Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Logika Aleksander
Esmeralda Aramoa menatap pria di depannya dengan napas yang tertahan. Setelah sesi potong rambut yang penuh drama itu, Aleksander kini terlihat jauh lebih rapi. Tanpa rambut gondrong yang menutupi wajahnya, struktur wajah AL terlihat sangat gagah dan tampan dengan cara yang mengintimidasi. Rahangnya yang tegas dan tatapan mata kuningnya yang kini lebih bersih membuat Esme sempat kehilangan kata-kata. Namun, ketampanan itu tidak mengurangi fakta bahwa di dalam kepala yang gagah itu, logikanya masih setara dengan anak kecil yang baru belajar mengeja dunia.
Mereka berdua kini berada di gudang belakang, tempat Esme mencampur berbagai bahan organik untuk membuat pupuk pesanan petani. Esme sedang sibuk menimbang serbuk kalsium, sementara AL duduk di atas karung besar sambil memperhatikan setiap gerakan Esme dengan rasa ingin tahu yang sangat murni.
"Moa," panggil AL tiba-tiba. Suaranya yang berat memecah keheningan gudang.
"Ya, Aleksander?" jawab Esme tanpa menoleh, tangannya sibuk mencatat formula di buku kecilnya.
"Tadi kau bilang pada pria tua itu bahwa kau sedang ada urusan keluarga. Lalu kau bilang padaku kalau aku harus mengaku sebagai sepupu jika kita bertemu orang lain. Apa itu se-pu-pu?" tanya AL, ia mencoba melafalkan kata tersebut dengan lidah yang masih terasa kaku.
Esme seketika membeku. Butiran serbuk kalsium di tangannya tumpah sedikit karena ia gemetar. Ia baru ingat bahwa AL belum memahami struktur hubungan manusia. Ia memutar otaknya dengan cepat, mencoba mencari jawaban yang tidak akan membuatnya berakhir di liang lahat.
"Sepupu itu... ah, itu adalah sebutan untuk keluarga yang tinggal bersama tapi tidak menikah," jawab Esme dengan nada suara yang sengaja dibuat santai, meski hatinya berdegup kencang. "Tadi aku bilang urusan keluarga karena kau adalah suamiku, dan suami adalah keluarga paling inti!"
AL melompat turun dari karung, mendekati Esme hingga bayangannya yang besar menutupi meja kerja Esme. "Tapi kenapa harus berubah? Kenapa tadi bilang suami, lalu sekarang sepupu? Mana yang benar? Apakah kau sedang membohongiku, Moa?"
Tatapan AL menajam secara otomatis. Kuku-kukunya yang baru saja dipotong pendek mulai memberikan sensasi berdenyut di ujung jarinya, tanda bahwa adrenalinnya meningkat karena rasa ragu. Esme menelan ludah dengan susah payah. Ia menatap mata kuning itu, lalu segera memasang wajah sedih yang paling dramatis yang pernah ia lakukan.
"Aleksander! Tega sekali kau menuduh istrimu sendiri berbohong!" Esme meletakkan timbangannya dengan keras dan mulai mengusap matanya yang sebenarnya kering. "Kau tidak tahu betapa bahayanya dunia luar bagi kita sekarang. Kau kan baru bangun dari koma! Kalau aku bilang kau suamiku, orang-orang akan datang bertanya-tanya tentang pernikahan kita, tentang pesta kita, dan aku... aku belum siap menjawab semua itu karena semua bukti pernikahan kita ketinggalan di rumah lama!"
AL menghentikan langkahnya. "Bukti? Apa itu bukti?"
"Itu... semacam surat-surat dan foto-foto kita saat memakai baju bagus! Aku lupa menaruhnya di mana saat kita pindah terburu-buru demi pengobatanmu. Jadi, aku bilang sepupu agar orang-orang tidak banyak bertanya dan kau bisa istirahat dengan tenang! Aku melakukan ini demi melindungimu, Aleksander!" Esme ngebatin dengan frustrasi, "Ya Tuhan, aku harus daftar jadi aktris opera sabun setelah semua ini selesai. Kebohonganku sudah sampai ke tingkat kosmik."
