Mengisahkan seorang agen kocak tapi cool
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas mencari tabung subsidi
Komandan sadar, kalau kasus hilangnya ribuan tabung gas subsidi itu ada campur tangan orang dalam.
Lebih jelasnya...
Ada pejabat tinggi yang terlibat dalam aksi ini dan itu adalah hal yang paling merepotkan bagi komandan.
Karena, kalau pejabat tinggi yang terlibat maka misi ini pasti akan di persulit secara gila-gilaan oleh pihak yang terlibat.
Di tambah..
Setelah misi berhasil dan target tertangkap tidak ada jaminan kalau pelaku akan mendapatkan hukuman yang setimpal.
Paling-paling hanya akan di penjara beberapa tahun setelah itu selesai.
"Hufft.... Haahhh...!"
"Lupakan saja. Yang penting berusaha dulu, adapun hasilnya nanti itu bukan urusan kita lagi karena tugas kita cuma menangkap penjahat, bukan mengadilinya!"
Komandan kemudian pergi lagi ke jendela untuk pamer meskipun di sana tidak ada siapa-siapa.
Tentu. Jendela yang di buka adalah jendela yang sama yang ia buka beberapa saat yang lalu ketika masih ada Wawan dan Raisya.
"Hah!?" Komandan makin kaget ketika membuka jendela itu.
Kalau tadi hanya ada satu orang saja yang buang limbah sembarangan, sekarang malah ada tiga dan mereka malah ngobrol sambil buang hajat itu.
"Kurang ajar!!"
"Apa tatakrama dan etika beliau di temukan di komplek ini!?" Umpat komandan sambil menutup kembali jendela dengan keras.
Brakkk!!
Kembali pada Wawan dan Raisya yang kimk sudah berada di ruangan tempat satu-satunya komputer "agak canggih" di markas ini berada.
Di sana Raisya langsung bekerja keras melakukan penyelidikan dengan bekal beberapa informasi yang di berikan oleh komandan.
Tapi karena informasi itu cuma sedikit, jadi Raisya sangat kesulitan untuk menemukan sesuatu yang berguna.
"Haahh... Ini sia-sia!"
"Terlalu sedikit informasi yang kita punya di sini dan orang yang kita punya cuma sedikit. Rasa-rasanya, sangat mustahil kita akan menyelesaikan misi ini dalam waktu yang sudah di tentukan ini!" Raisya mengelus-elus pelipisnya.
Ia tampak sangat tertekan dengan pekerjaan yang ia sedang kerjakan sekarang ini.
Ketika Raisya sudah mulai putus asa, tiba-tiba saja Wawan menemukan sebuah berkas yang lumayan mencurigakan.
"Hm?...." Ia melihat sebuah kertas yang berisikan nama-nama orang yang tidak di kenal.
"Apa ini!?" Wawan bertanya sambil menunjukkan berkas itu pada Raisya.
Raisya sempat melihat berkas itu, kemudian menjawab. "Ini adalah daftar dari pihak-pihak yang menerima semua tabung subsidi itu sebelum dapat di beli oleh rakyat!"
Wawan tampak serius melihat semua tabung nama itu.
Tak lama, alis matanya berkerut seiring dengan banyaknya nama yang Wawan baca di berkas itu.
Raisya yang menyadari sikap Wawan pada berkas itu langsung berkata. "Berkas itu kemungkinan tidak ada gunanya!"
"Orang-orang yang ada di sana paling-paling hanya menerima beberapa ratus tabung saja untuk satu sektor wilayah penjualan tabung subsidi!"
"Sudah begitu masing-masing dari mereka mengelola sektor yang cukup jauh dari satu sama lain!" Kata Raisya sambil sedikit menaikkan bahunya.
Berbeda dengan Raisya yang menganggap kalau berkas itu tidak berguna, Wawan justru melihat berkas itu sebagai sebuah benda yang berharga.
"Raisya! Bisa tolong carikan foto-foto dari orang-orang yang ada di berkas ini!?" Raisya tentu bingung.
Tapi, karena tidak ada yang bisa ia perbuat maka ia lebih memilih menuruti permintaan Wawan. "Oke!..."
Segera Raisya mencari beberapa foto dari orang-orang yang namanya ada di berkas.
Tak butuh waktu lama, semua orang yang ada di daftar fotonya langsung ketemu.
Ada banyak sekali foto yang Raisya kumpulkan di sana hingga itu membuat Raisya sendiri pusing ketika melihatnya.
