NovelToon NovelToon
Royal Route To Bukit Lawang

Royal Route To Bukit Lawang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / TimeTravel / Komedi / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
​Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
​Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
​Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gavin

Udara di puncak bukit itu mendadak terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya, seolah alam pun ikut membeku mendengar pengakuan yang akan keluar dari bibir Aurora.

Adrian masih menggenggam jemari Aurora, namun ia merasakan tangan wanita itu bergetar hebat.

"Dri," suara Aurora pecah, nyaris berbisik.

"Kamu ingat nama yang dulu kita buat saat kita masih sering berkhayal tentang masa depan di Jakarta? Nama yang kamu bilang akan menjadi nama anak laki-laki pertama kita?"

Adrian terdiam sejenak, memori itu berputar di kepalanya.

"Gavin... Kita mau kasih nama dia Gavin."

Aurora mengangguk perlahan, setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang pucat. "Gavin sudah tenang di surga, Dri. Dia sudah menjadi malaikat kecil di sana."

Adrian tersentak hebat. Ia melepaskan genggaman tangannya, menatap Aurora dengan tatapan nanar dan napas yang mulai memburu.

"Ra... apa maksud kamu? Gavin? Surga? Jangan bercanda, Ra... Maksudnya apa?"

Aurora mengatur napasnya yang mulai terasa sesak, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya untuk mengungkap rahasia yang ia pendam sendirian selama bertahun-tahun.

"Saat kita terakhir bertemu di Jakarta, tepat sebelum aku berangkat kembali ke sini dan kita memulai LDR... aku mengandung, Dri. Buah cinta kita hadir di saat yang tidak terduga," Aurora terisak pelan.

"Aku sangat takut. Aku hancur. Aku tahu kita belum sah, dan aku tidak tahu harus bicara apa padamu. Itulah alasan kenapa komunikasiku berantakan dulu. Aku sengaja menyibukkan diri, aku menjauhimu, aku bersikap aneh... karena aku sedang berjuang menahan panik sendirian. Aku tidak ingin membebani masa depanmu yang sedang bersinar di Jakarta."

Adrian mematung. Seluruh dunianya seolah runtuh seketika. Ia teringat betapa ia dulu sering marah karena Aurora sulit dihubungi, menuduh Aurora sudah tidak cinta lagi, padahal wanita itu sedang menggendong beban nyawa yang merupakan darah dagingnya sendiri.

"Lalu... kenapa dia bisa di surga, Ra?" tanya Adrian dengan nada suara yang gemetar hebat, air matanya kini mengalir deras tanpa suara.

Aurora menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan hutan yang seolah memproyeksikan kembali kenangan pahit itu.

"Kamu ingat saat aku memposting foto tanganku diinfus dan sedang rawat inap di rumah sakit? Aku bilang aku kecelakaan?"

Adrian mengangguk lemah. Ia ingat foto itu, namun saat itu ia sedang sangat sibuk dengan pekerjaannya—dan sedang asyik menanggapi curhatan-curhatan Sherly.

"Aku mengalami kecelakaan tunggal saat akan memeriksakan kandunganku. Motor yang aku kendarai jatuh... dan di malam itu, di saat aku sangat membutuhkanmu untuk setidaknya mengangkat teleponku, aku kehilangan dia. Aku keguguran, Dri. Gavin pergi karena rahimku terlalu lemah akibat stres yang luar biasa," Aurora menoleh ke arah Adrian dengan tatapan yang sangat menyayat hati.

"Aku mencoba menghubungimu berkali-kali malam itu, tapi kamu tidak mengangkatnya. Besoknya, kamu justru membalas ceritaku dengan bilang kalau kamu sedang sibuk menemani Sherly yang sedang sedih karena diselingkuhi. Kamu lebih memilih mengobati 'luka kecil' perempuan lain daripada melihat aku yang sedang kehilangan anak kita."

Adrian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, raungan tangisnya pecah di tengah sunyinya malam. Ia merasa seperti monster.

Ia baru menyadari bahwa di saat ia merasa "lost interest" pada Aurora, sebenarnya Aurora sedang berjuang mempertahankan nyawa anaknya—anak mereka.

"Aku membunuh anakku sendiri..." raung Adrian pilu.

