"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Viola Menghasut
Puisi untuk Malam yang Penuh Racun
Ada ular menyusup di antara seprai
Membisikkan nama yang dulu dikhianati
"Ia berbahaya," desismu membara
Tapi matamu tak bisa bersembunyi dari luka
Kau lihat kini mawar yang kau injak
Berdiri tegak meski duri patah
Di antara bimbang dan hasrat yang membara
Kau lupa—dialah yang kau khianati semalam suntuk
Selamat datang di persimpangan
Antara ingin percaya dan terus berdusta
Karena saat ular mulai gelisah
Adalah saat racunnya kembali ke pemiliknya.
---
Malam itu, hujan mengguyur Jakarta tanpa ampun. Butir-butir air menghantam jendela kamar utama seperti ribuan pertanyaan yang tak terjawab. Richard duduk di tepi tempat tidur, dasi terlonggar, kemeja mahalnya kusut—pemandangan yang tak biasa bagi pria yang selalu sempurna dalam setiap penampilan.
Viola masuk tanpa mengetuk. Ia hanya mengenakan kimono sutra tipis, rambut basah selesai mandi. Di tangan kirinya, dua gelas anggur merah. Di tangan kanannya, racun yang dikemas manis.
"Kau belum tidur?" suaranya lembut, terlalu lembut.
Richard bahkan tak menoleh. "Pikiranku kacau."
Viola duduk di sampingnya, meletakkan gelas di nakas. Ia mendekat, menyandarkan kepala di bahu Richard. Wangi parfumnya—Coco Mademoiselle—memaksa Richard mengingat sesuatu. Wangi yang sama dengan Alana tiga tahun lalu, sebelum semuanya hancur.
"Karena dia?" bisik Viola.
Richard diam. Tapi diam adalah jawaban.
Viola bangkit, berjalan ke hadapannya. Ia berlutut, meletakkan kedua tangan di paha Richard. Matanya mendongak—tatapan yang selalu ampuh meluluhkan hati Richard.
"Dengar, Sayang," ucapnya pelan. "Alana tidak sama seperti dulu. Aku melihatnya. Cara dia bicara, cara dia memandang kita... itu bukan Alana yang kita kenal."
"Kita tidak pernah benar-benar mengenalnya," gumam Richard.
Viola mengabaikan itu. "Dia menyusun sesuatu. Aku yakin. Buktinya—perusahaanmu mulai goyah sejak dia diam-diam menjual tanah warisannya. Kau pikir itu kebetulan?"
Richard menoleh, menatap Viola dengan sorot tajam. "Kau tahu sesuatu?"
Viola tersenyum tipis. Kemenangan kecil. "Aku hanya perempuan yang mengamati, Sayang. Dan mataku tidak pernah berbohong padamu. Alana berbahaya. Jika kau tidak bertindak sekarang, dia akan menghancurkan kita berdua."
Tapi malam itu, saat Viola tertidur di sampingnya dengan napas teratur, Richard tak bisa memejamkan mata.
Ia memandangi langit-langit kamar. Kamar yang sama di mana tiga tahun lalu Alana menangis diam-diam setiap malam. Kamar yang sama di mana ia dan Viola pertama kali bercinta di balik punggung istrinya. Kamar yang sama di mana Alana selalu bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan—walaupun sarapan itu ia habiskan bersama Viola di meja makan, dengan Alana hanya tersenyum dari dapur.
Tuhan... bagaimana mungkin aku selama ini buta?
Richard teringat pertemuan siang tadi. Alana datang ke kantornya—bukan dengan wajah pasrah seperti biasanya, tapi dengan gaun biru laut yang membuatnya terlihat seperti CEO sejati. Ia membawa proposal.
"Proyek apa ini?" tanya Richard curiga.
"Proyek yang akan menyelamatkan perusahaanmu," jawab Alana tenang. "Karena jika kau terus begini, Richard, enam bulan lagi kita bangkrut. Kau mau anak kita mewarisi apa? Utang?"
Anak kita.
Kata-kata itu menghantam dadanya. Selama ini ia berpikir Alana tak peduli pada masa depan. Tapi di balik diamnya, ternyata ia menghitung, menganalisis, menyusun strategi. Proposal di tangannya hari ini bukan karya sembarangan. Angka-angka presisi, proyeksi akurat, analisis risiko mendalam.
"Ini... kau yang buat?" tanyanya tak percaya.
Alana tersenyum. Senyum yang tak bisa ia tebak artinya. "Ayahku mengajariku banyak hal sebelum meninggal. Sayangnya, kau terlalu sibuk dengan urusan lain untuk memperhatikan."
Dan saat itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Richard melihat Alana dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai istri yang membosankan. Bukan sebagai beban. Tapi sebagai... mitra. Sebagai seseorang yang mungkin selama ini ia remehkan.
Kembali ke malam ini, di samping Viola yang terlelap, Richard bertanya pada dirinya sendiri: Siapa sebenarnya yang berbohong padaku?
Viola bilang Alana berbahaya. Tapi sejak kapan Alana menunjukkan bahaya itu? Yang ia lakukan hanya diam. Yang ia lakukan hanya bertahan. Bahkan saat tahu Richard berselingkuh di bawah atapnya sendiri, Alana tak pernah mengamuk, tak pernah mengancam.
Atau justru diamnya itu yang paling berbahaya?
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
"Lihatlah lebih dekat, Richard. Kebenaran tak pernah bersembunyi, ia hanya menunggu kau berhenti berpaling."
Richard bangkit, jantung berdebar. Ia melihat sekeliling, merasa diawasi. Tapi hanya ada Viola yang tidur dengan damai—atau pura-pura damai?
