NovelToon NovelToon
Cinta Ini Belum Usai

Cinta Ini Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Saudara palsu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baby.Scorpio

Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.5 Kebenaran yang berkarat

Malam di Jakarta terasa lebih pekat dari biasanya. Sekar berdiri di depan cermin besar di kamarnya, menatap pantulan dirinya yang mengenakan gaun sutra berwarna hitam dengan potongan leher rendah yang elegan.

Hitam adalah warna duka, namun malam ini, ia mengenakannya sebagai perisai. Luka di dahinya hampir kering, meninggalkan bekas tipis yang sengaja tidak ia tutupi dengan kosmetik tebal—sebuah pengingat akan kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya, dan pertemuan yang kembali merusak kewarasannya.

Ponselnya bergetar di atas meja rias. Pesan singkat dari Alvin.

“Aku sudah di depan gerbang. Siap untuk mencari jawaban?”

Sekar menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. Ia tidak tahu apakah ia sedang melangkah menuju kebenaran atau justru sedang menggali kuburannya sendiri. Saat ia menuruni tangga rumah utama, suasana terasa sepi. Namun, ia tahu rumah ini punya telinga di setiap dindingnya.

Tepat di anak tangga terakhir, ia berpapasan dengan Rahman. Pria itu tampak berantakan; kemejanya sudah tidak rapi lagi, segelas whisky berada di tangannya, dan matanya merah—entah karena alkohol atau amarah yang tidak tersalurkan.

"Kamu benar-benar pergi dengannya," suara Rahman serak, memenuhi ruang lobi yang sunyi.

Sekar berhenti, tidak menoleh. "Aku sudah bilang, Mas. Aku punya kehidupan sendiri."

"Kehidupan yang melibatkan musuh keluarga kita?" Rahman melangkah mendekat, langkahnya sedikit tidak stabil. "Ayah Alvin sudah puluhan tahun mencoba mengincar posisi keluarga Wijaya di pasar medis. Dan sekarang, dia mengirim anaknya untuk menjeratmu. Kamu terlalu naif, Sekar!"

Sekar akhirnya menoleh, menatap Rahman dengan tatapan yang penuh luka. "Naif? Atau aku hanya sedang mencari udara segar dari penjara yang kamu dan Ayah bangun selama sepuluh tahun ini? Setidaknya Alvin menjanjikan kejujuran, sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan darimu."

"Kejujuran itu akan menghancurkanmu, Sekar!" teriak Rahman, membuat salah satu pelayan di kejauhan terlonjak kaget.

"Biarkan aku hancur kalau begitu. Setidaknya aku hancur karena pilihanku sendiri, bukan karena skenario kalian."

Sekar melangkah pergi, mengabaikan suara gelas yang pecah di belakangnya—pertanda bahwa emosi Rahman telah mencapai puncaknya.

Alvin menjemputnya dengan mobil sport mewah yang melaju membelah kemacetan Jakarta menuju sebuah restoran eksklusif di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman. Di sana, kota Jakarta terlihat seperti hamparan permata yang berserakan, indah namun semu.

"Kamu terlihat cantik malam ini, Sekar. Meski matamu tidak bisa berbohong kalau kamu sedang tertekan," Alvin memulai percakapan setelah mereka memesan makanan. Ia menyesap wine-nya, menatap Sekar dengan tatapan yang sulit dibaca—lembut, namun ada ketajaman di baliknya.

"Jangan berbasa-basi, Alvin. Pesan misterius itu... apa maksudnya? Apa hubungannya keluargamu dengan kematian orang tuaku?" tanya Sekar langsung pada intinya. Ia tidak punya waktu untuk permainan sosialita.

Alvin meletakkan gelasnya. Ia mencondongkan tubuh ke depan, merendahkan suaranya. "Keluarga Wijaya membangun reputasi mereka di atas reruntuhan. Sepuluh tahun lalu, orang tuamu bukan meninggal karena kecelakaan mobil biasa, Sekar. Ayahmu adalah kepala riset di perusahaan farmasi milik kakekku, yang saat itu bekerja sama dengan keluarga Wijaya untuk mengembangkan serum vaskular baru."

Sekar merasa darahnya membeku. "Lalu?"

"Terjadi malpraktik massal dalam uji coba rahasia. Ayahmu ingin melaporkannya ke publik, tapi keluarga Wijaya tidak setuju karena itu akan menghancurkan saham mereka yang baru saja melantai di bursa. Semalam sebelum ayahmu pergi ke kepolisian, mobilnya... kehilangan kendali di jalan tol. Remnya blong."

Sekar mencengkeram serbet di pangkuannya hingga kukunya memutih. "Kamu bohong. Itu hanya teori konspirasi untuk menjatuhkan keluargaku!"

Alvin mengeluarkan sebuah flashdisk kecil dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja. "Di dalam ini ada salinan laporan audit internal yang coba dimusnahkan Tuan Wijaya. Dan ada satu hal lagi... Rahman tahu semuanya. Dia tahu saat itu, tapi dia memilih diam demi melindungi warisannya. Itulah sebabnya dia mengirimmu ke Jerman. Bukan untuk masa depanmu, tapi untuk menjauhkanmu dari bukti-berita yang mulai tercium media saat itu."

