cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 12
Pagi di Bandung datang lebih cepat dari yang Aura kira.
Ia terbangun karena cahaya matahari yang menembus tirai tipis kamar hotel. Untuk beberapa detik ia lupa sedang di mana. Sampai ia merasakan tangan yang melingkar di pinggangnya.
Alden.
Lelaki itu masih tertidur, wajahnya terlihat jauh lebih tenang dari biasanya. Tidak ada kerutan di dahinya. Tidak ada rahang yang mengeras karena menahan emosi.
Aura memperhatikan wajah itu cukup lama.
Enam bulan lalu, wajah ini yang ia tunggu kabarnya.
Enam bulan lalu, ia yang berusaha keras menjaga hubungan sendirian.
Dan sekarang… wajah itu terlihat seperti orang yang takut kehilangan.
Alden bergerak sedikit, lalu membuka mata.
“Kamu bangun duluan?” suaranya serak.
Aura mengangguk pelan.
Alden tersenyum kecil lalu mendekat, mengecup keningnya seperti kebiasaannya setiap kali mereka bertemu setelah lama berpisah.
“Aku kangen banget,” katanya jujur.
Aura tidak menjawab. Ia hanya membalas dengan senyum tipis.
—
Mereka sarapan di kafe kecil dekat hotel. Alden terlihat berbeda hari ini. Lebih santai. Lebih lembut. Ia tidak memegang ponselnya sama sekali. Tidak seperti biasanya yang selalu sibuk membalas chat pekerjaan.
“Aku udah atur semuanya,” ucap Alden tiba-tiba.
“Apa?”
“Kerjaan. Aku delegasiin beberapa. Aku mau punya waktu buat kamu.”
Aura terdiam.
“Kenapa baru sekarang?” tanyanya pelan.
Alden menatapnya lama. Kali ini tidak defensif.
“Karena baru sekarang aku sadar kamu bisa benar-benar pergi.”
Jawaban itu membuat Aura tak bisa menahan napasnya.
“Aku pikir kamu bakal selalu nunggu,” lanjut Alden. “Karena kamu selalu begitu.”
Kalimat itu seperti tamparan halus.
Iya. Selama ini memang Aura yang selalu menunggu.
Menunggu kabar.
Menunggu klarifikasi.
Menunggu Alden berubah.
“Dan sekarang?” tanya Aura.
“Sekarang aku yang mau nunggu kamu. Sampai kamu yakin lagi sama aku.”
Aura mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Bandung pagi itu terasa hangat, tapi hatinya justru dingin.
Karena keyakinan bukan sesuatu yang bisa dipaksa muncul.
—
Siangnya Alden mengajaknya ke tempat pertama mereka pernah menghabiskan waktu di luar pekerjaan. Sebuah coffee shop kecil yang dulu sering mereka datangi sepulang kerja.
Begitu masuk, Aura langsung mengenal sudut meja dekat jendela itu.
“Kita dulu sering duduk di sana,” kata Alden sambil tersenyum.
Aura mengangguk. Ia ingat semuanya.
Ia ingat bagaimana dulu Alden selalu sabar mendengarkan keluhannya tentang mantan toxic-nya.
Ia ingat bagaimana Alden tidak pernah memaksa, hanya ada.
Ia ingat bagaimana ia akhirnya jatuh perlahan.
“Kenapa kamu dulu bisa sabar banget sama aku?” tanya Aura tiba-tiba.
Alden tertawa kecil. “Karena aku tau kamu cuma pura-pura kuat.”
Hening.
Alden menatapnya lebih serius sekarang.
“Aura… aku tau kamu berubah. Kamu lebih dingin sekarang. Lebih jauh. Tapi aku juga tau kamu bukan tipe yang gampang ganti hati.”
Kalimat itu membuat jantung Aura berdetak lebih cepat.
Ia ingin jujur.
Ingin bilang bahwa hatinya memang tidak pernah benar-benar berpindah.
Tapi juga tidak sepenuhnya tinggal.
“Aku cuma capek, Den,” ucapnya akhirnya.
Alden menghela napas panjang.
“Aku salah karena gak klarifikasi soal mantan itu,” katanya tiba-tiba. “Waktu itu aku memang masih ada urusan sama dia. Tapi bukan hubungan.”
Aura menatapnya tajam.
“Kenapa kamu diam waktu orang-orang bilang aku pelakor?”
Pertanyaan itu sudah lama tertahan.
Alden terdiam beberapa detik. Lama.
“Aku takut makin besar,” jawabnya pelan. “Aku pikir kalau aku diam, nanti juga reda sendiri.”
“Dan kamu gak kepikiran gimana aku nanggung sendiri?”
Nada Aura tidak tinggi. Tapi cukup menusuk.
Alden menunduk.
“Maaf.”
Satu kata yang sederhana. Tapi terasa berat.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bersama, Alden terlihat benar-benar menyesal. Matanya berkaca-kaca.
“Aku egois. Aku terlalu mikirin nama aku. Aku lupa kamu yang paling kena dampaknya.”
Aura tidak pernah melihat Alden seperti ini.
Lelaki itu bangkit dari kursinya, lalu duduk di samping Aura. Ia menggenggam tangan Aura erat.
“Aku gak mau kamu sendirian lagi.”
Tangan itu hangat.
Familiar.
Menenangkan.
Dan Aura benci kenyataan bahwa ia masih merasa nyaman.
—
Malamnya, mereka kembali ke hotel.
Hujan turun deras di luar. Suara rintik di jendela membuat suasana terasa intim.
Alden berdiri di belakang Aura yang sedang menatap hujan dari balkon. Ia memeluknya perlahan.
“Aku mau serius sama kamu,” bisiknya di dekat telinga Aura. “Bukan cuma pacaran main-main.”
Aura menutup mata.
“Apa kamu yakin?” tanyanya.
“Aku yakin. Kamu?”
Pertanyaan itu menggantung.
Karena di kepala Aura, ada satu wajah lain yang muncul tanpa izin.
Seseorang yang duduk di taman.
Yang menunggu tanpa pernah meminta.
Yang tidak pernah memaksa Aura berubah.
Yang bahkan tidak pernah benar-benar mengklaimnya.
Harry.
Aura membuka mata. Hujan semakin deras.
“Aku mau coba lagi,” ucapnya akhirnya.
Alden tersenyum lega, memutar tubuh Aura menghadapnya.
“Bener?”
Aura mengangguk.
Alden memeluknya lebih erat. Kali ini lebih lama. Lebih dalam.
Dan di tengah pelukan itu, Aura menyadari sesuatu yang pelan-pelan menyesakkan dadanya—
Ia memilih Alden karena sejarah.
Bukan karena perasaannya paling kuat.
Dan mungkin…
pilihan itulah yang nantinya akan melukai lebih banyak orang.
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