"Aku mengabaikan kalian berdua demi perempuan sampah itu... Ya Tuhan, Ra! Maafkan aku! Bunuh saja aku, Ra! Aku tidak pantas hidup!"

Malam yang suci itu kini berubah menjadi malam penebusan dosa yang teramat kelam.

Adrian bersujud di kaki Aurora, meraung memohon ampunan atas pengabaian yang telah menghilangkan nyawa buah hatinya yang bahkan belum sempat melihat dunia.

Suasana di puncak bukit itu seolah membeku. Suara isak tangis Adrian menjadi satu-satunya bunyi yang membelah kesunyian malam, sementara Aurora terus bercerita dengan suara yang bergetar namun penuh penekanan, seolah setiap kata adalah belati yang menguliti dosa masa lalu Adrian.

"Setelah Gavin pergi, aku merasa jiwaku ikut mati, Dri. Rumah ini, hutan ini, semuanya mengingatkanku pada kehilangan itu," Aurora menyeka air matanya yang jatuh makin deras.

"Makanya aku memutuskan pindah ke Singapore. Aku butuh udara baru, aku butuh kesibukan luar biasa supaya aku nggak gila karena terus-terusan mendengar suara tangisan bayi di kepalaku."

Adrian mendongak dengan wajah hancur.

"Jadi itu alasannya? Dan aku... aku dengan teganya menuduhmu selingkuh? Aku menganggap kepergianmu sebagai pengkhianatan karena kamu jarang kasih kabar?"

Aurora tersenyum pahit.

"Di Singapore, aku nggak punya siapa-siapa. Aku cuma kerja, kerja, dan kerja. Sampai aku bertemu Rico, rekan sekantorku yang tahu semua rapuhnya aku. Dia yang memegang tanganku setiap kali aku histeris di meja kerja."

Aurora menjeda sejenak, menatap kejauhan.

"Dan Firan... dia mitra perusahaanku. Dia pria yang melihatku di titik terendah. Kamu tahu, Dri? Saat kamu mengirim pesan terakhir bilang kalau kamu sudah resmi pacaran dengan Sherly dan menyuruhku jangan ganggu kamu lagi... malam itu aku berdiri di tepi balkon apartemenku. Aku hampir melompat."

Adrian tersentak, tangannya mencengkeram rumput dengan kuat.

"Ra... tidak..."

"Firan yang menarikku dari balkon itu, Dri. Dia yang memelukku saat aku meraung menyebut namamu dan nama Gavin. Dia yang mendatangkan psikiater, dia yang memastikan aku tetap makan, dan dia yang mengajariku kalau hidupku masih berharga meskipun kamu sudah membuangku demi Sherly. Firan bukan cuma mitra, dia penyelamat nyawaku yang hampir kamu cabut lewat pesan singkat itu."

Kehancuran Adrian yang Sempurna

Mendengar itu, Adrian benar-benar kehilangan kendali atas dirinya. Ia memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa sesak luar biasa.

Rasa bersalahnya kini bukan lagi sekadar penyesalan, melainkan siksaan batin yang menghancurkan setiap saraf di tubuhnya.

Ia baru menyadari betapa jahatnya ia selama ini. Ia merasa bangga dengan "kesetiaan" palsunya saat LDR, padahal ia sedang memanjakan wanita lain, sementara wanitanya yang sah sedang berjuang antara hidup, mati, dan kewarasan.

"Aku monster, Ra... Aku benar-benar monster!" raung Adrian, suaranya pecah berkeping-keping.

"Kamu berjuang mempertahankan anak kita, kamu berjuang melawan depresi sendirian, dan aku? Aku malah memaki-makimu karena telat balas pesan? Aku malah pamer kemesraan dengan Sherly di saat kamu mau bunuh diri?"

Adrian bersujud lebih dalam, dahinya menyentuh tanah yang dingin. Ia menangis tersedu-sedu, sebuah tangisan yang sangat menyayat hati, menyadari bahwa pengorbanan Aurora selama ini dibalas dengan kekejian yang tak termaafkan.

Di hadapannya kini bukan hanya mantan kekasih yang cantik, tapi seorang wanita yang telah melewati neraka yang ia ciptakan sendiri.

Suasana malam di puncak bukit itu seolah terhenti ketika Rico melangkah keluar dari kegelapan. Tidak ada lagi langkah gemulai atau nada bicara yang dibuat-buat.

