"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Sepupu yang Iri
Kamis siang, Suyin sedang asyik makan siang di meja kerjanya sambil browsing bibit tanaman online—sudah jadi kebiasaan baru—ketika ponselnya berdering.
Nomor tidak dikenal.
"Halo?"
"Suyin? Ini Meifeng. Zhao Meifeng."
Suyin hampir tersedak nasi gorengnya. Sepupu yang satu ini—putri dari adik nenek—terakhir kali ketemu di pemakaman nenek dua minggu lalu. Dan tidak meninggalkan kesan baik.
"Oh, Kak Meifeng. Ada apa?" Suyin berusaha sopan meski hatinya was-was.
"Aku mau main ke apartemenmu sore ini. Bisa kan? Kita udah lama nggak ngobrol."
Ngobrol apaan? Kita nggak pernah deket, batin Suyin.
Tapi ia nggak bisa nolak mentah-mentah. Ini keluarga, walau nggak akur.
"Oh... boleh. Jam berapa?"
"Jam lima-an. Aku bawa kue ya. Sampai nanti!"
Meifeng tutup telpon sebelum Suyin sempat bilang apa-apa lagi.
Suyin menatap ponsel dengan perasaan nggak enak. Meifeng nggak pernah mau main ke apartemennya—selama ini selalu bilang apartemen Suyin kecil dan kumuh. Tiba-tiba mau datang? Pasti ada maunya.
"Harusnya aku bilang nggak ada di rumah tadi," keluh Suyin sambil melanjutkan makan dengan nafsu makan yang tiba-tiba hilang.
Jam lima sore, TOK TOK TOK!
Suyin membuka pintu, disambut Zhao Meifeng yang berdiri dengan senyum lebar—terlalu lebar untuk jadi tulus. Wanita berusia tiga puluh dua tahun itu mengenakan dress bermerk, tas branded di lengan, dan makeup menor.
"Suyin! Lama nggak ketemu!" Meifeng langsung peluk—lebih tepatnya pura-pura peluk tanpa benar-benar menyentuh.
"Iya, Kak. Masuk."
Meifeng masuk sambil matanya langsung menjelajahi apartemen—seperti sedang inspeksi. Tatapannya berhenti di tumpukan kardus di pojok ruang tamu yang isinya sayuran sisa kemarin.
"Lho, itu kardus apa?" tanya Meifeng sambil jalan mendekat.
Suyin cepat-cepat ngalihkan. "Ah, itu barang bekas. Belum sempat buang. Duduk, Kak. Mau minum apa?"
"Air putih aja."
Suyin ke dapur, tuang air—air biasa, bukan air dari ruang dimensi, takut Meifeng nyadar ada yang aneh. Saat kembali ke ruang tamu, Meifeng sudah duduk di sofa, matanya menatap tajam ke tangan Suyin.
Ke gelang giok.
"Itu... gelang nenek kan?" tanya Meifeng dengan nada yang berusaha casual tapi gagal.
Suyin reflex menutupi gelang dengan tangan kiri. "Iya. Nenek kasih warisan."
"Cuma gelang doang yang kamu dapat?"
"Sama rumah di Jalan Mawar. Kenapa, Kak?"
Meifeng tertawa kecil—tawa yang nggak sampai ke mata. "Nggak apa-apa. Cuma penasaran aja. Nenek kayaknya sayang banget sama kamu ya. Padahal aku cucunya juga, tapi nenek nggak pernah kasih apa-apa."
Suyin diam. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Meifeng dari dulu iri karena nenek lebih deket sama Suyin.
"Mungkin karena aku sering nemenin nenek. Kakak kan sibuk," ucap Suyin diplomatis.
"Hmm." Meifeng minum airnya, masih menatap gelang. "Boleh aku lihat gelangnya? Kayaknya bagus."
"Nggak bisa dilepas, Kak. Kekecilan." Suyin berbohong. Sebenarnya ia bisa lepas, tapi nggak mau. Nenek bilang jangan sampai orang lain tahu atau menyentuh.
Meifeng menaikkan alis, tapi nggak maksa. "Oh, gitu."
Hening canggung beberapa detik.
Lalu Meifeng berganti topik. "By the way, tadi aku ketemu Bibi Wang di lobby. Dia bilang kamu sekarang jualan sayuran organik? Sejak kapan?"
Suyin langsung waspada. "Hobi baru. Iseng aja nanem-nanem."
"Laku?"
"Lumayan."
"Berapa omzetnya sebulan?"
Pertanyaan frontal yang nggak sopan. Tapi tipikal Meifeng—selalu ngurusin duit orang.
"Belum ada sebulan, Kak. Baru mulai."
