Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kediaman Baru
Langkah kaki Riser bergema di trotoar Distrik Kuoh yang mulai sepi saat matahari terbenam. Setelah pertemuan yang menegangkan dengan Rias Gremory, ia memutuskan bahwa menetap sepenuhnya di Underworld atau di asrama sekolah bukanlah pilihan strategis. Ia membutuhkan sebuah markas—sebuah tempat yang tidak hanya berfungsi sebagai benteng, tetapi juga rumah bagi para wanita yang kini menggantungkan hidup padanya.
Pilihannya jatuh pada sebuah mansion tua yang berdiri di atas bukit di pinggiran kota, area yang dijuluki sebagai "Hutan Tanpa Suara". Properti ini telah lama ditinggalkan karena rumor hantu, namun bagi Riser, ini adalah lokasi sempurna dengan titik fengshui mana yang sangat stabil.
"Jadi, di sini kita akan tinggal, Tuan?" Ayaka bertanya sambil menyapu pandangannya ke arah gerbang besi tua yang berkarat. Di belakangnya, rombongan peerage Riser berdiri dengan ekspresi beragam.
"Tempat ini menyeramkan," gumam Rei Miyamoto, tangannya masih memegang erat tasnya. Ia melirik ke arah pepohonan yang rimbun. "Kau yakin tidak ingin membeli kondominium modern saja di pusat kota?"
[ Pesan Sistem: Hmph! Gadis ini tidak tahu seni sama sekali! Kak Riser, jelaskan padanya kalau mansion tua punya nilai sejarah dan privasi yang lebih tinggi. Lagipula, dengan sedikit sihir pembersihan dariku, tempat ini akan jadi lebih mewah dari hotel bintang lima mana pun! 😤✨ ]
"Tempat ini memiliki privasi, Rei," jawab Riser tenang. Ia meletakkan tangannya di gerbang besi tersebut. Sedetik kemudian, api biru Phenex merambat pelan, bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk membakar karat dan segel kuno yang menghalangi jalan masuk.
Krieeet—
Gerbang terbuka perlahan. Mereka melangkah masuk menyusuri jalan setapak yang ditutupi daun kering. Saeko berjalan di depan, matanya yang tajam mengawasi setiap sudut bayangan. Nezuko, yang kini sudah bangun, tampak sangat bersemangat. Ia berlari kecil mengejar kupu-kupu malam yang lewat, seolah tidak peduli dengan suasana suram tempat itu.
"Yubelluna, Ayaka," panggil Riser. "Mulai besok, aktifkan Teleport Grid dan Ice Barrier di sekeliling hutan ini. Aku ingin tempat ini tidak terlihat oleh satelit manusia maupun radar iblis kelas menengah."
"Dimengerti, Tuanku," jawab Yubelluna dengan senyum kalkulatifnya.
Begitu sampai di depan pintu utama mansion yang bergaya arsitektur Barat abad ke-19, Shizuka Marikawa tiba-tiba bersorak. "Wah! Lihat balkon itu! Itu sempurna untuk berjemur setelah mandi! Riser-kun, kau memang punya selera yang bagus!"
[ Pesan Sistem: Kak Riser! Lihat ekspresi Shizuka! Dia pasti sudah membayangkan hal-hal yang tidak-tidak lagi. Aku harus mengingatkanmu, jangan sampai kau ikut-ikutan berjemur dengannya! Aku akan mengunci pintu balkon kalau kau sampai berani melakukannya! 💢🙄 ]
Riser hanya bisa menghela napas mendengar kecemburuan Yui. Ia membuka pintu besar itu, dan meskipun bagian dalamnya berdebu, kemegahan aslinya masih terlihat dari tangga melingkar dan lampu kristal raksasa yang menggantung di lobi.
"Malam ini kita akan membersihkan tempat ini secara manual," ucap Riser, yang membuat Rei ternganga.
