NovelToon NovelToon
Setelah Dikhianati, Pewaris Rahasia Mencintaiku

Setelah Dikhianati, Pewaris Rahasia Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Balas Dendam
Popularitas:15.4k
Nilai: 5
Nama Author: dewisusanti

Pertemuan Emily Ainsley dan Alexander bermula dari sebuah insiden di atap, ketika Alexander menyelamatkannya yang hampir terjatuh dari atas gedung.

Namun alasan Emily berada di atap saat itu adalah pengkhianatan besar. Tunangannya, Liam, berselingkuh dengan saudara perempuannya sendiri. Dengan hati hancur, ia meninggalkan apartemen dan berjalan tanpa arah hingga menemukan Big Star Cafe.

Di sana, Tessa memberinya kesempatan bekerja sebagai barista berkat sertifikat yang ia miliki. Harapan baru mulai muncul, tetapi segera terguncang ketika kabar tentang kecelakaan neneknya datang.

Biaya operasi yang sangat mahal membuatnya terdesak. Ayahnya, Frank Ainsley, menolak membantu dan membiarkannya menghadapi kesulitan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meminta Bantuan

Saat mereka tiba di ruang administrasi, Perawat Lola ragu sejenak sebelum membuka pintu. Ia melirik Emily yang berdiri di sampingnya.

“Emily, aku perlu memberitahumu bahwa biaya rumah sakit kali ini mungkin lebih tinggi daripada pengeluaran bulanan nenekmu biasanya. Tolong siapkan dirimu, sayang,” kata Perawat Lola dengan penuh kekhawatiran. Ia tahu bagaimana Emily berjuang menutupi biaya perawatan neneknya sejak awal tahun.

“Aku mengerti, Perawat Lola. Terima kasih sudah mengingatkanku,” jawab Emily.

Meski Emily khawatir rekening banknya mungkin tidak cukup untuk menutupi biaya operasi, ia memutuskan akan mencari solusi nanti.

Ini bukan operasi pertama neneknya, ia bisa memperkirakan kisaran biayanya.

Perawat Lola tersenyum padanya lalu membuka pintu.

...

Setelah menyelesaikan prosedur administrasi resmi, seorang staf rumah sakit menjelaskan biaya medis yang harus ia bayar. Mendengar angka-angka itu membuat kepala Emily terasa berputar.

Bahkan dengan asuransi kesehatan neneknya, ia tetap harus membayar jumlah yang cukup besar.

Emily dengan jujur mengatakan bahwa ia tidak memiliki cukup uang untuk membayar seluruh jumlah tersebut.

Untungnya, mereka cukup baik untuk membantunya. Mereka mengizinkannya membayar setengahnya terlebih dahulu dan melunasi sisanya sebelum neneknya dipulangkan.

Satu jam kemudian, setelah proses administrasi selesai, Emily duduk di ruang tunggu kecil di luar ruang operasi, menunggu neneknya menjalani prosedur.

Emily belum bisa berbicara dengan neneknya sejak tiba di rumah sakit, karena neneknya tidak sadar hingga masuk ke ruang operasi. Hal itu membuat Emily merasa tertekan dan cemas.

“Nenek, tolong bertahanlah. Tolong bangun setelah operasi, ya?”

Semakin Emily memikirkan neneknya, semakin kepalanya terasa sakit. Ia mencoba menyingkirkan kekhawatirannya dan memeriksa rekening banknya.

Namun kepalanya kembali terasa nyeri ketika melihat saldonya. Sebagian uangnya sudah habis untuk membayar uang muka operasi neneknya, ia hanya memiliki sisa yang sangat sedikit.

Bagaimana ia bisa bertahan hidup dengan uang sesedikit itu? Bahkan dengan sisa segitu, ia hanya mampu membayar dua bulan sewa, dan itu pun harus menahan lapar.

Namun itu bukan masalah yang paling mendesak—ia masih membutuhkan lebih banyak uang lagi untuk operasi neneknya. Memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu dengan cepat membuat napasnya terasa sesak.

Menghela napas panjang, Emily berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela kaca di sudut ruangan.

Hanya satu orang yang terlintas di pikirannya untuk dimintai bantuan. Ini adalah pilihan terakhirnya. Ia berharap orang ini tidak mengecewakannya lagi, atau ia akan memutuskan hubungan dengannya sepenuhnya.

Ia menatap nama Frank Ainsley di kontak ponselnya. Setelah beberapa kali menarik napas dalam, akhirnya ia meneleponnya.

Emily menyesal begitu ponsel mulai berdering. Ia tahu ini tidak akan berakhir baik, tetapi ia tidak punya pilihan.

Panggilan itu akhirnya tersambung setelah enam kali dering.

“Ayah,” sapa Emily dengan nada kaku dan canggung.

“Ada apa, Emily?”

