Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendapatkan Nama
Matahari pagi menyinari kampus Universitas Gadjah Mada dengan hangat, seolah ingin menebus hujan deras kemarin sore. Genangan air di sana-sini mulai mengering, meninggalkan bekas basah di aspal dan dedaunan yang masih menggantungkan butir-butir embun.
Mahasiswa lalu-lalang dengan berbagai agenda—ada yang buru-buru menuju kelas, ada yang duduk santai di taman sambil ngopi, ada pula yang nongkrong di kantin sambil mengerjakan tugas.
Kantin Fakultas Ekonomika dan Bisnis pukul sembilan pagi sudah cukup ramai. Bau gorengan, kopi, dan berbagai lauk pauk bercampur jadi satu, menciptakan aroma khas kantin kampus yang entah kenapa selalu membangkitkan selera. Meja-meja kayu panjang terisi oleh mahasiswa yang sarapan sambil diskusi atau sekadar bercanda.
Di meja pojok dekat jendela yang menghadap ke taman, Kay duduk dengan satu kaki ditekuk di atas kursi—kebiasaan buruknya sejak SMA yang tidak pernah bisa ia hilangkan. Rambut panjangnya tergerai bebas hari ini, tidak diikat seperti kemarin.
Ia mengenakan hoodie abu-abu oversize yang membuatnya terlihat lebih kecil dari tubuh aslinya, dipadukan dengan legging hitam dan sepatu converse high hitam yang sudah usang tapi tetap ia cintai. Di meja di hadapannya, segelas es kopi susu sudah setengah habis, sementara sepiring nasi goreng masih utuh tak tersentuh.
Di seberangnya, Mika—sahabat sejak SMA sedang asyik menyendok bubur ayam kesukaannya. Mika hari ini mengenakan sweater rajutan warna mustard yang membuat kulit sawo matangnya tampak bercahaya, rambut pendeknya yang sebahu dibiarkan apa adanya. Matanya yang sipit selalu terlihat seperti sedang tersenyum, bahkan saat ia sedang serius sekalipun.
"Kay, nasi gorengnya dimakan. Lo dari tadi cuma diaduk-aduk," tegur Mika tanpa mengangkat kepala.
Kay menatap nasi goreng di depannya, lalu kembali mengaduknya malas. "Gue nggak laper."
"Berarti lo nggak laper secara fisik. Tapi laper secara mental. Ada apa?" Mika akhirnya mengangkat kepala, menatap Kay dengan alis terangkat.
Kay terdiam beberapa saat, lalu menghela napas. "Mik, lo inget cerita gue kemarin? Tentang laki-laki kehujanan?"
Mika mengunyah buburnya pelan, matanya menyipit waspada. "Iya. Yang lo ceritain dengan gaya kayak lagi ngeliatin artis Korea. Kenapa?"
"Nggak. Gue cuma..." Kay menggigit bibir bawahnya, ragu. "Gue penasaran."
"Penasaran apanya?"
"Penasaran... dia itu siapa. Kok bisa secuek itu. Kok kayak nggak liat gue sama sekali."
Mika meletakkan sendoknya, lalu duduk tegak. Ekspresinya berubah dari waspada menjadi tertarik—tertarik seperti seorang ilmuwan yang baru menemukan spesimen langka.
"Kay, lo dengerin gue baik-baik. Lo Kayana Ardhanareswari yang biasanya dikerubung laki-laki tiap jalan di kampus, yang setiap posting Instagram langsung dibanjiri komentar, yang ditaksir Rendra ketua BEM yang ganteng level Langit Sore itu, sekarang lo penasaran sama laki-laki yang bahkan nggak liat lo?"
Kay mengerutkan kening. "Kenapa? Sakit apa gue kalo penasaran?"
"Bukan sakit. Tapi ini... ini fenomena langka. Lo yang biasanya dingin sama semua orang, tiba-tiba kepanasan sama laki-laki cuek."
Mika menyeringai lebar. "Ceritain detailnya. Gue pengen ngerti psikologi di balik ini."
