NovelToon NovelToon
Love Ribbon

Love Ribbon

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Marsanda

Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan pagi

Pagi datang dengan udara yang masih sedikit dingin, alarm zea berbunyi pukul enam tepat, ia meraih ponselnya sambil mengerjap pelan. Cahaya matahari belum sepenuhnya masuk ke kamar, tirai masih setengah tertutup.

Saat ia bangun dan duduk, fira sudah tidak berada di kasur tempatnya tidur.

Suara pelan kain dilipat terdengar dari sudut kamar, zea menoleh. Fira sudah rapi dengan mukena yang baru saja ia lipat, rambutnya tertata rapi, wajahnya segar. Sebagai anak pesantren, bangun sebelum subuh sudah kebiasaan, shalat pun sudah selesai sejak tadi.

"Udah bangun?" tanya fira pelan sambil tersenyum.

Zea mengucek mata. "Lo udah mandi?"

“Belum, tapi udah shalat." jawab fira santai.

"Jam lima tadi udah bangun." lanjut fira.

Zea hanya menggeleng kecil. “Disiplin banget.”

Fira tertawa pelan. "Iya dongs."

Zea tersenyum paksa sambil menyipitkan matanya.

"Lo jadi ke rumah sakit dulu?" tanya fira.

"Iya, mampir bentar." jawab zea.

Fira mengangguk. "Bagus, pak rio pasti seneng."

Zea mengangguk kecil. "ya." jawabnya sambil meraih handuk yang tergantung di kursi dekat tempat tidur.

Lalu zea berdiri dari kasur merapikan rambutnya yang masih sedikit berantakan dengan jari lalu berjalan menuju kamar mandi. Langkahnya masih santai, tubuhnya sedikit meregang seolah mencoba benar-benar mengusir sisa kantuk.

Tangannya memutar gagang pintu, beberapa detik kemudian pintu kamar mandi tertutup dan suara air mulai terdengar mengalir dari dalam.

Sementara itu, fira tetap berada di kamar, ia merapikan mukena yang tadi dipakainya, melipatnya dengan rapi lalu menaruhnya di dalam tas kecil yang dibawanya dari pesantren. Setelah itu ia berdiri dan merapikan sedikit tempat tidur yang dipakainya semalam, bantal ditepuk pelan dan selimut dilipatnya sederhana di ujung kasur. Kamar kembali terlihat lebih rapi, fira kemudian duduk di kursi belajar milik zea, tangannya mengambil buku yang sempat ia baca tadi.

Air dari kamar mandi akhirnya berhenti mengalir, beberapa saat kemudian zea keluar dengan rambut yang masih sedikit basah handuk kecil menggantung di lehernya, ia langsung berjalan ke arah lemari dan membukanya.

Fira yang sejak tadi duduk di kursi belajar menoleh sekilas. "Lama juga." ucapnya santai.

Zea melirik sambil menghela napas kecil. "Lama dari mana? ini juga cepet."

Fira mengangkat alis. "Cepet versi lo kali."

Zea hanya mendengus pelan sambil mengambil kemeja putih seragamnya, ia mulai memakainya dan mengancingkan satu persatu dengan gerakan yang masih sedikit malas.

Fira memperhatikan sebentar lalu tersenyum tipis. "Masih ngantuk ya?"

"Jelas." jawab zea singkat.

Setelah itu zea mengambil rok lipat seribu berwarna abu-abu yang panjangnya sampai lutut. Ia memakainya dengan rapi, rok itu terlihat lebih elegan dibanding rok sekolah biasa, memberi kesan rapi dan sedikit formal seperti seragam sekolah swasta pada umumnya. Ia memakainya dengan rapi lalu berdiri di depan cermin untuk memastikan lipatan roknya jatuh lurus.

Fira menatap rok itu beberapa detik. "Rok lo rapi juga."

Zea melirik lewat pantulan cermin. "Ya emang begitu modelnya."

Fira menggeleng kecil. "Kalo gue yang pake rok kayak gitu, paling baru keluar rumah aja lipatannya udah miring semua."

Zea terkekeh kecil. "Karena lo duduknya suka sembarangan."

Fira langsung membalas cepat. "Lah lo juga kodok."

"Beda." kata zea santai sambil merapikan bagian pinggang roknya.

Fira tidak menjawab lagi, ia hanya berdecak pelan sambil menggeleng lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi seolah malas menanggapi.

Zea kemudian mengambil blazer navy dengan logo sekolah di dada. Setelah memakainya, ia berdiri lagi di depan cermin, merapikan rambutnya dengan sisir.

Fira masih memperhatikannya dari kursi.

Zea menatap pantulan dirinya beberapa detik di cermin, memastikan semuanya sudah rapi, setelah itu ia mengangguk kecil.

"Selesai...." ujarnya gembira, lalu ia membuka lemari lagi sebentar, mengambil tas sekolahnya yang tergantung di dalam dan menyampirkannya ke bahu.

