Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan dari Masa Lalu
Apartemen penthouse milik Alaska Jasper adalah puncak dari kemewahan dan keamanan, namun bagi Arabella, tempat itu terasa seperti sangkar emas yang dingin. Sudah tiga hari sejak Devan mengusirnya dengan tatapan sedingin es. Ara duduk di tepi jendela besar yang menghadap kerlip lampu kota, memegang tablet milik ayahnya yang sempat ia ambil dari laci rahasia sebelum pergi.
"Makanlah sedikit, Ra. Kau tidak bisa terus-terusan mengonsumsi air mata sebagai nutrisimu," suara Alaska terdengar lembut. Ia meletakkan sepiring pasta di atas meja kaca, lalu duduk di samping Ara, menjaga jarak yang sopan namun protektif.
"Terima kasih, Al. Tapi rasanya ada yang mengganjal di tenggorokanku," bisik Ara. Matanya terpaku pada layar tablet. "Lihat ini... ada pesan masuk di email rahasia Ayah. Pesan itu baru dikirim kemarin."
Alaska mengernyit, ia mendekat untuk melihat. "Dari siapa? Bukankah ayahmu sudah..."
"Anonim. Tapi kodenya... ini kode internal Wren Group yang hanya diketahui oleh orang-orang kepercayaan Kakek," Ara menunjukkan serangkaian angka dan huruf acak. "Artinya, meskipun Kakek di penjara, dia masih punya akses komunikasi keluar. Dia sedang menggerakkan asetnya dari balik jeruji, Al. Dia tidak benar-benar menyerah."
Alaska mengepalkan tangannya. "Pria tua itu benar-benar iblis. Dia pasti sedang mencoba membersihkan sisa-sisa bukti sebelum persidangan dimulai."
"Atau dia sedang mengarahkan bidikannya pada target baru," gumam Ara cemas. "Dan aku takut target itu adalah Devan."
Sementara itu, di Kediaman Wren...
Di kediaman keluarga Wren yang biasanya steril dan teratur, kegelapan kini menjadi penguasa. Devan duduk di ruang tengah, membiarkan dirinya tenggelam dalam bayang-bayang. Di tangannya, sebotol wiski sudah setengah kosong. Baginya yang selalu memuja ketajaman logika, alkohol adalah pelarian terakhir saat otaknya mulai menyerupai kaset rusak yang terus memutar rekaman perpisahan.
Ceklek.
Suara pintu depan terbuka. Langkah sepatu hak tinggi berirama pelan, mendekat ke arah sofa.
"Rumah yang besar untuk pria yang malang," suara Liliana menggema, diiringi aroma parfum musk yang tajam.
Devan mendongak, matanya merah karena pengaruh alkohol dan kurang tidur. "Liliana? Untuk apa kau ke sini?"
Liliana tersenyum lebar. Ia sudah tahu dari orang suruhannya yang menyamar di rumah sakit bahwa Devan mengalami amnesia selektif. Baginya, ini adalah mangsa yang sangat mudah. Ia duduk di lengan sofa, tepat di samping Devan, menatap pria itu dengan tatapan predator.
"Aku ke sini untuk menyadarkanmu, Devan," ucap Liliana, suaranya dibuat selembut mungkin. "Kau meratapi Ara? Kau tahu kenapa dia begitu cepat pindah ke apartemen Alaska? Itu bukan karena kau sakit, tapi karena mereka sudah merencanakan ini sejak lama. Sementara kau sibuk bekerja, mereka sudah membangun sarang di belakangmu. Kecelakaan yang kau alami itu? Mungkin itu cara mereka untuk menyingkirkanmu."
"Ara tidak akan melakukan itu," desis Devan, meski hatinya mulai goyah oleh ingatan surat cerai dan pengakuan Alaska.
"Benarkah? Lalu kenapa dia mencuri kunci penting dari jasmu?" Liliana membungkuk, membisikkan racun ke telinga Devan. "Dia sedang mencari celah untuk mengambil hartamu dan hidup bebas dengan Alaska. Kau hanya penghalang bagi mereka, Devan. Ara menceraikanmu karena dia sudah lama berselingkuh."
Devan terdiam, cengkeramannya pada botol wiski menguat. Kata-kata Liliana menyiramkan bensin pada api cemburu yang membakar ingatannya yang terbatas. Namun, saat Liliana mencoba mengelus pipinya, sesuatu yang aneh terjadi.
Sentuhan Liliana memicu flashback yang menyakitkan.
Tiba-tiba, bayangan sebuah tempat tua yang dingin—sebuah vila—muncul di benak Devan. Ia melihat Liliana, bukan dengan gaun cantik, tapi dengan wajah penuh amarah dan senjata di tangannya.
"Jika aku tidak bisa memilikimu, tidak ada yang bisa, Devan!" suara Liliana dalam ingatannya berteriak.
Lalu, Devan melihat dirinya sendiri sedang melompat, mendekap tubuh Ara di tengah reruntuhan kayu yang ambruk. Rasa sakit di punggungnya seolah kembali terasa secara nyata. Ia mendengar suaranya sendiri, bukan suara yang dingin, melainkan suara yang penuh pengampunan.
"Maafkan aku... aku punya sisa hidupku untuk membayar setiap detik air mata yang kau jatuhkan di depan pintu ruang kerjaku..."
"Akh!" Devan mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan. Botol wiski itu terjatuh ke lantai, isinya tumpah membasahi karpet.
"Devan? Ada apa?" Liliana tampak panik.
"Vila itu..." gumam Devan, napasnya memburu. "Kau... kau mencoba menyakitinya. Aku menyelamatkannya... aku meminta maaf padanya..."
Sakit kepala hebat menyerang Devan seperti ribuan jarum yang menusuk saraf otaknya. Memori tentang kecelakaan memang belum kembali sepenuhnya, tapi perasaan emosional saat ia melindungi Ara di vila itu menghantamnya dengan keras.
"Kau berbohong, Lili!" raung Devan, ia menepis tangan Liliana dengan kasar hingga wanita itu hampir terjatuh. "Aku tidak mengkhianatinya, aku.. Selalu meninggalkanya dan selalu berada di rumah sakit, Aku yang bersalah padanya selama lima tahun ini!"
"Tidak, Devan! Kau hanya berhalusinasi!" Liliana mencoba memeluk Devan untuk menenangkannya, namun Devan terus meronta dalam kesakitan.
Di tempat lain, di apartemen Alaska, Ara baru saja menutup tabletnya dengan wajah pucat setelah membaca pesan anonim tentang rencana 'L'.
"Al, kita harus ke rumah sekarang!" teriak Ara sambil menyambar jaketnya. "Kakek menggunakan Liliana untuk menyiksa mental Devan. Jika Liliana ada di sana saat Devan sedang kacau, dia bisa melakukan hal yang nekat pada dirinya sendiri!" pengakuan Alaska.
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/