"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."
Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.
Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.
Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERAPOKAN HANDPHONE OLEH SANG BOS
Suasana yang tadinya penuh ketegangan romantis itu mendadak buyar saat sebuah dering ponsel membelah keheningan. Nana refleks meraih ponselnya di atas nakas. Begitu melihat nama yang tertera di layar, wajahnya yang mulai merona tadi langsung berubah pucat kembali.
"Arel?" gumam Nana
Ghava tertegun sejenak. Rahangnya yang tadi sudah mengeras perlahan sedikit mengendur, tapi sorot matanya tetap tajam penuh selidik. Ia menatap Nana yang tampak bingung karena ponselnya baru saja disita secara sepihak.
"Tunggu... Arel ini bukan mantan kamu yang gagal nikah itu?" tanya Ghava, suaranya masih terdengar cemburu walau volumenya merendah.
"Bukan, Mas!" seru Nana sambil berusaha merebut ponselnya kembali. "Arel itu temen deket aku, dia yang bantuin aku pas aku lagi terpuruk. Dia baru aja ngabarin udah di rumah sakit ini karena dapet info dari satpam kantor!"
Belum sempat Ghava menjawab, pintu kamar rawat inap itu diketuk dengan terburu-buru. Sosok pria muda dengan jaket kasual muncul di ambang pintu dengan napas tersengal.
"Na! Kamu nggak apa-apa?" tanya Arel panik. Ia langsung menghampiri sisi tempat tidur Nana tanpa memedulikan keberadaan Ghava yang berdiri seperti tugu monas di sana. "Tadi aku ke kantor mau anterin camilan, eh kata Pak Satpam kamu dibawa ke UGD sama... Bos kamu."
Arel kemudian menoleh ke arah Ghava. Tatapan keduanya bertemu. Ada percikan api yang langsung menyala di antara mereka. Arel yang ramah dan hangat, melawan Ghava yang dingin dan protektif.
"Oh, jadi ini Bos-nya Nana?" tanya Arel sambil mengulurkan tangan, berusaha sopan meski suasana terasa kaku. "Terima kasih ya, Mas, udah nolongin Nana. Biar sekarang saya yang jaga, Mas pasti sibuk di studio."
Ghava tidak menyambut uluran tangan itu. Ia justru melipat kedua tangannya di depan dada, membuat tubuhnya yang tegap menghalangi akses Arel untuk duduk di kursi dekat Nana.
"Saya rasa saya belum bisa pergi," ucap Ghava dingin. "Nadin itu tanggung jawab saya selama dia masih dalam masa kerja. Dan sebagai informasi, dia harus istirahat total. Terlalu banyak tamu malah bikin dia makin pusing."
Nana yang melihat itu hanya bisa menepuk dahinya pelan. "Mas Bos... Arel ini bukan 'tamu', dia temen aku. Rel, maaf ya, Mas Ghava emang lagi... agak konslet otaknya gara-gara kurang tidur."
"Nggak apa-apa, Na. Aku ngerti kok kalau Bos kamu 'perhatian' banget," balas Arel dengan senyum yang dipaksakan. Ia lalu menaruh sebuah kantong plastik di meja. "Ini aku bawain bubur ayam kesukaan kamu yang nggak pake sambal sama sekali."
Ghava melirik kantong plastik itu dengan sinis. "Dia sudah makan puding dari asisten saya yang lain. Dan dokter bilang dia harus makan makanan rumah sakit dulu. Jadi, bubur itu mending kamu makan sendiri saja di kantin."
Suasana kamar yang tadinya hangat karena curhatan semalam, kini mendadak jadi medan perang dingin. Nana hanya bisa melirik "Imoet" (bonekanya) sambil bergumam pelan, "Tolong... panggilin Mbak Yane, ini Kulkas sama Kompor Gas lagi mau meledak barengan."
Ghava terdiam sejenak, namun matanya yang tajam seolah sedang memindai setiap inci wajah Arel. Ia memberikan senyum miring yang terlihat sangat meremehkan.
"Jadi kamu calon pacarnya?" tanya Ghava, suaranya terdengar makin berat dan berbahaya. Ia melangkah satu tindak lebih dekat ke arah Arel. "Kenapa kalau memang calon pacar, kamu nggak jaga dia sampai dia bisa sakit begini? Ke mana kamu saat dia butuh sandaran sampai dia harus cari lagu saya buat bertahan hidup?"
Arel tidak mau kalah. Ia menegakkan bahunya, menatap balik Ghava dengan berani. "Saya ada saat dia butuh, Mas. Tapi kan Nana sakit karena sambal yang Mas kasih ke dia. Dia cerita ke saya lewat pesan singkat tadi sebelum drop. Jadi kalau mau bahas siapa yang nggak bisa jaga dia, harusnya Mas Bos tanya ke diri sendiri dulu."
