Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17: Penyerahan Pertama
Pagi setelah insiden di kamar mandi, Aluna terbangun dengan tubuh yang terasa berbeda. Bukan sakit, tetapi... ada sensasi baru. Sensasi dari sentuhan-sentuhan Arsen semalam yang masih terasa di kulitnya.
Ia bangkit perlahan dan berjalan ke cermin besar di kamar mandi. Saat melihat pantulan dirinya, napasnya tercekat.
Lehernya dipenuhi dengan tanda-tanda kemerahan love bites yang Arsen tinggalkan semalam dalam keputusasaannya. Ada di tulang selangka, di bahu, bahkan sedikit di dada bagian atas.
Aluna menyentuh salah satu tanda itu dengan lembut, merasakan sedikit nyeri yang tertinggal.
Ini adalah tanda kepemilikan yang paling nyata. Tanda bahwa ia bukan lagi sepenuhnya milik dirinya sendiri.
"Maaf."
Suara Arsen membuat Aluna terlonjak. Ia menoleh dan melihat Arsen berdiri di ambang pintu kamar mandi, menatap tanda-tanda di tubuh Aluna dengan ekspresi bersalah.
"Aku... terlalu kasar semalam," lanjut Arsen sambil berjalan mendekat. Tangannya terangkat, menyentuh salah satu tanda di leher Aluna dengan lembut. "Aku kehilangan kontrol. Aku menyakitimu."
Aluna menggeleng pelan.
"Anda tidak menyakiti saya," bisiknya. "Ini tidak sakit. Ini hanya..."
Ia berhenti, mencari kata yang tepat.
"Bukti," lanjut Arsen menyelesaikan kalimatnya, suaranya pelan. "Bukti bahwa aku... memilikimu dengan cara yang paling primitif."
Mata kelamnya menatap pantulan Aluna di cermin.
"Aku seharusnya lebih terkontrol. Seharusnya lebih lembut. Tetapi saat aku melihatmu, saat aku menyentuhmu... sesuatu di dalam diriku meledak. Kebutuhan untuk menandai. Untuk memastikan semua orang tahu kamu milikku."
Tangannya bergerak dari leher Aluna ke bahu, menyentuh setiap tanda dengan lembut gerakan yang kontras, seolah meminta maaf pada setiap tanda yang ia tinggalkan.
"Apa kamu... menyesalinya?" tanya Arsen pelan, suaranya bergetar sedikit ketakutan yang nyata di sana.
Aluna berbalik menghadap Arsen, tangannya menyentuh dada pria itu.
"Tidak," jawabnya jujur. "Saya tidak menyesal. Saya... saya menikmatinya. Cara Anda menyentuh saya. Cara Anda menandai saya. Cara Anda memastikan saya tahu... saya milik Anda."
Ia menarik napas dalam.
"Mungkin ada yang salah dengan saya. Mungkin saya seharusnya marah atau takut. Tetapi saya tidak. Saya merasa... aman. Dicintai. Dimiliki dengan cara yang... salah tetapi nyata."
Sesuatu berubah di mata Arsen dari rasa bersalah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih intens.
"Jangan bicara seperti itu," bisiknya dengan suara serak. "Jangan membuatku ingin menandai mu lagi. Jangan membuatku ingin..."
"Lalu tandai," potong Aluna dengan berani, matanya menatap langsung ke mata kelam Arsen. "Jika itu yang Anda butuhkan untuk merasa aman. Jika itu yang membuat Anda tahu saya tidak akan kemana-mana. Maka tandai saya. Miliki saya. Sepenuhnya."
Arsen tersentak, menatap Aluna seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Aluna... kamu tidak tahu apa yang kamu katakan..."
"Saya tahu persis apa yang saya katakan," potong Aluna lagi. Tangannya bergerak ke belakang leher Arsen, menarik pria itu lebih dekat. "Saya menyerahkan diri saya pada Anda, Arsen. Sepenuhnya. Bukan karena paksaan. Bukan karena kontrak. Tetapi karena saya memilih untuk menjadi milik Anda."
Ia menarik napas dalam.
"Ini penyerahan saya yang pertama. Penyerahan yang tulus. Dari hati saya yang sudah jatuh terlalu dalam pada Anda."
