NovelToon NovelToon
Dipaksa CEO Dingin

Dipaksa CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Showbiz / Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Demene156

Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.

"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"

"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."

*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: KILAU BINTANG DI BALIK GUDANG GELAP

​Lima tahun kemudian.

Suasana di Eden KTV & Bar, tempat hiburan malam kelas atas di jantung Jakarta Selatan, begitu gemerlap sekaligus memekakkan telinga.

Lampu neon warna-warni memantul di dinding marmer yang mewah, menciptakan aura glamor yang menyilaukan mata siapa pun yang memandang.

Di salah satu koridor lantai atas, area privat bagi tamu VIP, Kirana berjalan dengan langkah sedikit goyah.

Sepanjang malam, ia terpaksa menemani para investor kelas kakap minum-minum. Sebagai aktris pendatang baru di bawah Starlight Entertainment, ia jarang punya kuasa menolak perintah perusahaan.

Meskipun berusaha membatasi alkohol dengan alasan logis, rasa pening di kepalanya tak terhindarkan. Cairan pahit itu mulai menguasai saraf kesadarannya.

Sakit kepala berdenyut-denyut di pelipisnya, menyiksa. Kirana mencari sudut tenang di area bar, hanya untuk menarik napas dan menenangkan diri dari musik bass yang bergetar di lantai. Ia butuh udara segar, atau setidaknya kesunyian sesaat.

Namun keberuntungan tidak berpihak padanya. Manajernya, Merry, mengikutinya keluar dari ruangan VIP dengan wajah tampak tidak bersahabat.

Kirana menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan rasa mual di perut, bersiap menghadapi omelan atau sindiran tajam.

"Mbak Merry, ada sesuatu yang mendesak yang ingin Anda sampaikan?" tanya Kirana, suaranya serak tapi tetap sopan.

Merry menatapnya, mata menyipit penuh kecurigaan.

"Kirana, langsung saja. Apakah benar kabar yang kudengar bahwa kamu diam-diam mendaftarkan diri mengikuti audisi peran utama wanita di film The World?"

Kirana terdiam, menatap manajernya sejenak sebelum menjawab.

"Ya, itu benar. Lalu, apa masalahnya?" jawabnya tenang tapi tegas, menunjukkan ia tak merasa bersalah.

"Kamu tidak boleh pergi besok! Batalkan semua rencanamu!" Merry berteriak keras.

Meskipun manajer seharusnya mendukung karier Kirana, kali ini ia justru menghambatnya.

Kirana tidak terkejut. Selama bergabung dengan agensi ini, ia terbiasa ditekan dan dipinggirkan. Ia hanya mengangkat satu alis dengan anggun. 'Alasannya apa, Mbak?'

"Pertama, kau bungkam soal audisi ini dan sama sekali tidak memberitahuku."

"Kau bertindak sendiri di belakang punggung perusahaan, tapi masih berani bertanya alasannya?" suara Merry naik satu oktaf, kesal.

"Belum lagi, bukankah kau tahu pihak perusahaan sudah mengatur semuanya? Starlight memutuskan Aruna yang akan mendapat peran utama. Kau hanya akan merusak rencana besar kami jika muncul."

Kirana tersenyum tipis, senyum penuh arti sekaligus menyindir.

"Jika aku ikut audisi, secara hukum aku tidak melanggar kontrak. Aku punya hak mencoba," katanya, menatap lurus ke mata Merry. "Apakah Aruna memintamu melakukan ini karena takut pendatang baru seperti aku bisa merebut perannya? Di mana rasa percaya dirinya sebagai artis papan atas?"

"Jangan sombong, Kirana! Kau harus tahu diri!" Merry berteriak, wajah memerah.

"Benarkah kau merasa punya bakat cukup bersaing dengannya? Mimpi seperti itu sia-sia!"

Merry melangkah maju, tekanan psikologisnya terasa nyata.

"Keluarga Yudhoyono menanam investasi 30 miliar Rupiah untuk drama ini! Uang sebesar itu bukan untuk main-main. Jadi peran utama pasti untuk Aruna. Kau tak akan punya kesempatan, mengerti?"