Meifeng mencondongkan badan, mata berbinar. "Suyin, kamu nanem di mana sih? Bibi Wang bilang kualitasnya bagus banget. Aku penasaran. Siapa tahu bisa kerjasama."
Alarm berbunyi di kepala Suyin. "Kerjasama gimana?"
"Ya, aku kan punya koneksi ke restoran-restoran dan hotel. Kalau sayuran kamu emang bagus, aku bisa bantuin masukin ke mereka. Bagi hasil fifty-fifty. Gimana?"
Fifty-fifty?! Suyin yang nanem, yang kerja keras, tapi Meifeng mau dapet setengah cuma karena "koneksi"?
"Terima kasih tawarannya, Kak. Tapi aku masih mau fokus skala kecil dulu. Belum siap ke restoran."
Wajah Meifeng berubah—senyumnya memudar sedikit. "Yakin? Sayang lho peluangnya. Kamu bisa untung besar."
"Aku yakin, Kak."
Meifeng bersandar ke sofa, menyilangkan kaki. Tatapannya jadi lebih dingin.
"Suyin, jujur aja deh. Kamu nanem di mana? Apartemen kamu kan kecil. Balkonmu cuma bisa muat dua pot. Masa bisa produksi banyak?"
Suyin mulai kesal. "Aku ada supplier, Kak."
"Supplier dari mana?"
"Rahasia dagang."
"Rahasia dagang?" Meifeng tertawa—kali ini tawa mengejek. "Suyin, kamu ini lucu. Jualan sayuran doang kok rahasia dagang. Jangan-jangan kamu bohong? Jangan-jangan sayuran itu beli dari pasar terus dijual lagi dengan harga mahal?"
Suyin menahan amarah. "Bukan. Aku nanem sendiri. Atau supplier aku yang nanem sesuai standar aku."
"Tapi kamu nggak mau bilang siapa supplier-nya?"
"Nggak, Kak. Maaf."
Meifeng menatap Suyin lama—seperti sedang menilai, mencari celah. Lalu ia tersenyum lagi, tapi senyum yang berbeda. Senyum yang bikin Suyin makin nggak nyaman.
"Oke deh. Nggak apa-apa." Meifeng berdiri. "Aku harus pergi. Ada janji sama temen."
"Oh, udah? Oke."
Suyin mengantarkan Meifeng ke pintu. Sepupunya itu berhenti sebentar di ambang pintu, menoleh.
"Suyin, hati-hati ya. Bisnis itu nggak gampang. Apalagi kalau kamu punya sesuatu yang... berharga." Matanya melirik sekilas ke gelang giok. "Banyak orang yang bisa iri dan coba ngambil."
Suyin merinding. Itu ancaman atau peringatan?
"Terima kasih, Kak. Aku akan hati-hati."
Meifeng pergi tanpa bilang apa-apa lagi.
Suyin menutup pintu dan langsung bersandar di sana, napas lega. Tapi perasaan nggak enak masih menggantung.
"Dia pasti curiga ada yang aneh," gumam Suyin sambil menggenggam gelang giok. "Harus lebih hati-hati."
Ia langsung ambil kardus-kardus sayuran di ruang tamu dan pindahkan semua ke kamar—nggak mau ada yang keliatan lagi kalau tiba-tiba ada tamu.
Malam itu, Suyin nggak bisa fokus. Pikirannya terus ke Meifeng.
Sepupu itu dari dulu suka ngiri sama apapun yang Suyin punya—walau Suyin selalu merasa hidupnya biasa-biasa aja dibanding Meifeng yang kaya. Tapi nenek lebih sayang Suyin, dan itu yang paling Meifeng nggak terima.
"Kalau dia tahu soal ruang dimensi..." Suyin bergidik. Nggak kebayang apa yang akan dilakukan Meifeng.
Ia memutuskan masuk ke ruang dimensi—tempat paling aman buat menenangkan pikiran.
WUSH!
Begitu mendarat di rumput, Suyin langsung merasa tenang. Di sini, nggak ada Meifeng, nggak ada drama keluarga, nggak ada yang bisa ganggu.
Cuma dia, tanaman-tanamannya, dan kedamaian.
Suyin berjalan ke bedengan sayuran yang baru ditanam dua hari lalu—sawi putih, kangkung bangkok, bayam merah, dan lettuce romaine. Semuanya sudah setinggi lima sentimeter. Sehat dan hijau.
Ia menyiram satu per satu dengan gembor, menikmati ritual sederhana ini. Ada sesuatu yang therapeutic dalam merawat tanaman—melihat mereka tumbuh dari biji kecil jadi tanaman produktif.
Setelah selesai menyiram, Suyin duduk di kursi lipat dekat mata air. Ia meraup air dan minum—kesegaran langsung menyebar, menghilangkan stress yang menumpuk.
