NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Cahaya Perak di Langit Durja

Malam itu, langit di atas Kerajaan Durja tidak seperti biasanya. Rembulan yang seharusnya bersinar kekuningan tertutup oleh gumpalan awan hitam yang pekat, namun anehnya, kilatan cahaya putih keperakan terus menyambar-nyambar di balik awan tanpa suara guntur sedikit pun.

Kerajaan Durja, sebuah wilayah subur yang dikelilingi lembah hijau dan sungai-sungai jernih, sedang dalam kondisi mencekam. Kesuburan tanahnya adalah berkah sekaligus kutukan.

Ada lumbung-lumbung padi yang selalu penuh dan ternak yang gemuk menjadikannya mangsa empuk bagi para bandit gunung dan pendekar beraliran hitam yang haus akan harta.

Di pinggiran ibu kota kerajaan, di sebuah gubuk kayu yang dindingnya sudah mulai lapuk, seorang pria paruh baya bernama Ki Garna tampak berjalan mondar-mandir dengan gelisah.

Keringat dingin mengucur di dahinya. Di dalam kamar yang hanya diterangi sebatang lilin kecil, terdengar rintihan menahan sakit dari istrinya, Nyai Sumi.

"Kanda... sakit sekali, Kanda," rintih Nyai Sumi dengan suara gemetar.

Ki Garna segera mendekat, menggenggam erat tangan istrinya yang kasar karena sering bekerja di ladang.

"Sabar, Dinda. Bertahanlah. Nyai bidan sedang berusaha. Berdoalah pada Yang Kuasa agar anak kita lahir dengan selamat," bisik Ki Garna mencoba menenangkan, meski hatinya sendiri bergejolak hebat.

Sebagai saudagar kecil yang dagangannya sering dijarah di tengah jalan, Ki Garna tidak memiliki banyak harta untuk menjamin kemewahan bagi keluarganya. Hidup mereka sederhana, bahkan cenderung miskin di mata penduduk kota.

Di sudut ruangan, seorang wanita tua yang merupakan dukun bayi di desa itu, Nyai Dahni, tampak mengerutkan kening. Ia merasakan aura yang sangat asing menyelimuti gubuk tersebut. Udara yang tadinya panas mendadak menjadi sejuk, bahkan dingin yang menusuk tulang.

"Aneh... energi apa ini?" gumam Nyai Dahni pelan.

Tiba-tiba, ledakan cahaya putih melesat dari langit, menembus atap rumbia gubuk tersebut tanpa membakarnya.

Cahaya itu langsung masuk ke dalam rahim Nyai Sumi. Detik itu juga, tangisan bayi pecah, membelah kesunyian malam yang mencekam.

Suara tangisan itu tidak melengking seperti bayi biasa, melainkan berat dan berwibawa, seolah-olah getarannya menggetarkan seluruh tanah Kerajaan Durja.

Nyai Dahni dengan cekatan menyambut bayi itu. Namun, saat ia menyeka darah dan air ketuban dari wajah sang bayi, ia terkesiap hingga hampir menjatuhkan bayi tersebut.

"Astaga... Ki Garna, lihatlah anakmu!" seru Nyai Dahni dengan suara gemetar.

Ki Garna segera mendekat. Matanya terbelalak. Bayi laki-laki itu tidak menangis lama; ia diam dan membuka matanya.

Sepasang mata itu tidak berwarna hitam atau cokelat, melainkan berwarna putih perak cemerlang, seperti mutiara yang bersinar di kegelapan.

Tidak ada pupil hitam di sana, hanya hamparan perak yang seolah menyimpan pengetahuan ribuan tahun.

Lebih mengejutkan lagi, saat Nyai Dahni membalikkan tubuh mungil itu untuk membersihkan punggungnya, terlihat tujuh titik hitam kecil yang saling terhubung oleh garis-garis tipis berwarna emas, membentuk tatanan rasi bintang di punggung sebelah kanan.

"Tanda apa ini, Nyai? Dan matanya... apakah anakku buta?" tanya Ki Garna dengan suara bergetar.

Nyai Dahni menggeleng pelan, tangannya masih gemetar.

"Ini bukan kebutaan, Ki. Ini adalah tanda keagungan. Aku tidak tahu siapa yang turun ke rahim istrimu, tapi anak ini bukan manusia biasa. Dia memiliki tanda rasi bintang penguasa langit."

Istrinya di samping yaitu Nyai Sumi meski lemas, tapi tetap mengulurkan tangannya.

"Bawa dia kemari, Kanda. Biarkan Dinda memeluknya."

Ki Garna menyerahkan bayi itu kepada istrinya.

"Kita akan menamainya Ranu Wara. Ranu yang berarti danau yang tenang, dan Wara yang berarti pilihan atau unggul. Aku berharap dia bisa membawa kedamaian di tanah Kerajaan Durja yang selalu bergejolak ini."

Namun, kedamaian adalah kemewahan yang mahal. Di saat yang sama, di perbatasan Kerajaan Durja, sekelompok pria berkuda dengan pakaian serba hitam dan pedang panjang di pinggang mereka tampak berhenti di atas bukit. Pemimpin mereka, seorang pria dengan luka parut di wajahnya yang dikenal sebagai Suro Gento, mengendus udara.

