Dituduh Cinta karena kesalahan. Rama membuktikan kalau cintanya bukan kesalahan, murni rasa dari mata turun ke hati. Usaha mendapatkan cintanya seolah didukung oleh jagat raya meski berawal dari kesalahpahaman.
“Nggak masalah nikah karena digrebek, yang penting sah.”
“Siapa kamu, berani mencintai seorang Bimantara.”
“Di dunia ini, Rama jodohnya Gita.”
Kisah cinta Rama Purwangga dan Gita Putri Bimantara, jadilah saksi seberapa darurat cinta mereka.
Spin off Bosku Perawan Tua dan Diam-diam Cinta
=== Mohon dengan sangat agar tidak baca dengan melompat bab dan ikuti sampai akhir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Gagal Lagi
BAb 31
Gita lebih tenang ketika dijelaskan kalau operasi yang dilakukan bukan tindakan beresiko. Hanya menghentikan pendarahan dan menutup luka. Juga tidak ada patah tulang.
“Minum dulu” titah Mira pada menantunya. Semakin yakin kalau Gita memang begitu mencintai Rama, terlihat dari sikap gadis itu. “Udah, jangan nangis terus. Kamu ada asma, jangan sampai kumat lagi ya.” Bahkan ibu mengusap punggung Gita.
Pantas Rama selalu bilang Gita itu manja dan menggemaskan, Mira mengakui itu. Dengan penampilannya seperti wanita karir mengenakan setelan kerja, tapi rambut dikuncir ekor kuda.
“Emang abang naik motor bu? Kemarin berangkat pake mobil deh.”
“Semalam mampir ke rumah tuker kendaraan. Dari dulu Rama lebih suka naik motor. Kalau jarak dekat dia pake yang matic, agak jauh pake yang besar atau yang sport. Emang kebiasaannya begitu dari masih SMA. Aneh aja, seharusnya jam segitu jalanan lagi sibuk kok bisa dia kecelakaan. Kayak anak baru belajar motor.”
Ada pria dengan jas dokter datang dan ikut menunggu lalu bergabung bersama Arya, Gilang serta Beni. Sapri sudah kembali ke area kerjanya begitu juga dengan Lisa.
“Bukan kecelakaan biasa?” tanya Arya.
Dokter dengan name tag Rendi itu mengangguk serta menyebutkan nopol yang tadi diucapkan Rama.
“Saya nggak hafal itu nopol motor Rama atau bukan.”
“Bukan,” jawab Beni yakin.
“Biar saya cari tahu, “ sahut Arya. “Di mana lokasi kecelakaannya?”
Rendi menjelaskan di mana tim ambulance menjemput Rama. Arya langsung menghubungi Doni – asistennya, bicara agak menjauh dengan perintah yang begitu jelas.
“Hm. Itu lokasi aktif, harusnya banyak cctv. Ada janggal dengan kecelakaan ini,” ujar Arya lagi.
“Mas Arya nggak ada musuh ‘kan? Atau saingan Mas Rama? Kalau musuh di Bimantara properti nggak mungkin caranya begini.”
“Kamu pikirin itu dan laporkan segera,” titah Arya lagi lalu mengakhiri panggilan.
Gilang diminta Arya kembali ke kantor, sudah ada dirinya juga Pak Iwan serta supir pribadinya yang menemani Gita di SM. Tidak lama tindakan pun selesai, dokter yang menangani menghampiri Mira dan Gita. Arya dan Beni pun ikut menghampiri.
“Operasinya lancar, pendar4han di kakinya sudah ditangani,” jelas Asoka.
Mira menghela lega, Gita masih terlihat khawatir.
“Saya boleh bertemu abang?”
Asoka tersenyum. “Pasien masih observasi, dalam pengaruh obat. Kalau sudah aman kita antar ke kamar rawat. Tindakan agak tertunda karena Rama sempat berontak.”
“Hah, maksudnya gimana Dok?” Beni penasaran juga.
“Dia sadar pas persiapan operasi, maksa mau hubungi ibu dan istrinya. Tim agak panik juga, biasa dia yang buat pasien tenang giliran jadi pasien malah bikin heboh.”
“Bener-bener,” gumam Beni sambil berdecak.
“Tidak ada patah tulang, Rama pasti cepat pulih. Saya akan memantau langsung,” seru Asoka sebelum pamit
Arya kembali lega. Semakin bangga dengan menantunya itu. selama ia menunggu, banyak nakes yang datang menanyakan kondisi Rama. Beni yang menyambut dan menjelaskan kondisi menantunya.
