NovelToon NovelToon
Dead As A Human, Reborn As The Heir

Dead As A Human, Reborn As The Heir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Perperangan / Summon / Dunia Lain / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: ANWAR MUTAQIN

aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Volume II — The Weight of Survival Chapter 5 — The Trap of Shadows

Matahari baru saja terbenam ketika Daniel dan Raven tiba di zona operasi selatan. Kota itu hampir sepenuhnya hancur, gedung-gedung menjulang runtuh dengan sisa-sisa asap tebal yang mengalir seperti kabut kelabu.

“Intel mengatakan mereka mengatur jebakan,” kata Raven, matanya tajam menilai setiap reruntuhan. “Iblis tingkat menengah dan bayangan baru dari Antares. Mereka sudah belajar dari kita.”

Daniel menatap katana di tangannya. Pedang itu terasa berat, tapi kini ia bukan sekadar alat untuk menyerang atau bertahan. Setiap tebasan adalah pernyataan tekad, dan setiap gerakan menentukan apakah nyawa warga sipil akan selamat atau hilang.

Segel pertama berdenyut di dadanya, menahan rasa lelah dan sakit. Tapi tekanan hari ini berbeda—bukan sekadar fisik, tapi moral.

Memasuki Zona Jebakan

Mereka berjalan melalui gang sempit yang penuh reruntuhan. Setiap langkah mengeluarkan suara berderak—tanda bahwa lantai tidak stabil. Daniel bisa merasakan bayangan iblis yang mengintai di setiap sudut.

“Waspadalah,” kata Raven. “Mereka ingin memancingmu ke posisi yang membuatmu terjebak.”

Tiba-tiba, lantai di depan mereka runtuh. Daniel melompat ke samping, katana diarahkan untuk menebas puing yang jatuh. Dari bawah muncul segerombolan iblis—lebih besar, lebih cepat, dan tampak lebih cerdas daripada yang sebelumnya ia lawan.

Daniel mengatur napas. Segel pertama menstabilkan tubuhnya, memberi kontrol penuh atas gerakan meski tubuhnya lelah. Ia menebas satu iblis, lalu memutar untuk menghadapi yang lain. Setiap gerakan seperti tarian berbahaya—tidak ada ruang untuk kesalahan.

Raven menembak dari jarak jauh, memastikan mereka tidak dikepung. “Cepat! Ini jebakan penuh!” teriaknya.

Pilihan Sulit

Di lantai atas, Daniel menemukan beberapa warga sipil terjebak di balkon gedung. Mereka panik, berteriak minta tolong. Daniel menelan ludah—ia harus memilih antara maju menghadapi iblis atau menyelamatkan warga yang terjebak.

Segel pertama berdenyut lebih kuat, menahan tubuhnya agar tetap stabil saat ia membuat keputusan. Ia mengambil napas dalam, lalu melompat ke balkon. Katana menebas iblis yang mengejar, menciptakan ruang bagi warga.

Namun sebagian reruntuhan jatuh menutup jalannya. Ia sadar: tidak semua orang bisa ia selamatkan.

“Kau harus pergi!” teriak Daniel pada warga. “Ikuti jalan darurat, jangan lihat ke belakang!”

Warga itu menatapnya dengan mata penuh rasa takut dan harapan. Daniel menggenggam pedang lebih erat. Ia tahu: keputusan hari ini akan membekas dalam hidup mereka.

Tekanan Bertubi-tubi

Setelah menuntun sebagian warga ke tangga darurat, Daniel kembali menghadapi iblis yang tersisa. Kali ini mereka muncul dari tiga arah berbeda, bergerak seperti kawanan predator.

Ia menebas satu, menangkis serangan lain, memutar tubuh dengan ritme yang sempurna—insting yang diperkuat segel pertama bekerja optimal, tapi itu tidak memberi kekuatan ekstra.

Ia kelelahan, kakinya gemetar, napas tersengal. Setiap gerakan menuntut konsentrasi penuh. Raven tetap di belakang, menembak dan memberi perlindungan. “Kau hebat, Daniel. Tapi ini belum selesai,” katanya singkat.

Iblis terakhir jatuh, mundur ke reruntuhan, tetapi sebuah bayangan besar muncul dari atas—ibu jari Antares sendiri. Mata merah menyala dari kegelapan atap, memperhatikan. Daniel merasakan aura yang berbeda—lebih dingin, lebih mengancam. Ini permainan Antares, bukan sekadar pertempuran biasa.

Refleksi dan Tekad Baru

Setelah semua warga aman, Daniel duduk di tanah, katana di pangkuannya. Tubuhnya kelelahan, tapi napasnya stabil. Segel pertama berdenyut pelan, menenangkan tubuhnya.

Raven duduk di sampingnya. “Hari ini kau tidak hanya bertarung melawan iblis. Kau bertarung dengan tanggung jawabmu sendiri. Itu lebih berat daripada pedang manapun,” katanya.

Daniel menatap pedang katana yang kini terasa berat dengan makna. Ia menyadari satu hal: hidup bukan hanya untuk bertahan, tapi untuk menghadapi konsekuensi dari pilihanmu.

Di kejauhan, bayangan iblis yang kabur kini berkumpul, menandakan bahwa Antares sedang mengamati setiap gerakan mereka, dan mungkin, menyusun jebakan berikutnya.

Daniel menarik napas panjang. “Aku akan siap,” gumamnya. “Apapun yang terjadi, aku akan bertahan… dan melindungi yang bisa kuproteksi.”

Segel pertama berdenyut lebih lembut, seolah memberi restu. Katana di tangannya bersinar redup, menandakan bahwa pertarungan belum selesai, tapi tekadnya semakin matang.

Dan di hati Daniel, ia tahu:

Pertarungan sesungguhnya baru dimulai.

Hidup sebagai Hunter adalah beban yang tak pernah ringan—tapi itu adalah jalan yang ia pilih sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!