Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.
Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.
Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: ORBIT YANG TERGANGGU
Koridor lantai dua SMA Cakrawala Terpadu terasa lebih dingin dari biasanya, meski matahari Surabaya sudah mulai merangkak naik memanaskan atap gedung. Bagi Keyla Aluna, hawa dingin itu bukan berasal dari AC sentral, melainkan dari tatapan Vanya Clarissa yang kini berdiri tepat di hadapannya, memblokir jalan menuju tangga.
Vanya melipat kedua tangannya di dada. Seragamnya yang pas badan dan rambut yang dicatok sempurna membuatnya tampak seperti ratu yang sedang menginterogasi rakyat jelata. Aroma parfum *high-end* yang manis menusuk hidung Keyla, membuatnya semakin mual karena gugup.
"Pagi banget, Key," suara Vanya terdengar ramah, tapi matanya memindai Keyla dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan presisi laser. "Tumben main ke lorong IPA 1? Kelas lo kan di ujung sana."
Keyla menelan ludah, tenggorokannya terasa kering kerontang. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Vanya bisa mendengarnya. Ia memeluk buku paket Fisika di dadanya lebih erat, menjadikannya tameng.
"E-eh, Vanya. Iya, ini..." Keyla berusaha mengatur napas, otaknya berputar mencari alibi yang masuk akal. "Tadi... disuruh Pak Suryo naruh buku tugas yang ketinggalan. Iya, buku tugas."
Sebelah alis Vanya terangkat. "Pak Suryo? Bukannya meja Pak Suryo di ruang guru lantai satu, ya? Ngapain lo masuk ke kelas XI IPA 1?"
*Skakmat.* Keyla membeku. Kebohongannya terlalu rapuh. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Ia benar-benar bukan pembohong yang bakat.
"Maksudku... tadi Pak Suryo bilang mau ngajar di IPA 1 jam pertama, jadi... disuruh taruh di meja guru di kelas aja. Biar nggak bolak-balik," ralat Keyla cepat, suaranya sedikit bergetar. "Permisi ya, Van. Keburu bel."
Tanpa menunggu jawaban, Keyla menundukkan kepala dan bergegas melewati Vanya, setengah berlari menuruni tangga. Ia tidak berani menoleh ke belakang.
Jika ia menoleh, ia akan melihat Vanya tidak beranjak sedikit pun. Gadis itu memutar tubuhnya, menatap punggung Keyla yang menghilang di tikungan tangga dengan senyum miring yang penuh perhitungan.
"Pak Suryo hari ini cuti sakit," gumam Vanya pelan pada dirinya sendiri. Jari-jarinya mengetuk kotak susu stroberi yang sudah penyok di tangannya. "*Gotcha*, Keyla Aluna. Lo nyembunyiin sesuatu."
***
Jam pelajaran pertama hingga ketiga terasa seperti siksaan abadi bagi Keyla. Di kelas XI IPA 2, Bu Ratna sedang menjelaskan tentang laju reaksi kimia, tapi satu-satunya reaksi yang terjadi adalah di dalam perut Keyla yang mulas karena cemas.
Pikirannya terus melayang ke kolong meja di kelas sebelah. Bintang membalas suratnya. Surat ke-20. *Bintang Biner*. Cowok itu menulis balasan dan menempelkannya di sana. Bagaimana kalau surat itu jatuh? Bagaimana kalau piket kelas menemukannya dan membuangnya? Bagaimana kalau... Vanya menemukannya?
"Heh!" Sebuah sikut mendarat di lengan Keyla.
Keyla terlonjak kaget, nyaris menjatuhkan tabung reaksi di mejanya. Dinda Pertiwi, sahabat sebangkunya, melotot garang sambil membetulkan kucir kudanya.
"Muka lo pucet kayak mayat hidup, Cuk!" bisik Dinda dengan logat Suroboyoan yang kental, memanfaatkan momen saat Bu Ratna berbalik menulis di papan tulis. "Kenapa lagi? Vanya ngelabrak lo?"
"Hampir," desis Keyla, memastikan suara mereka tidak terdengar. "Tadi pagi dia nangkep basah aku keluar dari kelas Bintang. Terus sekarang ada balasan dari Bintang di bawah mejanya, Din. Aku harus ambil pas istirahat."
Mata Dinda membelalak. "Serius dibales maneh? Gila, Bintang Rigel bucin jalur ghaib."
"Bukan bucin, Din!" Keyla menyenggol kaki Dinda. "Udah ah, bantuin aku nanti. Please?"
"Iyo, iyo, bawel. Ntar aku yang jadi *security*."
Begitu bel istirahat berbunyi, SMA Cakrawala Terpadu berubah menjadi lautan manusia. Suara riuh siswa yang berebut menuju kantin menjadi musik latar kekacauan mereka. Keyla dan Dinda bergerak melawan arus, menuju koridor XI IPA 1 yang untungnya mulai sepi karena penghuninya kelaparan.
"Aman, Bintang sama Aldi barusan lewat, arah kantin," lapor Dinda yang mengintip dari belokan. "Vanya sama dayang-dayangnya juga nggak kelihatan. Buruan, Key! Aku jaga pintu. Kalau ada orang, aku bakal pura-pura kesurupan biar mereka kaget."
"Jangan aneh-aneh!" Keyla melotot, lalu menarik napas panjang dan menyelinap masuk ke dalam kelas XI IPA 1.
Bau AC bercampur aroma parfum maskulin yang samar menyambutnya. Keyla langsung menuju meja di barisan ketiga dekat jendela. Meja Bintang. Tempat keramat itu terlihat rapi, hanya ada tempat pensil dan botol minum *stainless steel* berwarna hitam.
