Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melihat Ipar saat Liburan
Lombok, pulau dengan sejuta pesona, seharusnya menjadi tempat yang sempurna untuk melepas penat. Bagi Laras, liburan kali ini adalah kompensasi atas kerja kerasnya selama berbulan-bulan di kantor. Namun, takdir seringkali memiliki cara yang unik untuk mempertemukan seseorang dengan kenyataan pahit di tempat yang paling tidak terduga.
Siang itu, matahari Lombok terasa menyengat di atas kepala, namun hembusan angin laut di sekitar pusat perbelanjaan oleh-oleh memberikan sedikit kesejukan. Laras sedang asyik memilah kain tenun khas Sasak saat pandangannya terpaku pada sesosok wanita di ujung lorong toko.
Bukankah itu Mbak Ratih? Gumam Laras dalam hati. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang.
Di sana, di antara deretan rak kerajinan tangan, tampak Ratih, istri dari Dimas, kakak ipar tertua Laras. Ratih tidak sendirian, ia dikelilingi oleh sekelompok wanita yang tampak sangat modis. Mereka tertawa lepas, gaya bicaranya keras, dan penampilan mereka benar-benar mencolok di tengah kerumunan wisatawan.
"Mbak Ratih ada di Lombok juga?" Laras membatin, matanya tak lepas memandangi kakak iparnya itu. "Wah, gayanya benar-benar sosialita sekali. Penampilannya mentereng, jauh berbeda dengan citranya di depan ibu mertua."
Tanpa sadar, Laras merogoh tasnya, mengambil ponsel, dan dengan gerakan cepat mengambil dua lembar foto Ratih yang tengah tertawa lebar bersama teman-temannya.
"Siapa yang kamu foto, Ras?" Suara Andin mengejutkannya. Sahabatnya itu muncul dari balik rak kaos oblong sambil membawa beberapa bungkusan.
Laras menunjuk dengan dagunya, berusaha tidak menarik perhatian. "Itu lho, wanita yang pakai hot pants hitam dengan atasan crop warna biru. Itu Mbak Ratih, istrinya Mas Dimas."
Pandangan Andin pun langsung tertuju ke arah yang dimaksud. Meskipun Andin tidak mengenal Ratih secara pribadi, sosok itu sangat mudah dikenali karena di antara gerombolan wanita sosialita itu, hanya dia yang mengenakan pakaian berwarna biru terang yang cukup berani untuk ukuran menantu di keluarga besar Arga.
"Oh, itu kakak iparmu yang sering kamu ceritakan itu?" Andin menyipitkan mata.
Laras mengangguk, berniat melangkah maju. "Aku mau menyapa Mbak Ratih dulu, ah."
Namun, dengan sigap Andin menahan lengan Laras. "Jangan, Ras! Jangan kamu sapa dia."
Laras mengernyitkan dahi, heran. "Kenapa? Lantas mau bagaimana lagi? Masa aku pura-pura tidak lihat?"
"Pokoknya jangan." bisik Andin tegas. "Percaya padaku, nanti malah jadi begini begitu. Sepertinya istri iparmu itu tipe wanita yang sombong dan gila hormat. Daripada nanti malah memicu masalah atau merusak suasana liburanmu, lebih baik abaikan saja. Pura-pura saja kamu tidak mengenalnya. Pakai maskermu, Ras. Pasti dia tidak akan tahu kalau ini kamu."
Laras terdiam sesaat. Kata-kata Andin meresap ke dalam logikanya. Hubungannya dengan keluarga besar Arga memang sedang berada di titik nadir. Menegur Ratih dalam situasi seperti ini bisa jadi bumerang. Setelah menimbang-nimbang, Laras akhirnya menarik napas panjang.
"Iya juga sih, Ndin. Kamu benar. Lebih baik pura-pura tidak melihat saja daripada nanti ada masalah di kemudian hari." ucap Laras setuju.
"Nah, itu baru cerdas. Kamu sendiri yang pernah cerita kalau hubunganmu dengan para ipar itu sangat tidak harmonis. Jadi untuk apa kamu menyapa dia? Belum tentu dia senang bertemu kamu di sini. Lanjutlah belanja, keburu sore nih. Kita masih punya daftar tempat lain." ajak Andin lagi.