Pintu ruang Ok sudah dua kali terbuka dan pasien keluar untuk dipindah ke kamar, tapi bukan Rama. Lisa datang bersama nakes lainnya mendorong bed dan Beni ikut membantunya.
“Tante, Rama sudah mau dipindah ke kamar,” ujar Lisa. “Ini aku mau operan.”
Tidak lama pintu ruang area Ok terbuka bed didorong keluar dengan Lisa memegang map rekam medik. Asoka, seorang perawat lainnya mendorong menuju kamar rawat inap. Beni pun ikut menarik bed itu. Gita dirangkul Ibu mengekor rombongan itu begitu pula dengan Arya.
“Heran, dari kemarin senangnya bikin orang sport jantung,” cetus Beni lirih.
Asoka terkekeh. “Nanti sadar heboh lagi dia. Shift berapa bang?”
“Dua, bentar lagi gue pamit dah. Yang penting dia pindah ke kamar dulu.”
“Tadi papi telpon, dia tanyain Rama. Info Rama kecelakaan udah rame di grup SM,” jelas Lisa.
Lisa menjelaskan info standar terkait pasien. “Nanti tekan tombol ini ya tante, kalau butuh sesuatu atau Rama udah sadar.”
“Iya, Sa.” Ibu sempat mengusap perut Lisa. “Belum cuti?”
Lisa menggeleng sambil tersenyum. Gita jangan ditanya, sudah duduk di samping ranjang pasien, sudah tidak ingat kiri dan kanan. Blazer dan tasnya saja sempat tertinggal dan dibawa oleh Arya.
Beni menyerahkan ponsel Rama pada Mira. “KAlau banyak yang nelpon atau getar terus, abaikan aja bu. Rame yang tanya kondisi dia.”
“Iya, makasih ya Nak Beni, dokter Oka,” ujar Mira.
***
Gita sempat berpindah ke sofa bergantian dengan Ibu. Arya masih ada di sekitar rumah sakit, mengurus sesuatu. Di luar kamar ada Pak Iwan ikut menunggu, khawatir majikannya butuh sesuatu.
Mira menghubungi orang di rumah agar mengantarkan apa yang harus dibawa ke rumah sakit. Gita menguap sambil mengusap pelan punggung tangan rama yang terbebas dari infus.
“Eh,” pekik Gita merasakan jemari Rama bergerak.
“Kenapa?”
“Bu, jarinya abang gerak. Dia sudah sadar kayaknya.”
Mira gegas mendekat. Benar saja, tangan Rama kembali bergerak termasuk kepalanya yang menoleh dan mengerjap pelan.
“Abang,” panggil Gita langsung berdiri dan terharu mendapati suaminya sudah sadar..
Tangan Rama terulur dan digenggam oleh Mira. “Ada yang sakit?”
Rama menggeleng, pandangannya semakin jelas bergantian menatap ibunya juga Gita.
“Aku panggil dokter dulu.” gegas Gita menekan tombol darurat.
“Bu … Gita.”
“iya, kami di sini. Kamu tenang dulu ya,”
Tidak lama dokter jaga dan Lisa memasuki kamar dan langsung memeriksa kondisi Rama.
“Semua normal ya, tapi pasien belum boleh turun. Kalau mau ke toilet bisa panggil perawat nanti dibantu.”
“Suami saya nggak hilang ingatan ‘kan dok?” tanya Gita dan ibu mengu-lum senyum.
“Oh, tidak. Tinggal pemulihan saja.”
“Tenang aja Gita, dia nggak lupa sama cintanya,” ujar Lisa menggoda Gita membuat gadis itu juga ibu tersenyum.
“Bu,” panggil Rama saat dokter dan Lisa sudah keluar. “Aku masih ganteng ‘kan?”
Ibu hanya menggeleng saja. “KAlau masih konyol, berarti kamu baik-baik aja. Git, ibu tinggal ke kantin ya.”
“Mau aku temani bu?”
“Jangan sayang, kamu di sini aja," pinta Rama lirih.
“Iya kamu di sini aja, bayi kamu nanti rewel,” ejek Ibu lalu keluar dari kamar.
“Abang, aku khawatir banget tau.” Gita cemberut sambil menggenggam tangan Rama yang bebas dari jarum infus.
“Maaf, ya Hah, jadi lama lagi deh.”
“Apanya?” tanya Gita heran. “Sakitnya lama?”
“Unboxing kamu. Kondisi aku begini mana bisa enak-enak, meski pake gaya standar.”
“Abang!!!”
\=\=\=\=\=\=
Siap-siap Arlan berurusan sama Arya 🙄🤭
Asoka mulut nya bener2 ketularan Rama nih
jangan sampe calon uget uget lagi ini