SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Romi Sekolah Di SMA Harapan Bangsa Part 3
"Apaaa?! Kenapa analisa loe itu menyimpang dan salah banget sekali?! Gue tidak butuh permintaan maaf dari loe yang seperti itu!" tanya Shanti semakin kesal, wajahnya yang kemerah-merahan kini semakin jelas. "Maksud gue adalah—loe harus segera pergi ke bagian Bimbingan dan Konseling (BK) sekolah dan bilang bahwa kamu tidak nyaman berada di kelas 10A! Supaya pihak sekolah segera memindahkan loe ke kelas lain yang lebih sesuai dengan tingkat kemiskinan dan penampilan loe!"
"Nanti loe juga harus kasih alasan yang jelas bahwa anak-anak kelas 10A merasa sangat tidak nyaman sama keberadaan loe karena bau kwetek yang keluar dari tubuhmu dan karena loe adalah anak orang miskin yang tidak cocok bergaul dengan kita semua yang berasal dari keluarga berkualitas!" tambah Shanti dengan nada yang sangat ketus, membuat beberapa siswa di kelas mulai mengangguk-angguk setuju dan bahkan beberapa di antaranya mulai mengejek Romi dengan suara pelan.
"BTW kita belum sempat kenalan ya, meskipun gue tidak punya keinginan untuk mengenal loe. Tapi biar loe tahu siapa gue—gue adalah Shanti Putri Wijaya, anak dari pengusaha tekstil terkaya di kota ini! Sedangkan kamu siapa?" ucap Shanti dengan penuh kesombongan, seolah nama keluarganya adalah sesuatu yang harus dibanggakan secara berlebihan.
"Namaku Romi Arya Wisesa, Kak," ucap Romi dengan sopan, tanpa ada niat untuk menunjukkan diri sebagai orang penting atau berasal dari keluarga besar. Dia hanya ingin menyebutkan nama dirinya dengan benar.
"Apaa?! Arya Wisesa—pengusaha kelas kakap yang punya banyak perusahaan di seluruh provinsi ini?! OMG, benarkah itu?! Si miskin fafa ini mengaku-ngaku keturunan dari keluarga Wisesa yang terkaya dan terpandang di Banten?!" Shanti sangat terkejut hingga dia harus menepuk dahinya dengan tangan kanannya dan menggeleng-geleng kepalanya tidak percaya. Wajahnya yang tadinya marah kini berubah menjadi ekspresi tidak percaya dan kemudian kembali ke ekspresi marah yang lebih besar.
"Lelucon apalagi ini?! Bisa-bisanya loe yang terlihat lusuh dan kayak karakter dalam film 'Lusuh and the Kill' mengaku-ngaku keluarga dari keluarga Wisesa yang begitu terkenal?! IMPOSSIBLE BANGET! Jangan coba-coba sok jadi orang berkelas dan penting di depan kami yang sudah tahu siapa kamu sebenarnya!" marah Devan yang tiba-tiba berdiri dan mendekati mereka berdua, wajahnya juga penuh dengan kemarahan dan rasa tidak percaya.
"Aku tidak pernah ngaku-ngaku keluarga dari keluarga Wisesa kok, Kak. Aku hanya menyebutkan nama lengkapku saja seperti yang tercatat di dokumen sekolahku. Apakah itu salah besar yang harus membuat Kakak marah seperti ini?!" ucap Romi dengan nada lembut tapi tetap tegas saat membela diri, matanya menatap lurus ke arah Devan dan Shanti tanpa mau mundur meskipun hatinya masih sangat takut.
"Ini nih contoh anak songong yang sok belagu dan ingin menarik perhatian orang banyak! Cuma karena tahu nama keluarga besar seperti Arya Wisesa, loe langsung menyematkannya di belakang nama loe untuk membuat kita semua takut atau kagum pada loe?! Padahal penampilan loe sendiri sudah sangat jelas menunjukkan bahwa loe bukanlah bagian dari keluarga kaya seperti itu!" kata Shanti dengan kesal, membuat beberapa siswa di kelas mulai tertawa mengejek Romi dengan suara yang semakin jelas.
"Lebih baik loe pergi ke laut saja dan tenggelam sana! Jangan pernah coba-coba datang lagi ke SMA Harapan Bangsa yang merupakan sekolah terfavorit dan terbaik di kota ini! Jika loe tetap bersikeras untuk sekolah di sini, maka loe akan mendapatkan bullying yang sangat parah dan akan terus menderita selama masa sekolah loe di sini!" tegur Devan dengan sangat tegas kepada Romi, tangannya yang mengepal erat menunjukkan bahwa dia juga sudah sangat kesal dengan keberadaan Romi.
"Aku sekolah di sini tidak dengan cara yang salah atau secara gratis, Kak. Aku membayar uang sekolah dengan uang yang diperoleh dari kerja keras dan aku mampu membayarnya dengan usaha dan kemampuan emaakku. Apakah salah jika aku mampu bersekolah di SMA Harapan Bangsa yang aku impikan ini?" ucap Romi dengan nada yang tetap lembut tapi penuh dengan keyakinan yang kuat. Dia merasa bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang baik, tanpa memandang latar belakang ekonomi atau sosial mereka.
