NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Komedi / Action / Cinta Seiring Waktu / Disfungsi Ereksi / Enemy to Lovers
Popularitas:33.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya

Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".

Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.

"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-

"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-

"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Kastil yang menjadi markas Serigala Hitam masih terasa dingin meski lampu-lampu kristal menyala hangat di sepanjang koridor.

Sandrina berjalan tertatih diapit dua anak buah Alecio. Rambutnya masih basah, ujung gamisnya meneteskan air, dan giginya sesekali beradu. Wajahnya tegang, tapi matanya terus memindai setiap sudut bangunan megah itu, campuran kagum, takut, dan jengkel.

Alecio berdiri di ujung koridor, sudah berganti jaket kering, meski rambutnya masih sedikit lembap. Rahangnya mengeras ketika melihat Sandrina.

“Bawa dia ke kamar di sebelah kamarku,” perintah Alecio tegas.

“Baik, Tuan!” Dua anak buahnya mengangguk serempak.

Sandrina memutar bola matanya pelan. “Walau aku dikurung di kastil macam istana, tetap saja aku ini seorang tawanan,” gumamnya pelan, cukup lirih agar hanya dirinya yang mendengar.

Alecio tidak langsung mengikuti mereka. Ia berbalik ke arah Patrick dan seorang pria paruh baya berpenampilan rapi dengan jas dokter, Francisco.

Mereka bertiga masuk ke sebuah ruang kerja pribadi Alecio yang luas, beraroma kayu mahal dan tembakau. Alecio menghempaskan diri ke kursi kulit besar. Wajahnya tampak gelisah, tidak seperti biasanya.

Patrick bersedekap, menatap bosnya dengan alis terangkat. “Ada apa, Bos? Kau tampak tidak seperti dirimu.”

Alecio mengusap wajahnya kasar. Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar ragu.

“Ada sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhku tadi.”

Francisco langsung mencondongkan badan, penasaran. “Aneh bagaimana?”

Alecio terdiam sejenak, rahangnya mengencang. Lalu, dengan suara rendah, ia mengaku, “Aku ingin menyentuh wanita itu.”

Patrick nyaris tersedak. “Menyentuh? Wanita gila itu?”

Alecio mengangguk, tidak nyaman. “Bukan sekadar menyentuh. Aku kehilangan kendali.”

Francisco mengerutkan kening. “Maksudmu?”

Alecio menghela napas berat. “Bagian bawahku—yang selama ini mati seperti senjata karatan—tiba-tiba hidup. Tegak seperti prajurit siap perang.”

Keheningan jatuh sejenak. Lalu beberapa detik kemudian. Patrick tertawa tertahan. Max yang kebetulan baru masuk untuk melapor, hampir terbelalak.

Francisco justru tampak sangat serius. “Kalau begitu, tunjukkan padaku.”

Alecio melotot. “Sekarang?!”

“Untuk pemeriksaan medis, tentu saja,” jawab Francisco tenang.

Alecio berdiri kaku, jelas enggan. Namun, akhirnya ia menyerah.

Beberapa detik kemudian, ekspresi Francisco berubah bingung.

“Kenapa?” tanya Alecio.

Francisco menghela napas. “Sudah kembali ... loyo.”

Alecio menatap ke bawah dengan wajah tidak percaya. Dia merasa kesal dan frustrasi.

Patrick menahan tawa. “Mungkin efek sungai dingin itu, Bos.”

Alecio menggeram pelan. “Diam.”

Max lalu melapor, “Bos, mayat musuhmu sudah kami urus sesuai perintah.”

Alecio mengangguk singkat. “Bagus. Bersihkan semuanya. Jangan sampai meninggalkan jejak.”

Max segera pergi, meninggalkan Alecio dengan Patrick dan Francisco, dua pria yang kini menatapnya penuh rasa ingin tahu.

Alecio mengusap dahinya. “Apa pun yang terjadi padaku tadi, ada hubungannya dengan wanita itu.”

Francisco mengangguk pelan. “Kita perlu observasi lebih lanjut.”

Alecio menatap kosong ke arah pintu. Dalam benaknya, tanpa sadar, terlintas wajah Sandrina yang keras kepala, cerewet, dan anehnya, mengganggu.

Sementara itu, di sisi lain kastil Sandrina seharusnya dimasukkan ke kamar sebelah kamar Alecio.

