Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.
Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!
Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 : Jamuan
Paviliun Teratai Pusat dipenuhi oleh kabut tipis dari dupa cendana yang membakar hidung. Permaisuri duduk di singgasananya dengan wajah sepucat porselen, namun matanya yang tajam bak elang sedang mengawasi setiap gerak-gerik tamu yang baru tiba. Di sampingnya, Pangeran Kedua, Wan Jin, duduk dengan angkuh, sementara Bai Rui---yang wajahnya tertutup cadar tipis untuk menyembunyikan bengkak di matanya---menunduk lesu di sisi meja.
Begitu kursi roda perak Bai Hua memasuki ruangan, suasana langsung mendingin. Suara gesekan logam roda di atas lantai marmer terdengar seperti denting lonceng kematian.
"Istri! Lihat! Banyak orang cantik!" teriak Wan Long sambil berlari kecil mengitari kursi roda Bai Hua, lalu ia duduk di lantai tepat di bawah kaki Permaisuri. "Ibu Ratu! Wan Long rindu! Wan Long bawa cacing tanah untuk Ibu!"
Permaisuri berjengit, ia menarik ujung jubah suteranya agar tidak disentuh oleh tangan Wan Long yang kotor. "Duduklah dengan tenang, Wan Long. Kau sudah menikah, bersikaplah seperti pria dewasa."
Pandangan Permaisuri kemudian beralih ke Bai Hua. "Dan kau, Bai Hua. Aku mendengar keributan di rumah ayahmu kemarin. Kau membawa pulang harta ibumu dan... sebuah bros?"
Bai Hua menunduk hormat, namun punggungnya tetap tegak. "Hanya menyelesaikan urusan lama, Yang Mulia. Mengenai bros itu, itu hanyalah benda kecil yang terjatuh di tempat yang salah."
Bai Rui tersedak, tangannya meremas sapu tangan. Ia menatap Bai Hua dengan kebencian yang meluap-luap. Jika bukan karena pengaruh Permaisuri, ia pasti sudah diusir dari kediaman menteri karena skandal itu.
"Cukup soal bros," potong Permaisuri dengan nada bosan. "Menteri Bai mengirimkan pesan bahwa kau membawa bubuk Xiang-Fei yang sangat langka. Katanya, itu adalah bubuk penenang jiwa yang hanya dimiliki oleh keluarga ibumu. Kebetulan sekali, aku sedang merasa sangat gelisah setelah masa penyucian diri. Bai Hua, seduhkan teh untuk kami semua menggunakan bubuk itu."
Ini dia. Jebakannya.
Bai Hua melirik ke arah Wan Long. Pria itu sedang asyik bermain dengan ujung sepatu Wan Jin, seolah-olah ia tidak mendengar apa pun. Namun, jempol tangan Wan Long menekan lantai tiga kali---sebuah isyarat waspada yang berarti ada orang lain yang mengawasi di balik tirai.
Seorang pelayan membawa nampan berisi teko porselen dan beberapa cangkir. Di tengahnya terdapat botol biru milik Menteri Bai.
"Silakan, Kakak Ipar," ujar Wan Jin dengan senyum licik. "Kami ingin mencicipi betapa hebatnya racikan dari keluarga menteri."
Bai Hua meraih botol biru itu. Ia tahu, bubuk ini adalah pedang bermata dua. Jika ia menolak, ia dianggap menentang perintah Permaisuri. Jika ia menyeduhnya, ia memberikan senjata bagi mereka untuk menuduhnya meracuni keluarga kekaisaran karena Permaisuri pasti sudah menyiapkan 'reaksi' palsu atau bahkan racun tambahan di dalam cangkirnya sendiri.
Dengan gerakan anggun yang ia pelajari dari protokol agen rahasia, Bai Hua mulai menyeduh teh itu. Aroma harum yang memabukkan segera menyeruak.
"Teh ini harus diminum saat masih mengepul," ucap Bai Hua sambil menuangkan cairan emas itu ke cangkir Permaisuri, lalu ke cangkir Wan Jin, Bai Rui, dan terakhir untuk dirinya sendiri.
Saat ia hendak menuangkan untuk Wan Long, pria itu tiba-tiba merampas teko tersebut. "Wan Long mau minum dari mulut teko! Seperti minum air sungai! Hahaha!"
Wan Long menenggak sisa teh langsung dari tekonya, namun Bai Hua melihat tenggorokan Wan Long tidak bergerak melakukan gerakan menelan. Pria itu menyembunyikan cairan itu di dalam kantung pipinya atau menggunakan teknik Neigong untuk menahan air tersebut di pangkal lidah.
