NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 COUPLE PERTAMA

Dua hari setelah beli cincin Ara dan Danu akhirnya punya waktu untuk datang ke butik pilihan keluarga Danu bukan rekomendasi EO kali ini ataupun dari Ara sendiri melainkan langganan lama tante Danu yang terkenal rapi dan detail.

Pagi itu langit sedikit mendung, anginnya sejuk. Danu menjemput Ara dengan kemeja polos dan wajah yang terlihat lebih serius dari biasanya.

“Siap?” tanyanya saat Ara masuk ke mobil.

Ara tersenyum kecil “Siap….”

Mobil melaju perlahan. Tidak banyak obrolan seperti biasanya. Kali ini keduanya lebih banyak diam, menikmati perjalanan yang terasa berbeda. Bukan canggung hanya penuh pikiran.

Butik itu berada di dalam kompleks ruko dua lantai. Dari luar tampak modern dengan kaca besar dan tulisan emas sederhana di atas pintu. Begitu masuk, suasananya terang dan wangi lembut. Gaun lamaran, kebaya modern, dan setelan pria tertata berdasarkan warna.

Seorang perempuan muda menyambut mereka.

“Selamat pagi, Mas Danu? Mbak Ara?” sapanya ramah “Saya Rani. Tante Rika sudah konfirmasi”

Ara melirik Danu “Kamu sampai bawa tante segala?” Ya Ara tau karena semalam danu chat katanya ada butik langganan tantenya yang bagus.

Danu tersenyum tipis “Biar nggak salah pilih.”

Rani mengantar mereka ke ruang konsultasi kecil. “Konsepnya semi-formal ya? Warna netral, nggak terlalu ramai.”

Ara mengangguk. “Aku mau yang nyaman. Bukan yang terlalu berat.”

"Oh mari kebetulan ada beberapa set dress modern" ucap tante Rani sambil berdiri dan menunjukan mereka dress yang mana

Setelah beberapa menit memilih akhirnya dia terpikat dengan dress dengan outer lace lembut warna sage. Sederhana, potongannya clean.

Kemudian Ara masuk ruang ganti. Danu duduk di sofa, tangannya saling bertaut, tak sadar menarik napas lebih dalam dari biasanya.

Saat tirai dibuka, Ara keluar perlahan.

Dress itu jatuh ringan di tubuhnya. Tidak terlalu tradisional, tidak terlalu modern. Rambutnya tergerai sederhana. Ia tidak terlihat seperti calon pengantin yang ingin tampil mencolok ia terlihat seperti dirinya sendiri, hanya lebih yakin.

Danu berdiri tanpa sadar.

“Gimana?” tanya Ara pelan.

Danu menatap cukup lama, lalu tersenyum kecil. “Kamu kelihatan beda”

“Bukan cantik?” Ara menggoda pelan.

“Cantik itu pasti. Tapi yang beda… kamu kelihatan jauh lebi cantik”

Ara terdiam. Kata itu terasa lebih dalam dari sekadar pujian.

Rani mengangguk puas “Aura-nya dapet. Biasanya kalau belum yakin, kelihatan dari mata”

Giliran Danu mencoba setelan. Bukan batik kali ini, melainkan setelan semi-formal warna broken white dengan detail minimalis. Saat ia keluar, Ara yang kini berdiri.

Potongan jas itu pas di bahunya. Tidak berlebihan, tapi membuatnya terlihat lebih dewasa.

Ara tersenyum tanpa sadar

“Kenapa?” tanya Danu.

“Kamu juga kelihatan… beda”

“Lebih tua?”

Ara tertawa kecil “Lebih ganteng”

Mereka berdiri di depan cermin besar. Pantulan mereka tidak terlalu kontras. Warna pakaian mereka selaras, tidak saling mendominasi.

Danu memandangi pantulan itu beberapa detik.

“Ini bukan cuma soal cocok warna ya” katanya pelan.

