Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Konstitusi Cahaya Dan Garis Terakhir
Suasana di Pendopo Utama Kendal malam itu jauh berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Tidak ada lagi ketakutan di wajah para pemimpin desa atau keraguan di mata para santri. Di atas meja jati besar yang kini dipenuhi dengan gulungan kertas kalkir dan botol tinta, Jatmika tidak sedang merancang mesin, melainkan merumuskan kata-kata yang akan menjadi pondasi sebuah peradaban baru.
"Kita tidak boleh membangun negara ini di atas dendam," ujar Jatmika kepada Dewan Rakyat yang terdiri dari petani, teknisi, guru, dan mantan bangsawan yang setia. "Jika kita hanya ingin mengusir Belanda, kita akan menjadi seperti mereka suatu hari nanti. Kita harus membangun negara di atas Rasionalitas, Keadilan, dan Kedaulatan Pengetahuan."
Jatmika merumuskan Konstitusi Republik Sains Nusantara. Poin-poin utamanya revolusioner untuk tahun 1853:
Hak Atas Pendidikan:Setiap warga negara wajib menguasai baca-tulis dan dasar-dasar ilmu alam.Kedaulatan Energi:Sumber daya alam dikelola oleh negara melalui teknologi untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk ekspor kolonial.Hukum berbasis Bukti:Pengadilan tidak lagi berdasarkan status sosial atau keturunan, melainkan fakta dan kebenaran material."Ini adalah piagam kita," kata Jatmika sambil membubuhkan tanda tangannya di bawah sinar lampu pijar. "Mulai detik ini, kita bukan lagi pemberontak. Kita adalah Warga Negara."
Namun, proklamasi diam-diam ini segera disambut oleh genderang perang yang paling keras dari arah Semarang. Kolonel Thorne, yang merasa harga dirinya hancur oleh kegagalan demi kegagalan, telah mengumpulkan Angkatan Darat Ekspedisi Terakhir. Kali ini, ia tidak hanya membawa tank uap atau balon udara, melainkan lima belas ribu infanteri reguler, baterai artileri berat kaliber 100 pon, dan sebuah penemuan baru yang mengerikan dari Eropa: Senapan Mesin Gatling Awal yang diputar manual.
"Jangan ada tawanan," perintah Thorne saat ia menaiki kuda perangnya. "Ratakan Kendal hingga menjadi debu. Jika kita tidak bisa memiliki teknologinya, maka tidak boleh ada yang memilikinya."
Jatmika menerima laporan tentang pergerakan masif ini melalui jaringan telegrafnya. Ia tahu, ini adalah Pertempuran Hidup atau Mati. Seluruh inovasi yang ia bangun selama berbulan-bulan akan diuji dalam satu serangan gelombang besar.
"Suro, aktifkan Garis Pertahanan Tesla Tahap Dua," perintah Jatmika dengan nada yang sangat tenang, ketenangan yang lahir dari kepasrahan seorang ilmuwan pada perhitungannya sendiri. "Yusuf, evakuasi warga non-kombatan ke dalam terowongan bawah tanah Pegunungan Kendeng. Pastikan cadangan oksigen dan air bersih cukup untuk tiga hari."
Jatmika melangkah menuju garis pertahanan terdepan. Ia membawa sebuah senjata yang belum pernah ia gunakan sebelumnya: Senapan Pulsa Elektromagnetik Portabel. Menggunakan kapasitor cair yang ia gendong di punggungnya, senjata ini mampu melontarkan baut baja kecil dengan kecepatan yang bisa menembus perisai baja tank sekalipun.
Saat fajar menyingsing, ufuk barat Kendal berubah menjadi merah oleh debu yang diterbangkan oleh ribuan kaki tentara Belanda. Suara terompet perang mereka terdengar seperti raungan serigala yang lapar.
"Mereka datang," bisik Suro sambil mengokang senapan laras alurnya.
Jatmika berdiri di atas bunker beton tertulangnya, menatap barisan infanteri musuh yang tak berujung. Di belakangnya, menara-menara pemancar energi mulai berderak, menciptakan medan statis yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat dan berbau logam.
"Ingat," suara Jatmika bergema melalui sistem pengeras suara kota. "Kalian tidak hanya bertempur untuk tanah ini. Kalian bertempur untuk masa depan di mana anak cucu kalian tidak perlu menunduk di depan bangsa lain. Hari ini, sains adalah pedang kita, dan kebenaran adalah tameng kita!"
Thorne mengangkat pedangnya ke langit. "SERBUUUU!"
Gelombang pertama infanteri Belanda berlari menerjang, namun mereka tidak disambut oleh tembakan senapan biasa. Mereka disambut oleh Dinding Cahaya. Jatmika melepaskan pelepasan muatan listrik dari menara-menaranya, menciptakan busur-busur petir horizontal yang menyapu padang rumput di depan gerbang kota.
Namun, Thorne telah menyiapkan penangkal. Pasukannya membawa tameng kayu yang dilapisi kain basah dan rantai tembaga yang menjuntai ke tanah—sebuah Sangkar Faraday Portabel untuk mengalirkan listrik ke bumi.
"Mereka belajar!" teriak Yusuf terkejut.
"Mereka memang belajar," Jatmika tersenyum tipis. "Tapi mereka lupa bahwa air dan listrik bukanlah satu-satunya hukum yang aku kuasai. Suro, lepaskan Gelombang Infrasonik Frekuensi Rendah!"
Dari bawah tanah, radiator raksasa mulai bergetar pada frekuensi yang tidak terdengar telinga, namun mampu merusak keseimbangan cairan di telinga dalam manusia dan menyebabkan mual serta pingsan seketika.
Pertempuran besar terakhir untuk Kendal pun pecah. Cahaya petir buatan beradu dengan dentuman artileri konvensional. Di tengah kekacauan itu, Jatmika melihat Thorne di kejauhan, menatapnya dengan penuh kebencian. Inilah duel antara dua era: Era Penjajahan yang sekarat dan Era Sains yang baru lahir.