Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rendra Kalap
Malam itu di sebuah kafe mewah di kawasan Seturan, Rendra duduk sendirian di meja pojok. Ia memesan whiskey—minuman mahal yang biasa ia nikmati saat stres. Dua bulan terakhir ini hidupnya terasa hancur. Kay tidak hanya menolaknya, tapi juga mengusirnya dengan kasar dari kos Mika. Harga dirinya sebagai laki-laki paling populer di kampus hancur berkeping-keping.
Ia menatap layar ponsel, menunjukkan foto Kay yang ia curi diam-diam dari media sosial. Gadis itu tersenyum bahagia—tapi bukan dengannya. Dengan laki-laki miskin itu.
"Bima," desisnya penuh kebencian.
Seorang pelayan mendekat. "Ada yang bisa dibantu, Mas?"
"Pergi," jawab Rendra dingin.
Pelayan itu pergi cepat, tahu diri. Rendra memang dikenal sebagai pelanggan kaya tapi sombong.
Ponselnya bergetar. Pesan dari kontak misterius yang ia sewa beberapa minggu lalu.
"Target terlacak. Bima Wijaya sekarang pindah ke Universitas Sanata Dharma, Fakultas Teknik. Tinggal di kos daerah Demak. Bekerja sebagai asisten penelitian Dr. Hartono dan punya jasa pembuatan website."
Rendra tersenyum sinis. "Akhirnya ketemu juga."
Ia membalas: "Lanjutkan pantau. Kabari setiap gerakannya."
Sekarang gilirannya. Bima akan merasakan apa artinya merebut hati Kay.
---
Keesokan harinya, Rendra datang ke Sanata Dharma. Ia berpakaian rapi—kemeja putih lengan panjang, celana bahan abu-abu, rambut disisir ke belakang. Berpura-pura menjadi mahasiswa pindahan yang ingin survey kampus. Tapi matanya terus mengamati, mencari target.
Di taman dekat fakultas desain, ia melihat Bima sedang duduk dengan seorang wanita. Wanita itu—Laras, senior di desain—tampak akrab, tertawa, sesekali menyentuh lengan Bima. Bima tetap diam dengan ekspresi datar, tapi tidak menjauh.
Rendra merekam semuanya dengan ponselnya. "Nah, ini bukti bagus. Bisa dipakai buat ngehasut Kay."
Tapi sebelum ia bisa mendekat, seseorang menepuk bahunya dari belakang.
"Lo ngapain di sini?"
Rendra menoleh. Seorang laki-laki bertubuh kekar dengan jaket training berdiri di sana, wajahnya garang. Rambutnya cepak, matanya tajam.
"Gue... survey kampus," jawab Rendra cepat.
"Survey apaan? Lo dari tadi ngelihatin Bima." Laki-laki itu mendekat. "Kenalkan, gue Gerry. Temen satu kampus Bima. Lo siapa?"
Rendra berpikir cepat. Gerry tampaknya tidak suka pada Bima. Mungkin ini kesempatan.
"Gue Rendra. Mantan teman sekampus Bima di UGM." Ia tersenyum licik. "Lo juga nggak suka dia?"
Gerry mengerutkan kening. "Kenapa lo nanya?"
"Karena gue juga punya urusan sama dia." Rendra menatap tajam. "Dia hancurin hubungan gue sama cewek gue. Dan gue lihat lo juga kayaknya punya masalah."
Gerry diam sebentar, lalu tersenyum sinis. "Masuk akal. Lo tahu, dia kemarin bikin malu cewek gue? Laras—yang duduk di sana—dia suka sama Bima. Padahal Laras udah gue incar lama."
Rendra tertawa kecil. "Nah, kita punya musuh yang sama."
Mereka berjabat tangan—persekutuan yang lahir dari kebencian.
---
Seminggu kemudian, Bima mulai merasakan ada yang aneh. Beberapa kali ia hampir tertabrak motor saat menyeberang. Orderan website tiba-tiba banyak yang batal tanpa alasan jelas. Bahkan Dr. Hartono bertanya apakah ia punya masalah dengan mahasiswa lain.
"Ada yang lapor katanya kamu bikin masalah," kata Dr. Hartono suatu hari. "Tapi saya nggak percaya. Kamu anak baik."
Bima mengerutkan kening. "Saya nggak tahu, Pak."
"Hati-hati, Bima. Mungkin ada yang nggak suka sama kamu."
Bima mengangguk. Tapi pikirannya terus bekerja. Siapa yang bisa membencinya sedemikian rupa? Tasya sudah berubah, Laras baik, mahasiswa lain biasa saja. Kecuali...
---
Malam Jumat, Bima pulang larut dari kampus. Ia baru selesai mengerjakan project AI dan sekarang berjalan kaki menuju kos di Demak. Jalanan sepi, hanya sesekali mobil lewat. Lampu jalan temaram, menciptakan bayangan-bayangan menakutkan.
Di tikungan dekat gang menuju kosnya, tiba-tiba dua motor berhenti di depannya. Empat orang turun, semuanya memakai jaket hitam dan masker. Yang memimpin—Gerry—melepas maskernya, tersenyum sinis.
"Bima, kan? Lama nggak ketemu."
Bima mundur selangkah. "Gerry."
"Lo inget gue. Bagus." Gerry mendekat, diikuti tiga temannya. "Lo tahu, gue nggak suka orang yang main sama Laras. Apalagi setelah lo bikin dia malu."
