Mengisahkan perjuangan seorang pemuda yang tadinya hanya seorang pemuda biasa, tapi, kehidupan yang sulit membuatnya tak punya pilihan lain selain menjadi seorang agen.
Bukan hal yang mudah karena Wawan, tokoh utama di cerita ini sebenarnya adalah seorang penakut yang mengharapkan hidup normal dan santai.
Tapi, lama kelamaan Wawan menjadi terbiasa dengan pekerjaan berbahaya itu dan malah menjadi agen paling hebat di kesatuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi sukses, akhir season 1
"Uhuk! Uhuk!..." Wawan terbatuk-batuk sambil berusaha membalikkan tubuhnya.
Wawan melihat kalau Yanto juga sedang mengerang di hadapannya.
Begitu juga Yanto yang sadar kalau Wawan juga sedang sangat kesakitan.
Karena keduanya tak mau kalah, jadi mereka memaksakan diri untuk segera bangun agar bisa lanjut saling mengalahkan.
Dengan kaki yang sudah lemas keduanya berdiri.
Perlahan-lahan mereka maju untuk lanjut baku hantam meksipun langkah mereka tidak stabil seakan bisa jatuh kapan saja.
Ketika keduanya telah berhadap-hadapan Yanto segera menyerang Wawan.
Jual beli pukul yang alot pun terjadi di antara mereka.
Gerakan mereka cepat dan kuat, tapi tidak secepat dan tidak sekuat sebelumnya.
Stamina dan tenaga mereka berdua telah sangat berkurang.
Kini, yang tersisa hanyalah sisa-sisa tenaga dan stamina saja.
Setelah beberapa saat saling jual beli pukulan, Wawan akhirnya berhasil mendaratkan pukulan tepat mengenai batang hidung Yanto.
Bugg!!
Tentu itu membuat pandangan Yanto gelap untuk sesaat karena rasa sakit.
Yanto bahkan mulai sempoyongan dan itu langsung di manfaatkan dengan baik oleh Wawan.
Wawan melakukan tendangan memutar yang membuat Yanto terhempas ke arah tiang kayu yang lapuk.
Brakk!!
Brukkk!!
Tiang yang dari awal sudah lapuk itu akhirnya runtuh ketika Yanto terbang ke arahnya.
Apa yang di topeng oleh tiang tadi pun runtuh dan menimpa Yanto yang berada tepat di bawahnya.
Suara kayu yang runtuh itu sangat bising hingga orang-orang yang ada di dalam gudang sadar dan segera keluar untuk melihat.
Debu beterbangan memenuhi sisi ruangan tempat kayu-kayu itu runtuh.
Setelah kayu-kayu itu berhenti berjatuhan dan debu mulai agak memudar Wawan mulai mendekat.
Wawan berdiri diam sambil memandangi Yanto yang tertimpa papan kayu.
Hanya kedua kaki Yanto saja yang terlihat dan itu juga tidak menunjukan tanda-tanda gerakan apapun.
Entah Yanto meninggal atau hanya pingsan tapi yang jelas...
Yanto sudah tidak bisa lagi melakukan perlawanan.
Ia telah kalah dalam pertarungan ini.
"....." Setelah sadar kalau ia telah memenangkan pertarungan, Wawan akhirnya bisa menghela nafas lega.
Ingin sekali Wawan duduk karena sangat lelah dan tubuhnya juga pada sakit.
Tapi Wawan tidak melakukan itu dan lebih memilih untuk mengangkat papan kayu yang menimpa Yanto.
Wawan seorang diri berusaha mengeluarkan Yanto dari tumpukan papan kayu itu.
Untungnya para agen yang mendengar keributan tadi berdatangan dan mereka langsung membantu Wawan.
Setelah di keluarkan dan di periksa, ternyata Yanto masih hidup meksipun ia di penuhi luka dan keadaannya mengkhawatirkan.
Yanto pun di bawa ke rumah sakit beserta orang-orang yang terluka yang masih bisa di selamatkan.
Semua orang merasa bahagia karena mereka telah meraih kesuksesan dalam misi kali ini.
Di dalam gudang semua orang duduk istirahat dan berbincang-bincang.
"Tadi itu benar-benar sangat mendebarkan!"
"Aku kira aku tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari gudang ini!" Kata Arhan sambil menghela nafas.
Sarah yang mendengar itu seketika membalas. "Dasar lemah. Cuma segitu aja sudah ketakutan!" Dengan wajah datarnya ia berkata.
"Memang kau tidak takut apa?!" Balas Arhan.
Sarah yang sebenarnya juga takut tadi tidak bisa membalas dan hanya bisa diam.
"Hmph! Kukira pemberani, ternyata sama saja!" Semua orang yang ada di sekitar seketika tertawa.
