Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Beban di Pundak yang Rapuh
Bayu akhirnya membeli beberapa bahan yang tidak terbeli oleh Fahmi di toko material tersebut. Barang bawaannya cukup kecil hingga tidak membutuhkan mobil bak untuk mengangkutnya seperti milik Fahmi.
Ia menenteng kantong plastik berisi paku beton dan beberapa rol kabel listrik yang baru. Awalnya ia berniat untuk berjalan kaki saja menuju panti asuhan yang jaraknya lumayan jauh.
Namun setelah dipikirkan lagi mungkin ia akan kembali tertinggal dari kecepatan gerak Fahmi hari ini. Bayu sadar bahwa dirinya masih memiliki sisa tenaga yang meluap untuk segera berkontribusi nyata.
Ia segera mencari tukang ojek di depan pasar guna membawanya kembali ke panti asuhan. Mesin motor tua itu menderu membelah udara siang yang mulai terasa menyengat kulit lengannya.
Sesampainya di halaman panti barang terakhir dari mobil bak milik Fahmi baru saja diturunkan sepenuhnya. Bayu bergegas menghampiri tanpa sempat menyeka peluh yang mulai membanjiri dahi dan pelipisnya.
Langkah kakinya terasa berat namun ia terus memaksakan diri guna menunjukkan kontribusi nyata di depan Fahmi. Bayu meletakkan bungkusan pakunya di atas meja teras sembari mengatur napas yang memburu hebat.
"Sini biar gue yang naik duluan buat cek posisi reng yang patah." Bayu menawarkan diri sembari memegang tiang tangga kayu yang nampak sudah sangat kusam.
Fahmi menahan ujung tangga itu dengan kedua tangannya yang nampak sangat kokoh dan juga berwibawa. "Lo hati-hati di atas soalnya tumpuan gentengnya sudah banyak yang lapuk dan sangat rapuh."
Bayu memanjat tangga kayu dengan gerakan yang sangat sigap meski tangannya nampak sedikit gemetar menahan beban. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Fahmi yang terus mengawasinya dari bawah dengan tenang.
"Gue aman di sini jadi lo tolong oper semen instan yang tadi baru datang." Bayu berseru dari ketinggian atap sembari mencoba mencari posisi berdiri yang paling stabil.
Fahmi segera mengangkat ember kecil berisi adukan semen dan menyerahkannya kepada Bayu melalui sela anak tangga. "Jangan terlalu ke pinggir Bay, struktur usuk di sebelah sana sudah hampir hancur."
Bayu menerima ember itu sembari merasakan embusan angin siang yang menerpa wajahnya yang penuh debu tanah. "Tahu gue, kan dulu gue yang sering naik ke sini buat ambil layangan nyangkut."
Fahmi tertawa kecil mendengar kenangan masa kecil yang keluar dari mulut sahabat lamanya itu di tengah kerja. "Tapi sekarang badan lo udah jauh lebih berat daripada waktu kita masih sering main dulu."
Bayu tidak menjawab lagi karena ia mulai fokus menambal retakan besar pada bagian bubungan atap panti asuhan. Ia menekan adukan semen itu dengan sendok bayam sembari memastikan tidak ada celah air yang tersisa.
"Paku betonnya mana Bay biar gue siapkan di bawah sini buat lo ambil nanti." Fahmi bertanya sembari membuka bungkusan plastik yang baru saja dibawa oleh Bayu dari pasar.
Bayu menunjuk ke arah saku celananya yang menonjol karena berisi beberapa buah paku yang sengaja ia simpan. "Udah ada di saku gue, jadi lo fokus aja jagain tangga supaya nggak goyang."
Mereka berdua bekerja dalam sinkronisasi yang sangat baik meski batin Bayu masih menyimpan sedikit rasa rendah diri. Setiap martil yang ia hantamkan ke kayu reng terasa seperti dentuman penebusan dosa atas masa lalunya.
Hampir seluruh bagian atap tersebut membutuhkan perbaikan serius karena kayu reng yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Bayu mencopot genteng yang pecah satu per satu dengan penuh kehati-hatian agar tidak terjatuh ke bawah.
"Pelan-pelan saja Bay, waktunya masih banyak sebelum maghrib," Fahmi memberikan instruksi dengan nada suara yang sangat tenang dan juga memberikan rasa aman yang nyata.
Bayu hanya mengangguk sembari terus menyapu sisa-sisa kotoran burung yang menumpuk di balik lapisan genteng tua panti. Ia merasakan peluh mengalir masuk ke dalam matanya namun ia enggan untuk turun sebelum tugasnya selesai.