Ara mengangguk “Iya… kayak lagi lihat versi kita yang baru”

Rani tersenyum dari belakang “Kalau sudah begitu biasanya nggak perlu banyak revisi”

Tanpa banyak ganti opsi, mereka sepakat dengan set pertama. Tidak ada drama memilih berkali-kali. Justru keputusan terasa cepat—mantap.

Di kasir, Danu memeriksa rincian pembayaran. Angkanya tidak kecil, tapi wajahnya tetap tenang.

Ara berbisik “Mas, yakin nggak mau pikir lagi?”

Danu menggeleng pelan “Dari semua hal yang aku pikirin akhir-akhir ini… ini yang paling jelas.”

Transaksi selesai. Tas butik diserahkan dengan hati-hati.

Sore menjelang saat mereka keluar. Hujan tipis mulai turun.

Di mobil, suasana hening tapi hangat.

“Dek” Danu memecah diam.

“Iya?”

“Nanti kalau udah selesai semua… jangan berubah ya.”

Ara menoleh. “Berubah gimana?”

“Jangan jadi orang lain cuma karena status baru.”

Ara tersenyum lembut “Aku tetap Ara. Kamu juga tetap Danu. Kita cuma tambah peran.”

Danu mengangguk pelan.

Sesampainya di rumah Ara, hujan masih turun tipis. Danu turun duluan, membuka payung.

Ara berdiri di bawah payung bersamanya, jarak mereka dekat tapi tetap sopan.

“Makasih hari ini,” ucap Ara.

“Makasih juga… udah percaya” jawab Danu.

Ara masuk ke rumah. Sebelum pintu tertutup, Danu berkata pelan “Jaga baik-baik ya”

Ara mengangkat tas butik “Kamu juga”

Di perjalanan pulang, Danu tidak menyalakan musik. Hujan menemani pikirannya.

Sesampainya di rumah, ibunya menyambut di ruang tengah.

“Sudah dapat?”

Danu mengangguk “Sudah Bu”

Tas itu ia letakkan di meja. Ia tidak langsung membuka. Hanya menatapnya.

Di kamarnya malam itu, Danu duduk di tepi ranjang.

Lamaran.

Bukan lagi wacana.

Di rumah Ara, suasana juga hening. Ara menggantung dress itu di lemari, merapikan kainnya dengan hati-hati.

Ponselnya bergetar.

Danu: Udah sampai

Ara: Hujannya nggak deras kan?

Danu: Aman kan naik mobil. Kamu gimana?

Ara: Tadi pas lihat lagi bajunya… rasanya campur aduk.

Danu: Takut?

Ara: Bukan. Lebih ke… sadar.

Danu: Sadar kalau ini serius?

Ara: Iya.

Beberapa detik hening.

Danu: Dek. Terima kasih ya, sudah mau jalan ke arah yang sama.

Ara tersenyum kecil.

Ara: Makasih juga… sudah ngajak aku, bukan cuma datang.

Danu: Istirahat. Besok kita lanjut persiapan yang lain.

Ara: Pelan-pelan ya.

Danu: iya

Ara: Selamat malam, Mas.

Danu: Selamat malam, Dek

Malam itu, tidak ada lagi rasa ragu.

Hanya dua orang yang sedang belajar menjadi “kita” tanpa kehilangan “aku.”

Malam semakin larut, tapi baik Ara maupun Danu belum benar-benar terlelap.

Di kamar Ara, lampu tidur menyala redup. Dress lamaran itu masih tergantung rapi di sisi lemari, seolah ikut menunggu hari yang sama. Ara berbaring, memeluk bantal, menatap langit-langit kamar.

Untuk pertama kalinya, ia tidak membayangkan pesta atau dekorasi. Yang terlintas justru hal-hal kecil.

Bangun pagi.

Menyiapkan sarapan.

Menjawab pertanyaan orang-orang.

Ia tersenyum tipis.

Bukan takut… hanya sadar bahwa setelah lamaran, semuanya akan semakin nyata.

