Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. The Breach of Sanctuary
Pagi itu di vila tersembunyi, suasana masih terasa magis. Samuel Vane sedang duduk di beranda, membacakan beberapa ayat dari kitab suci sambil sesekali berdiskusi dengan Thomas, ayah Julian. Di dapur, Elizabeth Vane sedang sibuk menyiapkan sarapan pancake blueberry kesukaan Alice, ditemani oleh Pattie, ibu Julian.
"Julian, tolong ambilkan sirup maple di lemari atas, Nak," seru Elizabeth dengan nada hangat yang belum pernah didengar Julian dari sosok ibu mana pun selain ibu kandungnya sendiri.
Julian tersenyum, dengan cekatan membantu Elizabeth. "Siap, Ma," jawabnya. Panggilan "Ma" kepada Elizabeth terasa begitu alami baginya sekarang.
Alice masuk ke dapur, memeluk ibunya dari belakang. "Baunya enak sekali. Rasanya aku tidak ingin pulang ke New York."
"Rumah adalah tempat di mana hatimu berada, Al," sahut Samuel yang baru masuk dari teras. Ia menatap Julian dan Alice dengan bangga. "Tapi ingat, ujian sesungguhnya bukan saat kita berada di puncak gunung yang tenang ini, melainkan saat kita turun kembali ke lembah."
Kata-kata Samuel seolah menjadi nubuat.
Baru saja mereka hendak duduk di meja makan, suara deru mobil yang banyak dan langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah gerbang luar. Julian adalah yang pertama menyadari ada yang tidak beres. Ia melihat kilatan lensa dari balik pepohonan pinus.
"Paparazzi," desis Julian. Wajahnya langsung mengeras. "Bagaimana mereka bisa tahu tempat ini?"
"Samuel, bawa para ibu dan Alice masuk ke dalam!" perintah Julian dengan nada protektif.
Namun terlambat. Puluhan wartawan sudah berhasil menerobos pagar tanaman. Lampu blitz mulai menyambar-nyambar jendela kaca vila.
"Julian Reed! Apakah benar Anda sudah menikah secara rahasia di sini?"
"Alice Vane! Bagaimana perasaan Anda menjadi orang ketiga dalam hubungan Julian dan Ellena?"
"Tuan Samuel Vane! Benarkah Anda menjual putri Anda demi popularitas Julian?"
Pertanyaan-pertanyaan keji itu menembus dinding vila. Alice gemetar, wajahnya pucat mendengar ayahnya dihina seperti itu. Samuel tetap tenang, ia memegang pundak Alice dan Elizabeth. "Jangan dengarkan. Masuklah ke ruangan tengah."
Julian sudah tidak bisa menahan diri. Ia hendak keluar untuk menghadapi mereka, namun tangannya ditahan oleh Samuel.
"Jangan hadapi mereka dengan amarah, Julian," ujar Samuel tenang namun tegas. "Itu yang mereka inginkan. Mereka ingin melihat 'Julian yang lama' kembali."
"Tapi mereka menghina keluarga Anda, Om! Mereka menyebut nama Alice dengan cara yang menjijikkan!" Julian berteriak frustasi.
"Biarkan aku yang bicara," Samuel merapikan kemejanya. "Sebagai kepala keluarga di rumah ini, aku yang akan menghadapi mereka. Kau tetaplah di dalam bersama Alice."
Samuel melangkah keluar sendirian. Ia berdiri di tangga depan vila dengan wibawa yang luar biasa. Para paparazzi terdiam sejenak melihat sosok pria paruh baya yang tampak begitu tenang dan berwibawa itu.
"Tuan-tuan," suara Samuel menggema. "Kalian sedang berada di properti pribadi. Di dalam sana tidak ada skandal. Yang ada hanyalah sebuah keluarga yang sedang mensyukuri nikmat Tuhan. Saya meminta kalian pergi dengan hormat, atau kami akan membiarkan hukum yang berbicara."
"Hukum apa, Tuan? Berikan kami foto Julian dan Alice!" teriak salah satu wartawan.
Di dalam rumah, Alice menangis di pelukan Elizabeth. Julian mengepalkan tangan, batinnya berperang. Ia benci melihat Samuel harus menghadapi badai yang ia ciptakan. Ia merasa sangat berdosa membawa "racun" industrinya ke dalam keluarga cemara ini.
Tiba-tiba, ponsel Julian bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang ia kenali sebagai asisten Sean Miller: 'Indah sekali pemandangannya, bukan? Ini baru permulaan, Julian. Dunia harus tahu bahwa kau sedang berpura-pura menjadi orang suci.'
Julian menyadari bahwa ini bukan sekadar paparazzi biasa. Ini adalah serangan terencana dari Sean untuk menghancurkan citra "bersih" yang baru saja ia bangun. Sean ingin dunia melihat bahwa Julian bersembunyi di balik keluarga religius untuk menutupi perselingkuhannya dari Ellena.
"Al," Julian menghampiri Alice, berlutut di depannya. "Aku harus keluar. Bukan untuk berkelahi, tapi untuk mengakhiri ini. Aku tidak bisa membiarkan Papa Samuel berdiri sendirian di sana."
"Jangan, Julian! Mereka akan menyerangmu!" Alice menahan lengan Julian.
"Aku akan bicara dengan jujur, tapi tetap melindungi rahasia kita. Aku harus melindungi kehormatan keluargamu, Al."
Julian menatap Elizabeth, meminta izin. Elizabeth mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca. "Berbicaralah dengan hatimu, Julian. Tuhan akan menuntun lisanmu."
Julian menarik napas panjang. Ia membuka pintu vila dan melangkah keluar, berdiri di samping Samuel Vane. Kilatan kamera menggila, namun Julian hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan yang sangat jernih dan berwibawa.
cemburu bilang /CoolGuy/
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/