengar jawaban Amelia. "Mbak Amel sendiri yang bikin?" tanya Raka, dengan nada tak percaya.

Amelia mengangguk. "Iya," jawabnya.

Raka menghampiri terpal itu dan berjongkok di dekat terpal. Ia mengamati semaian bibit padi itu dengan tatapan takjub.

"Kok bisa Mbak Amel bikin persemaian kayak gini?" tanya Raka, dengan nada kagum. "aku sudah pernah sih dengar metode seperti ini. Tapi belum pernah mempraktekkannya."

Amelia tersenyum mendengar pujian Raka. "Itu cuma ide sederhana aja kok Mas. Lihat di youtube pun pasti ada.”

"Tapi ini keren banget Mbak," puji Raka. "Mbak Amel memang pintar."

Amelia menjelaskan secara singkat tentang cara membuat persemaian bibit padi menggunakan terpal. Mendengar semua penjelasan Amelia, dan melihat sendiri buktinya, juga ketika dia mengingat hasil panen Bu Sukma kemarin, tiba-tiba saja Raka terpikir satu hal.

"Mbak Amel," ucap Raka, dengan nada serius. "Aku mau nawarin sesuatu sama Mbak Amel."

Amelia menatap Raka dengan tatapan bingung. "Nawarin apa Mas?" tanya Amelia.

"Aku mau ngajak Mbak Amel gabung jadi perangkat desa," jawab Raka.

Amelia terkejut mendengar tawaran Raka. Ia tidak menyangka Raka akan menawarinya posisi sepenting itu.

"Jadi perangkat desa?" tanya Amelia, dengan nada tak percaya.

Raka mengangguk. "Iya," jawab Raka. "Aku butuh orang seperti Mbak Amel yang punya pengetahuan dan keterampilan di bidang pertanian untuk memberikan penyuluhan lapangan kepada warga desa. Mbak Amel mau kan?"

Amelia terdiam sejenak. Ia menimbang-nimbang tawaran Raka. Ini adalah sesuatu yang ia inginkan sejak dulu. Cita-cita yang sangat ditentang keras oleh papanya, Alexander Bramasta. Sang papa menginginkan dirinya untuk meneruskan bisnis keluarga. Namun hatinya selalu bergejolak ingin mengabdi pada masyarakat melalui ilmu pertanian.

"Mas Raka serius?" tanya Amelia, masih tak percaya.

Raka mengangguk mantap. "Aku serius, Mbak Amel," jawab Raka. "Aku yakin, Mbak Amel bisa memberikan kontribusi besar bagi desa ini."

Amelia senang mendengar keyakinan Raka padanya. Ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh ia sia-siakan. Namun, ada satu hal yang membuatnya ragu.

"Tapi... apa nantinya tidak akan jadi masalah Mas?" tanya Amelia, dengan nada ragu. "Aku kan warga baru di desa ini. Sedangkan untuk menjadi salah satu perangkat harus melewati seleksi dan persetujuan dari warga."

"Aku yang akan mengatur semuanya" potong Raka cepat. "Aku melihat Mbak Amel punya potensi yang besar. Aku percaya sama Mbak Amel."

Raka menangkupkan dua telapak tangannya di depan dada. "Aku mohon, Mbak Amel terima tawaran aku," ucap Raka, dengan tatapan memohon.

Amelia menatap Raka dengan hati bimbang. Namun, sedetik kemudian dia mengangguk mantap.

"Baiklah Mas," jawab Amelia akhirnya, dengan senyum yang merekah. "aku terima tawaran Mas Raka."

1
Tyaga
harusnyaaa mikirr, intropeksi
sweetssa
Aku membuat sebuah karya menarik di NovelToon dengan judul “Mas Adimas” mohon dukungannya! ❤️
Tyaga
wkwkwk sokorr 🤣🤣🤣🤦‍♂️
aneh2 ajaa mau ke sawah kok pakai sepatu hak tinggi 🤣
Tyaga
wkwwk sokor
Tyaga
udah tau Raka ga nrima Sundari knpa tetap mau dinikahin
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
busyeett kalau sudah baca tentang klenik² jadi gimana yaa... ngeri thor karna pernah ngalamin, Naudzubillahi Mindzalik.
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: salam kenal kembali dari Ngawi Jawa Timur
total 5 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
di daerah ku masih ada thor termasuk aku dulu pas hamil anak pertama juga gitu ngadain 7 bulanannya cuma pendampingnya di wakilkan sama keluarga dan trauma juga karna ada sodara yg nyiramin airnya ga kira² sampe aku mengap² plus saking banyaknya orang yang hadir nunggu saweran sama uang yg di bambu kurungnya itu sampe rebutan ora karuan.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
weehhh akhirnyaa... akhirnyaaa ketangkep juga para silumannya.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Amelia juga bandel sih ngikut ke pasar segala, sudah tau kalau pasar itu sudah pasti ramai harusnya pikirkan baik².🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
padahal Amelia tahu sejak dia dekat dengan Raka trs ada yg ngincar keselamatan dia dan papahnya juga sudah tau kalau anaknya dalam bahaya bahkan tau pelakunya tp kenapa ga di beresin daribawal di penjarakan dengan bukti bukan malah memberi peluang pelaku bertindak lebih lagi pak Alex apa lagibRaka ga peka.🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
laahh bukannya ada yang ngawasin Amel orang suruhan papahnya kok bisa kecolongan.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Laaahh ngejek diri sendiri anda Sundari.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kalau mau identitas mu di rahasiakan boleh saja Mel tapi harus di rencanain mateng² tanpa harus merendahkan harga diri ortumu juga apa lagi kamu sudah tau lingkungan kampung itu bagai mana nyinyirnya... dari cara kamu manggi papah mamah saja sudah ngambang buat mereka dan jd cibiran mereka jd menurutku percuma.🤭🫣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: Aaaaa 🤣🤣
total 5 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
aneh Amelia kayaknya lebih suka ortunya di cibir dan di rendahkan orang lain dari pada di hargai, kalau cara berpikirnya trs seperti itu sama saja kamu ga menghormati ortu mu Mel justru menginjak² harga diri mereka sebagai orang tua bukan sebagai orang kaya.. hargai lah ortu mu kasihan mereka harus di permalukan karna permintaan anaknya yg justru ga mencerminkan hormatnya seorang anak....
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
nah mending jujur lagian ngapain di sembunyiin Mel sudah ga ada alasan lagi buat kamu sembunyiin status kamu karna kamu sama papahmu saja sudah baikan.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Amel sudah mau nikah tapi masih rahasiain keluarganya padahal awal hubungan itu baik ya jujur lebih baik karna keterbukaan itu penting.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
harusnya Amel menghargai ortunya juga, karna mereka yg seharusnya yg di utama kan Amel jangan egois trs, boleh saja ngadain pesta di kampung tapi selanjutnya ngadain pesta lagi di kota untuk mewujudkan keinginan ortu karna kamu satu²nya anak mereka jd jangan kesannya hanya keinginan kamu trs yg harus di utamakan sedari awal.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
penjaga keamanan kamu maksudnya Amel mereka orang kiriman papahmu.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
tenang Raka kalau kamu masih khawatir saat dia pulang kamu bisa nyusul minta alamat sama bu Sukma.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
betul, semarah apa pun orang tua pasti ada luluhnya juga tapi aku juga paham sih dengan ketakutan Amel karna pernah ngalamin juga di posisi nya Amel tp ketakutan itu ga seburuk yg di pikirkan ternyata... cuma karna rasa bersalah Amel saja.🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!