Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Masalah di Tempat Kerja Anis
Sehari setelah kejadian itu, Majikan Anisa datang, dan ketiga ART-nya sudah tahu akan hal itu, mereka bertiga kompak menyiapkan semuanya. Rumah bersih, masakan matang tepat waktu, semua sudut ruangan rapi tanpa ada kotoran yang tertinggal.
Mobil hitam berhenti di depan rumah, majikan Anisa keluar dari mobil itu lalu beberapa staf mengeluarkan beberapa koper dari mobil tersebut, sebagian koper-koper berisi barang-barang pribadi dan ada juga sebagian hasil dari belanjaan sang majikan di negeri Singa sanan.
Setelah semua koper masuk ke dalam rumah, sang majikan mulai menyuruh ketiga ART-nya mengurus koper-kopernya itu dan Anisa selalu kebagian jatah mengurus koper yang berisi berbagi macam jenis perabotan rumah.
Kotak-kotak kardus berlebel itu tersusun rapi di ruang tengah. Dari percakapan singkat yang terdengar, barang-barang itu bukan sekadar oleh-oleh biasa. Ada set peralatan makan impor, hiasan meja dari kristal, dan beberapa vas bunga dengan desain elegan.
"Anisa, tolong nanti bantu buka dan susun, hati-hati ya, itu barang-barang mahal," pesan majikannya, sebelum akhirnya pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
"Baik Bu," sahut Anisa.
Anisa mengangguk patuh, Ia membawa satu kardus kecil itu untuk dibuka. Tangannya bekerja hati-hati, cutter menyayat lakban perlahan.
Di dalamnya tersimpan sebuah vas kecil berbahan porselen premium dengan sentuhan emas di bagian bibirnya, dihiasi lukisan tangan motif bunga peony yang detailnya begitu halus. Warna dasarnya putih gading lembut, dengan gradasi merah muda dan hijau yang tampak hidup.
Anisa mengangkatnya dengan hati-hati, namun tangannya yang sedikit berkeringat membuat pegangannya tak sekuat yang ia kira.
Vas itu terlepas, dan.
PRANG!
Suara pecahnya menggema di ruang tengah, jantung Anisa seperti ikut jatuh bersama pecahan keramik itu, tubuhnya membeku sepersekian detik, tangannya langsung bergetar hebat.
“Ya Allah…” bisiknya lirih.
Beberapa detik kemudian sang majikan datang dengan wajah terkejut.
“Apa yang terjadi?!”
Anisa menunduk, napasnya tak beraturan.
“Maaf, Bu… saya nggak sengaja…”
Mata majikannya langsung tertuju pada pecahan itu, lalu menghela napas berat.
“Itu vas tiga juta, Nis. Tiga juta.”
Kalimat itu seperti palu yang menghantam kepalanya. Tiga juta. Angka yang terasa cukup besar bagi Anisa bahkan gajinya tak sampai sebesar itu, butuh waktu beberapa bulan.
Dada Anisa mendadak sesak, air mata mengenang, tapi ia berusaha untuk menahannya, semua rasa takut bercampur jadi satu di dalam hatinya.
“Saya tanggung jawab, Bu,” ucapnya pelan meski suaranya bergetar.
"Tidak usah, lain kali cukup hati-hati saja," kata majikannya nadanya berubah menjadi ketus dan Anisa menyadari akan hal itu.
Setelah kepergian majikannya, Anisa menyapu pecahan vas itu dengan tangan gemetar, air mata yang sedari tadi ditahan, jatuh begitu saja, ia sudah berhati-hati namun karena telapak tangannya sedikit licin ia hilang keseimbangan.
"Dasar ceroboh," ucapnya seolah marah pada dirinya sendiri.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sore harinya suasana kembali kondusif, majikan tidak mengungkit masalah vas lagi, ia tidak pernah meminta Anisa untuk menggantinya, hanya saja raut majikan Anisa tidak sehangat sebelumnya.
Dan saat Anisa mengantar teh hangat di ruang keluarga, tiba-tiba majikan Anisa menyeletuk.
"Nis, gelasnya kenapa tidak pakai yang tatakan emas itu," ucapnya dengan nada datar cenderung ketus.
"Maaf Bu, ya sudah kalau gitu aku ganti," sahut Anisa.
Belum sempat Anisa membalikan badannya majikan sudah menimpalinya kembali. "Lain kali kamu harus pekah hal sekecil ini saja masak harus diingatkan."
Anisa menunduk, hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya, ia balik ke dapur dengan perasaan yang penuh, langkahnya terhenti di depan wastafel.
Anisa melihat wajah lelahnya dari pantulan kaca, ia mencoba menguatkan dirinya sendiri, karena hanya dengan cara ini dadanya yang sesak terasa penuh.
"Sabar, ya namanya juga kerja," gumamnya dalam pantulan itu.
☘️☘️☘️☘️☘️
Malam harinya saat pekerjaan semua sudah selesai Anisa mencoba untuk menenangkan diri di dalam kamar kecilnya, mungkin hari ini ia mendapatkan masalah karena kelalaiannya.