Untuk sesaat, dunia berhenti berputar.
Arsen menatap Aluna dengan tatapan yang sangat intens campuran tidak percaya, cinta yang membara, dan sesuatu yang lebih gelap yang tidak bisa ia definisikan.
Lalu ia menarik Aluna ke dalam pelukannya pelukan yang erat, yang gemetar, yang penuh dengan emosi yang meluap.
"Kamu tidak tahu," isaknya di rambut Aluna, "kamu tidak tahu betapa lama aku menunggu untuk mendengar kata-kata itu. Bukan dari paksaan. Bukan dari ketakutan. Tetapi dari... pilihan."
Tangannya mencengkeram Aluna lebih erat.
"Aku mencintaimu," bisiknya dengan suara pecah. "Aku mencintaimu dengan cara yang salah, dengan cara yang gelap, tetapi aku mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini."
Aluna merasakan air mata Arsen jatuh di bahunya. Ia membalas pelukan itu dengan erat.
"Dan saya mencintai Anda," bisiknya. "Dengan semua kegelapan Anda. Dengan semua obsesi Anda. Saya mencintai Anda."
Mereka berdiri di sana, memeluk erat di depan cermin, dua jiwa yang akhirnya menemukan kedamaian dalam penyerahan dan kepemilikan yang tulus.
Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama.
Sore hari itu, saat Arsen sedang di kantor, Aluna menerima paket misterius. Tidak ada nama pengirim, hanya alamat mansion Arsen.
Dengan ragu, ia membuka paket itu.
Di dalamnya, sebuah amplop cokelat berisi foto-foto.
Foto-foto Anjani.
Anjani yang tersenyum. Anjani dengan Arsen yang tampak lebih muda dan lebih bahagia. Anjani yang... juga memakai kalung yang sama dengan yang sekarang Aluna pakai kalung dengan inisial "A".
Jantung Aluna berdetak tidak nyaman.
Di bagian bawah amplop, ada sebuah catatan dengan tulisan tangan yang rapi,
"Kamu bukan yang pertama. Dan kamu tidak akan menjadi yang terakhir. Arsen Mahendra tidak bisa mencintai tanpa menghancurkan. Tanyakan padanya tentang rem mobil Anjani. Tanyakan apa yang benar-benar terjadi malam itu.
Sebelum terlambat,
Seseorang yang peduli"
Aluna menatap catatan itu dengan tangan gemetar. Ini pasti dari Darren. Siapa lagi?
Ia ingin membuang foto-foto itu, ingin tidak mempercayai kata-kata itu.
Tetapi... keraguan mulai merayap.
Rem mobil? Apa maksudnya?
Saat Arsen pulang malam itu, Aluna duduk di ruang keluarga dengan foto-foto itu tergeletak di meja kopi. Ia sudah menunggu sejak sore, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tidak ingin ia tanyakan tetapi harus.
Arsen masuk dengan senyum lebar senyum yang langsung pudar saat melihat ekspresi Aluna dan foto-foto di meja.
"Aluna? Ada apa..."
Matanya jatuh pada foto-foto Anjani. Wajahnya langsung berubah pucat.
"Di mana kamu dapat ini?" tanyanya dengan suara yang tiba-tiba menjadi sangat serak.
"Paket. Tadi sore," jawab Aluna pelan. "Tidak ada nama pengirim."
Arsen meraih foto-foto itu dengan tangan gemetar, menatap wajah Anjani yang tersenyum di sana.
"Darren," desisnya dengan amarah yang mulai membangun. "Ini pasti Darren. Dia..."
"Ada catatan," potong Aluna sambil menyodorkan kertas itu.
Arsen membaca catatan itu, dan ekspresinya berubah dari amarah menjadi... ketakutan.
"Aluna, ini bohong," ucapnya cepat sambil melempar kertas itu. "Apa pun yang dia tulis di sana, itu bohong. Aku tidak..."
"Rem mobil Anjani," potong Aluna dengan suara yang tenang terlalu tenang. "Apa maksudnya, Arsen?"
Arsen terdiam. Tubuhnya menegang.
"Aluna..."
