"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"
"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."
"Hentikan! Jangan sentuh aku!"
"Jika aku tak mau?"
"Kau tidak waras!"
Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.
Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.
Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Rodrigo
Langit musim semi di London tampak lebih indah pagi itu, biru terbuka tanpa kabut, seolah kota tua itu sedang berbaik hati pada siapa pun yang ingin memulai lagi.
Sudah satu minggu Rodrig tak pernah menampakkan diri ke rumah toko kecil milik Valeria. Tidak ada derap langkahnya yang tegas. Tidak ada tatapan tajam yang membuat napas Valeria tercekat. Hanya bunyi lonceng pintu yang berdenting ringan setiap kali pelanggan masuk.
Aroma kopi panggang yang hangat, dan cahaya matahari yang menelusup lewat jendela kaca besar.
Valeria berdiri di balik meja kasir, senyum tipisnya terlatih. Namun, kini terasa lebih tulus. Tangannya lincah membungkus pesanan, sesekali tertawa kecil menanggapi cerita pelanggan tetap. Ia belajar menata ulang hidupnya, pelan, hati-hati. Ketakutan itu belum benar-benar hilang, tapi tak lagi mencekik. Ia mulai bisa tidur tanpa terbangun oleh bayangan masa lalu. Kini gadis itu kembali ke rumah toko miliknya.
Di luar, bus merah dua tingkat melintas, roda-rodanya menyentuh aspal dengan suara berirama. Seorang anak kecil menempelkan wajahnya ke etalase, menunjuk pajangan di dalam toko. Semuanya tampak biasa.
Terlalu biasa.
Karena Valeria tahu, ketenangan sering kali hanyalah jeda sebelum badai.
Ia tak sadar sepasang mata mengawasinya dari seberang jalan, tersembunyi di balik kaca mobil yang berembun tipis oleh sisa udara pagi. Dan ketika lonceng pintu kembali berdenting siang itu, entah mengapa jantungnya berdebar satu detik lebih cepat.
Bukan karena ia melihat siapa yang masuk.
Melainkan karena ia merasa, minggu yang tenang ini telah berakhir.
Lonceng kecil di atas pintu berdenting pelan.
Valeria mengangkat wajahnya, senyum profesional terlukis manis. Cahaya matahari London memantul di rambutnya yang tergerai rapi.
“Selamat pagi. Ada yang bisa ku bantu?” suaranya lembut, nyaris seperti alunan musik latar toko kecil itu.
Seorang wanita paruh baya dengan mantel krem mendekat ke meja kasir sambil memegang dua kotak.
“Yang ini cantik sekali. Apa ini edisi baru?”
Valeria mengangguk ringan.
“Iya, baru datang kemarin. Banyak yang bilang modelnya lebih elegan dan tahan lama.”
Wanita itu tersenyum puas. “Baiklah, aku ambil dua. Untuk putriku dan satu lagi untukku.”
Valeria terkekeh kecil. “Keputusan terbaik sering kali memang untuk diri sendiri dulu, bukan?”
Wanita itu tertawa. “Kau pintar sekali berbicara.”
“Hanya jujur,” balas Valeria ringan.
Tak lama, seorang mahasiswa dengan tas ransel besar masuk, wajahnya sedikit kebingungan.
“Permisi, kalau untuk hadiah ulang tahun kekasihku, kira-kira yang mana ya?”
Valeria memiringkan kepala, menatapnya dengan mata hangat.
“Kekasihmu tipe yang simpel atau suka sesuatu yang mencolok?”
“Hmm dia mengatakan suka yang minimalis. Tapi kadang seleranya berubah.”
Valeria tersenyum simpul. “Kalau begitu pilih yang klasik. Sesuatu yang tak lekang waktu. Jadi walau selera berubah, tetap terasa istimewa.”
Mahasiswa itu mengangguk mantap. “Baik, aku percaya rekomendasi Anda.”
Saat ia membayar, ia berkata pelan, “Terima kasih. Jarang ada penjaga toko yang benar-benar mendengarkan.”
Valeria hanya tersenyum. “Mungkin karena aku mengerti rasanya ingin dipahami.”
Kalimat itu meluncur tanpa ia sadari dan untuk sesaat, bayangan masa lalu menyentuh sudut pikirannya.
Menjelang siang, pelanggan tetapnya datang, seorang pria tua berkumis tipis, datang seperti biasa.
“Ah, gadis ceria! Kau terlihat lebih segar hari ini.”
Valeria terkekeh. “Semoga begitu, Tuan Harold. Artinya teh yang ku minum pagi ini berhasil.”
“Bukan tehnya,” pria itu menggeleng pelan. “Wajah orang yang sedang berusaha bangkit selalu berbeda.”
Valeria terdiam sepersekian detik. “Semoga aku benar-benar sedang bangkit, bukan sekadar berpura-pura kuat,” gumamnya pelan.
Pria tua itu tersenyum bijak. “Kadang, berpura-pura kuat adalah langkah pertama sebelum benar-benar menjadi kuat.”