Laras mengangguk singkat. "Oke."
Ia segera merogoh tas, mengenakan kacamata hitam besar, dan memasang masker medisnya. Kini, penampilannya tersamar sempurna. Dengan hati-hati, Laras justru bergerak mendekat ke arah rak di mana Ratih berada, sekadar ingin memastikan apa yang mereka bicarakan.
Saat ini Laras berdiri tepat di samping Ratih, berpura-pura sangat sibuk memilih kotak pie susu. Ratih, yang sibuk bercermin dengan kacamata barunya, sama sekali tidak menyadari bahwa wanita di sebelahnya adalah adik ipar yang sering ia gunjingkan.
Mbak Ratih benar-benar tidak mengenali aku. Syukurlah kalau begitu,batin Laras sinis.
Tiba-tiba, percakapan di sebelah Laras memanas. Salah satu teman Ratih bertanya, "Kamu tidak beliin oleh-oleh untuk suamimu, anakmu si Sinta atau ibu mertuamu, Ratih? Masa pulang dari Lombok tangan kosong?"
Laras menajamkan pendengarannya.
Ratih mendengus sinis sambil meletakkan kembali sebuah gantungan kunci. "Ogah banget! Nanti mereka malah tahu kalau aku liburan ke Lombok. Mereka itu tidak tahu aku ada di sini. Suamiku tahunya aku sedang ada urusan bisnis ke daerah M. Kalau sampai dia tahu aku terbang ke Lombok bersama kalian, bisa habis aku dimarahi dia."
Laras hampir saja tersedak napasnya sendiri. Jadi, Ratih sedang membohongi Mas Dimas?
"Gila kamu, Ratih. Sama suami kok pakai bohong segala. Berani banget kamu." ucap teman Ratih sambil tertawa kecil.
"Ssttt... jangan keras-keras. Tidak enak didengar orang lain." tegur Ratih sambil melirik sekitar dengan waspada, namun pandangannya melewati Laras begitu saja. "Cuma kalian saja yang tahu rahasia ini, itu pun karena kita sudah berteman dari SMA. Sudah, jangan bahas itu lagi. Intinya, aku di sini untuk bersenang-senang, bukan untuk memikirkan rumah."
Laras tersenyum di balik maskernya. Sebuah senyuman pahit sekaligus penuh kemenangan kecil. Ternyata, kakak iparnya yang selama ini selalu bersikap paling suci dan paling patuh, justru sedang bermain api di belakang suaminya. Laras melangkah menjauh dengan keranjang yang penuh. Meski hubungannya dengan keluarga Arga buruk, Laras tetaplah Laras. Dia tetap membeli beberapa buah tangan untuk mereka, sekadar menjalankan kewajiban moralnya sebagai istri.
**
Sementara itu, ribuan kilometer dari indahnya pesisir Lombok, suasana di rumah keluarga Arga terasa pengap oleh rencana-rencana licik.
Bu Ajeng menemui Arga dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin. Ia duduk di kursi kayu ruang tamu, menunggu putranya itu memberikan perhatian penuh.
"Arga, ibu perlu bicara." ujar Bu Ajeng membuka percakapan. "Ini soal rumah ibu. Kamu harus bicara pada Laras. Dia harus membayar tunggakan cicilan bank milik kakakmu itu. Kalau dalam beberapa hari ini tidak segera dilunasi, rumah ibu akan disegel pihak bank. Kamu mau lihat ibu dan Tiara menggelandang?"
Arga tampak ragu sejenak, namun Bu Ajeng segera menekan titik lemah putranya.
"Pokoknya Ibu tidak mau tahu. Kamu harus paksa Laras. Bagaimanapun caranya, Laras harus mau. Kalau dia keras kepala, ancam saja dia. Bilang kalau kamu mau menceraikannya. Ingat Arga, sebagai suami, kamu punya hak atas uang yang dihasilkan Laras. Dia itu istrimu dan aku ini ibumu. Jadi, ada hak kami di dalam keringatnya." ucap Bu Ajeng dengan logika yang sangat dipaksakan.
Arga, yang memang memiliki karakter lemah dan mudah dipengaruhi oleh ibunya, perlahan mulai tersenyum. Pikiran piciknya mulai bekerja. Jika Laras yang membayar utang Maya, maka uang simpanannya sendiri akan tetap aman.
