NovelToon NovelToon
Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Secret Admirer: Surat Untuk Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Cintapertama / Idola sekolah / Cinta Murni
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.

Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.

Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: SUPERNOVA SEMU

Deru mesin motor matic Dinda menderum pelan di area parkir SMA Cakrawala Terpadu, tapi roda kendaraan itu tak kunjung berputar. Di jok belakang, Keyla Aluna menelusupkan wajahnya ke punggung Dinda, menyembunyikan isak tangis yang tertahan. Helm bogo-nya membentur helm Dinda pelan.

"Jalan, Din..." lirih Keyla, suaranya serak.

"Gak!" Dinda mematikan mesin motor dengan gerakan kasar. Kunci kontak dicabut, lalu ia memutar badan, menatap sahabatnya dengan mata menyalang garang. "Aku gak terima, Key! Sumpah, gak terima! Masa kita nyerah sama ondel-ondel Tunjungan itu?"

"Dinda, please..." Keyla mengangkat wajahnya. Matanya sembab, kontras dengan *dress* 'Midnight Blue' yang seharusnya membuatnya bersinar malam ini. "Dia udah menang. Bintang udah milih dia."

"Bintang gak milih dia! Bintang *ditipu* sama dia!" Dinda turun dari motor, menarik tangan Keyla. "Ayo balik ke lapangan. Lo harus ngomong. Sekali ini aja, Key. Jangan jadi *dark matter* terus. Tunjukin kalau lo itu bintang aslinya!"

Keyla ragu. Namun, bayangan Bintang yang berjalan menuruni tangga bersama Vanya tadi menyalakan sisa-sisa keberanian yang nyaris padam. Rasa sakit di dadanya bertransformasi menjadi urgensi. Jika ia pergi sekarang, ia akan kehilangan Bintang selamanya—bukan karena takdir, tapi karena kebohongan.

"Oke," Keyla mengusap air matanya kasar. "Gue coba. Sekali lagi."

Mereka berlari kecil kembali menuju area lapangan utama. Suara bass dari *sound system* menggelegar, memantul di dinding gedung sekolah. Lagu *pop-rock* yang dimainkan band tamu mengiringi ribuan siswa yang memadati lapangan rumput. Lampu sorot warna-warni membelah langit malam Surabaya yang pekat dan gerah.

Di tengah lautan manusia, Keyla memindai area VIP di dekat panggung. Itu mereka.

Bintang Rigel berdiri di sana, sosoknya menjulang di antara kerumunan. Ia tidak sedang menikmati musik. Matanya menatap kosong ke arah panggung, sementara satu tangannya meremas pelan sebuah amplop biru tua di sakunya. Keyla mengenali amplop itu—surat ke-20 yang ia tulis dengan tinta perak.

Vanya berdiri di sebelahnya, tersenyum lebar pada setiap orang yang menyapa, seolah memproklamirkan status barunya sebagai Ratu Cakrawala. Namun, Bintang tampak... gelisah.

"Tuh kan! Mukanya Bintang kayak orang sembelit! Dia gak nyaman sama Vanya!" seru Dinda di telinga Keyla, berusaha mengalahkan suara musik. "Samperin sekarang, Key! Gue hadang antek-anteknya Vanya kalau mereka macem-macem!"

Jantung Keyla berdegup kencang, lebih cepat dari tempo drum di panggung. Ia mengangguk pada Dinda, lalu memisahkan diri. Keyla menyusup di antara kerumunan siswa, berjuang melawan arus manusia.

*Hanya lima meter lagi.*

Keyla bisa melihat profil wajah Bintang dengan jelas. Cowok itu mengeluarkan amplop biru dari sakunya, menatapnya dengan kerinduan yang nyata. Ia seperti sedang mencari jawaban di atas kertas itu.

"Bintang!" Keyla memanggil, tapi suaranya tenggelam oleh sorak sorai penonton saat vokalis band berteriak, "Are you ready for fireworks?!"

Keyla maju selangkah lagi. Ia mengulurkan tangan, hendak menepuk bahu Bintang.

Namun, radar Vanya bekerja lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Seolah memiliki mata di belakang kepala, Vanya berbalik tepat saat tangan Keyla hanya berjarak beberapa sentimeter dari punggung Bintang. Mata Vanya membulat sesaat, mengenali ancaman, lalu menyipit licik. Ia tidak memberi waktu bagi Keyla untuk bicara.

Dengan gerakan sehalus ular, Vanya menggeser posisinya, memblokir akses Keyla sekaligus menarik perhatian Bintang.

"Bin," panggil Vanya manja, tangannya langsung menyambar amplop biru yang sedang dipegang Bintang. "Kamu kok baca suratku terus sih? Kangen ya sama tulisanku?"

Bintang tersentak, menoleh ke arah Vanya. Keyla membeku di tempatnya berdiri, tertutup bayangan tubuh Vanya yang lebih tinggi karena *heels*-nya.

