Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.
Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.
Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.
Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?
"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Tengah Semester
Lampu-lampu sorot berwarna jingga dan ungu membelah kegelapan aula utama universitas yang telah disulap menjadi lantai dansa raksasa. Dentuman musik techno dengan bass yang menggetarkan dada memenuhi setiap sudut ruangan, bercampur dengan aroma alkohol mahal dan parfum yang menyengat. Pesta Tengah Semester adalah ajang di mana aturan kampus dikesampingkan, dan bagi Seraphina Aeru, ini adalah pelarian yang sempurna.
"Lupakan pesan Seldin, Babe. Hanya untuk malam ini," bisik Seraphina di dalam mobil sebelum mereka turun. Suaranya terdengar mendesak, hampir seperti sebuah permohonan yang dibungkus dengan perintah.
Dareen Christ masih menatap layar ponselnya. Pesan dari Seldin yang memintanya menghadap di ruang kerja malam ini bagaikan vonis mati yang tertunda. Namun, saat ia melirik ke samping, napasnya seolah terhenti.
Seraphina tidak sedang mengenakan gaun mahasiswi yang sopan. Malam ini, ia mengenakan gaun backless berbahan sutra merah darah yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sangat berani. Belahan di paha kirinya menunjukkan kulit putihnya yang mulus setiap kali ia bergerak, dan perhiasan berlian di lehernya berkilau di bawah lampu jalan, memancing mata siapa pun untuk menatap lebih lama.
"Nona, gaun itu ... terlalu terbuka untuk tempat seperti ini," ujar Dareen, suaranya terdengar serak. Ada kilat protektif yang muncul di matanya, sebuah insting yang bukan lagi sekadar instruksi kerja, melainkan rasa tidak rela yang murni sebagai seorang pria.
Seraphina justru tersenyum kemenangan, ia sengaja memoleskan lipstik merah menyala yang membuat bibirnya tampak lebih penuh. "Memang itu tujuannya. Aku ingin tahu, apa kau masih bisa tetap menjadi patung saat semua orang menatap majikanmu seperti singa kelaparan?"
Sera keluar dari mobil tanpa menunggu jawaban. Dareen menarik napas panjang, merapikan jasnya, dan segera menyusul. Ia tidak lagi berjalan tiga langkah di belakang; malam ini, jaraknya dengan Seraphina tidak lebih dari satu lengan.
Begitu mereka memasuki aula, suasana langsung memanas. Kedatangan Seraphina Aeru selalu menjadi magnet, namun kehadiran Dareen yang berdiri tegak di sampingnya dengan tatapan dingin dan waspada memberikan aura yang berbeda.
"Sera! Kau terlihat luar biasa!" teriak seorang mahasiswa mabuk dari jurusan bisnis sambil sempoyongan mendekat. Tangannya yang memegang gelas plastik mulai terulur, mencoba menyentuh pinggang Seraphina yang terekspos.
Greb.
Sebelum tangan itu mendarat, Dareen sudah mencengkeram pergelangan tangan pria itu. Gerakannya begitu cepat dan halus, namun tenaga yang ia gunakan cukup untuk membuat mahasiswa itu meringis kesakitan.
"Jaga jarak Anda, Tuan," suara Dareen terdengar seperti desisan pedang yang keluar dari sarungnya. Matanya tidak berkedip, memancarkan ancaman yang membuat alkohol di kepala pria itu seolah menguap seketika karena takut.
"Maaf ... aku hanya ingin menyapa," gumam mahasiswa itu sambil mundur teratur.
Seraphina memperhatikan itu dari sudut matanya. Ia menyesap minumannya—segelas cocktail non-alkohol—sambil bersandar sedikit pada bahu Dareen. "Babe, kau sangat menyeramkan malam ini. Apa kau sedang menakut-nakuti mangsaku?"
"Saya sedang menjaga kebersihan area sekitar Anda, Nona," jawab Dareen datar, meski rahangnya yang mengeras menunjukkan bahwa hatinya sedang terbakar hebat.
Bagi Dareen, pesta ini adalah neraka. Ia melihat bagaimana mata para mahasiswa konglomerat itu melucuti pakaian Seraphina melalui tatapan mereka. Ia melihat bagaimana mereka berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah belahan gaun Sera. Setiap kali ada yang mencoba mendekat, Dareen secara taktis mengubah posisi berdirinya, menghalangi pandangan mereka atau memberikan tatapan yang sanggup membuat nyali siapa pun menciut.
Ia tidak lagi berada di bayangan. Malam ini, Dareen berdiri tepat di sisi Sera sebagai tameng yang hidup. Namun, ada yang berbeda. Rasa protektif ini tidak lagi terasa seperti tugas dari Seldin. Ini terasa seperti rasa cemburu yang berdenyut menyakitkan di dadanya—rasa cemburu seorang pria yang merasa miliknya sedang diincar oleh dunia.
"Dansa denganku," pinta Sera tiba-tiba. Dia menarik tangan Dareen, membawanya ke tengah lantai dansa di mana musik perlahan berubah menjadi sedikit lebih lambat dan sensual.