Ia membuka jendela kamar. Hujan masih deras. Di seberang jalan, di bawah lampu temaram, ia melihat sesosok bayangan. Wanita bergaun putih, berdiri di bawah payung hitam. Menatap lurus ke arahnya.
Alana?
Tapi saat kilat menyambar, bayangan itu lenyap. Mungkin hanya halusinasi. Mungkin juga tidak.
Richard menutup jendela, tapi hatinya tak bisa tenang. Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti tikus yang terjebak dalam permainan kucing. Dan kucing itu—entah Alana atau Viola—sedang mengasah cakar.
Pagi harinya, Viola bangun lebih dulu. Ia menemukan Richard sudah duduk di ruang makan, mengenakan jas rapi, kopi di tangan. Tapi matanya sembab. Tak tidur semalaman.
"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Viola, mencoba meraih tangannya.
Richard menarik tangan. Sedikit. Tapi cukup untuk membuat Viola tersentak.
"Aku mau sarapan dulu," kata Richard dingin. "Kau boleh kembali tidur."
Viola membeku. Selama tiga tahun, Richard tak pernah bicara seperti itu. Selalu hangat, selalu perhatian. Kini nada suaranya seperti... pada Alana dulu.
Saat Viola berbalik hendak pergi, Richard berkata tanpa menoleh, "Vio, apa kau yakin Alana berbahaya? Atau jangan-jangan... kau?"
Viola berhenti. Wajahnya pucat. Tapi ia cepat menguasai diri, memutar tubuh, tersenyum manis.
"Sayang, aku hanya ingin melindungi kita. Tapi jika kau mulai meragukanku... mungkin aku harus membuktikan sesuatu padamu."
"Buktikan apa?"
Viola mendekat, berbisik di telinga Richard. "Aku punya sesuatu tentang Alana. Sesuatu yang akan membuatmu melihat dia seperti apa adanya. Tapi kau harus janji—setelah ini, kau tak akan ragu lagi padaku."
Richard menatapnya lama. Di kedalaman matanya, Viola melihat sesuatu yang baru: bukan cinta, bukan nafsu, tapi perhitungan.
"Baik," kata Richard akhirnya. "Tunjukkan padaku."
Dua jam kemudian, di ruang kerja pribadi Richard, Viola memutar rekaman dari ponselnya. Di layar terlihat Alana—tiga bulan lalu, di sebuah kafe pinggiran. Ia duduk bersama Lucas, pria yang tak dikenal Richard.
Mereka berbicara pelan, tak terdengar jelas. Tapi yang jelas, Lucas menyerahkan map tebal pada Alana. Alana membukanya, tersenyum tipis, lalu mengangguk.
"Itu orang kepercayaan ayahnya," bisik Viola. "Dulu dipecat setelah ayahnya meninggal. Sekarang mereka bertemu lagi. Kau tak curiga?"
Richard diam. Matanya tak lepas dari layar.
Lalu tiba-tiba, rekaman menunjukkan sesuatu yang lain. Alana menangis. Menyeka air mata dengan punggung tangan. Lucas memegang bahunya—dengan cara yang terlalu akrab. Terlalu... intim.
Richard mengepalkan tangan.
"Aku tahu ini berat," desah Viola, berpura-pura simpati. "Tapi kau harus tahu siapa yang selama ini kau bela."
Richard mematikan layar. Ia berdiri, berjalan ke jendela. Punggungnya kaku.
"Kau merekamnya kapan?"
"Beberapa minggu lalu. Aku curiga sejak awal. Maaf jika kau marah, aku hanya..."
"Kau hanya melindungi kita," potong Richard datar. "Aku paham."
Viola menghela napas lega. Ia mendekat, memeluk Richard dari belakang. "Sekarang kau percaya padaku, Sayang?"
Richard tak menjawab. Tapi ia membiarkan pelukan itu. Viola tersenyum puas.
Yang tak ia sadari: di cermin di hadapannya, Richard menatap bayangan Viola dengan sorot yang tak terbaca. Bukan cinta. Bukan marah. Tapi sesuatu yang lebih gelap.
Alana berbahaya? Mungkin. Tapi kau, Viola... kau jauh lebih berbahaya dari yang kau kira. Dan aku mulai lelah menjadi pion di papan catur kalian.
Di ujung kota, di apartemen kecil yang tak pernah diketahui siapa pun, Alana menerima pesan dari Lucas.
"Richard mulai curiga pada Viola. Tapi ia juga curiga padamu. Waktunya tepat."
Alana tersenyum. Ia memandangi setangkai mawar merah di vas—satu-satunya benda mahal di ruangan itu. Perlahan, ia menyentuh durinya. Darah menetes dari ujung jarinya, tapi ia tak peduli.
"Permainan baru saja mulai, Viola," bisiknya pada malam. "Kau pikir kau menjatuhkanku dengan rekaman itu? Lucu. Kau lupa—aku yang mengatur adegan itu. Lucas kawanku. Dan kau... kau baru saja mengantarkan Richard tepat ke pangkuanku."
Ia menghapus darah di ujung jari, lalu menekan panggil di ponselnya. Satu kata dikirim ke Richard:
"Terima kasih."
Richard membaca pesan itu lima menit kemudian, saat Viola sedang mandi. Ia bingung. Apa maksudnya?
Tapi yang lebih membingungkan: kenapa dadanya berdebar membaca dua kata sederhana dari wanita yang selama ini ia sia-siakan?
---
[Bersambung...(ノ゚0゚)ノ→
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