"Hahahahaha... Hahaha! Mampu loe bilang?! Siapa tahu uang sekolah loe itu bukan hasil kerja keras melainkan hasil utang orang tua loe sama orang lain atau bahkan hasil pencurian?! Kamu pasti tidak mampu membayar uang sekolah yang mahal sekali ini dengan usaha loe yang hanya bisa membantu ibu loe berjualan sayuran di pasar!" ucap Shanti dengan suara penuh meremehkan, membuat seluruh siswa di kelas mulai tertawa terbahak-bahak dengan suara yang sangat keras.
"Loe itu Romi anak yatim kan? Kamu tidak punya ayah lagi karena sudah meninggal, dan ibu loe tuh hanya seorang pedagang sayur yang berjualan di pasar tradisional yang kumuh! Mana mungkin ibu loe yang sudah menjadi seorang janda bisa mampu menyekolahkan diri loe di SMA Harapan Bangsa yang dikenal sebagai sekolah mahal dan hanya untuk anak-anak orang kaya tajir melintir?! Loe tahu berapa besar uang yang harus dikeluarkan untuk masuk dan bersekolah di sini setiap bulan?!" tanya Devan dengan nada menyindir, seolah dia tahu segalanya tentang kehidupan Romi dan keluarganya.
"Aku tidak punya bapak lagi, itu benar. Dan emaakku memang berjualan sayuran di pasar, tapi aku bangga dengan pekerjaan emaak yang bekerja keras setiap hari untuk menghidupi kami berdua," ucap Romi dengan suara yang sedikit lebih keras, menunjukkan bahwa dia tidak suka dengan orang yang meremehkan emaaknya. "Aku punya Allah SWT yang Maha Besar dan selalu memberikan rejeki kepada kami. Jika Allah berkehendak bahwa kami mampu untuk melakukan sesuatu, maka kami pasti akan mampu melakukannya dengan cara yang halal dan benar," ucap Romi dengan sangat mantap dan penuh keyakinan, lalu dia menatap semua siswa dan siswi yang berada di kelas 10A dengan pandangan yang penuh keberanian.
"Hari ini setelah pulang sekolah, aku akan kembali berjualan bakso Cuangki dengan gerobak kecil yang sudah aku persiapkan bersama ibuku. Aku akan menjualnya di sekitar kawasan perumahan BSD untuk mencari uang tambahan agar bisa tetap melanjutkan pendidikan di sekolah ini dan tidak menjadi beban bagi siapapun," ucap Romi dengan suara yang jelas dan terdengar oleh semua siswa dan siswi di kelas. Dia merasa tidak ada salahnya untuk mengatakan pekerjaan sampingannya yang membuatnya bisa tetap bersekolah.
Serentak seluruh siswa dan siswi di kelas 10A tertawa terpingkal-pingkal mendengar pengakuan Romi yang akan berjualan bakso Cuangki setelah pulang sekolah. Suara tawa yang penuh ejekan dan candaan membuat hati Romi sangat sedih dan merasa tersakiti dalam-dalam. Namun dia berusaha dengan segala kekuatannya untuk tidak marah atau menangis di depan mereka semua. Dia tahu bahwa hampir seluruh siswa di kelasnya sedang menghinanya, tapi dia yakin bahwa suatu hari nanti mereka akan mengerti posisinya saat ini dan mengerti bahwa dia hanya seorang anak yang berusaha keras untuk meraih impiannya.
Ibunya pernah berpesan padanya dengan sangat jelas sebelum dia pergi ke sekolah hari ini: "Romi sayang, marah itu hanya untuk orang yang sudah punya kekuasaan dan kemampuan untuk mengubah keadaan dengan cara yang baik. Bagi kita yang sedang berjuang dan menggapai impian, marah tidak akan membantu apa-apa bahkan bisa membuat kita terjatuh lebih dalam. Lebih baik kita banyak berdzikir kepada Allah SWT dan bersabar menghadapi segala cobaan yang datang. Sabar itu akan menjadi kekuatan dan penolong yang paling baik buat diri kita sendiri, sayang."
Dengan hati yang berat tapi tetap tegar, Romi menuju bangku kosong yang terletak paling depan kelas sebelah kanan—dekat dengan rak buku yang jarang digunakan oleh siswa lain. Dia meletakkan tasnya yang kusam di atas meja dan mulai membersihkan permukaan meja yang sudah sangat bersih dengan sapuan tangan yang lembut. Meskipun hatinya masih sangat sakit karena ejekan yang diterimanya, dia bertekad dengan kuat untuk tidak menyerah dan akan terus berusaha belajar dengan baik. Dia ingin menunjukkan bahwa meskipun berasal dari keluarga sederhana dan harus bekerja keras untuk bisa bersekolah, dia layak mendapatkan pendidikan yang baik dan bisa meraih masa depan yang cerah.
Di pojok kelas di sudut lain sebelah kanan, Devan dan Shanti masih terus membicarakan Romi dengan nada yang penuh ejekan dan sindiran. Namun Romi memilih untuk tidak memperhatikannya lagi dan mulai membuka buku pelajaran pertamanya dengan penuh semangat. Dia tahu bahwa perjuangan yang dia jalani hari ini adalah bagian dari jalan panjang menuju impiannya untuk bisa menjadi orang sukses dan bisa membantu emaaknya serta orang lain yang membutuhkan.