NovelToon NovelToon
WAKTU YANG SALAH

WAKTU YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Murni
Popularitas:620
Nilai: 5
Nama Author: starygf

cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 18

Pagi datang lebih pelan dari biasanya. Aura terbangun dengan kepala yang masih berat, tapi tidak sepusing semalam. Cahaya matahari masuk tipis lewat sela tirai rumah sakit. Suara langkah perawat terdengar samar di lorong.

Dan ada seseorang yang tertidur di kursi samping ranjangnya.

Harry.

Jaketnya masih terpakai. Kepalanya sedikit menunduk, tangan terlipat di dada. Sepertinya ia tidak benar-benar tidur nyenyak.

Aura memperhatikannya beberapa detik. Dadanya terasa hangat sekaligus nyeri.

Pelan-pelan ia bergerak.

Harry langsung terbangun.

“Kamu bangun?” suaranya masih berat karena kurang tidur. Ia langsung berdiri, mendekat. “Pusing nggak? Mual? Aku panggil perawat ya?”

Aura menggeleng pelan. “Enggak… udah mendingan.”

Harry menghela napas panjang. Seperti baru sadar ia menahan cemas sejak tadi malam. “Jangan bikin kaget lagi, ya,” ucapnya pelan. “Aku nggak suka lihat kamu kayak semalam.”

Kalimat itu membuat suasana berubah.

Aura menatap tangannya yang masih terpasang infus. “Harusnya kamu nggak perlu datang.”

Harry terdiam sebentar. Lalu menjawab tenang, “Aku datang bukan karena perlu atau nggak perlu. Aku datang karena aku mau.”

Aura menelan ludah.

Jarak yang ia buat dengan satu pesan itu terasa begitu tipis di ruangan ini.

Beberapa jam kemudian dokter mengizinkan Aura pulang sore hari setelah infus selesai. Richel sudah menawarkan untuk menjemput, tapi Harry menolak halus.

“Aku yang antar,” katanya.

Aura tidak membantah.

Malam mulai turun ketika mereka keluar dari rumah sakit. Udara dingin, sisa hujan kemarin masih terasa. Harry berjalan pelan di samping Aura, memastikan langkahnya stabil.

“Pelan aja,” katanya. “Kamu masih lemes.”

Aura hampir tersenyum. Nada itu. Cara itu. Sama seperti dulu.

Sesampainya di parkiran, Aura berhenti sebentar. “Kamu nggak usah repot-repot, harusnya.”

Harry menatapnya langsung. Kali ini tidak menghindar. “Kamu pikir aku bisa benar-benar jauh cuma karena satu pesan?”

Pertanyaan itu membuat Aura terdiam.

Harry membuka pintu mobil untuknya. Setelah Aura duduk, ia ikut masuk ke kursi pengemudi. Mesin dinyalakan, tapi ia belum langsung jalan.

“Aura,” panggilnya pelan.

Aura menoleh.

“Aku memang nurut waktu kamu bilang jangan terlalu dekat. Aku nggak chat. Aku nggak ganggu. Aku jaga jarak.” Ia berhenti sebentar. “Tapi bukan berarti aku berhenti peduli.”

Suara Harry tenang. Tidak menyalahkan. Tidak menuntut.

“Aku cuma nggak mau kamu merasa sesak karena aku.”

Dadanya terasa seperti ditekan sesuatu.

“Aku kira… kamu bakal marah,” ucap Aura lirih.

Harry tersenyum kecil. “Kalau aku marah, apa kamu bakal berubah pikiran?”

Aura tidak bisa menjawab.

Mobil akhirnya melaju pelan meninggalkan rumah sakit. Lampu jalan memantul di kaca depan. Suasana di dalam mobil hening, tapi tidak lagi canggung seperti sebelumnya.

Sampai di depan kos Aura, Harry mematikan mesin. Ia turun lebih dulu, membantu Aura keluar.

“Kamu istirahat yang bener,” katanya. “Minum obat. Jangan bandel.”

Aura mengangguk.

Beberapa detik mereka berdiri berhadapan.

Ada banyak hal yang belum selesai.

Banyak yang belum dibicarakan.

Tapi malam itu terasa berbeda.

“Aku pulang ya,” kata Harry akhirnya.

Aura mengangguk lagi. Tapi sebelum Harry benar-benar berbalik, ia memanggil pelan, “Harry.”

Harry berhenti.

Aura menarik napas. “Makasih.”

Harry menatapnya. Lama. Lalu tersenyum tipis, hangat. “Kamu nggak perlu bilang makasih ke orang yang nggak pernah benar-benar pergi.”

Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya berubah—

Aura sadar.

Mungkin yang ia takutkan bukan kehilangan Harry.

Tapi takut mengakui bahwa ia masih menginginkannya.

1
only siskaa
wahhh baruu nii
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!