Kay melempar tisu ke arah Mika. "Dengerin aja lo. Jangan menganalisis kayak dosen."
"Oke oke. Aduh, galaknya." Mika mengambil tisu itu dan meletakkannya di samping piring.
"Jadi, laki-laki itu gimana? Deskripsiin. Soalnya dari cerita lo kemarin, yang gue tangkap cuma 'kemeja kotak-kotak biru' dan 'cuek'. Itu deskripsi yang bisa ngenain setengah laki-laki di Jogja."
Kay menatap langit-langit kantin, mencoba mengingat. "Dia... tinggi. Mungkin 175 atau 176. Rambutnya ikal, agak panjang sampai nutupin dahi sedikit. Kulitnya sawo matang, bukan putih kayak gue. Matanya... matanya itu lho, Mik. Item banget, dalem, kayak sumur. Pas dia liat gue, rasanya kayak dia bisa liat tembus gitu."
Mika mengangguk-angguk, serius mendengarkan. "Terus?"
"Terus bajunya basah kuyup, kemeja kotak-kotak biru tua sama putih. Celana jeans hitam, sepatu kets item yang keliatannya udah usang. Dia bawa plastik, mungkin isinya buku atau tugas. Terus..."
Kay berhenti, tersenyum kecil. "Dia cuma bilang 'iya' dua kali. Pas gue bilang 'lo kehujanan', dia jawab 'iya'. Pas gue bilang 'lo mau masuk angin', dia jawab 'iya' lagi. Lalu dia pergi."
Mika mengerjapkan mata. "Cuma itu?"
"Cuma itu."
"Dan lo sekarang penasaran?"
"Iya."
Mika diam beberapa saat, lalu tertawa terbahak-bahak sampai beberapa mahasiswa di meja sebelah menoleh. Kay merah padam, mencubit lengan Mika.
"Sttt! Pada liat tuh!"
"Biarin!" Mika masih terkekeh. "Kay, lo sadar nggak sih, lo yang biasanya jutek sama cowok-cowok yang berusaha mati-matian deketin lo, sekarang malah penasaran sama cowok yang bahkan nggak ngelirik lo. Itu tuh... psikologi terbalik banget. Kayak lo pengen ngejar yang nggak bisa lo dapetin."
Kay membuang muka. "Bukan gitu."
"Terus gimana?"
"Gue nggak tahu. Gue cuma... merasa aneh. Biasanya orang liat gue, mereka—"
"Mereka langsung jatuh cinta, iya gue tahu." Mika memotong. "Tapi kali ini ada satu orang yang nggak ngelakuin itu. Dan itu bikin lo kepikiran."
Kay tidak menjawab. Ia menunduk, menatap nasi gorengnya yang kini dingin. Mika benar. Semua yang dikatakan Mika benar. Dan itu menyebalkan.
Mika menghela napas, nadanya melembut. "Kay, lo tahu kan kenapa lo bisa kepikiran sama dia?"
"Karena dia beda?"
"Bukan. Karena lo terbiasa dilihat, dipuja, dikejar. Tapi lo nggak terbiasa didekati dengan tulus. Semua orang yang deketin lo itu karena status lo, karena lo Kayana Ardhanareswari, putri bos perusahaan gede.
Mereka liat lo sebagai 'sesuatu', bukan sebagai 'seseorang'. Tapi laki-laki itu? Dia nggak liat lo sebagai apa pun. Dan itu, entah kenapa, terasa... nyata buat lo."
Kay menatap Mika dengan pandangan kompleks—terkejut, tersinggung, tapi juga lega karena ada yang mengerti. "Mik..."
"Iya, gue tahu lo nggak suka dianalisis. Tapi lo tanya, gue jawab." Mika mengambil sendoknya lagi, melanjutkan makan bubur.
"Ngomong-ngomong, lo tahu namanya?"
Kay menggeleng. "Makanya gue tanya. Lo tahu?"
