Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Cold Smile in the Back Barn
Angin siang berembus dingin di gudang belakang mansion Vincentius. Bau lembab bercampur karat besi menusuk hidung Jennie. Di sana, duduk terikat di sebuah kursi usang, adalah sosok Choi Reynard. Wajahnya yang dulu selalu terlihat tampan dan memikat kini tampak kusut dan penuh ketakutan. Beberapa anak buah Limario berjaga dengan wajah datar, tangan bersedekap, mengawasi Reynard seperti mangsa yang siap dicabik.
"Jennie! Sayang! Akhirnya kau datang juga!" Reynard berteriak dengan nada lega bercampur panik saat melihat Jennie melangkah masuk. "Apa-apaan ini? Kenapa aku diikat? Siapa mereka? Tolong aku, Sayang!"
Jennie berhenti beberapa langkah di depan Reynard. Tangannya bersedekap di dada, tatapannya dingin dan menusuk, sangat berbeda dari Jennie yang selalu tergila-gila pada Reynard.
"Sayang?" Jennie mengulang kata itu dengan nada mengejek. Senyum tipis terukir di bibirnya, namun senyum itu tidak mencapai matanya. "Sejak kapan aku jadi 'sayang'-mu, Choi Reynard?"
Reynard kebingungan. "Apa maksudmu? Aku datang karena kau memblokir nomor teleponku! Apa suamimu tahu aku datang kemari? Lepaskan aku! Aku akan melaporkan ini ke polisi!"
Jennie tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti pecahan kaca. Ia berjalan mengitari Reynard, matanya menelusuri setiap inci tubuh pria itu dengan pandangan jijik. "Polisi? Kau pikir siapa yang akan mempercayai seorang pria yang menerobos masuk ke kediaman seorang bos Mafia dan CEO terkaya di negara ini, hanya untuk mencari wanita yang sudah berulang kali ia peras?"
Wajah Reynard pucat pasi. "Bos Mafia? Apa maksudmu? Suamimu itu... Limario Vincentius... dia seorang Mafia?"
"Oh, jadi kau tidak tahu?" Jennie pura-pura terkejut. "Tentu saja dia Mafia. Mafia yang sangat bucin pada istrinya, sampai-sampai dia bisa membuatmu lenyap tanpa jejak jika aku mau."
Mata Reynard melebar ketakutan. Ia akhirnya menyadari kesalahannya. "Jennie, aku minta maaf! Aku hanya butuh uang untuk kuliah! Aku bersumpah tidak akan mengganggumu lagi! Tolong lepaskan aku!"
Jennie menghentikan langkahnya di depan Reynard. Ia membungkuk sedikit, mensejajarkan pandangannya dengan mata panik pria itu. "Kau butuh uang untuk kuliah, katamu? Di kehidupan sebelumnya, kau tidak hanya memeras uangku, Reynard. Kau menjualku pada sekelompok manusia biadab. Kau membuatku hamil... entah anak siapa."
Reynard menatap Jennie tidak percaya. "A-apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti!"
"Kau akan mengerti," bisik Jennie pelan, suaranya dipenuhi kebencian yang mendalam. "Tapi tidak sekarang. Sekarang, aku hanya ingin kau merasakan sedikit penderitaan yang kau sebabkan padaku."
Jennie menegakkan tubuhnya, memberi isyarat pada salah satu anak buah Limario. "Beri dia pelajaran. Bukan sampai mati, tapi cukup sampai dia tidak bisa melangkah keluar dari tempat ini selama seminggu."
Anak buah Limario mengangguk patuh. Reynard berteriak minta ampun, namun suaranya segera ditelan oleh bunyi pukulan yang keras. Jennie membalikkan badan, berjalan keluar gudang tanpa sedikitpun keraguan. Suara rintihan Reynard terdengar semakin samar di belakangnya.
Di luar gudang, Limario sudah berdiri bersandar di mobil sport-nya yang mewah, tangannya menyilang di dada, menunggunya. Matanya menatap Jennie dengan intens, seolah membaca setiap pikiran wanita itu.
"Bagaimana?" tanya Limario pendek.
Jennie tersenyum tipis. "Dia sudah mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan. Tapi ini belum selesai." Ia melangkah mendekat, mengaitkan tangannya di lengan Limario. "Aku ingin ke butik, Lim. Aku ingin membelikan Ibu dan Kenzhi gaun baru untuk acara makan malam nanti."
Limario mengamati Jennie dengan seksama. Ada perubahan besar dalam dirinya. Kebencian di matanya saat berhadapan dengan Reynard tadi bukan lagi kebencian seorang wanita cemburu, melainkan kebencian seorang predator.
Tanpa berkata-kata, Limario mengeluarkan dompet dari saku jaket kulitnya. Ia menyerahkan sebuah kartu hitam pekat dengan lambang singa emas—Black Card miliknya, kartu tanpa batas yang tidak pernah ia berikan pada Jennie di kehidupan sebelumnya.
"Belanjakan semua yang kau mau," kata Limario, tatapannya masih mengunci Jennie. "Tapi pastikan Ibu dan Kenzhi senang. Dan..." Ia mendekatkan wajahnya, berbisik di telinga Jennie. "...jangan coba-coba membelikan apapun untuk pria sampah itu lagi, atau kau akan melihat sisi iblisku."