"Ada investigasi tentang kecelakaan itu, kan?" lanjut Aluna, suaranya mulai bergetar. "Ada... ada pemeriksaan pada mobil Anjani?"
Keheningan yang menyakitkan membentang di antara mereka.
"Jawab saya, Arsen," bisik Aluna, air mata mulai menggenang. "Tolong katakan Darren bohong. Katakan Anda tidak ada hubungannya dengan..."
"Aku tidak membunuhnya!" teriak Arsen tiba-tiba, suaranya memenuhi ruangan. "Aku mencintai Anjani! Aku tidak akan pernah..."
Suaranya terputus, tubuhnya gemetar.
Aluna menunggu, jantungnya berdetak sangat cepat.
"Tetapi," lanjut Arsen dengan suara yang sangat pelan, "ada... investigasi. Setelah kecelakaan. Polisi menemukan bahwa rem mobilnya... rusak. Bukan karena keausan alami. Ada yang memanipulasi."
Aluna merasakan darahnya membeku.
"Dan... dan mereka curiga pada Anda?"
Arsen mengangguk pelan, air mata mulai mengalir di pipinya.
"Ya. Karena kami bertengkar malam itu. Karena saksi melihat aku... sangat marah. Karena aku punya motif orang pikir aku possessive berlebihan dan tidak ingin Anjani pergi."
Ia jatuh terduduk di sofa, wajahnya tertutup kedua tangannya.
"Tetapi aku tidak melakukannya, Aluna," isaknya. "Demi Tuhan, aku tidak melakukannya. Investigasi akhirnya ditutup karena tidak ada bukti cukup. Tetapi rumor itu... rumor itu tidak pernah hilang sepenuhnya."
Aluna berdiri terpaku, tidak tahu harus berkata apa.
"Darren menggali masa lalu itu," lanjut Arsen sambil mendongak menatap Aluna dengan mata yang memerah. "Dia ingin membuatmu ragu padaku. Dia ingin memisahkan kita dengan membuat kamu takut padaku."
Ia bangkit, berjalan mendekat pada Aluna, tetapi Aluna mundur selangkah refleks yang membuat hati Arsen hancur.
"Aluna, tolong," bisiknya putus asa. "Tolong percaya padaku. Aku tidak membunuh Anjani. Aku mencintainya. Dan aku mencintaimu. Aku tidak akan pernah..."
"Saya tahu," potong Aluna pelan.
Arsen terdiam, menatap Aluna dengan tidak percaya.
"Apa?"
"Saya tahu Anda tidak membunuhnya," ulang Aluna dengan lebih jelas. Air mata mengalir di pipinya. "Saya... saya percaya pada Anda. Saya hanya..."
Suaranya pecah.
"Saya hanya butuh mendengar dari Anda. Bukan dari catatan anonim. Saya butuh Anda menceritakannya pada saya dengan sukarela, bukan karena terpojok."
Arsen menatapnya lama, lalu melangkah maju kali ini Aluna tidak mundur. Ia menarik Aluna ke dalam pelukannya yang gemetar.
"Maaf," isaknya di rambut Aluna. "Maaf aku tidak pernah cerita. Aku... aku malu. Aku takut kamu akan melihatku berbeda. Takut kamu akan percaya rumor itu."
Aluna membalas pelukan itu, menangis di dada Arsen.
"Saya tidak percaya rumor," bisiknya. "Saya percaya pada Anda. Pada pria yang saya cintai. Pada pria yang mencintai saya dengan cara yang salah tetapi tulus."
Mereka berdiri di sana, memeluk erat, menangis bersama melepaskan ketakutan, melepaskan keraguan, melepaskan semua beban yang selama ini mereka bawa.
Dan saat mereka akhirnya terpisah, mata mereka bertemu mata yang penuh air mata tetapi juga... kepercayaan.
"Aku mencintaimu," bisik Arsen.
"Saya juga mencintai Anda," balas Aluna.
Dan kali ini, kata-kata itu terasa lebih berat. Lebih dalam. Karena diucapkan setelah melewati badai keraguan dan keluar tetap bersama.
Penyerahan Aluna yang pertama sudah terjadi.
Dan tidak ada yang bisa memisahkan mereka lagi.
Bahkan tidak Darren dengan semua permainan kotornya.