Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti bukan diriku
Lalu tiba-tiba Ibu menghampiriku ke halaman belakang.
“Ayo makan, Mas,” katanya pada Schevenko.
Aku langsung mendongak. “Anaknya dilupain.”
Ibu menghela napas panjang. “Udah atuh manjanya. Ibu tunggu di dalam ya.”
“Ibuuu…” protesku memanjang.
“Iya, Bu,” jawab Schevenko sopan.
Ia lalu mencoba menurunkanku dari pangkuannya. “Turun, ayo makan.”
Aku menggeleng kuat-kuat sambil makin melingkarkan tangan di lehernya. “Nggak mau.”
“Loh kenapa? Kamu nggak lapar?”
“Nggak… itu maksudku…”
Ia mengernyitkan alisnya. “Apa?”
Aku mendekatkan keningku ke keningnya. “Gendong.”
Ia menegang sesaat, mungkin tak menyangka permintaanku. Tapi beberapa detik kemudian, tangannya menguat di punggungku.
Ia benar-benar menggendongku.
Dadaku langsung terasa penuh kebahagiaan yang aneh—ringan, hangat, dan sedikit memalukan.
Ia berjalan membawaku ke ruang makan.
Begitu sampai di sana, Ayah dan Ibu yang sudah duduk di meja langsung menoleh.
Keduanya terkejut.
“Astaga… manja banget minta digendong segala,” kata Ibu.
“Gapapa, lagian juga suami aku,” jawabku santai.
Setelah mengatakan itu, aku langsung mencium pipinya singkat.
Ia hanya diam, mungkin sudah pasrah dengan kelakuanku pagi ini.
Ayah menggeleng. “Tinggalin lagi aja, Mas. yang jauh sekalian”
Aku langsung menatap Schevenko. “Emang berani?”
Ia tersenyum kecil, menahan tawa.
Ia mencoba mendudukkanku ke kursi, tapi aku tak mau turun dari gendongannya.
“Hey, udah sampai. Duduk lalu makan,” katanya lembut.
“Pangku,” rengekku pelan.
“Zahra, duduk sendiri. Kamu udah gede,” kata Ayah tegas.
Tiba-tiba Schevenko berkata, “Udah gapapa, Yah.”
Aku langsung menoleh ke Ayah. “Orang suamiku aja mau.”
Ayah menggeleng. “Bukannya gitu. Nanti kalau makan kesusahan.”
Aku mendekatkan wajahku ke arah Schevenko. “Keberatan, Mas?”
Ia menatapku, lalu berkata pelan, “Udah Yah, gapapa. Emang lagi manja banget ini. Pasti nanti minta disuapin juga.”
Aku langsung tersenyum lebar. Hari ini rasanya benar-benar bahagia.
Ibu tertawa kecil. “Tuh senyum-senyum gitu, kayak nggak ingat kemarin nangis-nangis.”
Ayah ikut menimpali, “Kayak bukan putri kita kan, Bu?”
Ibu mengangguk sambil tersenyum menggoda ke arahku.
Aku tidak memperdulikan mereka.
Alih-alih menjawab, aku justru memandangi wajah Schevenko lama sekali.
“Cium dong, Mas.”
Ia pun kaget dan terdiam karena Ayah dan Ibu tepat di depannya.
“Zahra, udah. Ayo makan,” kata Ayah dengan nada agak serius.
Aku mengarahkan pipiku ke arah bibir Schevenko. sambil berkata "cium dulu lalu makan."
Ia terdiam sesaat… lalu akhirnya mencium pipiku singkat.
Aku tertawa puas. Sangat puas.
Ayah dan Ibu benar-benar menggelengkan kepala.
“Udah Mas makan, biarin aja dia,” kata Ibu pada Schevenko.
“Aku ini anakmu loh, Buuu,” protesku.
Schevenko mengambil sendok, menyendok nasi dan lauk, lalu mengarahkannya ke mulutku.
“Udah, makan.”
Aku membuka mulut dengan senang hati.
Ia menyuapiku pelan, hati-hati, seolah aku benar-benar anak kecil.
Aku mengunyah sambil tersenyum.
“Enak?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Beberapa suapan kemudian, ia mencoba menyuapi lagi, tapi aku malah menggigit ujung sendoknya sambil menatapnya nakal.
“Zahra…” ia tertawa kecil.
Ayah berdehem. “Itu makan atau main-main?”
Aku terkekeh kecil.
Tapi setelah beberapa saat, aku mulai sadar.
Semua orang menatapku dengan ekspresi yang sama.
Heran.
Terhibur.
Dan sedikit tak percaya.
Ibu akhirnya berkata pelan, “Kamu ini kenapa sih, Nak? Dari kecil nggak pernah semanja ini.”
Aku terdiam.
Tanganku masih melingkar di leher Schevenko.
Aku menatap meja sebentar.
“Aku cuma…” suaraku mengecil, “…takut kehilangan.”
Ruangan mendadak sedikit hening.
Schevenko berhenti menyuapiku.
Tangannya berpindah ke punggungku, mengusap pelan.
“Aku cuma dua hari pergi,” katanya lembut di dekat telingaku.
“Tapi rasanya lama,” jawabku pelan.
Ayah menatapku lebih lembut sekarang.
“Zahra,” katanya, “rindu itu wajar. Tapi jangan sampai kamu berubah jadi bukan dirimu sendiri.”
Aku menoleh ke arah Ayah.
Seperti bukan diriku.
Mungkin benar.
Aku yang biasanya pendiam. Aku yang dulu malu bahkan untuk duduk terlalu dekat. Sekarang aku minta digendong, minta dicium di depan orang tuaku.
