NovelToon NovelToon
Agen Paling Dingin

Agen Paling Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Action / Komedi
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: Di Persingkat Saja DPS

Mengisahkan seorang agen kocak tapi cool

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melarikan diri

Setelah cukup lama mengobrol, mereka tiba-tiba saja mendapatkan panggilan dari markas yang mana isi pesannya itu...

Tidak ada.

Yang masuk ke hp komandan hanya pesan suara kasak-kusuk gak jelas sebelum pesan itu berhenti.

Tentu hal tersebut membuat mereka semua bingung.

"Apa mungkin ada gangguan sinyal!?" Tanya Wawan pada komandan.

Raisya menjawab pertanyaan tersebut mewakili komandan.

"Sepertinya bukan seperti itu. Aku sendiri yang mengusung teknologi dan jaringan di markas jadi aku tahu kalau cuaca seperti ini tidak akan banyak mempengaruhi jaringan!!"

"Kecuali kalau antena atau pusat kendali jaringan rusak tersambar petir!"

"Lalu yang tadi itu apa!?" Tanya Wawan lagi.

Raisya yang juga tidak tahu tentu tidak bisa menjawab pertanyaan Wawan.

Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"... Saya punya firasat buruk tentang ini. Mungkin sebaiknya kita pergi ke markas sekarang untuk memeriksa!" Komandan dan wakilnya langsung bangun.

Raisya juga ikut bangun mengikuti mereka berdua.

Wawan sendiri sebenarnya enggan ikut karena cuaca mulai gerimis dengan petir yang terus bergemuruh.

Cuaca kala itu membuat Wawan agak gelisah entah kenapa.

Namun, meksipun begitu Wawan memaksakan diri untuk ikut mereka ke markas.

Menggunakan mobil miliknya komandan, mereka semua melaju ke markas dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi.

Itu karena hujan tiba-tiba saja turun dengan sangat derasnya hingga pandangan menjadi terhalang.

"Pak! Saya rasa sebaiknya kita kurangi lagi kecepatan kita karena jarak pandang yang benar-benar terbatas!" Kata Wawan karena merasa kecepatan seperti itu masih terlalu cepat.

"Tidak bisa Wawan, ini kita sudah lambat sekali!"

"Sedari tadi saya merasakan firasat buruk makanya saya harus segera kembali ke markas untuk memastikan sesuatu!" Awalnya tak ada masalah berarti.

Meskipun hujan turun dengan begitu derasnya dan pandangan terhalang tapi itu tidak menjadi halangan yang berarti bagi mereka.

Hingga tiba-tiba saja, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

"Pak! Itu ada orang pak!!" Terikat Wawan spontan karena melihat ada seseorang di depan mereka.

Sontak komandan menginjak rem sekuat tenaga.

Namun, meksipun sudah di rem sekuat tenaga tapi karena jarak yang terlalu dekat dan jalan yang licin.

Orang itu pun tertabrak hingga terjatuh dan berguling-guling.

"Astaga!! Kita nabrak orang!" Komandan seketika panik dengan wajah pucat.

Semua orang segera turun dari mobil untuk memeriksa siapa orang yang telah mereka tabrak.

Alangkah terkejutnya mereka semua setelah menyadari kalau yang mereka tabrak adalah agen Rambut Panjang.

Ia berada dalam keadaan terluka parah.

Dan sepertinya, luka itu ia dapat sebelum tertabrak oleh mobil.

"Mentor!!" Kata Wawan terkejut.

"Ada apa ini? Kenapa kamu bisa terluka separah ini!?" Tanya komandan panik.

Sudah payah agen Rambut Panjang menjawab. "Komandan... Markas telah di serang!" Setelah mengucapkan beberapa kalimat, ia pun pingsan.

Komandan dan semua orang terdiam sejenak karena rasa terkejut yang teramat besar.

Tak lama kemudian, beberapa orang terlihat datang mendekat.

Wawan refleks mengarahkan senjatanya pada orang-orang yang mendekat itu tapi tidak segera melancarkan tembakan.

Wawan terlebih dulu memastikan siapa orang-orang yang mendekat itu.

Setelah orang-orang itu cukup dekat, Wawan akhirnya bisa melihat siapa orang-orang itu.

Ternyata yang datang adalah agen Kepala Botak bersama dua agen muda yang berhasil lolos dari pengepungan.

"Komandan! Kita harus segera pergi dari sini!" Kata agen Kepala Botak sambil berjalan tertatih-tatih.

Mereka semua di penuhi luka berat dan mengeluarkan banyak darah hingga membuat wajah mereka pucat.