"Wan Long! Sopanlah sedikit!" bentak Permaisuri. Ia kemudian mengangkat cangkirnya. "Mari, kita minum untuk kedamaian istana."
Semua orang mengangkat cangkir. Bai Hua menyesap tehnya sedikit. Ia merasakan rasa pahit yang sangat samar di balik keharuman bubuk itu. Sianida dosis rendah, batinnya. Permaisuri benar-benar ingin melakukan sandiwara keracunan massal untuk menyalahkan dirinya.
Tiba-tiba, Permaisuri terbatuk. Ia memegang lehernya, wajahnya yang pucat kini berubah menjadi kemerahan. "Teh ini... kenapa dadaku terasa sesak?"
"Ibu!" Wan Jin berteriak, ia segera berdiri menghampiri Permaisuri. "Bai Hua! Apa yang kau masukkan ke dalam teh ini?!"
Bai Rui langsung menunjuk dengan jari gemetar. "Dia ingin membalas dendam! Dia meracuni kita semua!"
Di tengah kepanikan itu, Wan Long tiba-tiba "tersedak" hebat. Ia menyemburkan air teh yang sedari tadi ia tahan di mulutnya tepat ke wajah Pangeran Wan Jin yang sedang membungkuk.
"Uhukk! Uhukk! Panas! Airnya panas!" teriak Wan Long. Semburan itu bukan sekadar air, tapi semburan bertenaga yang membuat Wan Jin terhuyung mundur dan matanya perih karena panasnya teh.
Manfaatkan kekacauan ini, pikir Bai Hua.
Bai Hua tiba-tiba menjatuhkan cangkirnya hingga pecah berkeping-keping. Ia memegang dadanya dan jatuh dari kursi roda peraknya ke lantai, berakting seolah ia juga terkena dampak yang paling parah.
"Yang Mulia... hamba... hamba juga merasakannya..." Bai Hua terengah-engah, namun tangannya diam-diam meraih pecahan keramik yang tajam di lantai.
"Panggil tabib! Tangkap si lumpuh ini!" perintah Wan Jin sambil mengusap wajahnya yang basah.
Namun, sebelum pengawal bisa mendekat, Wan Long mulai mengamuk. Ia mengambil teko porselen yang berat dan melemparkannya ke arah tirai di belakang Permaisuri.
BRAKK!
Seorang pria berpakaian hitam yang bersembunyi di sana jatuh tersungkur setelah kepalanya terhantam teko. Pria itu memegang sebuah botol kecil yang identik dengan milik Bai Hua.
Suasana aula seketika sunyi.
"Eh? Ada orang main petak umpet?" gumam Wan Long dengan wajah polos, sambil menunjuk pria pingsan itu. "Dia bawa botol biru juga! Apa dia mau bagi-bagi kue?"
Bai Hua, yang masih tergeletak di lantai, memberikan senyum kemenangan yang sangat tipis. Ia tahu Wan Long telah menemukan kunci jebakan yang sebenarnya; Permaisuri menyiapkan orang ketiga untuk menukar bubuk itu, namun Wan Long berhasil menemukannya lebih dulu.
"Sepertinya," suara Bai Hua terdengar serak namun jelas, "ada penyusup yang mencoba membunuh kita semua, termasuk aku dan Yang Mulia Permaisuri. Pangeran Kedua, apakah ini orangmu?"
Wan Jin mematung. Rencana untuk memojokkan Bai Hua justru berbalik arah. Kini, ada seorang pembunuh dengan botol racun yang ditemukan tepat di belakang singgasana Permaisuri.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih
definisi sebel tapi rindu
benci tapi butuh🤣🤣
ya elah mati aja ga mau ngalah lu bang
ok Leh yuk lah bareng "🫣🤣
jadi bayangin visual merekanya bertarung
anak kan cuman niru orang tuannya yaa
jgn salahin kalau jadi anak durhaka
tih punya orang tua durhaka
mang disini pada ngeluh masalah retensinya
banyak othor yg juga akhirnya nyerah dan banyak pindah ke berbagai platform 🥹🥹.
semangat ya Thor...
aku mah dukung aja
karena terkadang penghargaan itu ga butuh cuman pengakuan,tapi cuan yg menentukan 🤣🤣
lu pikir bisa mengendalikan seluruh permainan
hei..masa depan itu lebih menakutkan dr yg dilihat
dimana ga ada binatang buas di hutan belantara
tapi manusia yg punya nafsu buas di antara hutan sesungguhnya.
beginilah realita di masa depan.
sebenarnya siapa yg jebak siapa.🫣
hayooo kau berhadapan dengan polisi dan mata mata dr masa depan lu bang
siap siap aja yaa