Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22) ADA AJA HALANGAN
PEMBELAAN ATAU KEBENCIAN?
Hujan musim penghujan turun deras di atas kota Malang, membasahi aspal jalan raya yang mengarah ke kawasan Lowokwaru. Di dalam mobil sedan putih yang melaju dengan kecepatan sedang, Amara Wijaya menatap keluar jendela dengan wajah yang datar namun mata yang menyimpan banyak emosi. Tangan kanannya menekan erat amplop putih yang terletak di atas jok depan—amplop yang berisi surat undangan pernikahan dari Rayyan Pratama, orang yang selama lima tahun terakhir selalu berada di pikirannya sebagai calon suaminya.
"Kak Amara, kamu yakin ingin melanjutkan perjalanan ini? Sudah lah jangan bertemu mereka lagi, biarkan bahagia," ucap Dini, sopir keluarga serta teman baik Amara yang telah mengantar Amara pulang dari Jakarta ke Malang setelah dia menyelesaikan studi magister di sana.
Amara menoleh ke arahnya dengan senyum yang tipis dan dingin. "Sudah sepantasnya aku datang, Dini. Rayyan adalah calon suamiku dari dulu. Cuma karena aku harus kuliah di Jakarta, gadis kampung bernama Sea itu yang mencuri kesempatan itu dariku, terus menerus bahkan."
Setelah lima tahun tinggal di ibukota, Amara kembali ke Malang dengan satu tujuan utama: merebut Rayyan kembali dari Sea. Dia tidak bisa menerima bahwa lelaki yang telah dinikahkan oleh kedua keluarga sejak mereka masih kecil bisa jatuh cinta pada gadis kampung yang tak sepadan dengan status sosial Rayyan. Bahkan kedua orang tua Rayyan sendiri kurang suka dengan Sea—ayah Rayyan yang merupakan pengusaha properti ternama di kota selalu mengatakan bahwa Sea, yang hanya bekerja sebagai guru di TK kecil dan berasal dari keluarga petani di daerah Kediri, tidak akan pernah bisa menjadi istri yang cocok untuk putranya.
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah kecil berlantai satu dengan halaman yang ditanami pepaya dan kemangi—rumah yang kini menjadi tempat tinggal Rayyan bersama Sea, serta kakak angkatnya Hugo dan istri Hugo, Lina, beserta anak mereka Rafi. Amara melihat Sea sedang membersihkan taman di halaman rumah, mengenakan baju kaos dan celana panjang yang sederhana. Rambutnya yang hitam lurus terikat rapi di belakang kepala, dan wajahnya yang cerah bersinar dengan senyum saat dia menepuk bahu Rayyan yang sedang membawa ember air untuk menyiram tanaman.
Panas membara di dalam dada Amara. Dia membuka pintu mobil dan turun dengan langkah yang mantap, mengenakan gaun midi warna merah muda yang elegan dan sepatu hak tinggi yang membuat dirinya tampak lebih gagah. Sea melihatnya dan segera berhenti dari pekerjaannya, wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut.
"Amara? Kamu kembali?" ucap Rayyan dengan suara yang sedikit terkejut saat dia mendekati mereka. Wajahnya yang tampan kini penuh dengan kebingungan. Dia mengenal Amara sejak masa kanak-kanak—mereka adalah teman masa kecil yang kemudian diatur oleh kedua orang tua untuk menikah setelah menyelesaikan pendidikan. Namun sebelum pernikahan itu bisa terlaksana, Amara harus pergi ke Jakarta untuk studi magister, dan selama itu Rayyan bertemu dengan Sea, gadis yang datang ke Malang untuk mengajar dan secara tidak sengaja merubah hidupnya.
Amara memberikan senyum yang dia latih dengan baik selama tinggal di Jakarta. "Aku datang untuk merespons undangan pernikahanmu, Rayyan. Tapi sayangnya, aku tidak bisa tinggal diam melihat kamu menikahi orang yang salah."
Sea mengerutkan kening. "Orang yang salah? Apa maksudmu, Bu Amara?"
Amara menoleh ke arahnya dengan tatapan yang menyindir. "Aku maksudkan bahwa kamu tidak pantas untuk Rayyan. Kamu tidak tahu bagaimana cara menjalani hidup sebagai istri dari seorang pengusaha muda yang akan mengelola perusahaan besar milik keluarganya. Kamu hanya gadis kampung yang tidak punya pengalaman apapun di dunia yang sebenarnya."
Rayyan segera berdiri di antara mereka berdua. "Cukup, Amara! Sea adalah wanita yang aku cintai, dan dia akan menjadi istriku. Kamu harus menerima itu."
"Tidak, aku tidak akan pernah menerima!" teriak Amara dengan suara yang naik. "Sejak awal, kamu adalah milikku, Rayyan. Kedua orang tuamu saja setuju dengan itu. Sea tidak lebih dari sekadar gangguan dalam rencana kita yang sudah ditetapkan sejak lama!"
PERENCANAAN YANG TERSUSUN
Hari berikutnya, Amara mengunjungi rumah besar Rayyan yang terletak di kawasan elite di dekat Jalan Ijen. Ayah Rayyan, Bapak Pratama, menyambutnya dengan senyum hangat, sementara ibunya, Ibu Pratama, segera membawanya ke ruang tamu dan menyajikan teh hangat serta kue kering kesukaannya.