AL mengerutkan keningnya, menatap Esme dengan tatapan yang mulai melunak namun masih tampak bingung. "Jadi... aku tetap suamimu? Tapi di depan orang lain aku sepupu?"
"I-iya! Benar sekali! Kau pintar sekali, Aleksander!" Esme mengelus lengan AL yang keras seperti kayu jati untuk meredakan ketegangan pria itu. Begitu telapak tangan Esme menyentuh kulitnya, taring AL yang sempat sedikit memanjang kembali memendek. "Tapi itu nanti! Untuk sekarang, kau tidak boleh bertemu siapa-siapa dulu karena kau belum stabil. Kau masih suka menggeram pada kucing, ingat?"
AL menunduk, melihat Ocan yang sedang asyik menjilat kaki di sudut gudang. "Makhluk oranye itu tetap terlihat seperti gangguan bagiku, Moa."
"Nah, itulah masalahnya! Kau harus belajar mengontrol diri dulu," Esme menarik napas lega karena ancaman nyawanya baru saja lewat satu babak. "Dengar, Aleksander. Aku punya penawaran. Jika kau berjanji bisa mengontrol instingmu, tidak mengeluarkan kuku saat ada orang asing, dan mau belajar dengan baik tentang cara bersikap sebagai manusia... aku akan mempertimbangkan untuk memberitahu dunia bahwa kau adalah bagian dari keluargaku dengan benar. Mau?"
AL menatap tangan Esme yang memegang tangannya. Dia merasa kehangatan yang aneh mengalir dari wanita ini. Meski logikanya belum sampai, instingnya mengatakan bahwa Moa adalah satu-satunya jangkarnya di dunia yang asing ini.
"Aku akan belajar," ucap AL dengan sungguh-sungguh. "Aku tidak mau kau marah dan tidak memberiku makan malam lagi. Tapi... aku tidak suka kata sepupu. Itu terdengar jauh. Aku lebih suka kata suami."
Esme hanya bisa tersenyum kaku. "Iya, iya, suamiku yang tampan. Sekarang, tolong bantu aku angkat karung pupuk ini ke sudut sana. Kau punya otot besar, gunakanlah!"
AL dengan mudah mengangkat dua karung seberat lima puluh kilogram di masing-masing tangannya seolah itu hanya bantal kapas. Esme melihatnya dari belakang, mengamati punggung lebar AL yang sekarang terlihat sangat rapi dengan potongan rambut barunya. Ia harus mengakui, pria ini memang sangat gagah. Namun, rasa takut tetap menghantui setiap langkahnya.
Sambil AL bekerja, Esme kembali menatap catatan penelitiannya. Cairan penyemprot yang sempat ia gunakan sebagai penenang darurat harus segera ia teliti kembali di waktu luangnya yang hampir tidak ada. Ia butuh uang untuk biaya makan AL yang luar biasa banyak, tapi ia juga butuh penawar agar AL tidak selamanya menjadi predator yang bisa meledak kapan saja.
"Kalau dia tahu aku sebenarnya adalah ilmuwan yang sengaja menyuntiknya sampai dia jadi begini, dia tidak akan hanya menanyakan status sepupu... dia akan benar-benar memutuskan leherku," gumam Esme sangat pelan hingga hanya dia yang bisa mendengarnya.
Esme menghela napas, menyadari bahwa hidupnya sekarang adalah perlombaan antara kecepatan dia meneliti dan kecepatan AL mengembalikan ingatannya. Untuk saat ini, dia hanya bisa berharap kebohongan tentang "suami-istri" ini cukup untuk membuat AL tetap jinak dan patuh di bawah atap pondoknya yang sederhana.