Dengan tangan gemetar, Keyla berlutut. Ia meraba bagian bawah laci meja. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat ujung jarinya menyentuh tekstur kertas.
*Ada.*
Keyla menarik kertas itu hati-hati. Itu bukan *sticky note* kuning biasa. Itu secarik kertas HVS yang dilipat rapi, ditempel dengan selotip bening. Keyla melepasnya dengan gerakan secepat kilat, memasukkannya ke saku rok, dan langsung berbalik keluar.
"Dapet!" bisik Keyla saat mencapai pintu.
"Mancap! Ayo kabur ke *basecamp*!" Dinda menarik tangan Keyla, menyeretnya menjauh sebelum ada saksi mata yang melihat aksi kriminal mereka.
Mereka berlari kecil menuju *rooftop* gedung perpustakaan, tempat tersembunyi yang jarang didatangi siswa karena kuncinya rusak—rahasia yang hanya diketahui segelintir orang, termasuk penjaga perpus yang baik hati pada Keyla.
Di bawah naungan tangki air yang memberikan sedikit bayangan dari teriknya matahari Surabaya, Keyla duduk bersila. Dinda duduk di sebelahnya sambil mengipasi leher dengan buku tulis.
"Buka, cepetan! Penasaran aku isinya apaan," desak Dinda.
Keyla mengeluarkan kertas itu. Kertas putih biasa, tapi tulisan di dalamnya ditulis dengan tinta gel hitam yang rapi dan tegak. Tulisan tangan Bintang Rigel.
Keyla membacanya dalam hati, dan seketika, kebisingan dunia di sekitarnya lenyap.
---
*Untuk Cassiopeia,*
*Kamu curang. Kamu selalu tahu cara bikin aku mikir keras pagi-pagi. Bintang Biner, ya? Dua bintang yang saling mengorbit satu sama lain, terikat gravitasi, nggak bisa lepas tapi juga nggak pernah benar-benar bersatu.*
*Jujur, analogi itu kena banget. Di sekolah ini, aku sering ngerasa dikelilingi ribuan satelit, tapi aku tetap sendirian di orbitku. Mereka lihat cahayanya, tapi nggak ada yang peduli kalau intinya sebenernya lagi meledak atau mati perlahan. Cuma kamu yang sadar kalau aku lagi 'redup', bahkan saat aku ketawa paling keras di lapangan basket.*
*Kalau kita adalah sistem bintang biner, Cassiopeia... kapan aku bisa lihat bintang pasanganku? Gravitasi kamu makin kuat, dan aku mulai capek cuma ngirim sinyal ke ruang hampa.*
*PS: Kertas navy blue-nya bagus. Wanginya kayak hujan.*
*- Rigel.*
---
Keyla menutup mulutnya dengan tangan, menahan pekikan tertahan. Pipinya memanas hebat, semerah kepiting rebus. "Din..."
"Apa? Dia nulis apa? Puisi cinta?" Dinda merebut kertas itu dan membacanya sekilas. "Anjir... 'Wangi kayak hujan'? Gombal banget gila! Ini Bintang Rigel kapten basket yang mukanya lempeng itu?"
"Dia... dia ngerasa kesepian," lirih Keyla, matanya berkaca-kaca. "Selama ini aku kira cuma aku yang ngerasa sendirian liatin dia. Ternyata dia juga ngerasa sendirian di tengah keramaian."
"Dan dia minta ketemuan secara halus tuh," Dinda menunjuk kalimat terakhir. "'Kapan aku bisa lihat bintang pasanganku'. Key, dia mau tahu siapa elo!"
Kepala Keyla menggeleng cepat. "Nggak bisa, Din. Kalau dia tahu Cassiopeia itu cuma Keyla si *invisible girl* yang kaku dan nggak asik, dia bakal kecewa. Imajinasinya tentang Cassiopeia pasti jauh lebih keren daripada aslinya."
"Lambemu!" toyor Dinda gemas. "Lo itu pinter, manis, jago nulis. Kurang apa sih? Kurang nekat doang!"
Sementara Keyla dan Dinda berdebat di atap, situasi di koridor XI IPA 1 jauh lebih mencekam.
Vanya Clarissa melangkah masuk ke kelas yang kosong itu. Ia tidak pergi ke kantin. Ia menunggu momen ini. Matanya langsung tertuju pada meja Bintang.
Perlahan, ia berjalan mendekat. Ia membungkuk, persis seperti posisi Keyla tadi, dan meraba bagian bawah meja. Kosong.
"Sial," desisnya.
Namun, saat ia hendak berdiri, matanya menangkap sesuatu di lantai. Sebuah potongan kecil selotip bening yang tergeletak di dekat kaki meja. Di ujung selotip itu, tertinggal sedikit serat kertas berwarna putih, bekas robekan terburu-buru.
Vanya memungut selotip itu, mengamatinya seolah itu adalah berlian.
"Jadi bener ada surat-suratan," gumam Vanya, senyum dingin tersungging di bibir merahnya.
Ia menegakkan tubuh, menatap kursi kosong Bintang dengan tatapan posesif yang mengerikan. "Bintang Rigel main rahasia-rahasiaan sama cewek lain? Lucu."
Vanya mengeluarkan ponselnya, membuka galeri, dan melihat foto yang ia ambil diam-diam tadi pagi—foto punggung Keyla yang sedang berjalan cepat meninggalkan kelas IPA 1.
"Keyla Aluna," bisiknya. "Kita lihat seberapa lama lo bisa main petak umpet. Kalau lo Cassiopeia-nya... gue pastikan lo bakal jatuh sebelum sempat bersinar."