"Begitukah?" Kirana tetap tenang meski peningnya semakin menjadi. "Kalau memang sudah pasti, mengapa Mbak Merry harus gugup melarangku datang? Bukankah kehadiranku tidak berpengaruh jika dia sehebat itu?"

"Cukup! Jangan membantah lagi!" Merry memotong kasar.

"Kau artis di bawah asuhanku, wajib mematuhi semua rencana yang kubuat tanpa terkecuali!" ujar Merry datar, otoriter, tak menerima penolakan.

"Oh, jadi sekarang Mbak Merry ingat kalau aku artis di bawah bimbingan Anda? Lucu sekali," sindir Kirana pedas, menegaskan bagaimana ia diperlakukan sebagai pajangan, bukan artis yang perlu dikembangkan.

Wajah Merry mengeras, sabarnya habis.

"Kirana, aku tak punya waktu untuk berdebat. Karena kau tak mau menerima kebaikanku dan memilih jalan sulit, jangan salahkan aku kalau bertindak tanpa ampun!"

Tiba-tiba, Merry mendorong Kirana. Posisi Kirana yang goyah karena alkohol dan pening membuatnya jatuh keras ke gudang kecil bar yang gelap dan pengap.

Sebelum sempat bangkit, Merry menyambar ponsel di tangan Kirana.

BANG!

Suara pintu besi tertutup keras menggema di koridor, meninggalkan Kirana dalam kegelapan yang menyesakkan.

​…

​Langkah kaki Merry yang menggunakan sepatu hak tinggi terdengar menjauh di luar pintu, hingga akhirnya suara itu benar-benar hilang.

Suasana di dalam gudang menjadi sunyi, kontras dengan dentuman musik di luar yang kini terdengar seperti gumaman rendah.

Menyadari bahwa berteriak minta tolong hanya akan membuang-buang energi sia-sia, Kirana tidak memaksakan diri.

Ia hanya bisa bersandar pasrah pada pintu besi yang terkunci rapat, perlahan merosot duduk di lantai beton dingin, tanpa sepatah kata pun. Napasnya berat, bercampur aroma debu dan kardus tua.

Sejak awal bergabung kembali di Starlight Entertainment, Aruna memang terlihat menjaga citra 'wanita baik-baik' di depan publik.

Namun di balik layar, wanita itu menggunakan Merry untuk memastikan Kirana selalu mendapat peran antagonis—pelakor, tokoh jahat yang dibenci penonton, atau sekadar figuran yang sama sekali tidak berarti bagi kariernya.

Belakangan, intimidasi itu melampaui batas. Mereka tidak lagi hanya "membunuh karakter" secara profesional, tetapi mulai memakai trik fisik picik dan merendahkan martabat manusia, seperti menguncinya di gudang gelap agar melewatkan audisi besok.

'Jika kali ini aku sampai benar-benar gagal mendapatkan peran yang aku audisikan, aku tidak bisa tinggal diam,' pikir Kirana dengan tekad bulat. 'Aku harus mencari cara hukum untuk memutus kontrak sepihak dan segera pergi sejauh mungkin dari Starlight Entertainment.'

Saat tenggelam dalam pikiran yang berkecamuk, ia menangkap suara halus—seperti gesekan benda di sudut ruangan.

'Jangan bilang di tempat mewah seperti ini masih ada tikus berkeliaran?' batin Kirana waspada. Ia mengerutkan kening, mencoba mempertajam pendengarannya di tengah kesunyian mencekam.

Kirana menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya remang di gudang, lalu menoleh ke sudut tempat suara itu terdengar. Seketika ia terkesiap. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena takut hantu atau tikus.

Di balik tumpukan kardus minuman yang tinggi, tampak sosok manusia—bukan tikus, melainkan seorang anak laki-laki kecil, bersembunyi di sana.

Anak itu tampak berusia sekitar empat atau lima tahun. Di bawah cahaya remang dari celah pintu, wajahnya begitu halus dan tampan, seolah diukir pemahat batu giok. Kulitnya putih bersih, halus, dan lembut—mengingatkan Kirana pada roti kecil yang sangat menggemaskan.

Anak itu menggigil, kedua mata hitamnya menatap Kirana dengan kewaspadaan tinggi, seolah melihat monster siap menerkam.