Ponselnya kembali bergetar pelan.

Danu: Belum tidur?

Ara tersenyum.

Ara: Belum. Kamu juga?

Danu: Iya. Kepikiran satu hal

Ara: Apa?

Beberapa detik berlalu sebelum balasan masuk.

Danu: Aku pengen nanti, setelah semua acara selesai… kita tetap bisa ngobrol kayak gini.

Ara membaca kalimat itu dua kali.

Ara: Maksudnya?

Danu: Jangan sampai nanti kita sibuk sama peran masing-masing, terus lupa jadi teman.

Ara terdiam cukup lama sebelum membalas.

Ara: Mas… justru itu yang bikin aku tenang.

Karena dari awal kamu ngajaknya pelan, bukan buru-buru.

Danu tersenyum di kamarnya.

Danu: Aku nggak mau kamu merasa sendirian di tengah perubahan.

Ara: Aku juga nggak mau kamu ngerasa harus kuat sendirian.

Hening lagi. Tapi hening yang penuh pengertian.

Keesokan paginya, rumah Ara kembali ramai. EO datang mengambil seserahan yang sudah disiapkan. Kotak-kotak dibawa keluar satu per satu, diperiksa ulang daftar barangnya.

Ara berdiri di samping ibunya, memperhatikan dengan saksama.

“Deg-degan?” tanya ibunya pelan.

Ara mengangguk kecil. “Iya, Bu. Rasanya kayak satu per satu dilepas.”

Ibunya tersenyum lembut. “Itu bukan dilepas. Itu dipindahkan.”

Ara menoleh.

“Dipindahkan ke fase berikutnya,” lanjut ibunya.

Kalimat itu membuat Ara menarik napas panjang.

Sementara itu, di rumah Danu, suasana juga mulai berbeda. Ayahnya sedang duduk di ruang tamu membaca koran, ibunya menyiapkan daftar tamu yang akan ikut saat lamaran.

Danu turun dari kamar membawa map kecil berisi dokumen dan catatan.

“Sudah siap semua?” tanya ibunya.

“InsyaAllah, Bu”

Ayahnya melipat koran. “Yang penting bukan acaranya besar atau kecil. Yang penting sikap kamu di depan keluarga Ara.”

Danu mengangguk mantap. “Iya, Yah.”

Siang itu, Ara menerima foto dari EO. Seserahan sudah dimasukkan ke dalam box transparan dengan dekorasi bunga lembut sesuai konsep yang dipilih.

Cantik. Rapi. Elegan.

Ara tanpa sadar tersenyum lebar.

Ia langsung mengirim foto itu ke Danu.

Ara: Udah jadi.

Danu membalas cepat.

Danu: MasyaAllah… cantik.

Ara: Iya… jadi makin nyata ya.

Danu: Iya. Dek?

Ara: Iya?

Danu: Nanti pas hari itu, kalau kamu gugup… lihat aku aja.

Ara terdiam.

Ara: Kamu yakin nggak yang gugup duluan?

Danu: Kalau aku gugup, kamu pegang tanganku sebentar aja.

Ara tersenyum, pipinya memerah meski tidak ada yang melihat.

Ara: Baik, Mas.

Sore menjelang. Matahari turun pelan, menyisakan warna jingga di langit.

Ara berdiri di teras rumah, menghirup udara dalam-dalam. Ia sadar, hidupnya memang tidak berubah dalam semalam. Tapi arah langkahnya sudah jelas.

Di sisi lain, Danu juga berdiri di halaman rumahnya, menatap langit yang sama.

Ia tidak lagi bertanya apakah dirinya cukup.

Ia hanya memastikan satu hal dalam hati—

Bahwa apa pun yang datang setelah ini, ia akan tetap berjalan di samping Ara. Bukan di depan. Bukan di belakang.

Di samping.

Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, keduanya merasa bukan hanya siap untuk lamaran…

Tapi siap untuk belajar menjadi pasangan.

Pelan-pelan.

1
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!