"Kalian merasakannya?" tanya Suro Gento pada anak buahnya.

"Merasakan apa, Bos?" tanya salah satu bandit.

"Energi murni yang sangat besar baru saja muncul dari arah desa pinggiran. Jika itu adalah mustika yang jatuh dari langit, kita akan menjadi orang terkaya dan terkuat di seluruh jagat ini. Ayo! Kita rampok desa itu dan cari sumber cahaya tadi!" teriak Suro Gento.

Para bandit itu memacu kuda mereka dengan liar. Mereka adalah bagian dari kelompok Gerombolan Gagak Hitam, pendekar-pendekar kelas rendah namun kejam yang sering meneror penduduk karena Kerajaan Durja tidak memiliki pasukan bela diri yang cukup kuat untuk melindungi seluruh pelosok desa.

Di dalam gubuk, Ranu kecil yang baru berusia beberapa jam itu tiba-tiba mengarahkan pandangan peraknya ke arah pintu. Ki Garna tidak menyadari bahwa bayinya sedang merasakan niat membunuh yang datang dari kejauhan.

"Kakang Garna! Kakang!" tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar gubuk.

Seorang pria muda, Paman Tejo, yang merupakan tetangga sekaligus kerabat Ki Garna, berlari masuk dengan wajah pucat pasi.

"Kakang, cepat pergi dari sini! Gerombolan Suro Gento sedang menuju ke arah sini. Mereka membakar lumbung padi di gerbang desa! Mereka mencari sesuatu, katanya ada cahaya jatuh di sekitar sini!"

Ki Garna tersentak. Ia menatap istrinya yang masih sangat lemah dan bayi Ranu yang berada dalam pelukan. "Dinda, kita harus pergi sekarang."

"Tapi Kanda, Dinda tidak sanggup berjalan..." ucap Nyai Sumi dengan air mata berlinang.

"Aku akan menggendongmu, Dinda. Nyai Dahni, tolong bawa Ranu," perintah Ki Garna dengan tegas.

Namun, sebelum mereka sempat melangkah keluar, suara tawa yang menggelegar terdengar di depan halaman gubuk. "Hahaha! Jangan repot-repot lari, tikus-tikus kecil! Aku mencium bau wangi yang sangat murni dari dalam gubuk reyot ini!"

Pintu gubuk itu ditendang hingga hancur berkeping-keping. Suro Gento berdiri di sana dengan pedang yang sudah berlumuran darah. Matanya menyisir ruangan hingga terpaku pada bayi yang digendong Nyai Dahni.

"Mata perak? Tanda rasi bintang?" Suro Gento menyeringai lebar, menampakkan giginya yang kuning.

"Ternyata bukan mustika benda mati, tapi seorang bayi titisan dewa! Jika aku memakan jantung bayi ini, ilmu kanuraganku akan mencapai tingkat puncak!"

"Jangan berani menyentuh anakku, bangsat!" teriak Ki Garna sambil memungut sebatang kayu besar.

Suro Gento hanya tertawa mengejek. Dengan sekali tebasan angin dari pedangnya, Ki Garna terlempar menabrak dinding hingga muntah darah. Paman Tejo yang mencoba maju pun bernasib sama, ia tersungkur tak berdaya.

"Sekarang, berikan bayi itu padaku, Nyai tua!" bentak Suro Gento.

Nyai Dahni memeluk Ranu dengan erat, tubuhnya gemetar hebat. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Ranu, yang sejak tadi diam, tiba-tiba mengulurkan tangan kecilnya ke arah Suro Gento. Mata peraknya bersinar terang, mengeluarkan tekanan aura yang begitu dahsyat hingga lantai tanah di gubuk itu retak-retak.

Suro Gento yang tadinya jemawa, tiba-tiba merasa dadanya sesak. Ia merasa seolah-olah sedang berdiri di hadapan raksasa yang tingginya menembus langit. Kakinya bergetar, dan pedangnya jatuh dari genggamannya.

"A-apa ini? Tekanan apa ini?!" teriak Suro Gento ketakutan.

Tanpa suara, gelombang energi transparan keluar dari tubuh Ranu. Gelombang itu menghantam Suro Gento dan melemparkannya keluar dari gubuk hingga menghantam pohon beringin besar di kejauhan. Tulang rusuk bandit itu remuk seketika.

Melihat pemimpin mereka terkapar hanya oleh "udara kosong" yang keluar dari sebuah gubuk, anak buah Suro Gento ketakutan dan segera memungut pemimpin mereka lalu lari tunggang langgang meninggalkan desa.

Gubuk kembali hening. Ki Garna merangkak mendekati istrinya dan bayinya. Ia melihat Ranu kecil kembali tenang, mata peraknya perlahan meredup namun tetap berwarna putih cemerlang. Ki Garna sadar, mulai hari ini, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi. Anaknya adalah sang fajar bagi Kerajaan Durja yang gelap, namun juga merupakan magnet bagi badai yang lebih besar di masa depan.

Ranu Wara, Sang Dewa Tertinggi yang bereinkarnasi, telah memulai perjalanannya di dunia fana.

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!