Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang
Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.
Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Kelompok Aliran Hitam
Li Xuang terdiam sejenak setelah tawa kecilnya mereda. Ia menatap Gao Rui lebih lama kali ini, bukan sebagai patriak yang sedang menilai murid berbakat, melainkan sebagai seseorang yang memahami betul kerasnya dunia di luar tembok sekte.
“Rui’er,” ujarnya pelan, “ada satu hal lagi yang harus kau pahami.”
Gao Rui mengangkat pandangan, sikapnya tetap hormat dan tenang.
“Kau harus berhati-hati mulai sekarang,” lanjut Li Xuang. “Bakatmu yang luar biasa di usia semuda ini… bukan hanya berkah.”
Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata-katanya dengan saksama.
“Itu juga ancaman.”
Xu Qung tidak menyela. Ia hanya menghela napas perlahan, seakan telah menduga arah pembicaraan ini.
“Dalam dunia persilatan,” kata Li Xuang, “selama kau belum menonjol, kau hanyalah satu dari sekian banyak. Namun begitu kau berdiri terlalu tinggi… kau akan terlihat oleh semua pihak.”
Tatapan Li Xuang menjadi lebih dalam.
“Kelompok aliran hitam… mereka tidak buta. Mereka hanya menunggu waktu. Begitu mereka mengetahui bahwa di pihak aliran putih muncul bakat yang mampu mengguncang keseimbangan di masa depan, mereka pasti akan bergerak.”
Gao Rui tidak menunjukkan keterkejutan. Ia hanya mendengarkan dengan seksama.
“Serangan mereka tidak selalu terang-terangan,” lanjut Li Xuang. “Kadang berupa pembunuhan tersembunyi. Kadang berupa jebakan. Kadang… melalui orang lain.”
Xu Qung akhirnya angkat bicara, suaranya rendah.
“Patriak sudah mengatur perlindungan dasar. Setidaknya di sekte ini.”
Li Xuang mengangguk.
“Ya. Namun tidak ada perlindungan yang mutlak. Karena itu, Rui’er, kau harus belajar lebih berhati-hati dalam setiap langkah. Jangan mudah percaya. Jangan mudah menunjukkan kartu asmu.”
Ia menatap Gao Rui lurus.
“Terutama… di luar wilayah sekte.”
Gao Rui berdiri dan menangkupkan tangan.
“Murid mengerti.”
Li Xuang mengangguk, namun ekspresinya tidak sepenuhnya mereda. Ia lalu menghela napas pelan.
“Ada satu hal lagi,” katanya, kali ini dengan nada yang sedikit lebih berat. “Dan untuk ini… aku harus meminta maaf kepadamu.”
Gao Rui sedikit terkejut, namun tetap menunduk hormat.
“Patriak terlalu berlebihan.”
Li Xuang menggeleng pelan.
“Tidak. Permintaan maaf ini tulus.”
Ia menatap Gao Rui, lalu Xu Qung, sebelum kembali berbicara.
“Kau mungkin sudah menyadari,” katanya, “bahwa berita tentang usia aslimu dan kemampuanmu… kini telah menyebar.”
Gao Rui mengangguk pelan. Ia memang telah menduganya sejak babak final kompetisi.
“Sejujurnya,” lanjut Li Xuang, “kami tidak berniat menyebarkannya secepat ini. Namun setelah babak final kompetisi beladiri murid sekte, beberapa pihak mulai mencium kejanggalan.”
Ia mengetuk meja perlahan.
“Rumor tentang kekuatanmu. Tentang gurumu. Tentang teknik yang kau gunakan. Semuanya bocor.”
Xu Qung mengerutkan kening.
“Kami sudah mencoba menahannya,” katanya singkat.
Li Xuang mengangguk.
“Namun kami tidak kuasa. Terlalu banyak mata yang melihat. Terlalu banyak telinga yang mendengar.”
Ia menatap Gao Rui dengan jujur.
“Cepat atau lambat, rumor itu akan menyebar luas. Bahkan jika kami menyangkalnya, kecurigaan justru akan semakin besar.”
Gao Rui memahami arah keputusan itu.
“Oleh karena itu,” lanjut Li Xuang, “pihak sekte akhirnya memutuskan untuk menyebarkan kebenarannya sendiri. Usia aslimu. Statusmu. Pengakuan resmi dari sekte.”
Ia menghela napas.
“Dengan begitu, setidaknya narasi berada di tangan kita. Kita tidak membiarkan pihak luar membentuk ceritanya sendiri.”
Gao Rui terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Murid tidak mempersoalkan hal itu, Patriak.”
Li Xuang sedikit terkejut.
“Oh?”
Gao Rui mengangguk mantap.
“Sejak melangkah ke arena, murid sudah tahu… jalan ini tidak bisa lagi disembunyikan. Jika memang harus terlihat, maka lebih baik terlihat dengan berdiri tegak.”
Xu Qung menatap Gao Rui, sorot matanya semakin dalam.
Li Xuang tertawa kecil, kali ini dengan nada lega.
“Bagus. Sikapmu memang tidak mengecewakan.”
Ia lalu melanjutkan dengan nada lebih serius.
“Ada satu tujuan lain dari keputusan ini. Dengan kebenaran yang tersebar, kami berharap sekte-sekte aliran putih lain akan ikut memperhatikanmu.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
“Jika mereka sadar bahwa masa depan aliran putih mungkin bertumpu pada generasi sepertimu, maka mereka akan ikut membantu. Setidaknya… tidak tinggal diam jika sesuatu terjadi padamu.”