Waktu seolah berjalan sangat cepat hingga tidak terasa matahari sudah mulai condong ke arah barat. Bayu mengusap wajahnya yang dipenuhi debu tanah sembari menatap ke arah bawah menuju area dapur.
Pekerjaan di atas atap akhirnya dinyatakan selesai setelah genteng terakhir berhasil dikunci pada posisinya. Bayu segera menuruni anak tangga kayu dengan gerakan kaki yang nampak kaku akibat kelelahan yang luar biasa.
Fahmi menyambut di bawah sembari mengulurkan tangan guna membantu Bayu menapak ke tanah halaman panti. "Kerja bagus, Bay. Seenggaknya malam ini anak-anak nggak perlu khawatir lagi kalau mendung gelap datang."
Mereka berdua mulai membereskan peralatan pertukangan yang berserakan di sekitar kaki tangga kayu tersebut. Bayu memasukkan martil dan sisa paku ke dalam kotak merah sembari menyeka peluh yang mulai mengering.
Fahmi mengangkat sisa semen yang masih basah guna dipindahkan ke area gudang yang jauh lebih teduh. "Gue simpan ini di belakang dulu."
Bayu hanya mengangguk sembari terus mengumpulkan potongan kayu reng yang sudah lapuk dimakan oleh usia tua. Ia kemudian berjalan menuju arah sumur guna mencuci tangannya yang sudah sepenuhnya menghitam karena debu.
Saat itulah pandangan mata Bayu tertuju ke arah pintu dapur panti asuhan yang terbuka lebar di sana. Ia melihat hanya Nayla yang nampak sibuk sendirian di dalam dapur panti yang nampak sangat sederhana.
Nayla hanya ditemani oleh dua anak panti perempuan yang usianya mungkin baru menginjak bangku kelas lima. Kedua bocah itu nampak membantu memetik sayuran sembari sesekali mengusap dahi mereka yang juga terlihat berkeringat.
Bayu berdiri mematung sembari membiarkan air sumur terus mengalir membasahi telapak tangannya yang kusam. Ia merasa ada yang ganjil karena biasanya dapur itu dipenuhi oleh suara gaduh pengurus panti lainnya.
"Nay. Mbak Maya sama Dinda ke mana ya? Dari tadi nggak kelihatan," Bayu bertanya sembari mendekati ambang pintu dapur dengan langkah kaki yang sangat pelan.
Nayla menghentikan aktivitasnya sejenak lalu menatap Bayu dengan sorot mata yang terlihat sangat kuyu. "Mbak Maya sama Dinda kemarin pamit karena mereka dapat panggilan kerjaan di ibu kota."
Tanpa perlu dijelaskan lebih jauh lagi Bayu tahu bahwa tekanan kemiskinan telah memukul mereka telak. Hidup di panti dengan mengurus dua puluh anak tanpa donatur tetap pasti terasa sangat mustahil.
Kepergian dua pengurus senior itu artinya membuat Nayla kini harus berjuang seorang diri saja di sini. Bayu seketika teringat kejadian kemarin saat ia melihat Nayla menangis tersedu di balik pilar rumah.
Nayla menangis karena dua orang kepercayaannya itu berpamitan untuk mengejar kehidupan yang lebih layak di Jakarta. Ada hal yang sebenarnya tidak diceritakan oleh Nayla kepada siapa pun termasuk kepada Fahmi dan Bayu.
Maya dan Dinda sebenarnya sudah menyarankan Nayla untuk segera mengirim anak-anak ke panti asuhan lain. Mereka bahkan mengusulkan agar sisa anak yang ada diserahkan saja kepada dinas sosial setempat yang resmi.
Dengan begitu Nayla bisa hidup bebas dengan dirinya sendiri tanpa memikirkan beban perut puluhan nyawa. Nayla bisa kembali mengejar mimpinya yang sempat tertunda sejak ia memutuskan menetap di panti asuhan ini.
Namun Nayla menolak usulan pahit itu dengan pendirian yang teguh dan tidak bisa digoyahkan. Baginya panti ini dan anak-anak yang ada di dalamnya sudah merupakan seluruh dunianya yang sangat berharga.
Bayu terdiam membisu sembari merasakan dadanya sesak oleh kekaguman sekaligus rasa perih yang mendalam. Ia menatap punggung Nayla yang nampak semakin rapuh di bawah pendar lampu dapur yang mulai meredup.
"Kenapa kamu nggak kasih tahu aku atau Fahmi soal kepergian mereka berdua semalam?" Bayu bertanya dengan nada suara yang sengaja ia rendahkan agar tidak terdengar oleh anak-anak.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