NovelToon NovelToon
NALA

NALA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dunia Masa Depan / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Saqila nur sasih

Sepuluh tahun lalu, hujan merenggut segalanya dari seorang gadis lima belas tahun. Tanah longsor menelan kedua orang tuanya tanpa jejak, memaksanya tumbuh sebelum waktunya. Sejak hari itu, Nala belajar satu hal: hidup bukan tentang memilih, tapi tentang bertahan.

Bersama adiknya, Niskala, ia pindah ke ibu kota dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun kenyataan jauh lebih kejam. Pendidikan dirampas, masa kecil dipaksa hilang, dan mereka harus berdiri di lampu merah menjual tisu demi bertahan hidup. Hingga suatu malam, dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam selama bertahun-tahun, Nala memilih kabur—membawa satu-satunya hal yang tak boleh hancur: mimpi adiknya.

Di kota yang tak pernah benar-benar peduli, Nala bekerja tanpa henti. Pagi sebagai kasir, siang di minimarket, malam menjadi barista, bahkan memasak mi di warnet sempit yang pengap. Tubuhnya lelah, perutnya sering kosong, tapi satu hal tak pernah goyah: Niskala harus tetap sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng

"Topengnya bekerja sempurna terlihat rapi di hadapan dunia, namun kacau di balik layar jiwa”

Nala masuk ke kamar sebentar, lalu kembali dengan selembar kertas yang sudah sedikit kusut. Ia tidak melemparnya. Tidak juga membantingnya. Ia hanya menyodorkannya pelan ke atas meja, tepat di depan Kala.

Surat peringatan itu.

Kertas putih dengan tulisan hitam yang terasa lebih berat dari besi.

Kala menatapnya sekilas, lalu wajahnya langsung kehilangan warna. Pucat. Bibirnya sedikit terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Matanya bergerak cepat membaca bagian yang sudah ia hafal di luar kepala.

Tertangkap basah.

Ruangan itu terasa mengecil. Lampu rumah yang redup membuat bayangan mereka jatuh panjang di dinding yang catnya mulai mengelupas. Nala berdiri di seberang meja, tidak menyilangkan tangan, tidak menunjuk, tidak meninggikan suara. Ia hanya menatap.

Tatapan yang tidak keras, tapi juga tidak bisa dihindari.

“Aku nunggu,” katanya pelan.

Hanya itu.

Tak ada tuduhan. Tak ada kalimat “kenapa kamu begini?” atau “kamu tahu aku kerja sekeras apa?” Justru itu yang membuat napas Kala semakin tidak teratur. Ia tahu kakaknya bekerja tiga tempat demi membayar uang kuliahnya. Ia tahu semua itu.

Dan tetap saja surat ini ada.

“mbak… aku…” suaranya bergetar. Tenggorokannya kering.

Nala tidak memotong. Tidak menyela. Ia tetap berdiri, matanya sedikit merah tapi tidak menangis. Ia memberi ruang, ruang yang mungkin terasa lebih menyakitkan daripada dimarahi.

Di dalam dadanya, Nala sedang menahan badai. Ia ingin bertanya kenapa. Ia ingin berkata bahwa ia lelah. Ia ingin bilang bahwa ia tidak sanggup jika harus kehilangan masa depan adiknya juga.

Kala akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya merah, bukan karena rokok—tapi karena sesuatu yang lebih lama ia tahan.

“Aku kerja, mbak” suaranya pecah di tengah kalimat. “Aku ambil shift malam di gudang. Sama bantu-bantu di bengkel temen… aku cuma mau bantu.”

Nala diam. Wajahnya tak berubah, tapi tangannya perlahan mengepal.

“Surat itu keluar karena aku jarang masuk,” lanjut Kala, napasnya makin tak teratur. “Aku pilih kerja. Soalnya aku lihat kamu capek, mbak. Kamu sampai minum obat tiap malam. Aku nggak bisa cuma duduk di kelas pura-pura nggak tahu apa-apa.”

Setiap kata seperti batu yang dilempar pelan ke dada Nala.

“Aku nggak mau jadi beban,” tambah Kala, lebih keras sekarang. “Aku nggak mau cuma numpang hidup di pundak kamu.”

Dan di situlah sesuatu di dalam diri Nala retak.