“Mungkin memang salahku…” gumamnya pelan. “Kalau aku nggak jatuhin vas itu, mungkin Ibu nggak akan sekaku ini.”
Ia merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit yang polos, Anisa tidak marah dengan majikannya, ia hanya merasa lelah dan merasa tidak pernah cukup karena selalu dapat teguran terus.
Ponselnya yang tergeletak di samping bantal tiba-tiba bergetar. Nama di layar itu membuat dadanya menghangat.
Zaki.
Anisa menatapnya beberapa detik, lalu mengangkat. “Halo, Mas…”
“Nis,” suara Zaki terdengar lembut seperti biasa. “Sudah selesai kerjanya?”
“Sudah.”
“Kamu lagi tiduran ya?”
Anisa tersenyum tipis. “Iya.”
Zaki terdiam sesaat. “Hari ini gimana?”
Anisa awalnya ingin menjawab biasa saja.
Tapi entah kenapa, malam ini suaranya terasa rapuh.
“Biasa.”
Sunyi, menyelinap. Dan hal itu membuat Zaki penasaran.
“Kamu kalau jawab ‘biasa’ itu berarti nggak biasa,” ujar Zaki pelan.
Anisa menggigit bibirnya. "Aku tadi melakukan kesalahan Mas," ucap Anisa akhirnya.
"Kesalahan gimana?" tanya Zaki.
"Aku jatuhin vas bunga," sahut Anisa jujur.
Zaki terdiam cukup lama, bukan ingin menyalahkan namun diamnya itu ia tahu bagaimana takutnya Anisa saat ini.
"Kamu gak kenapa-napa?" tanya Zaki memastikan.
Anisa cukup tersentuh jika yang lain menyalahkan atas kejadian, tapi tidak dengan Zaki, lelaki itu selalu mengerti dengan ketakutan yang dirinya rasakan.
"Aku baik-baik saja, cuma sikap majikan berubah ketus," kata Anisa.
Kata baik-baik saja itu justru membuat Zaki sedikit berpikir, ia tahu jika saat ini Anisa tidak sedang baik-baik saja, rasa takut dimarahi dan khawatir pasti sedang gadis itu rasakan, dan hal itu membuat Zaki berpikir terlalu dalam.
“Nis,” suara Zaki berubah lebih serius. “Kamu kalau merasa nggak betah, bilang ya.”
Anisa terdiam, kali ini ia hanya mendengar.
“Aku nggak mau kamu bertahan cuma karena merasa harus kuat.”
“Aku masih kuat kok, Mas…”
“Kuat bukan berarti harus terus menahan,” potong Zaki lembut. “Kalau tiap hari kamu pulang dengan dada sesak, itu bukan tempat yang sehat buat kamu.”
Anisa menatap kosong ke arah dinding.
“Aku cuma nggak enak kalau tiba-tiba pergi…”
“Nggak ada yang salah dengan memilih tenang,” jawab Zaki pelan. “Kamu bukan barang yang bisa ditegur terus-terusan tanpa perasaan.”
Air mata Anisa kembali menggenang. Ia tidak sadar betapa ia butuh didengar seperti ini.
“Aku nggak mau kamu kerja dengan rasa takut, Nis.”
Suara Zaki kali ini tegas. “Kalau memang kamu merasa nggak nyaman, berhenti saja.”
“Mas…”
“Dengar aku. Aku kerja memang belum mapan. Tapi aku bisa cari cara. Aku bisa tambah shift. Aku bisa cari sampingan. Aku nggak mau perempuan yang mau aku jaga malah merasa kecil tiap hari.”
Anisa menangis pelan. Bukan karena sedih. Tapi karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang benar-benar ingin mengangkatnya dari situasi itu.
“Mas nggak keberatan?”
“Aku lebih keberatan kalau kamu terus-terusan nahan sendiri.”
Hening sebentar, hingga akhirnya Zaki kembali bersuara.
“Nis… aku ingin kamu kerja di tempat yang menghargai kamu. Atau… kalau kamu capek, istirahat dulu juga nggak apa-apa. Biar aku yang ambil bagian lebih banyak.”
Jantung Anisa bergetar, ucapan itu jatuh sederhana, tapi Anisa merasa seperti dilindungi.
“Mas…”
“Iya?”
“Makasih ya.”
“Untuk apa?”
“Karena nggak pernah bikin aku merasa sendirian.”
Zaki tersenyum di ujung sana. “Memang nggak sendirian.”
Malam itu, di kamar kecil yang sempit itu, Anisa memeluk ponselnya erat-erat. Dan di tempat lain, Zaki duduk dengan rahang mengeras.
Dalam hatinya sudah tumbuh satu tekad, Ia akan mengentas Anisa dari pekerjaan yang membuatnya merasa kecil, apapun itu caranya akan ia usahakan.
Bersambung ....
Semoga suka ya ....