"Gue nggak main sama dia."
"Bohong! Gue lihat lo deket terus. Lo pikir gue bodoh?" Gerry mendorong Bima hingga jatuh.
Bima mencoba bangkit, tapi satu tendangan menghantam perutnya. Ia jatuh lagi, mengerang kesakitan.
"Lo pikir lo bisa sembunyi di sini? Lo pikir gue nggak tahu masa lalu lo?" Gerry tertawa. "Gue tahu lo mantan pacar Kayana Ardhanareswari—putri konglomerat. Dan lo udah bikin dia hancur. Pantas Rendra benci lo."
Bima terkejut. Rendra? Jadi ini ulah Rendra?
"Gerry, denger—"
"Denger apaan?!" Gerry menendang lagi. "Ini buat Laras!"
Temannya yang lain ikut menendang dan memukul. Bima meringkuk, melindungi kepala. Rasa sakit menjalari sekujur tubuh. Ia terlalu lemah untuk melawan—badannya belum pulih total, apalagi menghadapi empat orang.
"Hajar terus!" teriak Gerry.
Pukulan dan tendangan terus menghujani. Bima mulai kehilangan kesadaran. Darah mengalir dari kepalanya. Dunia terasa berputar.
"HEI! BERHENTI!"
Suara perempuan memecah kegelapan. Laras berlari dari arah gang, langsung menghambur ke tengah kerumunan. Tanpa takut, ia mendorong salah satu penyerang.
"Gila lo! BERHENTI!" teriaknya.
Gerry terkejut. "Laras? Lo ngapain di sini?"
"Gue ikutin lo dari tadi! Curiga lo ngapain!" Laras berlutut di samping Bima. Wajahnya pucat melihat luka-luka Bima. "Bim! Bim, denger gue!"
Bima membuka mata sekilas, lalu tertutup lagi. Laras berteriak histeris.
"GERI PANGIL AMBULANS! CEPET!"
Gerry ragu. "Laras—"
"LO PIKIR GUE BERCANDA?! KALO DIA MATI, LO MASUK PENJARA!"
Salah satu teman Gerry panik dan langsung lari. Yang lain ikut kabur. Gerry sendiri mundur, masih menatap Laras dengan pandangan tak percaya.
"Lo bela dia?" tanyanya lirih.
"PERGI! ATAU GUE LAPOR POLISI!"
Gerry akhirnya lari, meninggalkan motornya. Laras segera memegang kepala Bima, memeriksa lukanya. Ponselnya sudah di telinga.
"AMBULANS! CEPET! DI GANG DEKAT KOS DEMAK! ORANG DIHAJAR SAMPAI KOMA!"
---
Di kos Mika, Kay tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Jantungnya berdebar kencang, keringat dingin membasahi kening. Ia meraih ponsel—pukul 2 dini hari.
"Kenapa lo?" Mika bertanya setengah sadar.
Kay menggeleng. "Gue... gue nggak tahu. Tiba-tiba deg-degan. Kayak... ada yang salah."
Mika duduk, mengucek mata. "Mungkin lo mimpi buruk."
"Bukan, Mik. Ini beda. Rasanya..." Kay memegang dadanya. "Rasanya Bima dalam bahaya."
Mika menghela napas. "Kay, lo kebanyakan mikir. Tenang—"
"GUE TAHU INI BUKAN MIKIR!" Kay berteriak. "Ini perasaan! Gue tahu dia kenapa-napa!"
Ia langsung meraih ponsel, menelpon Pak Yanto.
"Pak, tolong cek keberadaan Bima. Cepet. Gue rasa dia dalam bahaya."
Pak Yanto yang setengah tidur hanya bisa menjawab, "Baik, Nona. Saya coba."
---
Di UGD rumah sakit, Laras duduk di kursi tunggu dengan tangan gemetar. Bajunya penuh darah—darah Bima. Dokter dan perawat sibuk di ruang darurat.
Beberapa jam kemudian, dokter keluar. Wajahnya serius.
"Pasien selamat. Tapi lukanya parah. Dua tulang rusuk retak, pendarahan internal ringan, luka di kepala. Dia butuh rawat inap minimal seminggu. Beruntung Mbak cepat bawa ke sini. Lima menit lagi, bisa fatal."
Laras menangis lega. "Makasih, Dok."
Ia masuk ke ruang rawat. Bima terbaring pucat, infus di tangan, monitor di sampingnya. Laras duduk di kursi, memegang tangannya.
"Bim," bisiknya. "Lo selamat. Makasih Tuhan."
Bima membuka mata perlahan. Melihat Laras, ia tersenyum tipis.
"Laras... makasih."
"Bodoh! Lo kenapa nggak lawan?"
"Empat lawan satu... gue kalah."
Laras menangis. "Gue takut, Bim. Pas liat lo di situ, banyak darah... gue kira lo..."
"Gue nggak akan mati." Bima menggenggam tangannya lemah. "Masih ada utang yang harus gue bayar."
Laras tersenyum di tengah air mata.
"Dan... ada orang yang nunggu gue."
Laras mengerti. Kay.
"Gue tahu. Sekarang istirahat."
---
Pagi harinya, Pak Yanto menelepon Kay.
"Nona, saya dapat info. Bima Wijaya semalam dirawat di RS Sardjito. Kondisi kritis, tapi sekarang stabil."
Kay jatuh pingsan.