Lonceng pintu kembali berdenting. Valeria menoleh refleks. Senyumnya masih terpasang. Tapi jemarinya menegang di balik meja kasir. Karena entah kenapa, setiap denting pintu kini terasa seperti pertanda. Pertanda Rodrigo datang.
***
Malam turun terlalu cepat di London. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas trotoar basah sisa gerimis sore. Udara dingin menyusup lewat sela cardigan rajut yang dikenakan Valeria, membuatnya merapatkan kedua tangan ke tubuhnya sendiri.
Ia baru saja mengunci pintu toko kuenya. Bunyi klik kunci terdengar lebih nyaring dari biasanya. Perutnya bergejolak, lapar yang sejak siang ia abaikan kini terasa memekakkan, seolah ikut menuntut perhatian.
“Sebentar saja,” gumamnya pelan. “Hanya beli makanan, lalu kembali.”
Toko makanan di pinggir jalan itu hanya berjarak beberapa puluh langkah. Lampunya masih menyala terang, papan neon berkedip malas. Langkah Valeria terdengar jelas di antara sepinya malam.
Terlalu jelas.
Sampai ia menyadari ada langkah lain yang mengikuti. Ia berhenti. Langkah itu ikut berhenti.
Jantungnya mulai berpacu. Perlahan ia menoleh dan hanya mendapati bayangan panjang di balik cahaya lampu jalan.
“Tenang, ” bisiknya pada diri sendiri.
Ia mempercepat langkah. Bayangan itu ikut mempercepat. Belum sempat ia berlari, sebuah tangan kasar menariknya keras ke gang sempit di samping bangunan. Punggungnya membentur dinding dingin.
“Apa, lepaskan aku!” teriaknya, suara bergetar.
Pria bertubuh besar dengan hoodie hitam menutup mulutnya paksa. Bau alkohol menusuk.
“Diam! Jangan membuat masalah.”
Valeria meronta, kukunya mencakar kulit pria itu. Tasnya terjatuh, isinya berserakan di trotoar pinggir jalanan sepi basah dan sedikit terdapat genangan air.
“Toloooong!”
Jeritannya teredam.
Tiba-tiba—
Brak!
Seseorang menghantam pria itu dari samping. Tubuh besar itu tersungkur. Valeria terlepas dan terjatuh berlutut. Ia terengah, menatap sosok yang berdiri di hadapannya.
Rodrigo.
Wajahnya setengah tertutup bayangan, rahangnya mengeras. Mata itu, mata yang selalu ia kenal terlalu baik, menyala oleh amarah.
“Berani sekali kau menyentuhnya,” desisnya rendah.
Pria penculik itu bangkit dan mengeluarkan pisau kecil dari balik jaketnya.
“Jangan ikut campur!”
Rodrigo melangkah maju tanpa ragu. “Pergi. Sekarang.”
Pria itu menyerang. Semuanya terjadi begitu cepat.
Kilatan logam. Gerakan tubuh. Dan suara yang membuat dunia Valeria runtuh, Desakan napas tertahan.
Rodrigo terhuyung. Pisau itu tertancap tepat di perutnya.
Tubuh Valeria membeku, matanya berkaca-kaca.
“Rodrigo!” jerit Valeria, suara pecah histeris.
Pria bertopeng itu panik dan melarikan diri, langkahnya menjauh di antara lorong gelap.
Rodrigo memegang perutnya, darah merembes di antara jari-jarinya.
Valeria berlutut di depannya, tangan gemetar menekan luka itu.
“Kenapa kenapa kau selalu—” perkataannya tersangkut di tenggorokan.
“Kenapa kau selalu datang saat aku dalam bahaya?”
Rodrigo tersenyum tipis, pucat. “Aku tak pernah benar-benar pergi.”
“Diam! Jangan bicara!” air mata Valeria jatuh deras. “Kita harus ke dalam. Ayo, berdiri… pelan-pelan.”
Ia merangkul tubuh pria itu. Berat. Hangat. Dan semakin lemah. Langkah mereka terseok menuju rumah toko miliknya. Setiap langkah meninggalkan jejak merah samar di trotoar malam London yang dingin.
“V....val” Rodrigo berbisik lirih.
“Jangan pingsan! Rodrigo, dengar aku!”
“Kau, masih membenciku?”
Valeria terisak. “Bodoh, kalau aku membencimu, kenapa aku menangis seperti ini?” Valeria mengusap air matanya dengan kasar.
Rodrigo terkekeh pelan meski menahan sakit. “Bagus, berarti aku masih punya kesempatan.”
Pintu toko terbuka dengan susah payah. Valeria membantu Rodrigo duduk bersandar di lantai kayu. Tangannya berlumur darah pria yang pernah ia tinggalkan. Pria masa lalunya. Pria yang lagi dan lagi menyelamatkannya. Dan kini mungkin akan mati karenanya.
Bagaimana jika pria yang kau tinggalkan demi keselamatanmu justru selalu menjadi tameng antara kau dan kematian?
Dan malam ini, di bawah langit gelap London, Valeria harus memilih, menjauh untuk selamanya,
atau akhirnya mengakui bahwa cintanya tak pernah benar-benar pergi.