Hatinya terasa sakit mendengar suara dingin ayahnya, seolah ia tidak senang mendengar suaranya.

Menekan rasa kecewa dan marahnya, Emily menjawab dengan tenang. “Ayah, Nenek ada di rumah sakit. Ia jatuh di kamar mandi.”

“Lalu? Kenapa kau meneleponku?” tanya Frank Ainsley dengan jelas kesal. “Dia bukan lagi ibu mertuaku setelah aku menceraikan putrinya!”

Emily mengepalkan tangannya, menahan keinginan untuk mengumpat ayahnya atas kata-katanya yang kasar. “Tolong, dengarkan aku dulu, Ayah. Aku butuh bantuanmu—”

“Bantuanku? Apa kau sudah lupa peringatanku? Sejak kau pindah ke ibu kota dan memilih tinggal bersama ibumu, kau sudah menegaskan bahwa kau tidak akan meminta apapun dariku,” kata Frank Ainsley dengan dingin.

“Aku ingat,” katanya, suaranya gemetar saat air mata membasahi pipinya. Namun ia tidak membiarkan ayahnya tahu bahwa ia sedang menangis.

“Lalu kenapa sekarang kau butuh bantuanku?”

Emily berdehem pelan. “Aku tidak meminta uang darimu untuk membayar biaya pengobatan Nenek, tapi aku ingin meminjamnya. Aku janji akan mengembalikannya dalam beberapa bulan kedepan.”

“Emily, kenapa minta padaku? Bukankah kau punya tunangan kaya yang bisa menanggungmu? Kenapa datang padaku?”

Kata-kata Frank Ainsley menusuk dalam, mengingatkan Emily bagaimana Sylvie telah menghancurkan pertunangannya dengan Liam dengan merebut pria itu darinya.

Emily ingin mengakhiri panggilan itu, tetapi ia bertahan, mengingat betapa putus asanya ia.

“Ayah, aku sudah tidak menjalin hubungan dengannya lagi,” katanya lirih, merasa seperti seratus paku menusuk hatinya.

Alih-alih simpati, Emily justru mendengar tawa mengejek di ujung telepon.

“Aku sudah tahu! Itulah sebabnya kau meneleponku, memohon bantuan. Dia pasti kabur darimu karena kau tidak berguna. Menghabiskan hidupmu merawat wanita tua itu.”

Emily mengatupkan giginya, nyaris tak mampu menahan hinaannya saat air mata mengalir di wajahnya.

“Ini semua karena putrimu merebutnya dariku, seperti ibunya merebutmu dari ibuku!” Emily ingin berteriak, tetapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya.

Tidak ada gunanya melanjutkan percakapan. Seberapa pun ia memohon, ayahnya tidak akan mengeluarkan satu sen pun untuk membantunya. Ia marah pada dirinya sendiri karena berharap ayahnya akan membantunya.

Emily hendak menutup telepon ketika suara wanita lembut menghentikannya.

“Itu kau, Emi!? Ya Tuhan, akhirnya kau menelepon ayahmu.”

Emily menggenggam ponselnya erat-erat saat mendengar suara sarkastis itu: Lydia Young, istri baru ayahnya—ibunya Sylvie Ainsley—seorang wanita yang tidak akan pernah ia anggap sebagai ibu tirinya.

Ia tetap diam, mendidih mendengar suara Lydia yang licik dan melengking.

Namun sebelum Emily sempat berkata apa-apa, Lydia melanjutkan tanpa henti, “Emi, sayang, sudah lama sekali kami tidak mendengar kabarmu! Bagaimana kabar nenek tercintamu? Oh, aku harap dia baik-baik saja. Kita semua tahu bagaimana kesehatannya akhir-akhir ini.”

Kemanisan palsu dalam nadanya membuat Emily mual. Ia bisa merasakan kesombongan di balik setiap katanya.

“Aku tidak menelepon untuk berbicara denganmu, Lydia,” bentak Emily, tak mampu lagi mengendalikan emosinya. “Aku perlu berbicara dengan Ayah.” Ia marah karena ayahnya menyalakan pengeras suara agar istrinya bisa mendengar percakapan mereka.

“Emi, jangan kasar,” tegur Lydia lembut, seolah merasa geli dengan kejengkelan Emily. “Kita ini keluarga, sayang, jangan lupakan itu, dan jangan pedulikan kemarahan ayahmu, ya!?”

Emily mengertakkan giginya. Ia merasa terjebak dalam percakapan ini, berharap ia tidak menelepon sejak awal. Tetapi ia tidak punya pilihan lain. Nyawa neneknya sedang dipertaruhkan.

“Ayah, tolong, aku hanya butuh pinjaman. Aku akan mengembalikannya secepat mungkin,” pinta Emily, suaranya gemetar penuh keputusasaan.