Skakmat. Kalimat Arel barusan telak mengenai ulu hati Ghava. Wajah Ghava sempat menegang, namun ia dengan cepat menguasai keadaan.
"Itu kesalahan teknis yang sudah saya tebus dengan menjaganya semalaman," sahut Ghava dingin. "Dan sebagai 'calon', kamu harusnya tahu kapan harus mundur. Dia sedang dalam tahap pemulihan, dan kehadirannya di studio saya jauh lebih berarti daripada sekadar 'proses' yang kamu bilang tadi."
Nana yang melihat perdebatan itu mulai merasa perutnya melilit lagi—bukan karena sambal, tapi karena stres. "Aduh... aduh... perut aku..." rintih Nana sambil memegang perutnya.
Sontak, kedua pria itu langsung menoleh serentak dengan wajah panik.
"Na! Mana yang sakit?" seru Arel hendak menyentuh tangan Nana.
Namun, dengan gerakan lebih cepat, Ghava sudah lebih dulu menepis tangan Arel dengan halus tapi tegas, lalu ia duduk di pinggir tempat tidur Nana. Ia membetulkan selimut Nana dan mengusap dahi gadis itu dengan sangat lembut, seolah ingin menunjukkan pada Arel siapa yang punya "hak akses" lebih di sana.
"Jangan berisik. Kalian berdua keluar saja kalau cuma mau berantem!" ketus Nana dengan mata terpejam.
Ghava menoleh ke arah Arel dengan tatapan kemenangan yang dingin. "Kamu dengar? Dia butuh ketenangan. Silakan tinggalkan buburnya, dan silakan keluar. Saya yang akan panggil dokter kalau ada apa-apa."
Arel mengepalkan tangannya, ia merasa sangat tersisih. Ia menatap Nana yang masih meringkuk, lalu menatap Ghava. "Oke, aku keluar dulu, Na. Nanti aku telepon lagi."
Begitu Arel keluar dan pintu tertutup, Ghava tidak langsung menjauh. Ia tetap mengusap rambut Nana. "Sudah pergi orangnya. Masih sakit perutnya, atau cuma akting biar dia pergi?" bisik Ghava tepat di telinga Nana.
Ghava yang tadinya merasa di atas angin karena berhasil mengusir Arel, seketika membeku. Usapan tangannya di rambut Nana terhenti. Ia menatap asistennya itu dengan tatapan tidak percaya, seolah baru saja dijatuhkan dari puncak gunung es ke lantai yang keras.
"Saya juga?" tanya Ghava, suaranya sedikit meninggi karena kaget. "Nadin, saya yang jagain kamu semalaman. Saya yang nungguin kamu sampai leher saya mau patah di kursi ini."
Nana tidak membuka matanya. Ia justru menarik selimutnya sampai menutupi hidung, membelakangi Ghava. "Iya, Mas Bos juga keluar. Kepalaku tambah pusing denger Mas sama Arel adu mekanik di sini. Udah kayak dengerin rekaman vokal yang off-beat, berantakan."
Ghava menghela napas kasar. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang sudah kusut dengan perasaan dongkol yang tertahan di dada. Ternyata, pengakuan dosanya semalam dan aksi heroiknya barusan tidak cukup untuk membuat Nana memberikan perlakuan khusus.
"Oke, fine. Saya keluar," ucap Ghava ketus. Ia berjalan menuju pintu, namun langkahnya terhenti. Ia berbalik sebentar, menatap gundukan di balik selimut itu.
"Bubur dari cowok itu... nggak usah dimakan. Nanti saya suruh Mbak Yane bawain makanan yang lebih terjamin. Dan satu lagi," Ghava menjeda, suaranya sedikit melunak. "Ponsel kamu saya bawa. Biar nggak ada yang ganggu waktu tidur kamu. Termasuk si 'calon' itu."
"Mas Ghava! Itu namanya perampokan!" seru Nana dari balik selimut, tapi Ghava sudah lebih dulu menutup pintu kamar dengan bunyi klik yang pelan.
Di lorong rumah sakit, Ghava berdiri bersandar di tembok samping pintu kamar Nana. Ia melihat ponsel Nana di tangannya yang terus menyala karena pesan masuk dari Arel. Dengan wajah datar, Ghava memasukkan ponsel itu ke saku celananya.
"Calon pacar? Cih, langkahin dulu kulkas dua pintu ini," gumam Ghava sendirian.
Ia tidak benar-benar pergi. Ghava malah duduk di kursi tunggu di depan kamar, melipat kaki, dan bersiap "berjaga" di sana seperti bodyguard pribadi, memastikan tidak ada satu pun orang—terutama yang bernama Arel—yang bisa masuk tanpa seizinnya.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