"Iya juga sih, Bu." sahut Arga dengan nada bicara yang meremehkan. "Uang Laras itu ya uang Arga juga. Dia itu istriku, jadi dia harus patuh pada suaminya. Toh, kalau aku sebagai suami tidak memberi izin dia bekerja, dia tidak akan bisa punya uang sebanyak itu. Jadi wajar saja kalau uangnya kita pakai, ya kan, Bu?"
Bu Ajeng mengangguk mantap, merasa menang. "Nah, itu baru anak Ibu. Kamu harus tegas. Kasihan Tiara, adikmu itu. Rumah yang dijamin Maya itu sebenarnya bagian untuk Tiara nanti, itu wasiat bapakmu. Jangan sampai hilang gara-gara cicilan."
Arga mengernyit sejenak. "Tapi Bu, kenapa tidak pakai sertifikat rumah Mbak Maya saja? Kenapa harus sertifikat rumah Ibu yang digadaikan untuk pinjaman Mbak Maya dan Mas Rangga? Kalau Laras benar-benar menolak, rumah Ibu yang akan disita."
"Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Yang penting sekarang adalah bagaimana caranya Laras mengeluarkan uangnya. Dia pulang besok siang, kan? Masih ada waktu sekitar lima hari sebelum pihak bank datang menyegel." potong Bu Ajeng tidak sabar.
"Iya, tenang saja, Bu. Besok Arga urus. Laras pasti tidak akan berkutik." ucap Arga penuh percaya diri.
Suasana hening sejenak sebelum Arga kembali membuka suara dengan nada yang lebih rendah dan serius. "Bu, Arga mau bicara sesuatu. Tapi ini rahasia kita berdua ya?"
Bu Ajeng mencondongkan badannya, penasaran. "Apa itu? kenapa keliatannya kamu serius sekali?”
Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, senyum malu-malu muncul di wajahnya yang kusam. "Bu... Arga boleh tidak kalau pacaran lagi?"
Mata Bu Ajeng membelalak. "Pacaran? Maksudmu... kamu mau selingkuh?"
"Emm... iya, Bu. Habisnya Arga bosan sama Laras. Dia sibuk terus dengan pekerjaannya sampai Arga sering diabaikan. Ibu lihat sendiri, kan? Sekarang saja dia malah asyik liburan sendiri ke Lombok padahal keluarga kita lagi butuh banyak uang. Arga sudah jalan empat bulan ini sama mantan Arga dulu, namanya Angel. Dia itu mantan terindah Arga, Bu."
Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Bu Ajeng bukanlah soal moralitas, melainkan harta. "Dia kaya, tidak?"
Arga mengangguk mantap. "Setahuku Angel itu anak orang kaya, Bu. Dia baru saja pulang dari luar negeri, lulusan universitas ternama di sana. Dulu zaman SMA dia itu primadona sekolah. Orang tuanya punya bisnis besar."
Mata Bu Ajeng seketika berbinar-binar, membayangkan kemewahan yang mungkin akan ia dapatkan. "Asal dia kaya raya dan bisa menjamin hidup kita, Ibu tidak masalah. Malah bagus."
"Jadi Ibu setuju?" tanya Arga antusias.
"Boleh banget. Tapi ingat, jangan sampai Laras tahu dulu. Sekarang ini kita manfaatkan Laras sampai tetes terakhir. Meskipun orang tuanya miskin dan tidak berguna bagi kita, tapi gaji Laras itu lumayan besar. Kita pakai uangnya sampai semua urusan kita selesai." ucap Bu Ajeng dengan nada licik.
"Ibu benar sekali. Apalagi lusa tanggal 10, kan? Jatuh tempo cicilan mobil Tiara juga. Dari mana Arga punya uang 5 juta kalau bukan dari Laras?" Arga menghela napas panjang, berpura-pura pusing.
Padahal, di dalam rekening pribadinya, Arga masih menyimpan sisa uang hasil penjualan sawah warisan ayahnya. Namun, dengan liciknya, ia berbohong kepada ibunya dan Laras bahwa uang itu sudah habis untuk kebutuhan rumah tangga. Baginya, uang Laras adalah milik keluarga, sedangkan uangnya adalah miliknya sendiri.