"Nona, saya tidak bisa berdansa saat sedang bertugas," tolak Dareen, namun kakinya tetap melangkah mengikuti tarikan Sera.
"Anggap saja ini bagian dari penjagaan jarak dekat. Jika kau memelukku, tidak akan ada yang berani mendekat, kan?" Sera melingkarkan tangannya di leher Dareen, memaksa pria itu untuk meletakkan tangannya di pinggang rampingnya.
Sentuhan itu membuat Dareen membeku sejenak. Kulit tangan Dareen yang kasar bersentuhan langsung dengan kulit punggung Sera yang terbuka. Sensasi itu menyengatnya lebih kuat daripada hantaman fisik mana pun. Di bawah lampu remang-remang, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.
"Kau sangat tidak rela melihat mereka menatapku, kan?" bisik Sera, suaranya tenggelam dalam dentuman musik. "Aku bisa merasakannya dari tanganmu yang gemetar, Babe."
Dareen menarik napas dalam, aroma parfum Sera yang memabukkan memenuhi paru-parunya. "Saya benci tempat ini. Saya benci bagaimana mereka melihat Anda seolah Anda adalah barang pajangan yang bisa mereka tawar."
"Dan kau? Kau melihatku sebagai apa?" tanya Sera, matanya menatap dalam ke mata gelap Dareen.
"Sebagai seseorang yang ... tidak seharusnya berada di sini bersama saya," jawab Dareen jujur, suaranya pecah. Ia mempererat pelukannya pada pinggang Sera, menarik gadis itu lebih dekat hingga tidak ada celah di antara mereka. Ia tidak peduli lagi jika orang-orang melihat. Malam ini, ia ingin menunjukkan pada seisi kampus bahwa Seraphina Aeru berada di bawah perlindungannya—dan miliknya sendiri secara emosional.
Tiba-tiba, seorang pria lain, teman Julian yang sudah sangat mabuk, menerobos masuk ke area dansa mereka. "Hei, Sera! Jangan biarkan pengawal ini menguasaimu. Ayo, berdansa dengan pria yang setara denganmu!"
Pria itu mencoba menarik tangan Sera dengan kasar. Kesabaran Dareen habis. Ia melepaskan pelukannya pada Sera, dan dengan satu gerakan memutar, ia mengunci lengan pria itu ke belakang punggungnya dan menekannya ke arah meja bar terdekat.
"Jika kau menyentuhnya sekali lagi, aku akan memastikan kau tidak akan bisa memakai tanganmu untuk memegang apa pun selama sebulan," ancam Dareen dengan nada yang begitu dingin hingga orang-orang di sekitar mereka berhenti berdansa.
Sera melihat kegelapan yang nyata di mata Dareen. Ini bukan lagi pengawal yang patuh pada protokol; ini adalah pria yang sedang melepaskan sisi buasnya.
"Babe, sudah! Jangan buat keributan lebih besar!" Sera menarik lengan jas Dareen, mencoba menenangkan pria itu.
Dareen melepaskan cengkeramannya. Napasnya memburu. Ia menatap Sera dengan tatapan yang sangat kompleks—penuh gairah, amarah, dan rasa bersalah yang bercampur menjadi satu. Ia sadar, dia baru saja kehilangan kendali di depan umum.
"Kita pulang sekarang," ujar Dareen tegas. Ia tidak memberikan pilihan bagi Sera. Ia menyambar jaketnya dan menyampirkannya ke bahu Sera yang terbuka, menutupi gaun provokatif itu dari pandangan orang lain.
Sepanjang perjalanan menuju mobil, Dareen terus memegang tangan Sera dengan erat, seolah-olah jika ia melepasnya, Sera akan ditarik kembali oleh kegelapan pesta itu. Sera hanya diam, mengikuti langkah lebar Dareen dengan senyum kecil yang tersembunyi. Dia tahu, malam ini dia telah berhasil membuktikan bahwa di bawah kepatuhan Dareen pada Seldin, ada seorang pria yang akan menghancurkan dunia demi dirinya.
Namun, saat mereka masuk ke dalam mobil, suasana kembali mencekam. Layar ponsel Dareen menyala lagi. Sebuah pesan baru dari Seldin muncul: "Aku sedang menunggumu di ruang kerja. Jangan terlambat."
Sera melihat pesan itu dan seketika rasa takut menghinggapinya. Dia menatap Dareen yang sedang menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras.
"Kau tidak harus pergi, Babe. Aku bisa bicara pada Seldin," ujar Sera lirih.
Dareen menyalakan mesin mobil, suaranya kembali dingin dan kaku. "Ini adalah tanggung jawab saya, Nona. Saya yang memulai ini, dan saya yang akan menyelesaikannya. Pakai sabuk pengaman Anda."
Mobil meluncur membelah malam menuju kediaman Aeru. Pesta telah usai, dan sekarang saatnya menghadapi kenyataan yang jauh lebih kejam daripada sekadar mahasiswa mabuk di kampus. Dareen tahu, setelah malam ini, topeng profesionalnya mungkin tidak akan pernah bisa terpasang dengan sempurna lagi.