NovelToon NovelToon
TYPO DI ANTARA KITA

TYPO DI ANTARA KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Sosok Misterius di Balik Jendela

​Malam sudah makin larut, tapi mata gue nggak bisa merem sama sekali. Suara tikus yang lagi pesta di atas plafon kontrakan ini benar-benar bikin saraf gue tegang. Gue melirik Genta yang duduk di samping gue, dia lagi berusaha memejamkan mata sambil bersandar di tembok, tapi gue tahu dia juga nggak tidur. Tangannya masih menggenggam ponsel, siaga satu.

​Tiba-tiba, ada suara kresek di luar. Kecil, tapi jelas banget.

​Gue langsung membeku. Mata gue tertuju ke jendela nako satu-satunya yang ditutup pakai koran bekas. Di balik koran itu, gue melihat bayangan hitam bergerak. Bayangan itu berhenti tepat di depan jendela kami.

​"Genta..." bisik gue sambil menyenggol lengannya kencang. "Ada orang di luar."

​Genta langsung melek. Dia nggak nanya dua kali. Wajahnya berubah serius. Dia memberi isyarat pakai jari di depan bibir supaya gue diam. Dengan gerakan pelan yang berusaha dia buat sesenyap mungkin, dia berdiri.

​Gue panik. "Lo mau ngapain?"

​Dia nggak menjawab. Matanya melihat ke sekeliling ruangan sempit ini mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata. Nggak ada tongkat, nggak ada parang, nggak ada apa-apa kecuali... sebuah sapu ijuk yang ujungnya sudah mulai botak di pojok ruangan.

​Genta meraih sapu itu. Dia memegang gagangnya dengan posisi kayak mau tanding anggar atau kendo, gue nggak tahu, yang jelas gayanya sok keren banget meskipun senjatanya cuma kayu murah yang bau.

​"Tetap di belakang saya, Aruna," perintahnya dengan suara rendah yang berwibawa.

​Gue cuma bisa pasrah sambil megangin ujung bajunya. Jantung gue mau copot pas bayangan di jendela itu makin mendekat. Sepertinya orang di luar itu lagi mencoba mengintip lewat celah koran yang robek sedikit.

​Genta menarik napas panjang, lalu dengan satu gerakan mendadak, dia menendang pintu kontrakan sampai terbuka. BRAKK!

​"SIAPA KAMU?! JANGAN BERGERAK ATAU SAYA REVISI HIDUP KAMU!" teriak Genta sambil mengarahkan ujung gagang sapu tepat ke arah bayangan itu. Kuda-kudanya sudah mantap banget, matanya tajam menembus kegelapan malam.

​Hening sejenak.

​"Waduh! Ampun, Mas! Saya bukan penjahat!" Suara cempreng bapak-bapak terdengar gemetar.

​Gue mengintip dari balik punggung Genta. Di sana berdiri seorang pria paruh baya pakai kaos singlet dan handuk yang dikalungkan di leher. Di tangan kanannya, dia megang sendok penggorengan, dan di tangan kirinya ada piring kosong.

​Gue melongo. Itu Pak Ujang, tukang nasi goreng yang mangkal di depan gang.

​"Mas... saya cuma mau ambil piring saya yang dipinjam penghuni kamar sebelah," kata Pak Ujang sambil melongo melihat Genta yang masih pasang pose siap tempur pakai sapu botak. "Kamar sebelah nggak nyaut pas diketuk, jadi saya liat-liat siapa tahu piringnya ditaruh di jendela luarnya..."

​Genta terdiam. Gagang sapu yang tadi dipegang dengan gagah, perlahan-lahan turun. Wajahnya yang tadi tegang kayak habis liat hantu, sekarang berubah merah sampai ke telinga.

​"Oh... piring," gumam Genta pendek. Dia langsung membetulkan letak kacamatanya yang sedikit miring, lalu berdeham kencang buat menutupi rasa malunya. "Maaf, Pak. Kami sedang... eh, sedang latihan koreografi naskah aksi."