Mika mengunyah pelan, berpikir. "Ciri-ciri yang lo kasih, agak susah sih. Tapi kemeja kotak-kotak biru, rambut ikal, cuek level dewa..." Matanya tiba-tiba berbinar. "Bentar. Mungkin Bima Wijaya?"
Kening Kay berkerut. "Bima?"
"Iya. Bima Wijaya. Ilmu Komputer angkatan 2020. Anaknya emang kayak gitu. Pendiem. Nggak pernah ngapa-ngapain selain kuliah, perpus, kos. Gak pernah ikut UKM atau kegiatan kampus. Katanya sih anak beasiswa KIP-Kuliah, jadi emang fokus kuliah doang."
Kay mengingat-ingat. Beasiswa KIP. Maka itu penampilannya sederhana, sepatunya usang, bajunya itu-itu saja. "Dia pinter?"
Mika menyeringai. "IPK 4.0 semester kemarin."
Kay bersiul pelan. "Astaga."
"Nah loh. Udah mulai jatuh cinta sama otaknya?"
"Bukan!" Kay membela diri, tapi pipinya merona tipis. "Gue cuma... kagum. Nggak gampang dapet IPK 4.0 sambil hidup pas-pasan."
Mika mengamati sahabatnya dengan tatapan tajam. "Kay, lo sadar nggak, lo baru pertama kali ini ngomongin laki-laki dengan nada... gimana ya... kagum? Biasanya lo cuek atau males."
"Karena biasanya mereka nggak ada yang menarik."
"Dan Bima menarik?"
Kay membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar. Apa Bima menarik? Dari segi fisik, biasa saja. Dari segi status, tidak sebanding dengannya.
Tapi ada sesuatu... sesuatu di matanya yang dalam, di caranya berjalan tegap meski hidup mungkin tidak mudah baginya, di caranya menjawab singkat tanpa basa-basi.
"Ia menarik," Kay mengakui pelan. "Tapi bukan karena fisiknya."
"Karena?"
Kay menggeleng. "Gue nggak tahu. Mungkin karena dia... asli. Nggak dibuat-buat."
Mika tersenyum lembut. "Kay, lo itu orang yang paling membutuhkan keaslian. Dengan semua kepalsuan di hidup lo—keluarga lo, temen-temen lo yang pura-pura, cowok-cowok yang ngedeketin lo karena uang—lo butuh seseorang yang nggak peduli sama semua itu. Dan Bima? Dia mungkin orang yang paling nggak peduli di kampus ini."
Kay menunduk, jari-jarinya memainkan sedotan es kopi. "Tapi gimana caranya?"
"Apa?"
"Gimana caranya... dia bisa liat gue? Sebagai gue, bukan sebagai Kayana Ardhanareswari?"
Mika menghela napas panjang. "Kay, itu pertanyaan yang rumit. Tapi satu hal yang pasti, lo nggak akan bisa bikin dia liat lo dengan cara yang sama kaya lo mau dilihat, kalo lo masih pake topeng."
"Topeng?"
"Iya. Topeng 'Kayana si putri konglomerat yang sempurna'. Lo harus jadi Kay yang asli. Yang suka makan indomie tengah malem, yang nangis kalau nonton film sedih, yang kesel kalau tugas numpuk. Kay yang manusia biasa. Bukan Kay yang selalu cool dan perfect."
Kay merenung. Apa ia pernah benar-benar menjadi dirinya sendiri di depan orang lain? Mungkin Mika. Mungkin Bi Inem. Tapi sisanya? Ia selalu menjaga jarak, menjaga citra, menjaga tembok yang ia bangun sejak perceraian orang tuanya.
"Tapi gue takut," bisiknya.
"Takut apa?"
"Takut kalau orang tahu siapa gue yang asli, mereka bakal kecewa. Atau pergi. Kayak..." Suaranya tercekat. "Kayak bokap nyokap gue."