Aku menatap Schevenko.
“Mas… aku aneh ya?”
Ia tersenyum lembut.
“Bukan aneh.”
“Terus?”
“Cuma lagi terlalu bahagia.”
Dadaku terasa hangat.
Ia lalu akhirnya mendudukkanku pelan ke kursi di sampingnya. Kali ini aku tidak menolak.
Tangannya tetap menggenggam tanganku di bawah meja.
“Duduk yang benar,” katanya lembut.
Aku menurut.
Untuk pertama kalinya pagi itu, aku makan sendiri. Meski tangannya masih sesekali menyentuhku, memastikan aku benar-benar tenang.
Ayah dan Ibu saling berpandangan.
Ibu tersenyum kecil.
“Mungkin memang bukan dirinya,” katanya pelan. lalu melanjutkan “Mungkin cuma lagi merasa aman.”
Aku mendengar itu.
Dan entah kenapa, hatiku terasa penuh.
Setelah makan selesai, Schevenko berdiri sambil merapikan lengan bajunya.
“Ayo ke ruang tamu,” katanya sambil menatapku. “Hadiahmu di sana banyak banget. Kamu belum lihat kan?”
Mataku langsung berbinar.
Tapi alih-alih berdiri sendiri, aku malah merengek.
“Gendong…” kataku sambil mengayunkan kedua tanganku ke arahnya, meminta.
Ayah yang melihat itu langsung tertawa kecil. “Sekarang dunia ini milikmu sendiri ya?”
Aku menoleh cepat ke arah Ayah.
“Ibu itu juga aslinya pengen digendong loh, Yah. Tapi Ibu malu,” jawabku polos.
Ibu langsung berdiri sambil tersenyum pura-pura galak. “Awas kamu ya.”
Aku langsung pura-pura takut dan meminta schevenko untuk menggendongku.
“Mas, gendong cepet!” pintaku.
Ia tertawa pelan, lalu tanpa banyak bicara mengangkatku lagi.
Kali ini lebih santai, seolah sudah terbiasa dengan tingkahku pagi ini.
Kami berjalan menuju ruang tamu.
Ayah dan Ibu mengikuti di belakang, sambil masih tertawa kecil melihat kelakuanku.
Sesampainya di ruang tamu, ia duduk di sofa panjang.
Dan tanpa aku minta, ia tetap memangku aku.
Aku langsung tersenyum puas.
Ayah dan Ibu duduk di sofa seberang.
Di depan kami, meja ruang tamu penuh dengan tas belanja, kotak-kotak, dan beberapa bingkisan yang dibungkus rapi.
“Ayo, buka,” katanya pelan.
Aku menatap semua barang itu dengan rasa penasaran.
“Banyak banget…” gumamku.
Ia mengambil satu paper bag dan menyerahkannya padaku.
Aku membukanya perlahan.
Di dalamnya ada sebuah dress cantik berwarna lembut, persis warna yang sering kupakai.
Aku menatapnya lama.
“Kamu pilih ini?” tanyaku.
“Iya. Aku lihat, langsung ingat kamu.”
Dadaku terasa hangat lagi.
Aku membuka kotak berikutnya. Sepasang sepatu kecil yang manis. Lalu tas sederhana tapi elegan.
Setiap barang yang kubuka membuatku semakin sadar—
Ia benar-benar memikirkanku saat pergi.
“Mas…” suaraku melembut.
“Hm?”
“Kenapa belinya banyak banget?”
Ia tersenyum tipis. “Karena dua hari nggak lihat kamu.”
Aku tertawa kecil.
Ayah menyela, “Dua hari saja begini. Kalau seminggu bisa buka toko sendiri itu barang.”
Kami semua tertawa.
Aku lalu menemukan sebuah kotak kecil yang berbeda dari yang lain. Ukurannya lebih kecil. Dibungkus lebih rapi.
Aku menatapnya penasaran.
“Ini apa?”
Ia sedikit terdiam sebelum menjawab, “Buka aja.”
Aku membukanya perlahan.
Di dalamnya ada sebuah gelang tipis yang sederhana tapi jelas harganya mahal dan terlihat sangat cantik.
Bukan yang mencolok.
Tapi elegan.
Tanganku gemetar sedikit saat menyentuhnya.
“Mas…”
Ia mengambil gelang itu dari tanganku, lalu memakaikannya ke pergelangan tanganku dengan hati-hati.
“Supaya kamu ingat,” katanya pelan.
“Ingat apa?”
“Kalau aku selalu kembali.”
Aku menatap gelang itu.
Lalu menatapnya.
Tanpa sadar, aku memeluknya lagi.
Kali ini tidak berlebihan.
Tidak manja.
Hanya pelukan yang tenang.
“Terima kasih,” bisikku.
Ia mengusap rambutku pelan.
“Masih mau digendong terus?” godanya.
Aku tersenyum kecil. “Mau.”
Ayah berdehem keras.
Aku tertawa dan akhirnya berdiri dari pangkuannya sendiri.
“Nggak jadi deh,” kataku sambil duduk di sampingnya.
Tangannya otomatis meraih tanganku dan menggenggamnya.
Ibu memandang kami dengan tatapan lembut.
“Bahagia itu sederhana ya,” katanya pelan.
Aku menatap gelang di tanganku lagi.
Dan aku sadar—Bukan karena aku berubah.Tapi karena untuk pertama kalinya, aku tidak takut menunjukkan betapa aku menyayanginya.
Dan mungkin…
Itulah versi diriku yang sebenarnya.