Mereka pikir, bercerai adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri pernikahan yang terasa jauh dan hambar tanpa rasa. Namun siapa menyangka, Jika setelah pahit perceraian justru terbitlah madunya pernikahan... rasa rindu yang berkepanjangan, kehilangan, rasa saling membutuhkan, dan manisnya cinta?
Sweet after divorce...manis setelah berpisah.
"Setelah berpisah, kamu jadi terlihat menawan dimataku."
"Setelah berpisah, kamu jadi manis terhadapku."
"Mau rujuk?"
.
.
.
Cover by Pinterest and Canva
Dear pembaca, bijaklah memilih bacaan. Jika hanya ingin mampir dan tidak berniat membaca sampai akhir, maka jangan berani membuka ya 🤗 kecuali kalau sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Divorce
Ketukan palu hakim bergema menguap dan melebur di udara bersama dengan semua perasaan berat namun terasa hambar.
Entah benar atau tidak, otak dewasa mereka telah setuju menyelesaikan semua rasa gamang ini dengan perpisahan. Yeah, setidaknya itu solusi terbaik menurut mereka sampai di detik---dimana keduanya berjabat tangan, saling menatap dalam pandangan asing.
Ada tangis, bukan dari mata berlensa nan manis itu, bukan pula dari sepasang netra kelam yang senantiasa memandang teduh, namun tangisan yang keluar dari momy dan ibu di rumah, yang mengakui kegagalan rumah tangga putra putrinya itu.
Kini tak ada lagi usaha yang dipaksakan untuk mencoba, atau aturan yang akan mengekang. Keduanya kini adalah sepasang merpati yang bebas.
Alasannya terlalu sederhana. Namun, dibuat seolah terlalu rumit untuk mereka yang bukan lagi remaja.
Persamaan visi misi hidup, sifat, hal favorit rupanya tidak membantu dalam hal apapun, yang ada justru membuat keduanya---tak pernah menemukan titik temu di setiap kerikil tajam yang menghalangi langkah.
Sudah mencoba untuk memperbaiki, namun nihil. Keduanya bangga dengan diri dan ego masing-masing, merasa hebat hingga melupakan satu hal, jika pernikahan bukan pasal siapa lebih hebat, siapa lebih berjuang namun untuk saling melengkapi.
Anye mengulurkan tangannya terlebih dahulu, bahkan mereka tak perlu repot-repot untuk saling menggugat sebab, semuanya sudah diatur sejak awal pernikahan.
"Semoga abang bisa menemukan bahagia setelah kita berpisah .." dan sampai di detik ini ia masih memanggil Ganesha dengan sebutan lirih itu, mungkin setelah itu pun akan masih tetap begitu.
Netra kelam diantara kemeja hitam itu melihat wanita yang telah bersamanya lebih intens setahun belakangan ini dengan sorot kaku seperti biasanya, "kamu juga."
Entahlah, semuanya terasa sama saja....seperti tak ada yang berubah meski status keduanya resmi menyandang gelar janda--duda dengan tak meninggalkan penerus atau korban.
Ganesha melangkah lebih dulu keluar dari ruang sidang, ruangan yang sungguh tak akan mau didatangi oleh seluruh pasangan menikah ini, justru begitu laku belakangan.
Ketukan sepatu Ganesha disusul Yahya dari dalam ruangan. Dibanding Ganesha, Yahya yang setia menjadi asistennya sejak beberapa tahun itu justru nampak yang paling getir dengan kondisi perpisahan ini. Tak ada yang jahat disini, justru karena dua-duanya sangat ia kenal baik. Baik Anyelir ataupun Ganesha, adalah pribadi dan sosok baik sejak masa kuliah.
"Gue mesti kesini lagi, Ya?" tanya Ganesha diangguki Yahya, "tanda tangan harta gono-gini."
Ada tatap redup yang bisa Yahya jabarkan, entah itu lelah atau menyesal atau...ah sudahlah!