Rico berjalan dengan langkah tegap, sorot matanya tajam namun teduh. Ia menghampiri keduanya, lalu meletakkan tangannya yang kokoh di bahu Adrian yang masih bergetar hebat dalam dekapan Aurora.

"Sudah, Adrian. Berdirilah. Laki-laki tidak boleh hancur lebih lama dari kesalahannya sendiri," suara Rico terdengar berat dan sangat maskulin, jauh dari kesan kemayu yang selama ini ia tampilkan.

Adrian mendongak, tertegun melihat perubahan drastis pada sosok Rico. Rico membantu Adrian berdiri, lalu menatapnya lekat-lekat.

"Mungkin kamu bingung melihatku sekarang," Rico memulai dengan nada rendah.

"Jujur saja, aku bukan 'banci' sejati seperti yang kamu pikirkan. Aku laki-laki normal, Adrian. Aku rela bertingkah lentik, jadi penghibur, dan jadi badut di depan semua orang hanya demi satu tujuan: membuat Aurora tersenyum lagi."

Rico melirik Aurora yang sedang menyeka sisa air matanya.

"Aku melihat dia di Singapura dalam kondisi yang lebih buruk dari mayat. Aku tahu semuanya, Adrian. Aku tahu tentang malam-malam kalian di Jakarta yang merenggut kesuciannya. Aku tahu tentang Gavin, darah dagingmu yang gugur di rahimnya saat kamu sedang asyik dengan perempuan lain. Aku yang menemaninya ke makam kecil saat dia pulang ke Indonesia secara diam-diam hanya untuk menabur bunga."

Adrian ternganga, lidahnya kelu. Rahasia yang ia pikir terkunci rapat, ternyata dijaga oleh pria yang selama ini ia remehkan.

"Bukan cuma aku," lanjut Rico tegas.

"Firan juga tahu. Kami berdua adalah orang luar yang memegang rahasia kelam ini. Kami sepakat menutupnya rapat-rapat, bahkan dari orang tua Aurora sendiri, karena kami tidak ingin Aurora menanggung malu dua kali. Kami hanya ingin dia sembuh."

Rico mencengkeram bahu Adrian, memberikan kekuatan sekaligus peringatan.

"Adrian, kamu harus tahu satu hal. Aurora itu wanita yang sudah habis. Raganya di sini, tapi jiwanya sudah lama terkubur bersama Gavin. Jika kamu masih punya sedikit saja harga diri sebagai laki-laki, perbaiki hidupmu. Bukan untuk memiliki Aurora kembali—karena jujur saja, kamu sudah tidak pantas—tapi untuk menebus dosamu pada nyawa yang hilang itu."

Rico menghela napas panjang, menatap langit subuh yang mulai menyemburat biru tua.

"Jangan biarkan pengorbanan kami menjaga rahasia ini jadi sia-sia karena kebodohanmu dengan Sherly. Selesaikan urusanmu dengan gundik itu, atau aku dan Firan yang akan turun tangan dengan cara laki-laki."

Malam itu, Adrian menyadari bahwa ia dikelilingi oleh orang-orang hebat yang jauh lebih tulus mencintai Aurora daripada dirinya.

Ia merasa sangat kecil di depan Rico. Penjelasan Rico adalah tamparan terakhir yang menyadarkan Adrian bahwa dunianya yang dulu ia anggap benar, ternyata hanyalah istana pasir yang dibangun di atas penderitaan wanita yang paling ia cintai.

Suasana di bawah langit Deli semakin khusyuk. Rico menatap api unggun yang mulai meredup, matanya berkaca-kaca saat memori masa lalunya sendiri ikut terpanggil oleh pengakuan Aurora.

"Ada satu alasan lagi kenapa aku melakukan semua ini, Adrian," suara Rico kini terdengar lebih parau, menyimpan luka lama yang sangat dalam.

"Aku punya saudara kembar perempuan. Wajahnya, tawanya, bahkan keras kepalanya sangat mirip dengan Aurora. Dia meninggal karena bunuh diri, Dri. Kasusnya hampir serupa; ditinggalkan pria yang dia cintai saat dia sedang hancur-hancurnya."

Rico menarik napas panjang, mencoba menahan sesak di dadanya.

