NovelToon NovelToon
Sisi Tergelap Senja

Sisi Tergelap Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Trauma masa lalu / Healing
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Jarak Mulai Bicara

Sejak malam di taman itu, ada sesuatu yang berubah di antara kami.

Bukan perubahan yang bisa dilihat dengan mata, bukan pula yang bisa dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Perubahannya halus, hampir tak terasa, seperti pergeseran udara sebelum hujan turun—tidak langsung basah, tapi cukup untuk membuat kulit merinding.

Kami masih saling mengirim pesan.

Masih bertanya hal-hal kecil.

Masih bertemu, meski tidak sesering sebelumnya.

Namun kini, ada jeda yang lebih panjang sebelum salah satu dari kami membalas. Ada kalimat-kalimat yang diketik lalu dihapus. Ada tawa yang terdengar sama, tapi terasa sedikit lebih dijaga.

Aku mulai menyadari, jarak itu tidak sedang menjauh.

Ia sedang berbicara.

Suatu sore, kami duduk di kafe yang sama seperti pertama kali. Hujan tidak turun hari itu, tapi langit tetap mendung, seolah meniru suasana di dalam kepalaku. Ia duduk di seberangku, mengaduk kopinya seperti biasa, tapi kali ini sendoknya berhenti lebih cepat.

“Kamu kelihatan capek,” katanya.

Aku tersenyum kecil. “Mungkin bukan capek. Cuma banyak mikir.”

“Tentang apa?”

Aku ingin menjawab jujur. Tentang dia. Tentang kami. Tentang jarak yang tidak terlihat tapi terasa semakin nyata. Tapi kata-kata itu terlalu besar untuk langsung diucapkan.

“Tentang arah,” kataku akhirnya. “Aku ngerasa sedang jalan, tapi belum tahu ke mana.”

Ia menatapku cukup lama. “Kamu selalu mikir sejauh itu?”

“Aku dulu mikir terlalu jauh ke belakang,” jawabku. “Sekarang mungkin aku mulai terlalu jauh ke depan.”

Ia tersenyum, tapi ada sesuatu di senyum itu—bukan sedih, bukan bahagia. Lebih seperti ragu yang dibungkus ketenangan.

“Kamu tahu,” katanya pelan, “aku nyaman sama kamu. Tapi aku juga takut.”

“Takut apa?”

“Takut kalau kita cuma dua orang yang sama-sama sembuh… lalu salah mengira itu sebagai cinta.”

Kalimat itu membuat dadaku terasa sesak, bukan karena menyakitkan, tapi karena terlalu masuk akal.

Aku terdiam.

Selama ini aku pikir kedekatan selalu berarti harapan.

Tapi ternyata, kedekatan juga bisa berarti kewaspadaan.

“Aku nggak mau kamu jadi tempat pelarian,” lanjutnya. “Dan aku juga nggak mau kamu melihat aku sebagai penyelamat.”

Aku mengangguk pelan. “Aku juga nggak mau begitu.”

Kami saling diam. Tapi diam kali ini berbeda dari sebelumnya. Bukan keheningan yang nyaman, melainkan keheningan yang jujur—keheningan yang menyadarkan bahwa kami sedang berdiri di batas yang sama.

Aku menyadari satu hal yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya:

mungkin kedewasaan bukan tentang seberapa cepat kita mendekat,

tapi tentang seberapa berani kita mengakui keraguan.

Kami tidak saling menyentuh sore itu.

Tidak ada gestur romantis.

Tidak ada janji untuk bertahan atau pergi.

Kami hanya duduk sebagai dua orang yang sama-sama sadar:

bahwa perasaan saja tidak cukup.

Bahwa luka yang sembuh tidak otomatis membuat hati siap.

Saat kami berpisah di depan kafe, ia berkata satu kalimat yang terus terngiang di kepalaku:

“Aku nggak mau kehilangan kamu. Tapi aku juga nggak mau kehilangan diriku sendiri.”

Aku menatap punggungnya yang menjauh, dan untuk pertama kalinya aku tidak merasa ingin mengejarnya.

Bukan karena aku tidak peduli.

Justru karena aku peduli.

Malam itu, aku menulis di buku catatanku:

"Kadang, jarak bukan diciptakan untuk memisahkan dua orang.

Tapi untuk memastikan bahwa ketika mereka memilih mendekat, itu bukan karena takut sendiri—melainkan karena benar-benar siap berjalan bersama."

Dan di situlah aku sadar:

ini bukan lagi cerita tentang kesepian.

Ini cerita tentang dua orang yang sedang belajar tidak saling menyakiti, meski perasaan mulai tumbuh di tempat yang sama.

1
Samuel sifatori
btw kalian lebih suka yang puitis atau normal aja? dan menurut kalian sehari berapa eps? kasih masukan nya yaa👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!