'Hah? Kenapa ada anak sekecil ini di gudang bar pengap?' batin Kirana bingung. 'Tidak masuk akal kalau ada pelanggan teledor yang meninggalkannya di sini.'

"Hei, Kelinci Kecil… jangan takut, ya. Siapa namamu? Bagaimana bisa kamu ada di tempat gelap seperti ini?" tanya Kirana lembut, berusaha menenangkan.

"Apakah kamu masuk karena penasaran?" lanjutnya. "Atau… apakah ada orang jahat yang sengaja mengunci kamu di sini juga, sama sepertiku?"

Kirana merogoh saku, mencari sesuatu. "Kamu lapar tidak? Mau permen? Aku sepertinya punya satu di sini."

Ia terus mengajak bicara hampir setengah jam, namun anak itu tetap membisu, gemetar semakin parah. Ia terlihat seperti mangsa kecil yang terpojok, diliputi ketakutan luar biasa.

Melihat tak ada kemajuan, Kirana berhenti sejenak. Ia tidak ingin memaksanya, takut membuat trauma bertambah. Ia menghela napas panjang, sadar bahwa memikirkan nasib anak ini mungkin bukan urusan utamanya saat ini—ia sendiri sedang dalam masalah besar, terkunci tanpa ponsel.

Dalam kesunyian gudang yang menyesakkan, seorang wanita dewasa pusing akibat alkohol dan seorang anak kecil ketakutan hanya bisa duduk diam, bertahan dalam situasi asing dan tidak nyaman.

Beberapa saat kemudian, lampu langit-langit yang redup dan tak stabil berkedip cepat, mengeluarkan suara dengung listrik sebelum padam sepenuhnya. Gudang kini gelap gulita, tanpa celah cahaya.

Dalam kegelapan, Kirana mendengar suara aneh namun akrab. Setelah menganalisis saksama, ia sadar itu adalah suara gigi beradu—gemerincing karena ketakutan luar biasa dari anak kecil itu.

Kirana tak kuasa menahan tawa getir, meski situasi sulit. Ia menoleh ke arah kegelapan, yakin anak itu ada di sana.

"Apakah kamu takut pada kegelapan, Sayang?" suaranya lembut.

Gemerincing gigi berhenti sesaat karena terkejut, lalu terdengar kembali lebih keras dan cepat. Tubuh anak itu pasti bergetar hebat sekarang.

'Oh astaga, bagaimana bisa anak ini terlihat begitu pengecut tapi sekaligus menggemaskan?' batin Kirana, rasa iba mengalir di hatinya.

Ia menepuk-nepuk bagian belakang rok untuk membersihkan debu, lalu perlahan mendekat ke sumber suara. Anak itu tampak sangat ketakutan saat melihat siluet Kirana, wajah pucatnya samar-samar di remang.

Kirana tidak melakukan hal menakutkan. Ia duduk bersila di lantai, tepat di sebelah balita mungil itu. Ia tidak memaksanya bicara, hanya menutup mata rapat, berniat tidur sejenak memulihkan tenaga. Sepanjang malam tadi ia diseret Merry menuangkan minuman bagi orang penting; kepalanya benar-benar terasa seperti mau pecah.

Setelah tertidur singkat, Kirana terbangun, merasakan sesuatu hangat dan lembut menempel erat di kakinya. Ia menunduk, melihat dalam keremangan. Ternyata 'sanggul kecil'—anak misterius itu—sudah berpindah dari sudut kardus.

Anak itu menempel erat pada tubuh Kirana, jemarinya mencengkeram kuat ujung gaun, menunjukkan ketakutan ditinggal sendirian.

Kirana tersenyum geli, senyum tulus yang jarang ia tunjukkan. Kejadian ini mengingatkannya pada masa kecil di desa, saat memelihara kucing liar penakut. Kucing itu akan menempel perlahan jika dibiarkan, mencari kehangatan, bahkan tidur di pangkuanmu.

Si 'Kelinci Kecil' menyadari Kirana sudah bangun. Wajahnya memerah malu, tapi matanya kini dipenuhi rasa ingin tahu polos.

'Dia benar-benar mirip kucing liar itu. Bahkan cara menatapku pun sama persis,' batin Kirana, hangat di dada.