Mika meraih tangan Kay, menggenggamnya erat. "Kay, dengerin gue. Orang tua lo pergi karena masalah mereka sendiri, bukan karena lo. Lo itu berharga, dengan atau tanpa topeng."
"Dan laki-laki yang tepat—kayak Bima mungkin—dia bakal liat lo apa adanya, dan dia bakal tetap di sana. Tapi kalo lo terus-terusan pake topeng, lo nggak akan pernah tahu."
Kay menatap Mika dengan mata berkaca-kaca. "Mik..."
"Iya, gue tahu. Lo nggak suka lebay. Tapi ini penting." Mika melepaskan genggamannya, lalu tersenyum jenaka. "Nah, sekarang rencana lo apa? Mau ngedeketin Bima?"
Kay mengerjapkan mata, kembali ke mode normal. "Ngedeketin? Enggak lah. Gue cuma... penasaran."
"Penasaran doang?"
"Iya."
Mika menyeringai lebar. "Oke. Kalo gitu, lo nggak bakal keberatan kalo gue kasih tahu info-info tentang dia?"
Kay mencoba terlihat cuek. "Info apa?"
"Kelas biasa di mana, jam berapa biasa ke perpus, tempat tongkrongannya di mana—"
"Lo tahu semua itu?"
Mika tertawa. "Enggak. Tapi gue bisa cari tahu. Punya banyak koneksi itu salah satu keahlian gue."
Kay terdiam sejenak, bergumul dengan egonya. Ia tidak mau terlihat seperti stalker. Tapi rasa penasarannya sudah terlalu besar.
"Kasih tahu aja," ucapnya akhirnya, berusaha terdengar sewajar mungkin.
Mika bertepuk tangan senang. "Yes! Akhirnya gue bisa liat Kay ngejar laki-laki! Ini bakal seru!"
"Gue nggak ngejar!"
"Ya iya, lo cuma penasaran. Penasaran yang bikin lo deg-degan, penasaran yang bikin lo susah tidur, penasaran yang—"
"Mika!"
Mereka berdua tertawa, menarik perhatian beberapa mahasiswa di meja sebelah. Kay menyandarkan punggung di kursi, menatap langit-langit kantin dengan senyum mengambang.
Bima Wijaya.
Nama itu kini terukir di pikirannya. Bima, laki-laki biasa dengan tatapan sumur, dengan kemeja kotak-kotak biru yang basah, dengan hidup sederhana tapi prestasi gemilang.
"Omong-omong," Mika memecah lamunan. "Ada yang harus lo tahu."
"Apa?"
"Bima itu incaran banyak orang. Secara, laki-laki pinter, gak neko-neko dan... ada daya tarik tersendiri. Gue denger ada beberapa cewek yang ngedeketin dia. Salah satunya Tasya Namira."
Kening Kay berkerut. "Tasya? Yang satu jurusan sama dia? Yang sering jadi panitia itu?"
"Iya. Katanya sih Tasya udah deketin Bima sejak semester lalu. Tapi nggak tahu sampai mana. Bima kan cuek, jadi mungkin Tasya masih berjuang."
“Gue lihat semalam di postingan Instagram Tasya. Ada foto cowok itu”
Kay merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dadanya. Lagi-lagi rasa aneh itu. Apa ini cemburu? Tidak mungkin. Ia baru bertemu Bima sekali.
"Kenapa? Kok mukanya kusut?" goda Mika.
"Enggak. Gue cuma mikir."
"Mikir apa?"
Kay menghela napas. "Kalo Bima udah dideketin Tasya, dan dia nggak nge-respon, berarti dia emang cuek beneran. Bukan pura-pura."
"Bisa jadi."
"Terus gue? Apa gue bisa...?"
Mika tersenyum. "Lo penasaran, kan? Cobain aja. Siapa tahu lo beda."
Kay menatap Mika dengan pandangan campur aduk. "Lo yakin?"
"Masa iya gue yang nyuruh lo pacaran? Biasanya gue yang ngejauhin lo dari laki-laki."
"Iya juga sih."