"Nenek," bisiknya sambil menatap langit ruang dimensi yang mulai gelap—ternyata ada siang-malam juga di sini, menyesuaikan waktu luar. "Apa yang harus aku lakukan kalau Meifeng terus curiga? Aku takut dia... aku takut dia coba ambil gelang ini."
Angin sepoi-sepoi bertiup, membawa aroma bunga yang menenangkan.
Dan entah kenapa, Suyin merasa seolah mendengar suara nenek berbisik lembut: "Gelang ini terikat dengan darahmu, Suyin. Hanya kamu yang bisa menggunakannya. Percaya pada itu."
Tapi mungkin cuma angin.
Suyin tersenyum sedih. Ia rindu nenek. Rindu pelukan hangat, rindu senyuman tulus, rindu sosok yang selalu ada untuknya tanpa pamrih.
"Aku janji akan jaga gelang ini baik-baik, Nek. Nggak akan aku sia-siakan," ucapnya dengan tekad baru.
Ia berdiri, memutuskan cek gudang penyimpanan yang baru muncul beberapa hari lalu.
Di dalam gudang, rak-rak kayu masih kosong. Tapi Suyin punya ide—besok ia akan bawa masuk lebih banyak keranjang dan wadah penyimpanan. Sekalian bikin sistem lebih rapi biar produksi bisa ditingkatkan.
Saat keluar dari gudang, matanya tertangkap oleh area kosong di sisi lain ruang dimensi—masih banyak tanah yang belum dimanfaatkan.
"100 jenis tanaman..." gumam Suyin. "Sekarang baru ada sekitar... 15 jenis? Masih jauh."
Ia harus mulai diversifikasi. Nggak cuma sayuran daun—tapi buah-buahan, umbi-umbian, herbal, rempah...
"Besok hari Jumat. Weekend aku ke toko pertanian lagi. Beli macem-macem benih," putusnya.
Dengan rencana baru di kepala, Suyin keluar dari ruang dimensi dan kembali ke apartemen.
Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Di luar baru lewat lima belas menit sejak ia masuk—tapi di dalam ruang, ia menghabiskan hampir dua setengah jam.
Suyin tersenyum. Time management level dewa.
Ia mandi, ganti baju tidur, lalu berbaring di kasur sambil scrolling marketplace online—nyari benih-benih unik.
Tomat cherry, cabai habanero, terong jepang, timun mini, brokoli, kembang kol, wortel rainbow, bit merah, kale, arugula, basil, rosemary, mint, strawberry, blueberry...
Keranjang belanja online-nya penuh. Total: Rp 800.000.
"Mahal sih, tapi investasi," ucap Suyin sambil checkout. "Kalau semua berhasil, balik modal cepet."
Setelah selesai belanja online, Suyin matikan lampu dan coba tidur.
Tapi pikirannya masih ke Meifeng.
Tatapan mata sepupunya tadi—ada sesuatu yang mengganggu. Seperti Meifeng tahu ada yang Suyin sembunyiin, dan bertekad cari tahu apapun itu.
"Harus lebih hati-hati," gumam Suyin dalam gelap. "Jangan sampai ada yang tahu soal ruang dimensi. Apapun yang terjadi."
Ia menyentuh gelang giok di pergelangan tangan—hangat dan menenangkan seperti biasa.
Dan perlahan, Suyin tertidur dengan satu tekad: melindungi rahasia ini dengan cara apapun.
Tapi apa yang tidak ia tahu—di luar sana, Zhao Meifeng duduk di mobil mewahnya yang terparkir di basement apartemen, menatap foto gelang giok yang ia ambil diam-diam tadi dengan kamera ponsel.
Meifeng zoom foto itu, mengamati detail ukiran di permukaan giok.
"Gelang pusaka keluarga Lin..." gumamnya sambil tersenyum licik. "Pasti ada yang spesial. Nenek nggak mungkin cuma kasih gelang biasa ke Suyin."
Ia membuka kontak di ponsel, menelepon seseorang.
"Halo, Pak Tan? Ini Zhao Meifeng. Iya, saya ada barang antik yang mau di-appraisal. Gelang giok. Bisa ketemu besok? Perfect. Sampai besok."
Meifeng menutup telpon, masih menatap foto gelang dengan mata berkilat.
"Apapun yang kamu sembunyiin, Suyin... aku akan cari tahu. Dan kalau emang berharga... itu seharusnya jadi milikku."
Ia menyalakan mesin mobil dan pergi—meninggalkan niat jahat yang mengancam kedamaian Suyin.
Badai baru saja mendekat.
Dan Suyin belum tahu apa-apa.