Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.
...
Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.
"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.
Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."
...
Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.
"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Apa Laboratorium
Evander menjauhkan tubuhnya secara mendadak, membuat Yumna hampir terjatuh karena kehilangan tumpuan. Pria itu berjalan menuju meja kerjanya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Sekarang, berkemaslah. Kita akan pindah ke rumah pribadi saya. Saya tidak ingin tinggal di hotel ini lebih lama lagi, atau tante-tante saya akan benar-benar terkena serangan jantung karena melihat kelakuanmu yang ajaib."
Yumna masih mematung di depan pintu, memegang dadanya yang berdegup kencang. "Pindah ke rumah Mas? Terus... orang tuaku gimana?"
"Orang tuamu akan diantar pulang ke rumah mereka dengan pengawalan. Mereka sudah saya bekali deposito yang cukup untuk masa pensiun mereka. Jadi, sekarang fokusmu hanya satu: menjadi Nyonya Moreno yang bisa membuat Cindy dan Desta menangis darah setiap kali melihatmu."
Yumna menghembuskan napas lega sekaligus cemas. Ia melihat punggung Evander yang sedang mengetik di laptopnya. Pria ini sangat aneh. Kadang kejam, kadang pelit, kadang menakutkan, tapi di saat yang sama... dia memberikan perlindungan yang tidak pernah Yumna bayangkan sebelumnya.
"Mas..."
"Apa lagi?" sahut Evander tanpa menoleh.
"Makasih ya. Walaupun dasterku dibuang, tapi makasih sudah belain aku di depan tante-tante tadi. Ternyata Mas nggak se-kanebo kering yang aku kira."
Evander terhenti sejenak dari aktivitas mengetiknya. Ia tidak menjawab, tapi jika Yumna bisa melihat wajahnya, ada senyum tipis yang tulus yang tidak sanggup ia sembunyikan lagi.
"Cepat berkemas, Yumna. Sebelum saya berubah pikiran dan menyuruhmu tidur di gudang," ucap Evander ketus, namun nada suaranya tidak lagi dingin.
Yumna menjulurkan lidahnya ke arah punggung Evander, lalu berlari menuju kamar untuk mengambil tasnya.
Hidupnya benar-benar sudah berbelok 180 derajat. Dari korban perselingkuhan, jadi buronan CEO di atas ranjang.
"Dan satu lagi," Evander
menghentikan langkah Yumna dengan suara yang mendadak serius. Ia berbalik, menatap Yumna dengan pandangan tajam yang seolah bisa
menembus tengkorak kepalanya.
"Jangan pernah lagi panggil saya 'Mas Bos'. Kamu mau kebiasaan itu muncul secara tidak sengaja ketika kita sedang bersama Kakek atau relasi bisnis saya?"
Yumna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya habisnya... lidah saya ini sudah disetel otomatis, Mas Bos. Tiap lihat wajah Mas yang kaku itu, otak saya langsung teriak 'Bos Galak Datang!'. Lagian, manggil 'Sayang' itu rasanya seperti mau nelan biji kedondong, seret banget di tenggorokan."
Evander melangkah satu langkah lebih dekat, membuat Yumna kembali merasa terintimidasi oleh aroma parfumnya yang terlalu maskulin untuk kesehatan jantung. "Latihlah lidahmu itu. Kamu sekarang bukan lagi bawahanku secara struktural kantor, melainkan mitra hidupku secara struktural hukum. Panggil saya 'Mas Evander', atau jika kamu merasa lebih berani, panggil saya 'Mas' saja. Tanpa embel-embel 'Bos'."
"Mas... Mas... Mas Van?" Yumna mencoba mengeja dengan ragu. "Mas Kulkas?"
Evander memejamkan mata, menarik napas panjang untuk menjaga agar emosinya tidak meledak di hari kedua pernikahan.
"Lupakan soal kulkas. Cepat berkemas. Kita tidak punya waktu seharian."
...
Pukul dua siang, sebuah mobil SUV hitam antipeluru membawa Yumna menuju kediaman pribadi Evander. Yumna membayangkan rumah itu akan seperti istana di film-film Disney, atau setidaknya seperti rumah di sinetron yang punya tangga melingkar dan air mancur di tengah ruang tamu.
Namun, ketika gerbang besi setinggi tiga meter itu terbuka secara otomatis, yang ada di hadapan Yumna adalah sebuah bangunan minimalis modern dengan dominasi kaca dan beton ekspos. Terlihat sangat canggih, dingin, dan... sangat mirip dengan kepribadian pemiliknya.
"Ini rumah apa laboratorium rahasia, Mas?" tanya Yumna saat mereka turun dari mobil.
"Ini rumah saya. Semuanya dikendalikan oleh sistem AI bernama 'Vera'. Kamu tidak butuh kunci di sini, cukup biarkan kamera memindai wajahmu," jelas Evander sambil berjalan menuju pintu utama yang tampak tanpa gagang pintu.
Zipp! Pintu terbuka setelah sinar merah tipis memindai mata Evander.
