NovelToon NovelToon
Ustadz, I’M In Love

Ustadz, I’M In Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

di bawah umur di larang membaca.

Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
​Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
​Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
​Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

"Dek, katanya mau pulang, kok diam saja?" tanya Imron heran, sambil menyenggol pelan bahu adiknya yang mendadak mematung seperti patung selamat datang.

​"Ehem, alekna bekna riah ye, Imron? (Ehem, ini adikmu ya, Imron?)" tanya Reza, salah satu teman nongkrong Imron dengan nada menggoda.

​Imron langsung memasang wajah galak, melindungi adiknya. "Iye, arapa? Sengak jek genggu alekna engkok, makle tak e pokol bik tiah! (Iya, kenapa? Awas ya jangan ganggu adikku, biar nggak dipukul pakai ini!)" ucap Imron sambil mengepalkan tangan ke arah teman-temannya yang langsung tertawa ciut.

​Rina yang merasa situasi semakin canggung segera berpamitan. "Mas, Adek pulang dulu ya. Assalamu’alaikum!"

​Rina membalikkan badan dan berjalan cepat. Namun, saat langkahnya sampai di dekat gerbang masjid, matanya menangkap sesuatu yang berkilau di atas aspal. Sebuah kunci mobil dengan gantungan logo merk ternama tergeletak di sana. Rina menoleh ke arah masjid, teringat pria berwibawa tadi baru saja melangkah ke arah sana.

​Tanpa pikir panjang, ia memungut kunci itu dan berlari kecil menyusul ke arah masjid. Tubuh mungilnya harus bergerak lincah di antara orang-orang yang mulai berdatangan untuk salat dhuha.

​"Hey! Hey, kamu!" seru Rina saat melihat punggung tegap pria itu di teras masjid.

​Pria itu terus berjalan, tampaknya tidak sadar ada suara cempreng yang memanggilnya. Rina semakin mempercepat lari kecilnya, nafasnya mulai memburu.

​"Hey! Kamu yang pakai sarung BHS!" teriak Rina lagi, kali ini cukup keras hingga beberapa orang menoleh.

​Saat jaraknya sudah dekat, pria itu akhirnya berhenti dan membalikkan badan dengan tenang. Gerakannya sangat kalem, kontras dengan Rina yang sudah hampir kehabisan napas.

​"Hey! Ini kunci mobil kamu jatuh! Huh... hah..." ucap Rina ngos-ngosan sambil menyodorkan kunci tersebut. Wajahnya yang putih kini memerah karena lelah dan juga... sedikit malu. "Budek banget sih, dari tadi saya panggil nggak dengar-dengar!"

​Ustadz Rohman—pria itu—terdiam sejenak. Ia meraba saku kemeja kokonya, lalu matanya beralih ke tangan mungil Rina yang memegang kuncinya. Ia menatap Rina dengan tatapan yang tenang namun sangat dalam, membuat Rina merasa seperti sedang diinterogasi tanpa kata-kata.

​"Ini kunci mobilnya! Orang aneh, bukannya bilang makasih malah bengong!" gerutu Rina lagi, berusaha menutupi rasa gugupnya karena jarak mereka yang kini cukup dekat. Rina harus mendongak maksimal hanya untuk menatap wajah pria yang jauh lebih tinggi darinya itu.

​Ustadz Rohman akhirnya mengulurkan tangan, menerima kunci itu dengan gerakan yang sangat sopan. "Terima kasih, Dek. Maaf, saya tidak dengar tadi," ucapnya dengan suara bariton yang lembut dan logat Jawa Tengah yang sangat halus, sangat berbeda dengan logat Madura yang biasa Rina dengar.

​Rina tertegun mendengar suara itu. Begitu tenang dan... berwibawa.

​"Lain kali hati-hati. Kunci mahal jangan dibuang-buang," cetus Rina sok galak untuk menutupi detak jantungnya yang makin liar. Tanpa menunggu balasan, ia langsung berbalik dan lari terbirit-birit menjauh, meninggalkan Ustadz Rohman yang masih berdiri mematung sambil menatap punggung gadis kecil bergamis biru itu dengan senyum tipis yang penuh arti

Rina yang masih dalam mode panik campur malu karena kejadian "kunci mobil" tadi, berlari terbirit-birit keluar dari area Masjid Jamik. Pikirannya masih dipenuhi bayangan wajah pria tinggi itu. Namun, tepat saat ia akan melewati gerbang, sebuah kejutan menunggunya.