Dunia Sekar seolah runtuh. Rahman tahu? Pria yang ia cintai, pria yang ia anggap sebagai pelindungnya, adalah orang yang ikut menyembunyikan kebenaran tentang kematian orang tuanya?

"Kenapa kamu memberitahuku sekarang?" suara Sekar bergetar.

"Karena aku tidak tahan melihatmu dijadikan bidak oleh mereka," Alvin meraih tangan Sekar di atas meja. "Keluarga Pratama ingin keadilan, Sekar. Dan kami butuh aksesmu sebagai kepala bedah di RS Wijaya untuk mengambil sampel data klinis yang masih disimpan di sana. Bantu aku menjatuhkan mereka, dan aku akan memberimu kebebasan yang sesungguhnya."

Makan malam itu berakhir dengan keheningan yang menyesakkan. Sekar menolak diantar pulang ke rumah Wijaya dan meminta Alvin menurunkannya di apartemen pribadinya yang baru ia sewa. Ia butuh waktu untuk berpikir.

Namun, saat ia membuka pintu apartemennya, lampu sudah menyala. Di sofa ruang tamunya, Rahman duduk dengan botol whisky yang hampir kosong di atas meja.

"Keluar, Rahman. Aku sedang tidak ingin bicara," kata Sekar, suaranya dingin dan tajam.

Rahman berdiri, berjalan mendekati Sekar dengan tatapan yang membara. "Apa yang dia berikan padamu? Uang? Informasi? Atau janji-janji manis tentang kebebasan?"

Sekar melemparkan tasnya ke lantai. "Dia memberiku kebenaran, Rahman! Sesuatu yang selama sepuluh tahun ini kamu sembunyikan dariku! Apa benar mobil ayahku disabotase? Apa benar kamu tahu semuanya dan membiarkanku hidup seperti pengemis yang berutang budi pada pembunuh orang tuaku?"

Rahman terdiam. Wajahnya pucat pasi. Diamnya Rahman adalah jawaban yang paling menyakitkan bagi Sekar.

"Jawab aku, Rahman!" teriak Sekar sambil memukul dada Rahman dengan kedua tangannya. "Katakan kalau itu semua bohong! Katakan kalau kamu tidak terlibat!"

Rahman menangkap kedua pergelangan tangan Sekar, menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan. "Aku tidak punya pilihan, Sekar! Saat itu aku masih muda, Ayah mengancam akan menghancurkanmu juga jika aku buka mulut. Aku mengirimmu ke Jerman untuk melindungimu! Aku ingin kamu jauh dari jangkauan Ayah sampai aku punya kekuatan untuk melindungimu sepenuhnya!"

"Melindungiku?" Sekar tertawa pahit, air mata mulai mengalir di pipinya. "Kamu melindungiku dengan kebohongan? Kamu membiarkanku mencintaimu di atas darah orang tuaku sendiri? Kamu monster, Rahman. Kamu tidak ada bedanya dengan Ayah."

"Aku monster karena aku mencintaimu!" Rahman berteriak di depan wajah Sekar. "Aku membuang hati nuraniku demi memastikan kamu tetap hidup dan bisa menjadi dokter hebat! Apa kamu pikir mudah bagiku melihatmu pergi selama sepuluh tahun? Apa kamu pikir mudah melihatmu kembali dan berpura-pura menjadi kakakmu sementara aku ingin memilikimu setiap detiknya?"

Dalam ledakan emosi yang tak terkendali, Rahman menarik Sekar dan menciumnya dengan kasar—sebuah ciuman yang penuh dengan keputusasaan, kemarahan, dan kerinduan yang terlarang.

Sekar mencoba memberontak, namun rasa sakit dan cinta yang telah berkarat selama satu dekade itu meledak secara bersamaan. Ia membalas ciuman itu dengan rasa benci yang mendalam, sebuah ciuman yang terasa seperti racun.

Sekar mendorong Rahman hingga pria itu mundur beberapa langkah. Napas mereka memburu.

"Pergi," bisik Sekar dengan suara yang pecah. "Pergi dari sini sebelum aku benar-benar membencimu lebih dari aku mencintai nyawaku sendiri."

Rahman menatap Sekar dengan tatapan hancur. Ia menyadari bahwa rahasia itu kini telah menjadi jurang yang tak mungkin lagi bisa ia seberangi. Tanpa kata-kata, ia berbalik dan keluar dari apartemen itu, meninggalkan Sekar yang jatuh terduduk di lantai, menangis di bawah cahaya lampu yang dingin.

Di saku gaunnya, Sekar menggenggam flashdisk dari Alvin. Di depannya ada dua pilihan: menggunakannya untuk menghancurkan keluarga Wijaya dan kehilangan Rahman selamanya, atau tetap diam dan hidup dalam kebohongan yang manis.

Kabar lama itu kini sudah menjadi api. Dan Sekar sedang berdiri tepat di tengahnya, siap untuk terbakar.

1
lee dave
update....!
Wayan Sucani
Lanjut dong...
EmakKece
Sepertinya menarik 👏
Wayan Sucani
Asli tegang bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!