"Tapi Bima beda. Dia nggak berbahaya kayak Rendra dan kawan-kawan. Dia nggak butuh uang lo, nggak butuh status lo. Dia cuma butuh... mungkin teman. Atau mungkin nggak butuh apa-apa. Dan itu yang bikin dia menarik, kan?"
Kay mengangguk pelan. "Iya."
"Jadi, lo mau mulai dari mana?"
Kay berpikir keras. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu di luar jendela. Sesosok laki-laki dengan ransel hitam lusuh berjalan melewati kantin, menuju arah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Kemeja kotak-kotak biru. Rambut ikal. Langkah tegap tanpa peduli sekitar.
"Itu dia!" Kay hampir berteriak.
Mika menoleh cepat, tapi sosok itu sudah berbelok. "Yang itu? Mana?"
"Udah belok. Tadi lewat situ."
Mika menatap Kay dengan tatapan takjub. "Kay, lo matanya setajam elang."
Kay tidak menjawab. Matanya masih tertuju ke arah Bima menghilang, jantungnya berdetak lebih cepat. Ia baru sadar—ia baru melihat Bima dari kejauhan, tanpa interaksi apa pun, tapi sudah merasakan debaran itu lagi.
"Ya ampun," desis Mika pelan. "Lo beneran suka, ya?"
Kay mengalihkan pandangan, mencoba tenang. "Enggak. Gue cuma... kaget."
"Kaget apanya?"
"Kaget karena..." Kay berhenti, mencari kata yang tepat. "Karena dia masih pake baju yang sama. Kemeja kotak-kotak biru itu. Berarti itu baju favoritnya, atau mungkin satu-satunya."
Mika ikut melunak. "Kay..."
"Iya, gue tahu. Gue nggak seharusnya memperhatikan detail kayak gitu. Tapi gue nggak bisa nahan."
Mika meraih tangan Kay lagi. "Lo itu baik hati, Kay. Lebih dari yang orang tahu. Dan mungkin Bima juga perlu tahu itu."
Kay tersenyum tipis. "Tapi gimana caranya?"
"Mulai aja dulu. Dateng ke tempat biasa dia. Perpus, kantin fakultasnya, atau di mana. Jangan terlalu agresif. Cuma... ada di sana. Biarin dia lihat lo. Biarin dia biasa sama kehadiran lo."
"Terus?"
"Terus, kalo udah biasa, mulai sapaan kecil. Obrolan ringan. Jangan langsung nanyain hidupnya atau masa lalunya. Orang kayak Bima butuh waktu buat percaya."
Kay mengangguk, menyerap setiap kata Mika. "Lo kayak psikolog beneran."
"Gue kan anak Psikologi. Walaupun baru semester 5, setidaknya teori-teori ini berguna."
Mereka berdua tertawa. Suasana kantin kembali ramai oleh tawa dan obrolan mahasiswa lain. Tapi di hati Kay, ada sesuatu yang baru—sebuah tekad kecil untuk mendekati laki-laki itu, perlahan, tanpa tekanan, tanpa topeng.
"Makasih, Mik," ucap Kay tulus.
"Sama-sama. Tapi inget, lo harus janji satu hal."
"Apa?"
"Lo harus jadi diri lo sendiri. Jangan pura-pura jadi orang lain cuma buat dapetin dia. Kalo dia suka lo karena lo pura-pura, itu nggak akan bertahan."
Kay mengangguk mantap. "Gue janji."
Mika tersenyum puas. "Nah, gitu dong. Sekarang, makan tuh nasi gorengnya. Udah dingin."
Kay menatap nasi goreng di depannya, lalu dengan patuh mulai menyendoknya. Rasanya biasa saja, tapi entah kenaja ia merasa lebih bersemangat. Seperti ada tujuan baru dalam rutinitas kampusnya.
Bima Wijaya.
Nama itu kini bukan sekadar nama. Tapi sebuah tantangan, sebuah misteri, dan mungkin—mungkin—awal dari sesuatu yang tak terduga.