"Kita sudah lama tidak bertemu, Amara," ucap Bapak Pratama dengan suara yang dalam. "Kabar baik bahwa kamu telah menyelesaikan studi magistermu di Jakarta dengan nilai yang baik."
"Terima kasih, Bapak. Aku datang ke sini karena aku ingin membicarakan tentang Rayyan dan Sea," jawab Amara dengan nada yang tegas. "Saya tahu bahwa Bapak dan Ibu tidak suka dengan Sea. Saya juga tidak bisa menerima bahwa Rayyan akan menikahi gadis yang tidak sesuai dengan status keluarga kita."
Ibu Pratama menghela napas panjang. "Kita memang tidak terlalu setuju, anak. Sea adalah gadis yang baik, tapi dia tidak punya latar belakang yang sesuai dengan Rayyan. Kita khawatir dia tidak akan bisa mengelola rumah tangga dan mendukung karir Rayyan yang akan semakin besar nantinya."
"Kalau begitu, mari kita bekerja sama untuk membuat Rayyan sadar bahwa dia membuat kesalahan," ucap Amara dengan mata yang bersinar. "Aku punya beberapa rencana yang bisa membuat Sea menyadari bahwa dia tidak pantas untuk Rayyan. Dan aku yakin bahwa dengan dukungan Bapak dan Ibu, kita bisa membuat Rayyan kembali ke jalur yang benar."
Dalam beberapa hari berikutnya, Amara mulai menjalankan rencananya. Pertama, dia mengunjungi TK tempat Sea bekerja—TK Pertiwi yang terletak di pinggir jalan raya. Dia datang dengan pakaian yang mewah dan membawa beberapa buku serta mainan mahal untuk anak-anak, kemudian berbicara dengan kepala sekolah tentang "kualitas pendidikan" yang diberikan di sana.
"Saya melihat bahwa fasilitas di sini sangat sederhana," ucap Amara dengan nada yang menyindir saat dia melihat ruang kelas yang hanya memiliki meja dan kursi kayu sederhana. "Anak-anak perlu fasilitas yang lebih baik agar bisa bersaing di masa depan. Jika Sea tidak mampu memberikan itu, mungkin sebaiknya dia berpikir dua kali untuk tetap bekerja di sini."
Kepala sekolah, Bu Sri, melihatnya dengan tatapan yang tidak senang. "Sea adalah guru yang sangat baik dan dicintai oleh anak-anak. Dia mungkin tidak punya banyak uang, tapi dia punya hati yang tulus untuk mengajar. Itu jauh lebih berharga daripada semua fasilitas mahal di dunia."
Namun Amara tidak peduli dengan kata-katanya. Dia pergi dari TK dengan tekad yang semakin kuat. Selanjutnya, dia mulai menghubungi teman-teman masa kecil Rayyan yang sekarang bekerja di lingkungan bisnis keluarga Rayyan. Dia memberi tahu mereka bahwa Sea tidak cocok untuk Rayyan dan mengajak mereka untuk membantu menyebarkan informasi bahwa Amara masih merupakan calon istri yang sah untuk Rayyan.
Salah satu sore, Rayyan bertemu dengan teman masa kecilnya, Adi, di kafe dekat kantornya. "Kamu harus berhati-hati dengan Sea, teman," ucap Adi dengan suara yang rendah. "Banyak orang bilang bahwa dia hanya ingin mengambil keuntungan dari statusmu sebagai putra keluarga Pratama. Amara jauh lebih cocok untukmu—dia paham tentang bisnis dan bisa membantu kamu mengelola perusahaan."
Rayyan merasa darahnya mulai mendidih. "Siapa bilang kamu bisa berkata begitu tentang Sea? Kamu bahkan tidak mengenalnya dengan baik!"
"Namun kita mengenal Amara sejak lama, kan? Dia selalu ada untukmu dan selalu mendukungmu dalam setiap langkahmu," jawab Adi dengan nada yang membela. "Kamu hanya terbawa emosi dengan gadis kampung itu. Cobalah berpikir dengan jernih tentang masa depanmu."
Rayyan berdiri dengan marah dan meninggalkan kafe tanpa berkata apa-apa. Dia tahu bahwa ini adalah kerja tangan Amara. Dia segera pulang ke rumah dan memberi tahu Sea tentang apa yang terjadi.
"Kamu tidak perlu khawatir tentangnya, sayang," ucap Sea dengan senyum lembut saat dia memegang tangan Rayyan. "Aku tahu apa yang aku miliki denganmu, dan itu tidak bisa dihancurkan oleh kata-kata orang lain."
Namun Rayyan tidak bisa merasa tenang. Dia melihat bagaimana Sea terkadang akan terdiam dan tampak khawatir setelah mendengar omongan orang-orang tentang dirinya. Dia juga melihat bagaimana Amara terus datang ke sekitar rumah mereka dan mencoba untuk berinteraksi dengan Hugo dan Lina, berusaha mendapatkan dukungan mereka dengan memberikan hadiah mahal untuk Rafi.