Sarah yang kesal karena perkataan Arhan seketika bangun dan mencengkram kerah baju Arhan.
Ia seakan akan memukuli Arhan sampai babak belur.
Untungnya semua orang yang ada di sekitar mereka menghentikan mereka.
Suasana terasa sangat hangat meskipun ada rasa sedih karena dalam misi ini mereka kehilangan beberapa rekan.
"Hm... Ngomong-ngomong. Wawan mana!?" Raisya tiba-tiba bertanya pada semua orang.
Semuanya saling menatap dengan ekspresi yang sama yaitu bingung.
"Dia kan terluka cukup parah. Jadi seharusnya ikut ke rumah sakit tadi, kan!?" Kata wakil komandan.
"Aku yang mengantar orang-orang yang terluka ke mobil tadi, dan di sana tidak ada Wawan!"
"Yang ada cuma dua agen senior yang mengawal para kriminal itu ke rumah sakit!" Yang di maksud dua agen senior itu adalah agen Rambut Panjang dan agen Kepala Botak.
"Loh?... Kalau begitu dimana Wawan sekarang!?" Mereka makin kebingungan hingga tidak henti-hentinya melihat sekeliling.
Sementara itu, orang yang sedang di cari-cari sekarang ini sedang duduk diam di atas puing-puing bangunan.
Jarak antara Wawan dan gudang agak jauh dan Wawan duduk di tempat yang cukup gelap karena jauh dari sumber cahaya lampu.
Satu-satunya sumber penerangan yang menerangi sekitar Wawan hanya cahaya bulan yang begitu indah.
Wawan duduk merenung di sana.
Tak sepatah katapun terucap dari mulutnya.
Tak ada juga suara-suara yang mengganggu di sekitar Wawan, yang ada hanya kesunyian dan keheningan.
Wawan kemudian mengangkat kepala dengan keadaan mata yang terpejam.
Entah apa yang ada dalam pikiran Wawan pada saat itu.
Yang jelas, Wawan pada saat ini sedang memikirkan sesuatu yang sangat dalam hingga ia membutuhkan keheningan.
Bahkan tubuh yang penuh luka dan rasa sakit saja tidak Wawan hiraukan.
Cukup lama Wawan berada dalam keadaan seperti itu sebelumnya akhirnya Wawan memutuskan untuk menyudahi lamunannya.
Wawan kembali berkumpul dengan yang lainnya di gudang.
Ketika Wawan kembali ia secara tidak sengaja bertemu dengan Raisya yang tampak agak cemas pada Wawan.
"Loh!... Kamu darimana saja?!"
"Kamu itu sedang terluka, kenapa malah keluyuran dan tidak ikut pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan!" Sorot mata Raisya tampak di penuhi kepedulian.
Pada awalnya Wawan hanya diam tanpa berkata apa-apa, tapi...
Tiba-tiba saja Wawan mulai tersenyum dan berkata dengan suara yang lembut.
"Tidak apa-apa, aku hanya butuh sendirian untuk sesaat!" Tidak biasanya Wawan tersenyum seperti itu.
Raisya sampai heran melihat Wawan yang tersenyum.
Bahkan, sebelum pergi Wawan sempat menepuk kepala Raisya.
Sejenak Raisya terdiam membeku karena saking terkejutnya ia menghadapi perilaku Wawan yang tidak seperti biasanya.
Masalah tabung gas subsidi pun berakhir sampai di sana.
Tak lama tim khusus datang untuk membawa semua tabung yang tersimpan di dalam gudang untuk nanti di bagian pada masyarakat.
Dan karena tabung gas yang di tuntut oleh masyarakat telah mereka dapatkan jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk melaju demo.
Karena demo telah berakhir maka kerusuhan juga berakhir sampai di sana.
Yang ternyata hanya sisa-sisa kekacauan yang harus di bereskan sebelum masalahnya di nyatakan tuntas sepenuhnya.
Itu bukan tugas Wawan sih, jadi Wawan tidak ikut terlibat dalam proses pemulihan itu.
Wawan di izinkan untuk pulang dan istirahat karena sisanya akan di tangani oleh komandan.
Wawan pun pulang ke rumahnya yang mana keadaan rumah Wawan sekarang ini sudah di segel pihak berwajib.
Alasannya tentu saja karena sebelumnya ada orang-orang bersenjata yang memasuki rumah ini.
Makanya rumah Wawan di segel.
Setelah diam memandangi rumahnya dari halaman untuk beberapa saat.
Wawan mulai memasuki rumahnya yang mana kondisi di dalam rumah benar-benar hancur berantakan.
Meksipun keadaan sangat hancur tapi Wawan lega karena rumahnya masih berdiri dan ia bisa kembali ke rumahnya yang sederhana ini.
Cerita di tutup dengan Wawan yang mulai bersih-bersih di dalam rumahnya.
Tamat.