"Waktu aku pertama kali bertemu Aurora di Singapura, aku merasa Tuhan memberiku kesempatan kedua. Aku tidak punya hubungan darah dengannya, tapi bagiku, Aurora adalah adikku. Aku sudah gagal menjaga kembaranku dulu, dan aku bersumpah tidak akan membiarkan sosok 'adik' di depanku ini menyusul ke surga dengan cara yang sama. Itulah kenapa aku rela jadi apa saja, bahkan jadi badut sekalipun, asal dia tidak merasa sendirian."

Adrian terdiam seribu bahasa. Ia tidak menyangka di balik keceriaan palsu Rico selama ini, tersimpan misi penyelamatan nyawa yang begitu mulia. Ia merasa semakin rendah di hadapan pria yang selama ini ia anggap remeh.

"Dunia ini sudah cukup keras buat Aurora, Adrian. Jangan ditambah lagi dengan tangisanmu malam ini,"

Rico menepuk bahu Adrian sekali lagi, kali ini lebih lembut seolah memberikan restu untuk tenang.

Rico kemudian bangkit berdiri, kembali ke wibawanya yang tenang.

"Sudah, cukup untuk malam ini. Rahasia sudah terbuka, luka sudah diperlihatkan. Sekarang, kembalilah ke tenda. Kita butuh istirahat. Besok pagi penelitian hari kedua akan jauh lebih berat. Kita harus profesional, setidaknya di depan Ibu dan Ayahmu."

Aurora mengangguk lemah, memberikan tatapan terima kasih yang sangat dalam kepada Rico. Ia lalu menatap Adrian untuk terakhir kalinya malam itu.

"Tidurlah, Dri. Besok pagi adalah hari baru."

Mereka bertiga akhirnya melangkah kembali ke tenda masing-masing dalam keheningan yang damai.

Meskipun hati Adrian masih terasa hancur berkeping-keping, setidaknya beban rahasia yang selama ini menghimpit Aurora telah terangkat.

Adrian masuk ke tendanya, berbaring di samping Ayahnya yang tertidur pulas, namun matanya tetap terjaga menatap langit-langit tenda,

memantapkan satu niat: Besok adalah akhir dari segalanya dengan Sherly.

1
Anonymous
tuhkan bener kalo authornya ranu pasti plotwisnya banyak banget😍😍
Anonymous
firaannnnn sing eling firaannn😭😭
R_Bell
atasnya wanita surgawi, bawahnya wanita binal juga 🤣🤭
Durrotun Nasihah
karyamu luar biasa kak..../Rose//Rose//Rose/
Ranu Kallanie Jingga: Waah Makasih kak🤭
Tetap pantengin kelanjutannya ya kak😍
total 1 replies
Durrotun Nasihah
luar biasa kak ......semngat....
Ranu Kallanie Jingga: Terima kasih kak🤭😍
total 1 replies
Anonymous
sherly kata gue mending lu beneran tobat deh...
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
Anonymous
sherly jadi kalem malah bikin curiga🙄😬
Ranu Kallanie Jingga: hihi trust issue bgt ya sama sherly😄
total 1 replies
Anonymous
aurora udh jadi mantan aja masih royal ke kluarga nya adrian apalagi kalo belum jadi mantan gak kebawang semewah apa🤭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
Sinta Harianto
Suka dengan alur cerita nya
Ranu Kallanie Jingga: terima kasih kak
jangan lupa pantengin terus kelanjutanya ya😍🤭
total 1 replies
Andriani
lah katanya orang beriman. dhuha gak pernah tinggal... wih drama x ni cewek🤭
Allea
jalang banget sih si serly😑
Andriani
lanjut kk... bagus ni ceritanya... anak medan kereenn😍
Ranu Kallanie Jingga: siap kakk..
pantengin terus ya kelanjutannya🤭🤭

Salam Anak Medan...
HORAASSSS😍
total 1 replies
Fita Lidya
ak suka sindiranx😄
Anonymous
ayoo buruan lanjut lagi thor😍😍
Anonymous
pasti selalu banyak plot twisnya...
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...
Ranu Kallanie Jingga: balikan gak yaaa hihi🤭
total 1 replies
Allea
semoga endingnya Aurora ga balik ma andrian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!