Sayangnya, tadi terjadi salah komunikasi. Entah Alecio bicara kurang jelas atau telinga anak buahnya yang mendadak budek. Dua anak buah yang mengantarnya justru membuka pintu kamar utama, kamar Alecio sendiri.

Ruangan itu luas, mewah, dengan tempat tidur besar berseprai hitam, tirai tebal, dan jendela tinggi menghadap taman malam.

Sandrina melangkah masuk dengan hati-hati. “Astaghfirullah, ini kamar atau hotel bintang lima?” gumamnya.

Belum sempat Sandrina berkeliling kamar, pintu terbuka lagi. Seorang wanita bule tinggi, berambut pirang bergelombang, berpakaian sangat rapi, namun cukup seksi, masuk sambil membawa tumpukan pakaian.

“Ini untukmu,” katanya dalam bahasa Italia dengan senyum tipis.

Sandrina mengerjap. “Eh, saya tidak paham.”

Marcela menghela napas kecil, lalu meletakkan pakaian itu di sofa. Bahasa tubuhnya jelas, “pakai ini, cepat!”

“Thanks you.”

Sandrina menatap tumpukan pakaian bersih, handuk lembut, baju hangat, dan perlengkapan mandi. Tubuhnya menggigil. Tanpa banyak pikir, ia langsung menuju kamar mandi megah yang terhubung dengan kamar itu.

Air panas mulai mengalir dari shower seperti hujan hangat. Sandrina menghela napas panjang, akhirnya bisa merasakan kehangatan menyelimuti tubuhnya. Uap memenuhi ruangan, membuat kaca buram. Ia menutup mata, membiarkan air mengalir di rambut dan wajahnya.

“Ya Allah, semoga ini cuma mimpi,” batin Sandrina.

Di saat yang sama Alecio kembali ke kamarnya. Pikirannya masih dipenuhi rasa aneh di tubuhnya. Ia memutuskan untuk berendam air panas agar bisa menenangkan diri. Tanpa mengetuk, tanpa curiga, dia membuka pintu kamar mandi. Dan berhenti seketika tubuhnya mendadak mematung.

Di balik uap air, ia melihat tubuh mulus Sandrina di bawah shower. Punggungnya menghadap pintu, rambutnya tergerai basah, air mengalir di bahunya.

Dunia Alecio terasa berhenti. Detik berikutnya dia merasa jantungnya berdegup kencang. Dan tanpa bisa ia kendalikan “senjatanya” kembali berdiri tegak, seolah siap memberi hormat. Wajah Alecio memanas.

Sandrina, yang mendengar suara pintu terbuka, langsung menoleh. Mata mereka bertemu walau tertutup uap, Sandrina jelas melihat sosok Alecio berdiri kaku di ambang pintu.

Mata Sandrina melebar. Ia melihat ke bawah dan melihat sesuatu yang membuatnya menjerit.

“YA ALLAH! DIA BAWA TONGKAT BESI!” teriak Sandrina panik. Dia mengira Alecio akan membunuhnya.

Alecio hendak menjelaskan, tetapi sebelum sempat membuka mulut, Sandrina bergerak cepat. Ia meraih apa pun yang bisa dijangkau, entah itu botol sampo, sabun cair, sikat, bahkan boneka bebek,dia melemparkannya ke arah Alecio.

“PERGI! PERGI! JANGAN DEKAT-DEKAT!” teriak Sandrina histeris.

Botol sampo melayang dan menghantam bahu Alecio. Botol sabun cair yang masih terisi penuh, mengenai dahinya dan membuatnya benjol.

Lalu, Alecio mundur terbirit-birit, menutup pintu dengan keras. Di luar kamar mandi, ia berdiri terengah, wajah merah padam, napas memburu. Tanpa pikir panjang, ia berlari keluar kamar. Saat ini dia hanya memakai handuk kecil melingkar di pinggangnya.

Patrick yang hendak pergi ke kamarnya, hampir bertabrakan dengan Alecio di koridor.

“Bos? Ada apa—”

Alecio menarik lengan Patrick. “Panggil Francisco! SEKARANG!”

Beberapa menit kemudian, di ruang medis kecil di kastil Francisco berdiri di depan Alecio dengan ekspresi antara terkejut dan penasaran.

