NovelToon NovelToon
Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Aku Tidak Punya Harta, Hanya Sketsa Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Iklan di Papan Pengumuman

Pagi itu di kampus Sanata Dharma, suasana masih sepi. Mahasiswa baru mulai berdatangan, beberapa duduk di taman sambil ngopi, yang lain buru-buru menuju kelas.

Laras berjalan santai di koridor Fakultas Desain, membawa secangkir kopi dari kantin. Ia mengenakan tunik motif batik cokelat dipadukan dengan celana palazzo hitam, rambut panjangnya tergerai rapi. Hari ini ia tidak ada kelas pagi, hanya ingin mengerjakan tugas di studio.

Saat melewati papan pengumuman di dekat ruang dosen, matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa. Selebaran kertas ukuran A4 dengan tulisan tebal: "DICARI: BIMA WIJAYA"

Laras berhenti. Ia mengerutkan kening, lalu membaca lebih detail.

"Dicari, Bima Wijaya. Mahasiswa pindahan dari UGM. Ciri-ciri: tinggi sekitar 175 cm, rambut ikal sebahu, kulit sawo matang, pendiam. Jika melihat atau mengetahui keberadaannya, harap hubungi nomor ini: 0812xxxxxxx. Ada keluarga yang mencarinya."

Laras membelalak. Bima? Bima Wijaya? Temennya yang pendiem, jago coding, anak pindahan yang misterius itu? Ia melihat nomor telepon di bawah, lalu mengeluarkan ponsel, memotret selebaran itu.

"Bima Wijaya," gumamnya. "Jadi namanya Bima wijaya."

Selama ini ia hanya memanggilnya "Bima" tanpa tahu nama lengkap. Laki-laki itu memang tertutup, tidak pernah bercerita tentang masa lalu. Laras penasaran. Siapa yang mencari? Keluarga? Atau...

Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan berjalan cepat menuju gedung Fakultas Teknik, tempat Bima biasanya mengerjakan project AI dengan Dr. Hartono.

---

Di ruang laboratorium komputer, Bima sedang asyik mengetik kode. Ia memakai kaos oblong abu-abu polos dan celana jeans hitam, rambut ikalnya sedikit acak-acakan karena seharian tidak disisir. Di hadapannya, layar monitor menampilkan baris-baris kode yang rumit. Sesekali ia berhenti, berpikir, lalu mengetik lagi.

"Bim."

Bima menoleh. Laras berdiri di pintu, sedikit terengah-engah.

"Lo dicari orang?" tanya Laras langsung.

Bima mengerutkan kening. "Maksudnya?"

Laras mendekat, menunjukkan ponselnya dengan foto selebaran. "Ini. Di papan pengumuman. Ada yang nyari Bima Wijaya. Itu lo, kan?"

Bima melihat foto itu. Jantungnya langsung berdetak kencang. Kay. Pasti Kay yang memasang iklan ini. Tidak ada orang lain yang akan mencarinya.

Ia mengambil ponsel Laras, membaca detailnya. Nomor itu—ia hafal betul. Nomor Kay.

"Bim?" Laras menatapnya khawatir. "Lo kenapa? Kok pucat?"

Bima tidak menjawab. Ia berdiri, berjalan cepat meninggalkan lab. Laras mengikutinya dari belakang.

"Bim! Tunggu! Lo mau ke mana?"

Bima tidak menoleh. Ia langsung menuju papan pengumuman di koridor utama. Selebaran itu masih menempel. Ia merobeknya dengan kasar, lalu merobek-robek kertas itu hingga hancur. Potongan-potongan kertas bertebaran di lantai.

Laras tiba di belakangnya, terengah-engah. "Bim... apa-apaan itu?"

Bima diam, menatap sisa-sisa kertas di lantai. Tangannya gemetar.

Laras mendekat, berbicara lembut. "Bim, cerita. Gue lihat lo panik. Itu siapa yang nyari? Kok lo robek?"

Bima menghela napas panjang. Ia duduk di bangku dekat papan pengumuman, menunduk. Laras duduk di sampingnya.

"Mantan pacar gue," bisik Bima akhirnya.

Laras terkejut. "Mantan? Lo punya pacar?"

Bima mengangguk pelan. "Di UGM. Namanya Kay. Dia... dia yang nyari gue."

Laras diam, mencerna informasi. "Kenapa lo kabur? Kenapa pindah ke sini tanpa bilang?"

Bima mengusap wajahnya. "Panjang ceritanya."

"Gue punya waktu."

Bima menatap Laras. Ada ketulusan di mata seniornya itu. Mungkin sudah saatnya ia bercerita pada seseorang.

"Ibu dia... minta gue pergi," mulai Bima. "Keluarga dia kaya. Gue cuma mahasiswa beasiswa yang jatuh sakit, IPK hancur, beasiswa dicabut. Gue ngerasa jadi beban. Ibu dia bilang, gue cuma buat Kay menderita."

Laras mendengarkan dengan serius.

"Gue pergi karena gue nggak mau nyusahin dia. Gue pindah ke sini, mulai dari nol. Jasa website, kerja, bayar utang. Pelan-pelan bangkit."

Laras menghela napas. "Bim... lo tuh..."

"Apa?"

"Lo tuh laki-laki langka." Laras menatapnya dengan pandangan baru. "Banyak orang di posisi lo bakal nempel terus, minta dibantu. Tapi lo milih pergi, milih bangkit sendiri. Itu... dewasa banget."

Bima menggeleng. "Bukan dewasa. Bodoh. Gue nyakitin dia."

"Tapi lo niatnya baik."