“Beban?” ulang Nala, suaranya masih rendah, tapi sudah bergetar. “Kamu pikir kamu beban?” Kala tak menjawab, tapi tatapannya keras, keras karena merasa benar.

Ledakan itu akhirnya datang.

“Dari dulu aku bilang apa, Kala?!” suara Nala meninggi untuk pertama kalinya malam itu. “Tugas kamu cuma satu! Belajar! Cuma itu! Aku yang urus yang lain!”

Tangannya menghantam meja, membuat surat peringatan itu terangkat sedikit lalu jatuh kembali.

“Aku kerja dua tempat bukan supaya kamu jadi pahlawan!” lanjutnya, napasnya berat. “Aku kerja supaya kamu bisa duduk di kelas dengan tenang! Supaya kamu nggak perlu ngerasain apa yang aku rasain!”

Kala berdiri mendadak, kursinya bergeser keras di lantai.

“Dan aku nggak minta kamu ngorbanin segalanya sendirian!” balasnya. “Aku nggak minta kamu sakit sendirian! Aku nggak minta kamu pura-pura kuat tiap hari!”

Suasana memanas. Kata-kata yang selama ini mereka telan akhirnya tumpah tanpa saringan.

“Kamu nggak ngerti!” Nala hampir berteriak sekarang. “Kalau kamu berhenti kuliah, semua ini buat apa? Semua capekku buat apa?!”

“Dan kalau kamu jatuh karena kecapekan, semua itu buat apa, Ka?!” Kala membalas, suaranya pecah. “Aku lihat kamu makin kurus. Aku lihat kamu makan cuma roti sama obat! Kamu pikir aku buta?!”

Nala terdiam sepersekian detik. Tapi emosinya sudah terlalu tinggi untuk berhenti.

“Aku kakak kamu!” katanya, suaranya gemetar antara marah dan terluka. “Aku yang tanggung jawab!”

“Aku juga punya harga diri!” Kala membentak balik. “Aku nggak mau cuma jadi adik yang diselamatin terus!”

Napas mereka sama-sama berat. Mata sama-sama basah. Tapi tak ada yang mau mundur.

“Kamu egois, mbak!” ucap Kala, kalimat yang langsung membuat udara terasa beku. “Kamu cuma mau jadi pahlawan sendirian!”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun malam ini. Wajah Nala berubah. Bukan lagi marah semata tapi terluka.

“Aku egois?” suaranya kini lebih pelan, tapi lebih tajam. “Aku egois karena aku nggak mau kamu hancur?”

“Dan kamu pikir aku nggak hancur lihat kamu begini?!” teriak Kala.

Cekcok itu kini bukan lagi soal surat. Bukan lagi soal pekerjaan. Itu tentang dua orang yang sama-sama ingin melindungi, tapi sama-sama merasa gagal Kala menepis surat itu dari meja.

 “Kalau aku DO, ya sudah! Aku cari kerja tetap! Kita bagi beban!”

Tamparan itu tak pernah terjadi. Tapi kalimat itu terasa seperti tamparan yang nyata.

“Jangan pernah ngomong begitu!” Nala berteriak, air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. “Jangan pernah berani ninggalin kuliah cuma karena keadaan!”

Kala terdiam, dadanya naik turun cepat. Tapi keras kepalanya belum runtuh. Malam itu, rumah kecil mereka dipenuhi suara yang selama ini disimpan. Luka yang sama-sama dipikul, kini saling dilempar. Dan di antara kemarahan itu, terselip satu hal yang sama takut kehilangan.

Namun karena terlalu takut, mereka justru saling melukai.

Hening datang tiba-tiba setelah ledakan panjang itu.

Napas mereka masih berat, tapi kata-kata mulai habis. Air mata di pipi Nala belum sepenuhnya kering ketika ia akhirnya memalingkan wajah. Ia sadar jika diteruskan, malam ini hanya akan menyisakan penyesalan yang lebih dalam.

Ia menutup mata sebentar. Lalu saat membukanya kembali, sorotnya berubah. Bukan lagi amarah yang tak terkendali. Tapi keputusan.

“Dengar aku baik-baik, Kala.” Suaranya rendah, tegas, tak lagi bergetar.

Kala berdiri diam di seberangnya. Rahangnya mengeras, tapi ia tak lagi membalas.