Gao Rui mengangguk perlahan.
“Murid mengerti.”
Suasana ruangan perlahan menghangat kembali. Ketegangan yang sempat mengendap mulai mencair. Percakapan pun beralih ke hal-hal yang lebih ringan, tentang latihan, tentang perjalanan dua bulan ke depan, bahkan tentang hal-hal kecil di lingkungan sekte.
Tak lama kemudian, para pelayan kembali masuk, membawa hidangan makan siang sederhana namun berkelas. Ketiganya makan bersama tanpa jarak berlebihan. Li Xuang tidak lagi berbicara sebagai patriak semata, melainkan sebagai seorang senior yang sedang menasihati juniornya. Xu Qung sesekali menimpali dengan candaan ringan, membuat suasana tidak terlalu kaku.
Waktu berlalu tanpa terasa. Setelah makan selesai, Gao Rui berdiri dan menangkupkan tangan dengan hormat.
“Patriak, Tetua Agung. Murid pamit undur diri.”
Li Xuang mengangguk.
“Pergilah. Gunakan waktumu dengan baik. Dua bulan akan berlalu lebih cepat dari yang kau kira.”
Xu Qung berdiri dan menepuk bahu Gao Rui pelan.
“Hati-hati.”
Gao Rui membalas dengan anggukan mantap, lalu melangkah keluar dari kediaman patriak. Gerbang besar itu kembali tertutup di belakangnya.
Saat ia berjalan kembali menuju kediamannya sendiri, langkahnya tetap tenang. Namun di dalam dadanya, ia tahu mulai hari ini, dunia persilatan tidak lagi memandangnya sebagai murid biasa. Ia telah masuk ke dalam pusaran besar. Jalan di depannya… tidak akan pernah sederhana lagi.
...*******...
Gao Rui berjalan menyusuri jalur batu menuju kediamannya sendiri. Lingkungan sekte tampak seperti biasa. Murid lalu-lalang, beberapa tetua berbincang di kejauhan, angin pegunungan berembus membawa aroma dedaunan. Namun perasaannya sudah tidak lagi sama. Setiap pandangan sekilas yang tertuju padanya, setiap bisikan yang tertangkap samar, kini terasa memiliki makna lain.
Sesampainya di depan rumah kecilnya, Gao Rui mendorong pintu kayu itu perlahan. Pintu tertutup kembali di belakangnya dengan bunyi pelan. Tanpa menyalakan lentera, ia langsung melangkah ke dalam kamar.
Ruangan itu sederhana. Sebuah ranjang kayu, meja rendah, rak kecil berisi beberapa gulungan teknik dan botol pil. Tempat yang selama ini menjadi ruang paling tenang baginya.
Gao Rui melepas jubah luarnya, lalu merebahkan diri di atas ranjang. Kedua tangannya terlipat di belakang kepala, tatapannya tertuju ke langit-langit kamar yang polos.
Pikirannya mulai berputar. Dua bulan lagi… kompetisi beladiri generasi muda akan digelar di Sekte Pedang Langit.
Nama itu kembali terngiang. Sekte terkuat aliran putih di Kekaisaran Zhou. Tempat berkumpulnya bakat-bakat terbaik dari berbagai wilayah. Panggung yang akan menentukan reputasi, bukan hanya bagi murid, tapi juga bagi sekte di belakangnya. Ia menghela napas pelan.
Rencananya, satu bulan lagi ia baru akan berangkat ke sana bersama rombongan sekte. Artinya… masih ada satu bulan penuh yang bisa ia gunakan untuk berlatih di dalam Sekte Bukit Bintang. Satu bulan. Waktu yang singkat, namun juga krusial.
Gao Rui memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. Dalam benaknya, satu sosok terlintas, gurunya. Ia ingat dengan jelas kata-kata yang diucapkan gurunya sebelum pergi.
“Selama aku tidak di sekte, temui Tetua Peng Bei. Minta dia mengawasi latihanmu.”
Nada suara itu tegas, tanpa ruang untuk penolakan. Namun semakin ia memikirkannya, semakin muncul kejanggalan. Selama ini, Gao Rui tidak pernah melihat gurunya berbincang dengan Tetua Peng Bei mengenai hal tersebut. Tidak ada pertemuan terbuka. Tidak ada pembicaraan yang ia dengar secara kebetulan. Bahkan, Tetua Peng Bei sendiri tidak pernah menunjukkan tanda-tanda telah menerima permintaan khusus apa pun.
“Itu aneh…” gumam Gao Rui pelan.
Gurunya bukan orang yang ceroboh. Jika ia berkata demikian, seharusnya sudah ada pengaturan sebelumnya. Kecuali…
Matanya sedikit menyipit. Kecuali gurunya memang sengaja tidak melakukannya secara terang-terangan. Atau… mungkin Tetua Peng Bei sudah mengetahui segalanya, hanya saja belum bertindak.
Berbagai kemungkinan melintas di benaknya. Masing-masing membawa implikasi berbeda terhadap cara ia harus mempersiapkan diri selama sebulan ke depan.
Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Apa pun alasannya, satu hal jelas. Ia tidak bisa hanya menunggu. Saat pikiran itu masih berputar, tiba-tiba…
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar. Tidak keras, namun jelas. Teratur. Seperti seseorang yang tahu persis kapan harus mengetuk.
Gao Rui membuka mata sepenuhnya. Tatapannya menjadi tajam, kewaspadaan langsung terangkat.
“Siapa?”