Jennie tersenyum, mengedipkan matanya genit. "Tentu, Bos. Kali ini, semua hanya untuk keluarga Vincentius."
Setelah Jennie meninggalkan gudang, suasana di dalam mansion Vincentius terasa lebih tenang, namun ketegangan baru mulai muncul di antara Jennie dan Limario.
Lanjutan Bab 2: Ujian Kepercayaan
Limario masih berdiri di sana, memandangi sosok Jennie yang kini tampak begitu berbeda. Rambut hitam panjangnya berkibar ditiup angin, dan aura dingin yang biasanya ditujukan padanya, kini beralih sepenuhnya kepada Reynard.
"Kau benar-benar tidak ingin dia mati?" tanya Limario pelan saat mereka berjalan menuju mobil. "Satu perintah dariku, dan dia tidak akan pernah bernapas lagi."
Jennie menghentikan langkahnya. Ia menatap Limario, lalu menyentuh rahang suaminya yang tegas. "Kematian terlalu mudah untuknya, Lim. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya—harta, nama baik, dan harga diri. Persis seperti apa yang hampir dia lakukan pada keluarga kita."
Limario terdiam. Kalimat "keluarga kita" beresonansi kuat di telinganya. Selama ini, Jennie selalu menganggap pernikahan mereka sebagai penjara.
"Baiklah," ucap Limario pendek. Ia membukakan pintu mobil untuk Jennie. "Kita pergi ke pusat kota sekarang. Ibu dan Kenzhi sudah menunggu di butik langganan mereka."
Momen di Butik Mewah
Di dalam butik kelas atas yang hanya melayani pelanggan VVIP, Ny. Maurel dan Kenzhi sedang melihat-lihat beberapa kain. Wajah Maurel tampak ragu saat melihat label harga, kebiasaan lamanya yang hemat meski suaminya adalah seorang Vincentius.
"Ibu, jangan lihat harganya," suara Jennie memecah keraguan Maurel. Ia masuk dengan anggun, langsung merangkul pundak ibu mertuanya. "Ambil apapun yang Ibu suka. Hari ini, aku yang akan memilihkan semuanya untuk Ibu."
Kenzhi berlari ke arah ibunya. "Mummy! Kenzhi mau gaun yang ada pitanya!"
Jennie tertawa, suara yang sangat jarang terdengar di mansion itu. "Tentu, Sayang. Pilih sepuluh gaun jika kau mau."
Para pelayan butik saling berbisik. Mereka terbiasa melihat Jennie yang sombong dan hanya membelikan barang untuk dirinya sendiri. Melihat Jennie yang begitu perhatian pada mertua dan anaknya adalah pemandangan langka.
Saat Jennie sedang sibuk memilihkan perhiasan untuk Maurel, Limario berdiri di sudut ruangan, memperhatikan dari jauh. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi orang kepercayaannya.
"Cek semua pergerakan Choi Reynard dalam satu tahun terakhir. Dan cari tahu siapa yang dia temui selain istriku," perintah Limario dengan suara rendah. "Dan satu lagi... pantau setiap transaksi kartu yang digunakan Jennie hari ini."
Limario ingin percaya, tapi sebagai Mafia, ia tahu bahwa pengkhianatan paling berbahaya seringkali dimulai dengan senyuman yang paling manis.
"Lim! Sini sebentar!" panggil Jennie sambil melambai.
Limario mendekat. Jennie memegang sebuah jam tangan mewah bertahtakan berlian hitam. "Ini cocok untukmu. Pakailah saat pertemuan bisnis besok."
Jennie memakaikan jam itu di pergelangan tangan Limario. Jarak mereka begitu dekat hingga Limario bisa merasakan hembusan napas Jennie.
"Terima kasih," bisik Limario, matanya mengunci mata Jennie.
"Jangan berterima kasih, Lim. Ini semua milikmu, aku hanya mengembalikannya padamu," balas Jennie dengan tulus.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, mata Jennie menangkap sosok yang ia kenali di luar kaca butik. Seorang wanita dari masa lalunya—sekretaris pribadi keluarga Choi yang dulu bekerja sama dengan Reynard untuk menjebaknya.
Jennie tersenyum dingin di dalam hati. Satu per satu, tikus-tikus itu mulai muncul. Dan kali ini, aku yang memegang racunnya.
Langkah Jennie yang elegan namun penuh maksud di dalam butik itu terhenti saat ia menyadari bahwa Limario terus mengawasinya dari kejauhan. Jennie tahu, bagi suaminya, perubahan mendadak ini terasa seperti jebakan yang terlalu indah untuk menjadi nyata.
"Ibu, coba kalung ini," Jennie melingkarkan sebuah kalung berlian dengan potongan zamrud ke leher Ny. Maurel. Hijau batu itu sangat serasi dengan mata Maurel yang teduh.
"Ini terlalu mahal, Jennie... Ibu tidak butuh perhiasan seperti ini untuk di rumah," tolak Maurel lembut, meskipun matanya berbinar melihat keindahan benda itu.