Kirana mengerutkan bibir, tangannya gatal ingin mencubit pipi anak itu. Ia akhirnya mengulurkan tangan, mengacak rambut halus balita itu. Namun saat telapak menyentuh kulit dahi, keningnya berkerut.

'​Mengapa suhu tubuh anak ini sangat panas? Ini bukan panas biasa,' batinnya panik.

"Astaga, badanmu panas sekali, Sayang! Apakah kamu sedang demam tinggi?" tanya Kirana cemas.

Rasa panik mulai merayap. Merry jelas berencana mengurungnya di sini setidaknya sampai audisi selesai besok sore, atau lebih lama tergantung suasana hati manajernya.

Jika anak sekecil ini terus mengalami demam tinggi tanpa pengobatan yang layak di gudang pengap, kotor, dan tanpa sirkulasi udara, akibatnya bisa fatal.

Nyawanya bisa terancam jika sampai kejang atau dehidrasi hebat.

Dalam kepanikan sesaat itu, Kirana menyadari ada sesuatu yang berbeda.

Lampu gudang memang padam, tapi mengapa ada sedikit cahaya pucat masuk ke ruangan? Ia mengangkat kepala, mencari sumber cahaya itu.

Baru ia sadar, sebuah jendela atap kecil—skylight—menghadap langit, membiarkan cahaya bintang dan lampu kota menembus masuk.

Dengan cepat, Kirana mencari di sekeliling gudang dalam gelap. Tangannya menyentuh sesuatu yang dingin dan logam: sebuah tangga aluminium yang cukup kokoh.

Dengan sisa tenaga, ia menyeret tangga itu dan menempatkannya tepat di bawah jendela kecil.

"Hei, Kelinci Kecil, dengarkan aku baik-baik. Kemarilah! Aku akan membantumu naik ke atas. Kau harus selamat dan mencari bantuan!" ujar Kirana sambil membimbing anak itu.

Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka, si kecil bereaksi fisik. Ia menggelengkan kepala berulang kali, seolah menegaskan tidak mau pergi jika itu berarti meninggalkan Kirana sendirian di gudang gelap.

Melihat kesetiaan murni dari anak yang baru dikenalnya, Kirana merasa hatinya tersentuh hingga nyeri. Ia tersenyum lembut, gemas, dan mencubit pipi gembil anak itu untuk menenangkannya.

"Mengapa kau sok setia begini, hm? Kau mau ikut menderita dan jatuh sakit bersamaku? Cepatlah naik ke atas."

"Jendela itu terlalu sempit untuk orang dewasa sepertiku. Tapi kau… tubuhmu kecil, pasti bisa keluar dengan mudah."

Kirana meyakinkan lagi, "Tapi setelah kau keluar, carilah orang dewasa di luar sana untuk menolongku. Kau mengerti? Ini satu-satunya jalan agar kita berdua selamat."

Melihat anak itu masih ragu dan bimbang, Kirana tidak menunggu lagi. Tubuh anak semakin lemah karena demam.

Ia mengangkat tubuh ringan anak itu, menempatkannya hati-hati di anak tangga teratas agar tangan si kecil bisa mencapai bingkai jendela.

"Ayo, jadilah anak laki-laki yang berani dan hebat. Jangan ragu lagi. Aku di sini, tepat di bawahmu, menjagamu sampai kau benar-benar keluar dengan selamat!" seru Kirana memberi semangat.

Setelah perjuangan keras, anak itu berhasil keluar melalui jendela kecil. Kirana tersengal-sengal, hendak melangkah turun dari tangga.

Tiba-tiba, pandangannya menggelap, kepalanya berdenyut hebat dengan kilatan cahaya menyakitkan. Pening akibat alkohol dan kelelahan fisik menyerangnya kembali.

Dalam kelemahan fatal itu, kakinya kehilangan pijakan. Ia terpeleset.

"Aakh!" Kirana menjerit pendek.

Tubuhnya jatuh menghantam lantai beton keras dengan posisi buruk. Suara debuman terdengar mengerikan di kesunyian gudang.

Di luar jendela atap, wajah mungil "Si Roti Kecil" yang tadinya datar seketika penuh ketakutan. Matanya membelalak, ingin berteriak tapi suara tak keluar.