Namun Frank Ainsley tetap diam di ujung telepon. Sekali lagi, keheningan itu menghancurkan hati Emily, air mata masih mengalir di pipinya, sangat menyakitkan mengetahui bahwa ayah kandungnya begitu buta dan sama sekali tidak tergerak untuk membantunya.

“Emi, sayangku, mungkin kau harus berhenti bergantung pada ayahmu. Kau sudah dewasa sekarang. Bukankah seharusnya kau sudah bisa mengurus dirimu sendiri?” kata Lydia, menambah bara di hati Emily.

Darah Emily mendidih. Ia ingin berteriak, tetapi kata-kata tersangkut di tenggorokannya. Ia tidak percaya betapa kejamnya mereka—ayah kandungnya sendiri dan istri barunya—menyingkirkannya seperti ini saat ia sangat membutuhkan bantuan.

“Aku tidak butuh nasihatmu, Lydia,” desis Emily. “Aku sedang berbicara dengan Ayah—”

Namun Frank tetap diam.

Emily tahu ia tidak akan mendapatkan apa pun dari ayahnya, seberapa pun ia memohon. Harapan terakhirnya lenyap. Ayahnya terlalu sibuk dengan istri barunya yang penuh nafsu hingga tak peduli pada darah dagingnya sendiri.

Tanpa sepatah kata lagi, Emily mengakhiri panggilan itu, hatinya berat oleh keputusasaan. Ia berdiri di dekat jendela, menatap langit yang mulai gelap, pikirannya berpacu mencari apa yang harus dilakukan selanjutnya.

“Nenek, tolong jangan tinggalkan aku…” doa Emily. Ia belum pernah merasa sesepi ini dalam hidupnya.

1
Yuli Yulianti
aduh emely kamu tu ya coba langsung krmh sakit siapa yg membayar ini malah langsung ngira Liam yg byr
lyani
atuhh tanya dl k RS em..
vaukah
up tor
july
good
Afifah Ghaliyati
kenapa kok pikirannya ke lima sihh, aduhhh
Muft Smoker
next kak ,,
Muft Smoker: ok kaak
total 2 replies
Uba Muhammad Al-varo
Emily jangan gegabah menerkanya, sekarang selidiki dulu siapa orangnya yang membayar biaya nenek di rumah sakit, jangan sampai kau terjebak oleh Julian
Uba Muhammad Al-varo: maksudnya bukan Julian tetapi Liam si pecundang
total 1 replies
Yuli Yulianti
semoga rmh sakit memberitahu siapa membayar yg penting bkn nm penghianat
mery harwati
Padahal yang bayar tagihan RS adalah Alexander melalui Ryan sang asisten 😀
Enak banget Liam yang makan nangkanya, sedangkan Alexander yang kena getahnya
Emily harus tau bukan Liam yang bayar tagihan RS neneknya
lyani
nah bener
Dwi Winarni Wina
Liam mengancam Emily menyakiti neneknya tidak mau menolongnya, Emily sudah sakit hati dan kecewa sama Liam...
amida
hadir torr
kakdew12: bab terbarunya sudah di up yaa
semangat terus bacanya
total 1 replies
Stevanus1278
lanjut terus ya kak, jangan lupa up yang rajin
kakdew12: bab terbarunya sudah di up yaa
semangat terus bacanya
total 1 replies
Rahmawati
Alexander terdiam tak berkata-kata pas liat rumah Emily, dia kaget Emily tinggal di rumahnya
kakdew12: bab terbarunya sudah di up yaa
semangat terus bacanya
total 1 replies
Muft Smoker
astagaaa Emily tinggal di kandang macan 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker: ok kak
total 2 replies
Muft Smoker
Alexander si dewa penolong ny emi ,,
dy seperti tau kpn emi dlm suasana hati yg buruk
Afifah Ghaliyati
semua kejutan dari awal sampe akhir ternyata karena Alexander yang merencanakan semuanya buat Emily, padahal Emily berpikir cuma kebetulan
kakdew12: bab terbarunya sudah di up yaa
semangat terus bacanya
total 1 replies
Afifah Ghaliyati
Emily mulai merasa nyaman sama Alexander tapi takut jatuh cinta lagi setelah sakit hati sama Liam, semoga dia bisa terbuka lagi nanti!
Afifah Ghaliyati
Alexander selalu muncul tepat waktu buat bantu Emily, semoga kali ini mereka bisa lebih dekat dan saling mengenal satu sama lain
Afifah Ghaliyati
Akibatnya Liam yang selalu mengganggu, akhirnya ada Alexander yang muncul buat bikin Emily merasa lebih baik, pesannya bikin suasana hati Emily langsung jadi lebih cerah kan? semoga dia benar-benar datang ke kafe dan bisa ngobrol sama Emily, bantu dia lupakan semua masalah yang sedang dialaminya sekarang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!