Komandan sebenarnya agak bingung tapi sekarang ia tidak punya waktu untuk diam hanya karena ia merasa bingung.

Segera semua orang di angkut ke dalam mobil meskipun harus berdesak-desakan.

Mobil melaju kembali kerumah Wawan.

Di sanalah mereka menetap dan memberikan perawatan pertama pada mereka yang mengalami luka berat.

Baru setelah semua orang di urus komandan bertanya pada agen Kepala Botak mengenai apa yang telah terjadi pada markas mereka.

"Singkatnya... Markas tiba-tiba di serang oleh sekelompok orang bersenjata lengkap!"

"Kejadian itu begitu tiba-tiba jadi kami tidak bisa berbuat banyak di sana!"

"Kamu hanya bisa bertahan selama beberapa waktu sebelum akhirnya kami memutuskan untuk mundur!"

"Ada beberapa agen lain yang selamat tapi tidak tahu kemana mereka karena kami berpencar ke segara arah!"

Komandan kemudian bertanya. "Lalu... Bagaimana dengan rekanmu yang satunya lagi, apa dia selamat!?" Yang di maksud adalah agen Penembak Jitu.

Agen Kepala Botak tak menjawab apapun di sini dan hanya bisa menundukkan kepalanya.

Komandan menyadari maksud dari sikap diam itu.

Itu berarti, agen Penembak Jitu telah gugur dengan bisa mengulur waktu untuk orang lain.

Wawan yang mendengar semua itu tentu saja merasa syok hingga diam dan tak berkata apa-apa.

Biarpun Wawan belum kenal agen Penembak Jitu begitu lama, tapi waktu yang di habiskan selama pelatihan saja sudah cukup membuat Wawan merasa dekat dengan para mentornya.

Bagi Wawan yang bahkan hampir tidak punya teman, para mentornya ia anggap sebagai teman sendiri.

Sekaligus orang yang cukup berharga di hidup Wawan.

Meskipun Wawan pada saat ini takut, tapi ketika tahu kalau orang yang sangat Wawan hargai telah gugur itu membuatnya marah.

Rasanya...

Wawan bisa saja mengambil senjata dan menyerang orang-orang yang telah menewaskan banyak agen di markasnya.

Komandan tentu menyadari apa yang Wawan rasakan karena itu terpancar jelas di matanya dan ekspresi Wawan juga telah berubah.

Dalam hati komandan berkata. 'Anak ini pasti terguncang hebat dan sangat marah hingga ekspresinya menjadi menyeramkan seperti itu.'

'Padahal, jarang sekali ia menunjukkan ekspresi.'

"Jadi komandan. Apa yang akan kita lakukan sekarang?!" Tanya agen Kepala Botak.

Komandan segera berpikir.

Ia tentu paham kalau situasi mereka saat ini benar-benar sangat buruk dan tidak memungkinkan mereka untuk diam di satu tempat yang sama untuk waktu yang lama.

Jadi, mau tidak mau mereka harus pergi dari tempat ini sesegera mungkin.

"Sepertinya... Kita hanya bisa pergi ke daerah 'itu' untuk berlindung sekaligus memulihkan diri!" Kata komandan.

Tak satupun orang yang mengetahui tempat yang di maksud oleh komandan itu apa dan ada di mana.

Mereka juga tidak ada yang mau bertanya karena mereka pikir itu tidak penting untuk sekarang.

Yang terpenting untuk sekarang adalah, sesegera mungkin meninggalkan tempat ini sebelum para penyerang tadi menemukan mereka.

Malam itu juga mereka bersiap-siap untuk pergi.

Lewat tengah malam, para agen itu keluar dari rumah karena akan segera berangkat.

Semua barang yang di perlukan di angkut ke dalam mobil termasuk mereka yang berada dalam keadaan tak sadarkan diri.

Ketika semua orang telah masuk ke dalam mobil, Wawan terlihat meriah berdiri di depan rumahnya sambil membawa koper besar.

Wawan diam sambil menatap rumahnya yang sederhana itu di tengah guyuran hujan yang sangat deras.

Hati Wawan terasa gundah kala itu dan ia tidak rela meninggalkan rumah yang telah ia tinggali seumur hidupnya itu.

Namun karena situasi yang berbahaya, Wawan mau tidak mau harus pergi meninggalkan rumah itu.

"Wawan!! Ayo kita berangkat!!" Raisya memanggil Wawan.

Segera Wawan berpaling dari rumahnya dan masuk ke mobil.

Mobil melaju dengan kecepatan yang sedang di tengah guyuran hujan.

1
Ai_Li
Saya mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!