"Apa?! Kau punya sihir, punya sistem, dan kau menyuruh kami bersih-bersih manual?!" Rei memprotes, wajahnya cemberut.
"Ini adalah latihan koordinasi dan membangun rasa memiliki, Rei," jawab Riser sambil melepas jubah kebesarannya dan menyampirkannya ke bahu Saeko. "Jika kau ingin menganggap tempat ini sebagai rumah, kau harus mengeluarkan keringat untuknya."
[ Pesan Sistem: Bagus, Kak Riser! Ajari mereka arti kerja keras. Tapi sebenarnya... aku tahu kau hanya ingin melihat mereka memakai baju santai yang sedikit ketat saat bersih-bersih, kan? Dasar licik! Aku bisa membaca pikiran kotor yang tersembunyi di balik alasan 'koordinasi' itu! 😒🔥 ]
Riser mengabaikan sindiran Yui dan mulai membagi tugas. Saeko dan Rei ditugaskan membersihkan area luar dan keamanan, Ayaka dan Yubelluna menangani interior dengan bantuan sihir elemen, sementara Shizuka bertanggung jawab atas dapur dan area medis. Nezuko? Ia dengan senang hati membantu memindahkan perabotan kecil dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa.
Suasana yang tadinya sunyi dan mencekam berubah menjadi sibuk. Suara tawa Shizuka, keluhan Tsundere dari Rei, dan instruksi tenang dari Ayaka mulai mengisi kekosongan mansion tersebut. Riser sendiri berdiri di tengah aula, mengawasi mereka semua.
Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di tubuh ini, Riser merasa bahwa "sangkar" yang ia bangun bukan lagi sebuah penjara politik, melainkan sebuah benteng yang hangat.
Keesokan harinya, matahari menyinari Distrik Kuoh dengan cerah. Di depan gerbang mansion yang kini sudah jauh lebih bersih, Riser berdiri mengenakan setelan kasual namun berkelas—kemeja linen putih dengan kerah terbuka dan celana kain hitam yang pas di tubuhnya. Di belakangnya, barisan wanita dengan kecantikan yang mampu menghentikan detak jantung siapa pun yang melihatnya sudah bersiap.
"Ingat, kita ke pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan mendasar, bukan untuk memulai perang," ucap Riser, melirik Rei yang terlihat sangat tegang seolah sedang menuju medan tempur.
[ Pesan Sistem: Kak Riser, kau yakin membawa mereka semua sekaligus? Lihatlah! Saeko dengan kemeja ketatnya, Ayaka yang tampak seperti bangsawan yang tersesat, dan Rei yang terus-menerus menarik roknya karena tidak terbiasa. Kau akan menarik perhatian satu kota! Jangan salahkan aku kalau besok kau jadi viral di internet manusia! 🙄📸 ]
"Yui, biarkan saja. Mereka butuh sedikit hiburan," batin Riser singkat.
Begitu mereka tiba di mal terbesar di Kuoh, atmosfer di sekitar pintu masuk mendadak berubah. Orang-orang berhenti berjalan. Para pria menahan napas, sementara para wanita berbisik-bisik iri. Riser berjalan di tengah, dikelilingi oleh para heroinenya seperti seorang kaisar yang sedang melakukan inspeksi wilayah.
"Wah! Riser-kun, lihat tempat tidur itu! Sangat empuk!" Shizuka bersorak, langsung berlari ke arah toko furnitur mewah dan menjatuhkan dirinya ke atas kasur contoh.
"Shizuka-san! Tolong jaga martabat Tuan Riser!" Ayaka memperingatkan dengan wajah yang sedikit memerah, mencoba menarik Shizuka yang sudah mulai berguling-guling nyaman di atas kasur.