"Ini bukan soal butuh atau tidak, Bu. Ini soal apresiasi. Ibu sudah menjaga Kenzhi dan menjagaku—bahkan saat aku tidak tahu diri," Jennie menatap bayangan Maurel di cermin dengan mata berkaca-kaca. "Anggap saja ini jimat perlindungan dari Jennie."
Di sudut lain, Kenzhi sedang asyik mencoba bando-bando kecil yang harganya mungkin setara dengan gaji tahunan orang biasa. Limario menghampiri putrinya, namun matanya tetap tertuju pada Jennie.
"Mummy sangat cantik hari ini, ya Dad?" celetuk Kenzhi polos sambil memasang bando kelinci.
Limario hanya bergumam rendah, namun dalam hatinya ia setuju. Jennie tidak lagi memakai pakaian yang provokatif untuk menarik perhatian laki-laki lain. Hari ini, ia tampak berkelas, kuat, dan... berbahaya.
Pertemuan Tak Terduga
Saat mereka hendak meninggalkan butik, seorang wanita dengan pakaian kantor yang ketat dan wajah penuh riasan tebal hampir menabrak Jennie di pintu masuk.
"Oh! Jennie? Jennie Ruby Jane?" wanita itu berseru dengan nada yang dibuat-buat ramah.
Jennie membeku. Sarah. Sekretaris sekaligus kaki tangan keluarga Choi. Di kehidupan sebelumnya, Sarah-lah yang membujuk Jennie untuk memindahkan aset perusahaan Limario ke rekening pribadi Reynard dengan alasan "investasi masa depan".
"Sarah. Lama tidak bertemu," jawab Jennie dingin. Ia merasakan tangan Limario mendarat di pinggangnya, posesif.
Sarah melirik Limario dengan tatapan takut sekaligus kagum, lalu kembali menatap Jennie. "Aku dengar dari Reynard kau sedang sulit dihubungi. Dia menunggumu, kau tahu? Ada proyek properti besar di wilayah Utara yang ingin dia diskusikan dengamu."
Jennie tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Sarah merasa sedikit tidak nyaman. "Proyek properti di Utara? Maksudmu tanah rawa yang izin bangunannya akan dicabut pemerintah minggu depan karena masalah AMDAL?"
Wajah Sarah berubah pucat. "Bagaimana kau... maksudku, bukan itu—"
"Sampaikan pada bosmu, Sarah," Jennie memotong dengan nada tajam. "Jangan coba-coba menjual sampah padaku lagi. Dan jangan pernah berani mendekati mansionku jika kau masih sayang dengan nyawamu."
Limario mengerutkan dahi. Ia tahu tentang proyek di Utara itu, tapi informasi tentang pencabutan izin adalah rahasia negara yang bahkan intelijennya pun baru mulai menyelidiki. Bagaimana Jennie bisa tahu?
Malam yang Berbeda
Sesampainya di mansion, suasana makan malam terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi suara denting sendok yang canggung. Jennie duduk di samping Limario, sesekali menyuapi Kenzhi dengan penuh kasih.
Setelah Kenzhi dan Ny. Maurel masuk ke kamar mereka, Jennie mengajak Limario ke ruang kerja pribadinya yang gelap dan beraroma cerutu.
"Lim, aku tahu kau punya banyak pertanyaan," buka Jennie tanpa basa-basi saat mereka hanya berdua.
Limario duduk di kursi kebesarannya, menatap Jennie dengan intensitas yang bisa melelehkan baja. "Terutama tentang bagaimana kau tahu proyek Utara itu akan gagal. Itu informasi yang sangat tertutup, Jennie."
Jennie berjalan mendekat, duduk di tepi meja kerja Limario. Ia menatap suaminya dengan serius. "Anggap saja aku mendapat 'bisikan' yang akurat. Tapi bukan itu yang penting. Keluarga Choi sedang mencoba menipu beberapa investor untuk menutupi hutang judi ayah Reynard. Jika kau menarik dukungan bank-mu dari mereka sekarang, mereka akan hancur dalam tiga hari."
Limario menyipitkan mata. "Kenapa kau memberitahuku ini? Bukankah kau dulu sangat membela Reynard?"
"Dulu aku buta, Lim. Sekarang aku bisa melihat dengan jelas siapa yang benar-benar menjagaku dan siapa yang ingin memangsaku," Jennie meraih kerah kemeja Limario, menariknya sedikit lebih dekat. "Aku ingin kau menghancurkan mereka. Tanpa sisa."
Limario menatap bibir Jennie, lalu naik ke matanya yang berapi-api. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak melihat ada kebohongan di sana.
"Jika informasi ini benar," bisik Limario dengan suara parau, "aku akan memberimu apapun yang kau minta sebagai hadiah."
"Aku tidak butuh hadiah, Lim. Aku hanya butuh kau percaya padaku," balas Jennie lembut.
Malam itu berakhir dengan ciuman yang tidak lagi terasa dipaksakan. Sebuah ciuman yang menandai dimulainya aliansi antara Sang Raja Mafia dan Sang Ratu yang telah bangkit dari kematian.