"Vanya..." Bintang tampak bingung, tapi tidak menepis tangan gadis itu. "Aku cuma... memastikan sesuatu."

"Memastikan apa?" Vanya tersenyum manis, jari-jarinya yang berkuteks merah menyala menelusuri permukaan amplop biru tua itu. Ia melirik Keyla sekilas lewat bahunya—tatapan kemenangan yang mematikan—sebelum kembali fokus pada Bintang. "Soal 'Bintang Biner'? Atau soal kita yang kayak gravitasi?"

Keyla merasa paru-parunya ditarik keluar. *Itu kalimatku. Itu metaforaku.* Vanya pasti membacanya dari surat curian di Bab 9 atau menguping isi surat yang lain.

Mata Bintang melebar. Keraguan di wajahnya perlahan luntur, digantikan oleh kelegaan yang menyakitkan untuk dilihat. "Kamu... kamu beneran ingat detail itu?"

"Ya ampun, Bintang Rigel," tawa Vanya renyah, meski matanya dingin saat melirik Keyla lagi. "Siapa lagi yang nulis ini kalau bukan aku? Kan aku udah bilang di *rooftop* tadi. Aku cuma malu kalau harus ngomong langsung. Makanya aku pakai surat."

Vanya kemudian melakukan skakmat. Ia mendekatkan wajahnya ke Bintang, "Lagian, *dress* aku malam ini warnanya sama kayak kertas surat itu, kan? *Navy Blue*. Itu kode buat kamu, Bintang."

Logika Bintang runtuh. Buktinya terlalu banyak. Pengetahuan tentang isi surat, jepit rambut yang ada di tangan Vanya, dan sekarang kode warna *dress* yang sesuai dengan kertas surat. Bintang menghela napas panjang, sebuah senyum tipis—senyum tulus yang selama ini Keyla puja—akhirnya terbit di bibirnya. Tapi senyum itu ditujukan untuk Vanya.

"Maaf aku sempet ragu," ucap Bintang lembut. Ia memasukkan kembali surat itu ke sakunya, lalu, dengan ragu namun pasti, menggenggam tangan Vanya.

"Gak apa-apa," jawab Vanya, mengeratkan genggamannya sambil menatap lurus ke mata Keyla yang berdiri kaku dua meter di belakang Bintang. Bibir Vanya bergerak tanpa suara, membentuk satu kata untuk Keyla: *Pergi.*

Di saat yang sama, kembang api pertama meluncur ke angkasa.

*Duar!*

Ledakan cahaya merah dan emas menerangi langit Surabaya. Semua siswa bersorak, mendongak ke atas, mengagumi keindahan artifisial itu. Cahaya kembang api menerangi wajah Bintang dan Vanya yang kini berdiri bersisian, bergandengan tangan, tampak seperti pasangan sempurna SMA Cakrawala.

Keyla merasa dirinya mengecil. Ia bukan lagi bintang redup. Ia adalah lubang hitam yang menelan dirinya sendiri.

"Key..." Dinda akhirnya berhasil menerobos kerumunan dan sampai di samping Keyla. Ia melihat pemandangan di depan mereka—tangan yang bertautan itu—dan terdiam. Amarahnya lenyap, digantikan rasa iba yang mendalam.

Keyla tidak menangis. Air matanya sudah kering. Yang tersisa hanya kehampaan absolut. Ia menatap punggung Bintang untuk terakhir kalinya. Surat-surat itu, perasaan itu, metafora-metafora tentang alam semesta yang ia susun dengan hati-hati... semuanya kini telah dicuri dan diputarbalikkan menjadi properti panggung bagi Vanya Clarissa.

"Ayo pulang, Din," bisik Keyla. Suaranya datar, tanpa emosi.

"Tapi Key, lo bisa labrak dia sekarang! Lo bisa teriak kalau itu tulisan lo!" Dinda mencoba mengguncang bahu sahabatnya.

Keyla menggeleng lemah. "Percuma. Bintang udah percaya. Kalau aku teriak sekarang, aku cuma bakal jadi orang gila yang merusak kebahagiaan dia. Dan aku... aku terlalu sayang sama dia buat bikin dia malu di depan satu sekolah."

Langit kembali meledak dalam warna-warni *neon*. Bintang Rigel tertawa melihat kembang api, wajahnya terlihat bahagia. Bahagia karena kebohongan.

Keyla membalikkan badan, memunggungi cahaya, memunggungi Bintang, dan memunggungi mimpinya. Ia berjalan gontai menembus kerumunan yang bersuka ria, menjadi satu-satunya anomali yang bergerak menjauh dari pusat gravitasi.

Di belakangnya, Vanya Clarissa tersenyum puas di bawah hujanan cahaya, menikmati kemenangan mutlaknya. Cassiopeia yang asli telah terusir dari rasi bintangnya sendiri.

1
Mymy Zizan
bagussssssssss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!