"Selamat datang kembali, Tuan Evander. Dan selamat datang, Nyonya Yumna," suara wanita dari mesin yang terdengar sangat halus menyapa mereka dari langit-langit.
Yumna melongo. "Wah! Mas, dia tahu namaku! Jangan-jangan dia juga tahu kalau aku belum mandi sore?"
Evander mengabaikan komentar konyol istrinya. Ia membawa Yumna ke ruang tengah yang luas.
"Dengarkan saya. Di rumah ini, ada peraturan yang harus kamu patuhi. Pertama, dilarang membawa makanan berbau tajam ke ruang kerja saya. Kedua, jangan pernah menyentuh koleksi jam tangan saya. Dan ketiga..."
Evander menekan sebuah tombol di dinding, dan tiba-tiba sebuah layar hologram muncul di depan Yumna. Isinya adalah daftar panjang jadwal harian.
"Ini adalah jadwal pemakaian area rumah. Karena kita berbagi ruang, saya ingin semuanya teratur. Jam enam pagi saya memakai ruang gim, jam tujuh saya sarapan. Kamu bisa memakai dapur setelah saya selesai," ucap Evander tanpa perasaan.
Yumna menatap daftar itu dengan mata melotot. "Lho? Ini rumah apa asrama tentara? Mas, aku ini istrimu, bukan penyewa kos-kosan! Masa mau sarapan saja harus lihat jadwal piket?"
"Keteraturan adalah kunci kesuksesan, Yumna."
"Keteraturan itu kunci kebosanan, Mas!" balas Yumna berani. Ia mulai merasa kesal. "Lagian, kalau aku lapar jam enam lewat lima belas menit gimana? Masa aku harus nunggu Mas selesai angkat beban dulu? Nanti kalau aku pingsan kelaparan, Mas mau tanggung jawab ke Kakek?"
Evander menghentikan langkahnya, ia berbalik dan menatap Yumna dengan pandangan selidik. "Kamu baru tinggal di sini lima menit dan sudah berani protes?"
"Bukan protes, Mas. Ini namanya negosiasi pasca-akad!" Yumna berkacak pinggang, daster barunya (yang merupakan pemberian Clarissa) tampak sedikit bergoyang karena emosinya. "Aku nggak mau hidup di bawah bayang-bayang robot 'Vera' itu. Aku mau rumah ini terasa seperti rumah, bukan kantor cabang Moreno Group!"
Evander mendekati Yumna, membuat Yumna kembali merasa kecil. "Lalu, apa maumu?"
"Aku mau dapur tetap jadi wilayahku kapan pun aku mau! Dan... aku mau ada stok kerupuk kaleng di pojok ruangan. Nggak ada kerupuk, nggak ada nafsu makan!"
Evander memijit pelipisnya. Bayangan rumahnya yang elegan, minimalis, dan sunyi kini terancam oleh kehadiran kaleng kerupuk dan aroma masakan rumahan. "Baik. Dapur adalah wilayahmu. Tapi jika saya mencium bau terasi di karpet impor saya, saya akan menyita semua kerupukmu selama sebulan."
"Deal!" Yumna menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
Evander menatap tangan mungil itu, lalu dengan ragu ia menjabatnya. Namun, dasar Yumna, bukannya bersalaman dengan formal, ia justru mengguncang-guncangkan tangan Evander dengan semangat sampai tubuh pria itu ikut tergoyang.
"Terima kasih, Mas Van! Mas memang suami paling pengertian se-Jagat raya!"
Tiba-tiba, suara 'Vera' kembali terdengar. "Tuan Evander, ada tamu di depan gerbang. Nona Cindy dan Tuan Desta ingin bertemu."
Seketika, suasana ceria Yumna berubah menjadi dingin. Senyumnya menghilang, digantikan oleh tatapan tajam yang penuh dendam.
"Mas..." Yumna menatap Evander.
Evander memperbaiki posisi jasnya, wajahnya kembali menjadi topeng es yang menakutkan. "Sepertinya mereka tidak sabar untuk merasakan 'keramahan' rumah baru kita. Vera, buka gerbangnya. Biarkan mereka masuk ke kandang singa."
Yumna langsung merapikan rambutnya dan berdiri di samping Evander dengan dagu terangkat. "Mas, boleh nggak aku minta tolong satu hal lagi?"
"Apa?"
"Nanti pas mereka masuk, Mas rangkul pinggangku ya? Biar si Desta makin ngerasa kalau dia itu cuma butiran debu di bawah sepatu Mas."
Evander tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru langsung melingkarkan tangannya yang kokoh di pinggang Yumna, menariknya sangat rapat hingga tubuh mereka bersentuhan.
"Tanpa kamu minta pun, saya akan melakukannya, Yumna. Mari kita tunjukkan pada mereka siapa pemilik sebenarnya di sini."
diajarin lah biar c,Yumna nya rada anggunan kalo di bentak mulu bukannya anggun yg ada malah ciut...