"Niat baik nggak selalu hasilnya baik." Bima menunduk. "Gue lihat dia di Malioboro minggu lalu. Dia panggil nama gue. Gue lari. Gue nggak bisa hadapin dia sekarang."

Laras diam beberapa saat. Matanya mengamati Bima—laki-laki yang selama ini ia kira hanya pendiem biasa, ternyata menyimpan luka besar. Dan cara Bima berjuang sendirian, tanpa mengeluh, tanpa minta belas kasihan... itu membuatnya terkesan.

"Bim," kata Laras pelan. "Gue nggak tahu harus bilang apa. Tapi menurut gue, lo hebat. Lo jatuh, lo bangkit. Sendirian. Itu nggak gampang."

Bima diam.

"Tapi suatu hari, lo harus hadapin dia. Kabur terus bukan solusi."

"Gue tahu. Tapi belum sekarang. Gue harus selesaiin utang dulu. Harus jadi orang yang layak buat dia."

Laras tersenyum. "Lo udah layak dari dulu, Bim. Tapi gue ngerti. Kalau itu harga diri lo, gue respect."

Mereka duduk dalam diam beberapa saat. Suasana kampus mulai ramai. Mahasiswa lalu lalang, beberapa melirik mereka.

"Bim, gue boleh tanya?" Laras memecah keheningan.

"Apa?"

"Siapa lo sebenarnya? Lo pindahan misterius, jago coding, pendiem, dan sekarang tahu-tahu dicari mantan pacar. Ini kayak sinetron."

Bima tersenyum tipis. "Gue cuma orang biasa."

"Biasa apanya? Lo beda dari laki-laki lain yang gue kenal." Laras menatapnya. "Gue suka cara lo fokus, cara lo kerja keras, cara lo nggak pernah ngeluh. Meskipun lo junior gue, lo lebih dewasa dari kebanyakan senior."

Bima menatap Laras. Ada sesuatu di mata wanita itu—ketertarikan yang tidak bisa disembunyikan.

"Laras," kata Bima hati-hati. "Gue masih sayang Kay. Gue nggak bisa—"

"Gue tahu." Laras memotong, tersenyum. "Gue nggak akan maksa. Gue cuma... ngasih tahu aja. Terserah lo mau apa."

Bima menghela napas. "Makasih udah jujur."

"Sama-sama." Laras berdiri, merapikan tuniknya. "Gue balik ke studio dulu. Lo tenang aja, gue nggak akan bilang siapa-siapa tentang ini. Tapi kalo lo butuh temen ngobrol, gue ada."

Bima mengangguk. "Makasih."

Laras berbalik, lalu berhenti. "Oh iya, Bim."

"Apa?"

"Kalo suatu hari lo siap ketemu dia, gue dukung. Dan kalo lo nggak siap, gue juga dukung. Yang penting lo bahagia."

Laras pergi, meninggalkan Bima yang masih duduk di bangku. Ia menatap langit, berpikir.

"Kay," bisiknya. "Maaf gue robek kertas itu. Tapi gue belum siap. Sabar ya."

---

Sementara di kos Mika, Kay menunggu dengan cemas. Ia sudah memasang iklan di berbagai kampus. Beberapa kali dapat telepon, tapi selalu salah orang. Hari ini, ia berharap ada kabar.

Ponselnya bergetar. Bukan telepon, tapi pesan dari Mika: "Ada info?"

Kay membalas: "Belum. Masih nunggu."

Mika: "Sabarrr. Jodoh nggak kemana."

Kay tersenyum getir. Ia menatap buku sketsa Bima yang selalu ia bawa ke mana-mana.

Di kos Demak, Bima membuka laci, mengeluarkan buku sketsa. Di halaman baru, ia mulai menggambar—Laras sedang duduk di sampingnya, dengan ekspresi tulus. Tapi di sudut lain, ia menggambar Kay yang sedang menangis.

Di bawahnya, ia menulis: "Dua wanita. Satu masa lalu, satu masa kini. Tapi hatiku hanya untuk satu."

Ia memejamkan mata, berdoa.

Tuhan, tunjukkan jalan.

1
Jing_Jing22
Suka banget ceritanya thor🥰🥰🥰 akhirnya nemu cerita yang aku suka🫶🫶🫶
Bp. Juenk: thanks kaka, selamat menikmati
total 1 replies
Agry
OMG!!!!!/Applaud/
Agry
/Blush/
Agry
aku bisa ngebayangin sih..../Good/
Agry: ya, sama sama kak! semangat terus ya!
total 2 replies
Halwah 4g
😍😍😍😍😍😍 pelit bener update nya Thor..sebiji doang . hemmmm..Bimo mengingatkan q pada laki q yg pelit ngomng syag juga .🤣🤣🤣..lanjutkan Thor..lanjutkan...💪💪
Bp. Juenk: 🤭🤭🤭 bisa gitu ya
total 1 replies
Halwah 4g
😍 berlabuh jugaaa ....
Bp. Juenk: iya donk 😍
total 1 replies
Halwah 4g
aelah Bim..blm juga berlayar kapal nya..dah patah dluan .. zzzzzzzzzzzz..si Bimo nih cueknya kek othor pasti 🤣
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae
total 1 replies
Halwah 4g
sueeee kbyang salting ny 🤭
Halwah 4g
aaahhhhhhh....karya baru lagi ya Thor..q suka..q sukaaaaaa.. romansa percintaan yang ringan tapi manis....jangan monoton plis ceritanya Thor..biar kita naik rollercoaster bareng 😄..semngat trs Thor..kencengin updatenya 💪
Bp. Juenk: 🙏 thanks supportnya kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!