Fira ikut berdiri dari kursi belajar. "Udah?" tanyanya santai.

Zea mengangguk. "Udah laper."

Fira tersenyum kecil. "Ya udah, turun."

Setelah mengatakan itu, mereka berdua berjalan keluar kamar, zea tidak lupa mematikan lampu kamarnya sebelum menutup pintu. Langkah mereka terdengar pelan menyusuri koridor lantai atas dan dari bawah sudah mulai tercium aroma masakan dari dapur, aroma nasi hangat dan telur yang sedang digoreng, zea menuruni tangga lebih dulu diikuti fira di belakangnya.

Di meja makan mama zea sudah menata beberapa piring di disana dan dibantu mbok surti, asisten rumah tangga mereka. Sedangkan papa duduk di kursinya sambil membaca sesuatu di ponsel, raka juga sudah ada di sana, bersandar santai di kursi sambil menunggu nasi goreng disajikan.

"Pagi." sapa papa ketika melihat zea turun.

"Pagi pa." zea menarik kursi dan duduk.

Dan fira duduk di kursi sebelah zea.

Dimeja makan sudah ada roti croissant hangat, smoked beef, serta salad sayur segar dengan potongan tomat ceri. Di sampingnya juga ada segelas jus jeruk segar dan susu hangat yang sudah disiapkan di setiap tempat duduk.

Beberapa saat kemudian mama keluar dari dapur sambil membawa wadah saji berisi nasi goreng hangat, aroma bawang goreng langsung tercium begitu mama meletakkannya di tengah meja.

Setelah itu ia menarik kursinya dan ikut duduk bersama mereka.

"Ayo makan dulu biar perutnya keisi! Dari tadi cuma liatin makanannya doang." ucap mama zea sambil tersenyum tipis.

Raka langsung mengambil sendok saji.

"Ya gimana, nunggu komando dari chef-nya dulu." katanya santai sambil menyendok nasi goreng ke piringnya.

Mamanya terkekeh kecil lalu menggeleng pelan.

"Udah, makan aja."

Fira yang sejak tadi duduk rapi di kursinya ikut mengambil sedikit nasi goreng. "Enak baunya tan." katanya sopan.

Mama zea tersenyum. "Masih anget itu, dimakan yang banyak ya."

"Iya tan, siap." jawab fira sambil memberi hormat.

Mereka pun mulai makan, suara sendok dan garpu terdengar pelan di meja makan sesekali diselingi obrolan ringan.

****

Beberapa menit kemudian sarapan mereka benar-benar selesai, meja makan yang tadi ramai perlahan mulai sepi. Raka sudah lebih dulu berdiri sambil membawa gelasnya ke dapur, mama juga mulai merapikan beberapa wadah makanan di meja dibantu mbok surti.

Zea ikut berdiri dari kursinya sambil menyampirkan tas sekolah ke bahu, ia berjalan ke arah rak sepatu di dekat pintu depan, lalu duduk di bangku kecil di sana untuk memakai sepatu sekolahnya.

Fira yang ikut berjalan dibelakangnya berhenti didekat pintu.

"Udah mau berangkat sekarang?" tanya fira.

Zea mengangguk sambil memasukkan kakinya ke sepatu. "Iya, takut telat! soalnya gue mau mampir rumah sakit dulu."

Fira bersandar sebentar di pintu. "Gue titip salam aja buat pak rio ya."

"Iya, nanti gue bilangin." jawab zea sambil mengikat tali sepatunya.

Mama yang baru keluar dari dapur ikut mendekat. "Nanti jangan lama-lama di rumah sakit ze, takut telat sekolahnya."

"Iya, nggak lama kok ma, cuma bentar doang." jawab zea.

Papa yang sejak tadi sudah bersiap-siap di ruang depan mengambil jam tangannya di meja kecil lalu ia melirik zea yang sudah hampir selesai memakai sepatu.

"Udah siap dek?" tanya papanya.

Zea berdiri sambil merapikan roknya sedikit. "Udah pa, yuk berangkat!" ujar zea.

Papa mengangguk kecil. "Kita berangkat sekarang."

Zea menoleh sebentar ke arah mamanya dan fira. "Pergi dulu ya, babay." tidak lupa zea menyalami mamanya.

Mama tersenyum. "Hati-hati di jalan ya."

Fira mengangkat tangan kecil. "Bye."

Zea melangkah keluar rumah bersama papanya.

Di halaman depan rumah mereka mobil hitam milik papanya sudah terparkir rapi disana dengan sopir yang menunggu di dekat mobil.

Ketika melihat majikannya keluar, sang sopir langsung membuka pintu belakang untuk zea dan tuannya.

Papa masuk lebih dulu lalu zea duduk di sampingnya, pintu mobil tertutup pelan. Dan beberapa detik kemudian mesin mobil menyala, kendaraan itu perlahan keluar dari halaman rumah.

Tujuan pertama pagi ini adalah rumah sakit.

Bersambung

1
syahsari
zea emang ga waras sih😭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!