Pergelangan kemejanya naik ketika ia mengangkat dan melihat arloji mewah, "makan siang dulu lah, cari yang deket."
Langkah mereka disusul oleh langkah banyak dari lawan persidangan tadi, "makan siang mbak Anye?"
Anyelir mengangguk, "abang, Anye duluan." Sungguh tak ada beban dan tidak seperti pasangan bercerai pada umumnya yang akan menunjukan ketidaksukaan, membenci pada mantan.
*Ganesha*
Ia menatap ranjang king size yang nampak dingin sejak pagi, *yeah*....harinya yang memang selalu sepi akan semakin sepi setelah tak ada lagi sosok pemanis di apartemennya.
Meskipun ia tak tau apa fungsinya Anye, selain dari kontrak pernikahan yang telah mereka setujui sebagai pasangan menikah selama setahun demi---yang ia kira akan berjalan lancar.
Lemarinya kosong, sekosong hatinya. Detakan jam dinding adalah satu-satunya suara yang tersisa setelah suara hatinya gagu sejak Cyara tak ada, namun itu memburuk sejak beberapa waktu lalu. Tentang Cyara, ia adalah cinta pertamanya yang telah lama tiada. Sudahkah ia move on setelah sekian puluh tahun? Ia tak tau yang bagaimana namanya move on itu, karena ia rasa sama saja. Ia selalu merasa kehilangan dan akan selalu begitu setiap harinya.
Ganesha menarik pintu kulkas dan membawa satu botol minuman dingin, ketika ia meneguk itu.
Masih tersisa potongan moment---ketika bibir dengan lipstik merah gelap itu ia gigit dengan gigi-gigi rapinya, entahlah....kebiasaan mantan istrinya yang ia ingat itu semakin intens saja terputar dikepalanya sekarang.
Termasuk ketika terakhir kali, proses penandatangan perceraian dan harta gono-gini keduanya, Anye melakukan kebiasaannya itu bahkan sesekali menggigit kuku tangan pertanda jika ia gugup.
Mata indahnya tanpa beban memandang Ganesha berkali-kali, mengatakan sampai jumpa dan selamat bahagia, namun seolah-olah sedang mengatakan, *mari bercinta*.
Biasanya, jam pulang kantor begini, Anye akan berlari kecil diantara kesibukannya bekerja untuk sekedar memberinya sebotol air mineral atau....jika tak ada di rumah dan masih bekerja di luar, ia akan mengabari Ganesha sejak siang.
Ganesha begitu ingat, wajah wanita itu tanpa beban, alih-alih sedih, ia justru terlihat seperti baru saja lepas dari cengkraman harimau dan lega. Tak ada raut yang menunjukan penyesalan.
Kini, Ganesha kembali memeluk sepi. Dimana Dewa tengah asik-asiknya mendidik kedua putra kembarnya bersama Zahra, ia justru harus menyandang status single kembali.
Rasa-nya telah mati sepenuhnya sekarang, sebab tak ada bahagia tercapai, namun...tatap yang ia alihkan ke arah kompor tanpa barang apapun di atasnya itu, mendadak menimbulkan sumbu keraguan dalam diri...apakah keputusannya kemarin itu sudah benar? Apa lagi yang ia cari di usia yang justru semakin bertambah itu?
Anyelir
Ia bangkit sejenak dari posisi terlentangnya menatap plafon kamar, hampir lupa! Diraihnya spidol merah dan mulai ia goreskan membentuk bulat yang melingkari angka di kalender.
Genap 3 bulan, masa iddahnya habis. Congrats! Ia menjadi seorang yang berjiwa bebas sekarang.
Senyumnya lebar, namun alisnya mengernyit, sungguh berbanding terbalik dengan apa yang harusnya ia rasakan. Otaknya mengatakan jika ia telah bisa memulai rencana indahnya lagi yang sempat tertunda---bekerja, liburan, hidup tanpa beban dan tanggung jawab apapun, i'm single and very happy, lalu mencari seseorang yang dirasa mencintai juga dicintainya, hidup bahagia sampai beranak pinak.
