Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prosesnya Tidak Penting
Estevan sama sekali tidak menduga jawaban Beatrice akan sejujur itu. Saat gadis itu datang ke gazebo tadi malam dan jelas-jelas merayunya, dia tahu persis niatnya. Tapi tetap saja, dia membiarkan dirinya terbawa arus.
“Bukankah aku terkenal kejam?” tanyanya pelan, seolah ingin menguji. “Tidakkah kamu takut padaku?”
Beatrice menoleh, mata biru langitnya sama sekali tidak gentar. “Apakah Yang Mulia akan membunuh saya di masa depan kalau saya melakukan sesuatu yang keterlaluan?”
“Tidak,” jawab Estevan jujur. “Paling buruk aku akan menghukummu.”
Kuda yang keduanya tunggangi akhirnya berhenti di tepian sungai, tempat rumput hijau dan bunga liar tumbuh subur di musim semi. Keduanya turun dari punggung kuda.
“Perburuan musim semi di wilayah Northern akan diadakan dalam waktu dekat,” ujar Estevan sambil melepaskan sarung tangannya. “Kamu bisa datang bersamaku sebagai pendamping.”
“Benarkah?” Mata Beatrice langsung berbinar.
“Tentu. Bukankah kamu bilang ingin berburu?” Ia tersenyum tipis. “Aku akan mengajakmu memburu hewan apa pun yang kamu mau.”
“Kalau begitu … saya akan menantikannya, Yang Mulia.”
Estevan mendengus kecil. Nada formal itu membuatnya tidak nyaman. “Jangan terlalu formal denganku. Panggil saja aku Evan.”
Beatrice refleks menutup mulutnya, menahan tawa kecil yang menggelitik dadanya. “Sungguh? Apakah ini tidak apa-apa?”
“Kenapa tidak? Kamu tunanganku. Dan kamu yang datang lebih dulu kepadaku, ingat?”
Beatrice jelas senang hubungan mereka menjadi lebih dekat. “Kalau begitu, kamu juga bisa memanggilku Bee.”
Tanpa malu, ia memeluk pinggang Estevan dan tangannya yang nakal menyentuh otot perut kencang pria itu.
Estevan sedikit lengah saat melihat apa yang dilakukan Beatrice. Di tengah keheningan hutan, gadis cantik di pelukannya tampak terlalu sayang untuk diabaikan. Nalurinya sebagai pria tak mungkin diam begitu saja.
Tangan besar itu akhirnya menahan pinggangnya, dan Estevan menunduk, mencium bibir gadis itu seperti yang ia lakukan di malam sebelumnya.
Beatrice langsung merangkul lehernya, memperdalam ciuman itu tanpa ragu. Bibir mereka menyatu lama, hangat, intens dan semakin menghapus jarak yang sebelumnya masih ada. Tangan Estevan bergerak naik ke punggungnya yang terbuka dan tubuh Beatrice menempel erat pada dadanya.
Suhu tubuh mereka pun meningkat. Napasnya menjadi berat satu sama lain.
Estevan tahu dirinya tidak akan bisa menahan diri jika ini terus berlanjut. Terlebih lagi, bagian bawah tubuhnya sudah bereaksi … cukup jelas hingga Beatrice yang dipeluknya pun merasakan kerasnya tekanan itu.
Beatrice terkekeh kecil, suara nakal itu menggelitik telinganya. “Evan, adik kecilmu bangun lagi. Haruskah aku menidurkannya seperti malam tadi?”
Estevan terdiam, napasnya kacau. Wajahnya memerah sampai ke daun telinga. “Bee … apakah kamu benar-benar tidak keberatan tidur denganku?” tanyanya pelan, sungguh ingin memastikan.
“Tentu saja tidak.” Nada Beatrice lembut dan menggoda.
Namun sebelum suasana berubah lebih panas, suara langkah kuda terdengar mendekat. Dari balik hutan, muncul dua sosok tak terduga.
“Sepupuuu, rupanya kamu sedang bersama Lady Tricia di sini~” Terrence bersenandung nakal dari atas kudanya, jelas-jelas mengejek.
Wajah Beatrice memanas. Ia buru-buru melepaskan diri dari pelukan Estevan, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Ekspresi Estevan turun seperti terong beku yang dipukul hingga layu. Sisa gairah yang tadi masih mengalir di tubuhnya langsung sirna.
“Kenapa kalian ada di sini?” Suaranya datar, jelas tidak ramah.
Terrence dan Niccolo—putra Marquis Mendela itu turun dari kudanya.
“Kami hanya menikmati udara musim semi, sungguh! Dan jangan khawatir, kami baru saja datang. Tidak mendengar apa pun.” Terrence tersenyum paksa sambil mengangkat kedua tangannya.