​Pak Ujang cuma garuk-garuk kepala. "Oalah, kirain mau tawuran, Mas. Serem bener pakai sapu segala."

​Setelah Pak Ujang pergi sambil geleng-geleng kepala, Genta buru-buru menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Dia melempar sapu itu kembali ke pojokan seolah benda itu baru saja mengkhianatinya.

​Gue nggak tahan lagi. Gue ambruk di atas kasur macan tutul sambil ketawa sampai perut gue kram. "Hahaha! 'Revisi hidup kamu'?! Genta, lo beneran mau lawan penjahat pakai sapu ijuk?!"

​Genta duduk di sebelah gue, masih dengan wajah merah merona. Dia membuang muka, nggak mau natap gue. "Secara taktis, gagang kayu bisa memberikan jangkauan serang yang lebih jauh daripada tangan kosong, Aruna."

​Gue berhenti ketawa sebentar, lalu menatapnya. Meskipun tadi itu kejadian paling konyol sedunia, gue sadar satu hal, Genta yang nggak bisa berantem itu, nggak ragu sedikit pun buat maju paling depan buat jagain gue.

​"Makasih ya, Pendekar Sapu Ijuk," goda gue sambil menyenggol bahunya.

​Genta mendengus, tapi kemudian dia tersenyum tipis. "Besok saya cari senjata yang lebih... efisien. Mungkin penggaris besi."

​Gue cuma bisa geleng-geleng kepala. Di tengah ancaman yang nyata, punya cowok kaku yang sok jagoan ini ternyata bikin gue ngerasa jauh lebih aman daripada punya bodyguard beneran.

1
-Thiea-
apa nih? cinta diam-diam kah.
Kaka's: 🤭🤭.. 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
-Thiea-
jangan-jangan mereka orang yg sama 🤔
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
awal yang menarik 👍
Kaka's: mkasih kak
total 1 replies
Serena Khanza
wah genta udah tau senja ya 🤭
Hunk
hahah ternyata malah chatan sama orang yg di sebelah.🤣
Hunk
Berawal dari benci. Malah jadi suka🤣
Hunk
Jodoh nih🤣
Sean Sensei
cieee... saling lirik melirik nih 🤭
Hunk
Tsundere kah ni si genta?
Kaka's: yah sedikit kaku sih alias professional.. tapi bakal terjawab semua di salah satu bab nantinya🤭
total 1 replies
Serena Khanza
puitis banget tp keren kata katanya🤭
Sean Sensei
/Hey/ promosikan noveltoon /Ok/
Kaka's: 🤣🤣🤣🤣 pusing masa apk F🤭
total 1 replies
APRILAH
kehangatan di dalam kegelapan
Serena Khanza
yaah ketahuan deh gegara mati lampu 🤭 coba ada lagu nassar thor 🤣
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
SarSari_
Kak, aku mau kasih sedikit masukan yaa 🙏 Karena ini pakai sudut pandang orang pertama (gue), mungkin bagian “ada rasa kagum yang selama ini dia tutup rapat-rapat” bisa dibuat lebih seperti dugaan si tokoh, bukan kepastian. Soalnya di POV orang pertama kan kita cuma tahu apa yang dia lihat dan rasakan.
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.

Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻
Kaka's: menarik.. terima kasih masukannya kaks
total 1 replies
Sean Sensei
/Sweat/ : punya dendam kayaknya tuh
Hunk
Masih mening pak dari pada sianida.🤣
Hunk
kenapa ga biji kopi dari luwak nya langsung🤣
®Astam
Nah kan... betul🤭
®Astam: Okay bang😆
total 4 replies
®Astam
Bagus👍, kadang-kadang bikin penasaran dengan bab selanjutnya.
Kaka's: makasih kaks🤭
total 1 replies
®Astam
Kayaknya si genta, adakah kaka's deh🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!