Tatapnya terkunci di angka 15 yang telah ia bulati, namun pikirannya jauh melayang bersama detakan jam, ia ingat ekspresi kaku sang mantan suami, memang akan selalu seperti itu...salah satu yang membuatnya selalu kecewa, ia yang selalu ekspresif berbanding terbalik dengan Ganesha. Ia merasa yang paling mengenal Ganesha, namun nyatanya tidak.
Ia merasa, waktu setahun mereka bersama...sampai berada di titik memadu kasih itu sia-sia. Menurutnya---rasanya, Ganesha gagal mencintainya. Pertengkaran yang sering terjadi sebelum putusan hakim pun membuat hubungan mereka semakin buruk. Tentang Anye yang mencurigai Ganesha memiliki rahasia, tentang Ganesha yang terlalu sibuk dan dingin, tentang mereka yang tak pernah lagi memadu kasih atau sering cekcok tak jelas untuk hal sepele.
Karena hal sepele saja bisa jadi begitu besar, berujung dengan ia dan Ganesha yang sama-sama diam, sama-sama pergi mencari suasana baru, sama-sama membiarkan itu berlarut-larut. Hingga begitu kembali ke atap berjuluk rumah, masalah mereka tak pernah memiliki solusi dan dibiarkan begitu saja macam project mangkrak.
Mereka gagal, ia gagal menjadi istri dan Ganesha gagal menjadi seorang suami. Tak ada lagi yang bisa diselamatkan, selesai.
Anye mengubah posisi duduk namun tetap masih merenung, ranjangnya tidak berderit, namun justru kesunyian itu semakin membuat gema kesepian menenggelamkan perasaannya.
Ganesha baik, ia bertanggung jawab. Namun...rasanya ia hanya merasa lost feeling saja. Hambar, tak merasakan kehangatan.
Anye menyudahi lamunannya tentang masa lalu, termasuk jabatan tangan hangat yang 3 bulan lalu itu masih terasa menggenggamnya. Tangan besar Ganesha yang menggenggam sedang melakukan pamit tapi yang ia tangkap justru sedang menyalurkan keraguan, apakah ini keputusan yang benar.
Tautan hangat yang sedang memberikan sentuhan terakhir itu justru seolah-olah mengingatkan mereka akan janji dan sentuhan in tim malam-malam hangat mereka.
Anye menekan tengkuknya, dan buru-buru menyambar handuk demi membersihkan badan dan otaknya yang kotor itu.
.
.
Hay semua Apa kabar? Do you Miss me? Bukan sih kayanya lebih rindu Ganesha dan Anyelir.
Terimakasih untuk supportnya kalian. Kalian pembaca kesayanganku yang selalu jadi garda terdepan. Semoga Allah membalas kebaikan kalian dimanapun kalian berada. 🥹🙏❤️ Sujud syukur aku tuh punya kalian yang selalu gandeng tanganku dan rangkul aku....
Sekedar mengingatkan yaa, buat kalian yang cuma mau mampir selewat saja. Dilarang baca!
Jika membuka bab 1 itu artinya kalian sudah teken kontrak denganku membaca sampai akhir.
Dan catatan penting!! Aku harap pembaca bijak membaca karyaku, jika kalian sayang dengan penulis kalian, dan ingin mereka bertahan disini...aku menyarankan untuk yang mau baca karya on going, Satu ID pembaca untuk satu perangkat, dengan kata lain, cukup satu akun pembaca saja. Kecuali kalau karya sudah tamat.
Sebab, bukan tidak mungkin kejadian kemarin yang menimpaku ini bisa menimpa siapapun penulis disini ataupun di tempat lain yang bekerja dengan sistem retensi begini. 🙏🙏
Selebihnya happy reading 🤗
.
.
.
dahlah mw nyemangatin bang Ganesh buat berjuang ngeyakinin Anye bahwa dia tuh pantas dan mw merubah sifat jeleknya buat Anye... moga Anye nerima
cinta di tolak fitnah bertindak