Sebagai isyarat minta bantuan, Terrence menginjak kaki Niccolo.
Niccolo mendecak pelan namun tetap ikut berakting. “Benar. Kami tidak mendengar satu kata pun. Kami cuma … mm … rencananya ingin memancing ikan. Kebetulan lewat saja.”
Terrence langsung mengangguk cepat—terlalu cepat. “Ya, ya! Kebetulan!”
Estevan menatap keduanya dengan tatapan yang bisa membekukan sesuatu.
Beatrice memperhatikan Terrence sambil mengingat karakter sepupu Estevan dalam novel aslinya. Pria itu memang terkenal playboy yang mencintai anggur, wanita dan hiburan dari Benua Timur.
Dalam cerita aslinya, Terrence terluka parah saat membantu Estevan membunuh monster di perbatasan. Namun tidak pernah diceritakan pasti tentang detail hidupnya.
“Sepupu,” Terrence akhirnya angkat bicara, ingin cepat terlepas dari atmosfer menegangkan itu. “Karena kamu sedang … sibuk, kami akan mencari tempat lain.”
“Tidak perlu,” jawab Estevan ringan. “Kalian mau memancing, bukan?”
Terrence menelan ludah. “Ya … benar …” Ia merinding oleh firasat buruk.
Estevan tersenyum tipis yang membuat Terrence merinding hebat. “Aku ingin kalian memancing untukku. Bawakan padaku beberapa ikan nanti. Tidak keberatan, kan?”
Terrence berkedip dan Niccolo hanya menatap langit.
Estevan tersenyum biasa, namun bagi Terrence dan Niccolo, senyum itu tampak seperti iblis yang baru saja memutuskan menu makan siangnya. Tidak ada kemungkinan bagi keduanya untuk menolak. Dengan wajah yang dipaksakan ramah, mereka hanya bisa mengangguk patuh.
Beatrice bisa menebak bahwa Estevan sengaja mempersulit kedua pria itu. Tapi ia sama sekali tidak peduli. Tadi ia hampir berhasil merayu Estevan dan melanjutkan adegan yang—secara moral dan mental—sudah siap ia lakukan. Namun kedua bola lampu berjalan itu muncul dan menghancurkan suasananya dalam sekejap.
“Kalau begitu, aku akan menunggu di pondok hutan. Ingat untuk datang setelah mendapatkan ikannya,” kata Estevan, lalu memimpin Beatrice berjalan menuju pondok kecil di dalam hutan. Ia juga menuntun kudanya yang mendengus ke arah Terrence yang sial.
Sudut mulut Terrence berkedut. Dasar kuda sialan! Apakah kamu mengejekku, pikirnya.
Begitu pasangan itu menghilang di balik pepohonan, Terrence dan Niccolo sama-sama menghembuskan napas lega.
Terrence memelototi Niccolo. “Kenapa kamu bilang kita akan memancing? Lihat sekarang! Kita bahkan harus menangkap ikan. Dan aku bahkan tidak membawa alat pancing!”
Niccolo tersenyum getir. “Tuan Terra, Anda tahu sendiri kita ke sini untuk apa, bukan? Tidak mungkin saya bilang di depan Grand Duke, bahwa tujuan kita kemari adalah untuk mengintip para pelayan cantik yang mencuci pakaian dan mandi di sungai.”
Terrence terdiam. Ia tidak menyangkalnya. Dan jika Estevan sampai tahu alasan sebenarnya … kakaknya yang lurus seperti pilar istana pasti akan mengetahuinya juga. Terrence meremas rambutnya sendiri dan menghela napas panjang.
“Bisakah kamu memancing ikan?” Terrence akhirnya bertanya.
Niccolo menggelengkan kepalanya. “Saya ahli pedang, bukan nelayan. Memegang jorannya saja saya tidak pernah.”
Ia bahkan sempat melirik pedangnya sendiri dan berpikir—apakah ikan bisa ditusuk dengan pedang? Sepertinya tidak.
Terrence mengusap wajahnya. “Aku bahkan lebih payah. Kau tahu aku buruk dalam menggunakan pedang. Jadi soal memancing? Tidak mungkin.”
Niccolo mengangguk. Ia tahu satu-satunya kemampuan Terrence adalah keuangan. Memancing jelas bukan bagian dari keahliannya.
“Kita minta para pengawal saja untuk menangkap ikan?” Terrence mengusulkan tanpa rasa bersalah.
Niccolo langsung menegang. “Bukankah itu curang?”
“Curang apanya? Yang penting hasilnya. Prosesnya pasti tidak akan pernah ditanyakan sepupuku,” jawab Terrence enteng.
Niccolo terdiam lama. Entah sejak kapan ia, seorang kesatria tangguh, mulai bengkok oleh ajaran-ajaran sesat dari pria riang di sampingnya ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...