​"Doarrrr!"

​Salsa tiba-tiba melompat dari balik pohon mangga besar di depan masjid.

​"Aduhhh!" Rina terlonjak hebat. Kaki mungilnya tersangkut gamisnya sendiri, membuatnya kehilangan keseimbangan dan gubrak! Ia jatuh terduduk di atas tanah.

​"Salsa! Awas kamu ya!" teriak Rina sambil berusaha bangkit, membersihkan debu di gamis biru mudanya yang elegan. Wajahnya yang tadinya merah karena malu, kini berubah merah karena emosi.

​Salsa tidak merasa bersalah sama sekali, ia justru tertawa terpingkal-pingkal. "Blekk! Kejar aku kalau bisa!" ledak Salsa sambil menjulurkan lidah, lalu ia malah berlari masuk kembali ke arah pelataran masjid.

​"Salsa kayak anying emang lo ya! Awas gue geprek lo kalau ketangkep!" umpat Rina refleks. Ia tidak peduli lagi dengan citra "mahasiswi S2" atau "putri RT" yang kalem. Baginya, Salsa harus mendapat pembalasan.

​"Eittt, nggak bisa kena! Blekk! Orang cantik jangan ngomong kasar dong, entar cantiknya hilang lho!" ujar Salsa sambil terus berputar-putar menghindari kejaran Rina di antara pilar-pilar masjid.

​"Sialan emang lo Salsa! Lebih baik gue jelek saja daripada cantik tapi nggak boleh ngomong kasar! Berhenti nggak?!" teriak Rina sambil terengah-engah.

​Tanpa mereka sadari, aksi kejar-kejaran itu menarik perhatian. Dan sialnya bagi Rina, di ujung koridor masjid, Ustadz Rohman masih berdiri di sana. Ia sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya—Kyai Ibrahim—ketika matanya menangkap sosok gadis mungil yang tadi memarahinya karena masalah kunci, kini sedang berlarian sambil berteriak kasar.

​Kyai Ibrahim berdeham kecil, "Rohman, itu... bukannya Rina, putrinya Pak RT?"

​Ustadz Rohman terdiam. Ia memperhatikan Rina yang sedang berkacak pinggang, menunjuk-nunjuk temannya dengan wajah galak. Ada binar jenaka di mata Rohman saat melihat tingkah laku gadis yang tingginya bahkan tidak sampai ke bahunya itu.

​"Oh, jadi itu Rina?" gumam Rohman pelan, suaranya hampir tak terdengar.

​"Iya, dia memang sedikit... bersemangat. Tapi otaknya cerdas sekali, baru saja selesai S2," lanjut Kyai Ibrahim.

​Rohman mengangguk pelan, jemarinya mengusap kunci mobil yang tadi dikembalikan Rina. "Sepertinya dia bukan tipe perempuan yang mau disuruh tinggal di dapur saja, Paman."

​Sementara itu, Rina akhirnya berhasil memojokkan Salsa di dekat pancuran wudhu. "Kena lo! Mati lo sekarang!" Rina menjitak kepala Salsa gemas.

​"Aduh! Ampun Rin! Lagian lo kenapa sih? Tadi pas gue lihat dari jauh, lo lari dari arah Ustadz Rohman kayak habis lihat hantu," tanya Salsa sambil mengusap kepalanya.

​Rina langsung membungkam mulut Salsa. "Ssst! Jangan keras-keras! Lo tahu siapa cowok tinggi yang tadi itu?"

​Salsa mengerutkan kening, menatap Rina dengan tatapan aneh. "Lho, lo beneran nggak tahu? Itu kan Ustadz Rohman, calon suami yang mau dijodohin sama lo itu, Rin! Yang dari Jawa Tengah itu!"

​Rina seolah tersambar petir di siang bolong. Tubuhnya mendadak kaku. "Apa?! Jadi pria 'budek' yang gue marahi tadi itu... Ustadz Rohman?!"

.

1
Putri Lauren
lanjuttt thor KLO bisa double
Putri Lauren
lanjut thor
Moza Tri Utami: lanjut dong thorr
total 2 replies
Putri Lauren
mantap
Putri Lauren
aku suka Thor lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!