“Kamu akan lanjut kuliah.” Setiap katanya diucapkan jelas. “Tanpa bantahan. Tanpa kerja sampingan. Tanpa alasan.”

Nala melangkah mendekat satu langkah.

“Itu bukan permintaan. Itu keputusan.”

Ruangan terasa berat oleh kalimat itu.

Kala membuka mulutnya sedikit, mungkin ingin membantah. Tapi melihat wajah kakaknya malam itu lelah, pucat, mata sembab namun berdiri setegak mungkin kata-kata itu tak jadi keluar.

Ia hanya menunduk.

Tak ada jawaban. Tak ada persetujuan. Tak ada penolakan.

Diam.

Dan diamnya itu justru terasa lebih menyakitkan.

Nala menarik napas panjang. Dadanya masih sesak, tapi ia tahu ia tak bisa tinggal lebih lama. Ia masih harus bekerja. Hidup mereka tak berhenti hanya karena pertengkaran. Ia meraih tasnya, menyampirkannya ke bahu. Tangannya sempat berhenti di gagang pintu. Untuk sepersekian detik, ia ingin menoleh. Ingin memastikan adiknya baik-baik saja. Ingin memeluknya. Tapi jika ia menoleh sekarang, mungkin ia akan runtuh.

“Aku berangkat,” ucapnya pelan, tanpa menatap.

Tak ada jawaban dari belakang.

Pintu terbuka. Udara malam menyentuh wajahnya yang masih hangat oleh emosi. Ia melangkah keluar, menutup pintu pelan tidak membantingnya.

Di dalam rumah, Kala masih berdiri di tempatnya. Surat peringatan itu tergeletak di meja. Lampu redup memantulkan bayangannya yang terlihat lebih kecil dari biasanya.

Sementara di luar, Nala berjalan menuju café tempatnya bekerja sebagai barista.

Langkahnya cepat, tapi hatinya tertinggal.

Di antara suara kendaraan dan angin malam, ada satu hal yang ia tahan erat di dalam dadanya ia boleh lelah, boleh marah, boleh terluka.

Tapi ia tidak akan berhenti menjadi kakak.

1
Sopo Jarwo
lanjuttt thooooor
Qilass
jangan lupa di like, Komen sama di vote dong gengs. biar aku semangat up nya
wasiah miska nartim
lanjut thooooooooooor
Qilass
jangan lupa, like, komen, vote dan juga subscribe ya biar aku semakin semangat buat nulis. Selamat menikmati kisah Nala
Qilass
di tunggu ya, akan ada up 3 episode sekaligus setiap harinya
Qilass
halo pembaca setia Nala 👋👋, cerita ini akan up setiap hari 3 episode ya jadi tungguin aja kelanjutannya terimakasih 🙏
falea sezi
males deh cwek oon gini jd lacur aja dripada nurutin bapakmu
falea sezi
jangan mau mending kala putus kuliah kalian pergi jauh oon bgt lemah
Qilass: haha dapet banget emosinya kak
total 1 replies
falea sezi
adek g tau diri usir aja lah
wasiah miska nartim
lanjut thoooooooor
wasiah miska nartim
mentalnya nala itu mental baja,semangat thoooooor up nya😁😁
Qilass: Nala memang harus mental Baja, karena dia ngandelin diri sendiri
total 1 replies
anymous
kasiaan banget nala
Sopo Jarwo
sukaaa banget thorr lanjut
Anonymous
nalaaa yang kuat ya
wasiah miska nartim
ko banyak bawang nya thor
Qilass: jujurly aku sebagai author aja gak tega. tapi Nala kuat kok tenang aja
total 1 replies
Sopo Jarwo
okee banget aku penasaran sama si erlic cuuy di misterius banget
anymous
suka banget sama ceritanya. nala sosok Kaka yang tegar, semua ia lakukan demi sang adik. di sisi lain dia juga ketempu sama ayah kandungnya tapi bukannya menanyakan kabar malah memanfaatkannya
Qilass: huhu iya kasian banget ya dia, ikutin ceritanya terus ya. bakal ada plot yang seru kedepannya
total 1 replies
anymous
baskara pilih kasih banget iih
Anonymous
baguss banget Nala ini tipe anak perempuan pertama yang gak mau nyusahin orang
Anonymous
gass up crazy thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!