Alecio menunjuk ke bawah dengan wajah tegang. “Lihat senjataku berdiri tegak!”

Francisco menatap, lalu mengangkat alis perlahan. Patrick mematung.

Beberapa detik kemudian, Francisco berdeham. “Menarik.”

Alecio menatapnya tajam. “Menarik? Aku dikenal sebagai pria yang senjatanya tidak berfungsi. Dan sekarang, lihat ini!”

Patrick mengusap wajahnya, bingung antara ingin tertawa atau prihatin.

Francisco menyilangkan tangan. “Ini berarti ada sesatu hal, Alecio.”

“Apa?” tanya Alecio cepat.

Francisco menatap serius. “Ada sesuatu tentang wanita itu yang memicu respons tubuhmu.”

Alecio terdiam. Di kepalanya, terlintas wajah Sandrina yang panik, marah, dan basah kuyup tadi. Di balik rasa jengkel, muncul perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Sementara itu, di dalam kamar mandi Sandrina masih berdiri gemetar. Bukan karena dingin, tetapi karena marah. Ia membungkus tubuhnya dengan handuk, matanya menyala.

“Pria gila, mafia gila, kastil gila, semuanya gila!” gerutu Sandrina marah.

Tanpa ia sadari, pintu kamar kini telah tertutup rapat di belakangnya. Ia berada di kamar Alecio. Di jantung markas Serigala Hitam.

Entah kenapa takdir mereka berdua tampak semakin terjerat.

***

Aku ubah sedikit judulnya, ya.

1
Nar Sih
sdh bisa di pasti kan nih alecio bnr ,,udah jatuh cinta
Cindy
lanjut
Sugiharti Rusli
dan apakah cinta Alecio bisa terbalas dengan tingginya tembok yang akan menghalangi mereka bersatu dalam ikatan
Sugiharti Rusli
apa nanti Alecio akan memenuhi janjinya mengurus dokumen Sandrina dan membiarkan dia pulang ke Indonesia,,,
Sugiharti Rusli
terkadang pertengkaran bukan jadi sesuatu yang meresahkan, tapi sesuatu yang bahkan dirindukab di kala salah satu jauh atau sakit,,,
Sugiharti Rusli
meski Sandrina awalnya adalah gadis biasa yang tersesat di sarang mafia, dan Alecio yang sudah lama ga pernah kenal kata cinta sama perempuan manapun bisa saling tertarik sekarang,,,
Sugiharti Rusli
memang yah istilah Jawa, 'witing tresno soko kulino' itu memang benar adanya yah
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
kenapa Alecio tidak coba untuk ikut sandrina pulang ke indo
Lilis Yuanita
👍
Aditya hp/ bunda Lia
kayaknya bakalan nikah yah 🤭
ken darsihk
Fix lah kalean jadian ajaaa , dan di resmikan di Indonesia 👏👏👏
Naufal Affiq
nikah aja sama alicio sandrina,biar kau bisa mudik,sebentar lagi kita lebaran lho
🌸Santi Suki🌸: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
ken darsihk
Alecio kebanyakan drama inti nya ya Alecio ngajak maried Sandrina 😂😂😂
Sugiharti Rusli
padahal kan bisa saja kalo si Alecio mau, si Sandrina diantarkan ke kedutaan Indonesia di Italia,,,
Sugiharti Rusli
dan alasan tentang dokumen si Sandrina yang hilang juga bisa dia manfaatkan dengan sangat baik sih yah,,,
Sugiharti Rusli
dan yang belum Sandrina ketahui adalah kenyataan kalo seorang Alecio bisa jatuh cinta padanya karena tingkahnya yang unik dan cerewetnya😝😝😝
Sugiharti Rusli
bahkan mana ada dalam pikirannya kalo dia jadi tawanan seorang mafia di negara asing yah😅😅😅
Sugiharti Rusli
memang ajaib sih yah apa yang terjadi sama si Sandrina sekarang😅😅😅
gaby
Kasih lah mudik si Sandrina, tp kawal sampai tujuan. Lamar di dpn ortunya. Emang sampai kapan Alecio sanggup menahan sesak di dada & di celana stiap berdekatan dgn Sandrina. Segera halalkan biar lega dr rasa sesak itu😄😄
Aditya hp/ bunda Lia
kesempatan dalam kesempatan 🤭
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!