Kirana memaksakan diri membuka mata yang berat. Rasa sakit mulai menjalar di punggung dan kepala. Kesadarannya menipis, seperti lilin tertiup angin.

Ia hanya bisa menggerakkan bibir pucat, membisikkan satu kata dengan sisa tenaga terakhir.

"Pergi… cepat cari bantuan…"

Di bawah siraman cahaya bintang dari jendela atap, wajah Kirana tampak pucat, rapuh, namun memancarkan kecantikan tragis. Matanya berkilauan di tengah kegelapan, penuh semangat hidup yang kuat.

Ia sadar, bukan lagi gadis desa lugu yang bisa ditindas atau dibuang lima tahun lalu. Ia sudah berubah menjadi wanita luar biasa kuat.

Namun… apa gunanya semua kekuatan dan kecantikan ini jika nasibku harus berakhir mengenaskan di gudang ini? pikir Kirana getir.

Ia merasa ironis. Belum sempat membalas Aruna, kini nyawanya berada di ujung tanduk karena kecelakaan kecil jatuh dari tangga.

Setidaknya, sebelum benar-benar memejamkan mata karena kelelahan dan rasa sakit, Kirana merasa lega sedikit. Ia telah melakukan satu perbuatan baik: menyelamatkan nyawa anak kecil itu.

Seandainya bayinya dahulu tidak meninggal dalam kecelakaan mobil tragis lima tahun lalu, anak itu mungkin seumuran dengan bocah kecil ini.

Masa lalu selalu mengorek luka lama yang tak sembuh. Lima tahun lalu, setelah kecelakaan itu, keluarga Yudhoyono tidak peduli padanya. Malu memiliki anggota keluarga yang terlibat skandal kehamilan dan kecelakaan, mereka membuangnya ke Amerika Serikat.

Di sana, mereka menempatkannya di universitas abal-abal, penuh anak-anak kaya manja dan boros, tanpa bantuan finansial layak, berharap ia menghilang dari hidup mereka.

Namun Kirana bukan tipe yang menyerah. Dengan tekad membara, ia diam-diam keluar dari sekolah itu. Lewat beasiswa hasil kerja keras dan kecerdasan, ia berhasil mendaftar ke Universitas New York yang prestisius.

Di sana, ia belajar mati-matian, menyerap ilmu dari manajemen bisnis hingga seni peran di grup teater kecil. Setiap keringat dan air mata menjadi bahan bakar untuk terus maju.

Semuanya ia lakukan demi satu alasan kuat: mengalahkan Aruna. Merebut kembali kehormatan, posisi, dan hak yang seharusnya menjadi miliknya, dicuri secara licik oleh wanita itu.

Kini, akting bukan sekadar pelarian, tapi impian besar yang membuatnya merasa hidup dan berarti.

Setelah kembali ke Indonesia dengan identitas, penampilan, dan kemampuan akting baru, ia menggunakan kecantikan dan bakatnya untuk menarik perhatian Merry dan masuk Starlight Entertainment.

Awalnya, Kirana berharap berada di agensi besar akan membuka jalan menuju sukses. Tapi ia salah. Aruna pun masuk, menyusup ke perusahaan yang sama, menggunakan pengaruh dan uang keluarganya untuk menyuap Merry menekan, meminggirkan, dan menghancurkan karier Kirana.

Kesadaran Kirana perlahan memudar akibat rasa sakit tumpul di kepala. Di tengah gudang gelap dan pengap, ia hanya bisa menggantungkan harapan terakhir pada si "Kelinci Kecil" yang berhasil keluar. Ia berharap anak itu menemukan bantuan sebelum semuanya terlambat.

Bersambung…

1
Ira Janah Zaenal
up up up 💪💪💪💪😍😍😍😍
Arini
Lanjutannya dong
falea sezi
lanjut
falea sezi
semangat kirana
falea sezi
yg tidur ma Kirana Brian y
falea sezi
lah anak yg di kandung Kirana mana keguguran apa gimana
falea sezi
kasian kirana
Ira Janah Zaenal
semangat Kiara atau putri Laura Pitaloka tunjukkan pesonamu💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!