"Ini semua yang kamu minta... Tapi mau di buat apa!?" Tanpa menjawab apa-apa Wawan mendekat untuk melihat lebih jelas.
Tentu. Itu membuatnya menjadi lebih dekat dengan Raisya hingga Raisya sampai merona karenanya.
Di mata Raisya, ekspresi Wawan yang selalu datar dan berpandangan lurus itu memiliki daya tarik tersendiri.
Selama beberapa saat Raisya terus memperhatikan Wawan sedangkan Wawan tidak menyadari apa-apa.
Setelah beberapa saat mengamati semua foto itu, Wawan pun mendapatkan sedikit petunjuk.
Yaitu hampir kebanyakan dari orang-orang dalam foto itu pernah melakukan foto dengan seseorang.
Dan seseorang ini tampak tidak asing di mata Wawan.
Namun, meskipun begitu tapi Wawan tidak sepenuhnya ingat dengan orang yang pernah berfoto dengan para tersangka dalam berkas itu.
Akhirnya, Wawan meminta bantuan Raisya lagi. "Tolong cari tahu data dari orang ini!" Raisya yang tadinya sedang menatap Wawan seketika tersentak.
Segera ia memalingkan wajahnya dengan malu-malu.
"Baik. Tunggu sebentar!" Raisya langsung mencari lagi beberapa data tentang orang yang ada di foto.
Itu tak butuh waktu lama.
Segera semua yang Wawan minta dapat di temukan oleh Raisya. "Apa ini cukup!?" Tanya Raisya.
Wawan segera mengambil alih komputer untuk melihat bagian-bagian yang kurang jelas, dan akhirnya....
"Seperti yang aku duga!" Tampaknya, Wawan baru saja menemukan sebuah jalan bagi mereka untuk memecahkan kasus ini.
"Kamu dapat sesuatu!?" Mata Raisya terbuka lebar karena pada saat ini ia benar-benar terkejut sekaligus penasaran.
"Pada awalnya aku merasa aneh dengan nama-nama yang ada dalam berkas ini karena sebagian besarnya pernah aku dengar!"
"Aku kira cuma kebetulan pada awalnya, tapi setelah di telusuri ternyata memang seperti apa yang aku pikirkan!" Ucap Wawan.
Kemudian Wawan membuka website berita di halaman baru untuk menunjukan sesuatu pada Raisya.
"Lihat ini!" Wawan menunjukan sebuah artikel tentang kejadian besar yang terjadi sekitar dua tahun yang lalu.
"Ini... Kejadian demo besar-besaran karena melambungnya harga bahan-bahan dapur, bukan!?" Ucap Raisya.
"Benar. Ini adalah artikel tentang kejadian dua tahun yang lalu itu!?"
Lanjut Raisya bertanya karena belum paham dengan hal yang mau Wawan sampaikan. "Lalu apa hubungannya dengan kasus sekarang dan orang-orang yang kita selidiki ini!?"
"Coba deh, kamu scan wajah orang-orang yang kita selidiki tadi dan cari orang yang memiliki wajah yang sama yang terlibat dalam kejadian dua tahun lalu itu!"
Dengan serius Raisya melakukan apa instruksi Wawan.
Tak butuh waktu lama, semua foto yang telah di dapatkan sebelum di scan dan hasilnya langsung keluar.
"Ini..... " Mata Raisya terbelalak karena semua orang yang telah ia selidiki tadi ada dan terlibat dalam kejadian dua tahun lalu.
Lanjut Wawan berkata. "Semua orang yang ada dalam berkas bisa di bilang adalah orang baik yang ikut membela rakyat!"
"Karena itu, setelah masalahnya selesai mereka di anggap berjas dan akhirnya di angkat menjadi orang kepercayaan untuk mengelola tabung gas subsidi karena mereka juga lumayan cocok dengan tugas itu!"
"Lalu? Kenapa kamu malah curiga pada orang-orang ini kalau mereka ini adalah orang yang ikut berjuang pada saat itu!?" Tanya Raisya.
"Itu karena sikap mereka itu cepat berubah!"
"Pada awalnya, mereka mengungkapkan kebencian pada para pejabat tapi setelah di angkat menjadi penanggung jawab di beberapa sektor sikap mereka berubah!"
"Mereka loyal dan luwes sekali ketika berbicara dengan pejabat yang dulu mereka benci. Rasanya apa yang mereka katakan dulu itu cuma sandiwara!" Wawan pun selesai dengan penjelasannya.
Seketika suasana ruangan menjadi sangat sunyi dimana Raisya nyaris tak bisa berkata-kata karena kagum dengan kejelian Wawan.