[ Pesan Sistem: Astaga, Shizuka itu... dia benar-benar tidak punya rasa malu! Dan lihat, orang-orang mulai mengambil foto. Kak Riser, cepat lakukan sesuatu sebelum dia mencoba mengundangmu tidur di sana juga! Aku tidak mau sistemku meledak karena rasa malu! 💢😭 ]
Riser hanya bisa memijat pangkal hidungnya. Ia kemudian beralih ke bagian pakaian. "Saeko, Rei, kalian butuh pakaian yang lebih fleksibel untuk bergerak di dunia manusia. Pilih apa pun yang kalian suka."
Rei Miyamoto tampak ragu-ragu di depan rak gaun musim panas. "Aku... aku tidak biasa memakai pakaian seperti ini. Biasanya hanya seragam atau pakaian latihan."
Riser melangkah mendekat, mengambil sebuah gaun sundress berwarna kuning cerah dengan motif bunga kecil dan menyodorkannya ke arah Rei. "Coba ini. Warna ini cocok dengan rambutmu."
Wajah Rei memerah padam seketika. "K-kau pikir kau punya selera bagus? Jangan memerintahku! Tapi... baiklah, akan kucoba, tapi bukan karena kau yang menyarankannya, ya!"
[ Pesan Sistem: Hmph! Tsundere tingkat klasik. Kak Riser, kau terlalu ahli dalam menangani gadis seperti dia. Jangan terlalu manis padanya, nanti dia malah benar-benar jatuh cinta dan sistemku akan dipenuhi dengan data detak jantung yang berisik! 😒💕 ]
Sementara Rei di ruang ganti, Nezuko berjalan mendekati rak aksesori. Ia menunjuk sebuah topi anyaman besar dengan pita merah. Riser berjongkok dan memakaikan topi itu ke kepala Nezuko. Topi itu hampir menutupi separuh wajahnya, namun Nezuko tampak sangat senang, mengeluarkan suara "Mmuu!" yang ceria sambil memutar tubuhnya.
"Kau terlihat manis, Nezuko," puji Riser, yang membuat Nezuko langsung memeluk kakinya.
[ Pesan Sistem: PERINGATAN! Tingkat keimutan melampaui batas! Nezuko mendapatkan buff 'Sangat Menggemaskan'. Dan Kak Riser, kau mulai terlihat seperti ayah yang sangat memanjakan anaknya. Ingat, kau adalah calon penguasa Underworld, bukan pengasuh bayi! (Tapi... yah, dia memang imut sih...) 😤🌸 ]
Satu jam kemudian, Rei keluar dari ruang ganti dengan gaun pilihan Riser. Ia terlihat sangat segar dan cantik, sangat berbeda dari citra pejuang tombak yang biasanya. Saeko juga muncul dengan gaun panjang berwarna ungu tua yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, memancarkan aura dewasa yang mematikan.
"Bagaimana?" tanya Saeko dengan senyum penuh arti ke arah Riser.
Riser mengangguk puas. "Kalian terlihat... sesuai dengan posisimu di sampingku."
"Hanya 'sesuai'?" Rei mendengus, meski matanya bersinar senang. "Dasar pelit pujian."
Kegiatan belanja itu berlangsung berjam-jam. Riser dengan sabar menemani mereka, membayar tumpukan tas belanja tanpa berkedip sedikit pun—sebuah keuntungan memiliki kekayaan klan Phenex yang hampir tak terbatas. Namun, di tengah keceriaan itu, Riser merasakan sebuah getaran mana yang aneh dari lantai atas mal.
[ Pesan Sistem: DETEKSI AKTIVITAS! Ada aura suci di lantai 4. Sangat lemah, tapi murni. Sepertinya ada 'Biarawati' yang sedang tersesat di sini. Kak Riser, apakah ini waktunya bertemu dengan variabel 'Asia Argento'? ]
Riser menyipitkan matanya. Plot utama sedang bergerak ke arahnya. "Yubelluna, amankan barang-barang. Ayaka, jaga yang lain. Aku merasakan sesuatu yang menarik di atas."