Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Kecupan Di Bawah Payung Pedang Pora
Gema sholawat berkumandang syahdu mengiringi langkah seorang pria gagah dengan seragam PDU putih yang sangat bersih. Di hadapan penghulu dan saksi, pria itu, Erlaga Patikelana mengatur napasnya.
Di depannya, duduk seorang pria paruh baya dengan wibawa yang luar biasa, Dallas, yang merupakan Papa dari wanita yang dicintainya.
Dallas menjabat tangan Erlaga dengan sangat erat. Getaran antara dua pria itu menyiratkan sebuah penyerahan tanggung jawab yang besar.
"Ananda Erlaga Patikelana bin Erkana, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Syafina Putri Andallas binti Dallas, dengan mas kawin logam mulia seratus gram dan seperangkat alat salat dibayar tunai!"
Erlaga menjawab dengan satu tarikan napas, suaranya menggelegar mantap, mencerminkan ketegasan seorang prajurit. "Saya terima nikah dan kawinnya Syafina Putri Andallas binti Dallas dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Sah?"
"SAH!"
Seketika, Syafina yang menunggu di dalam ruangan berbeda, memejamkan mata. Butiran bening jatuh di pipinya yang sudah dirias cantik. Kini ia bukan lagi sekadar gadis kecil Papanya, ia adalah istri sah dari seorang perwira bernama Erlaga.
Saat Syafina dituntun keluar untuk bertemu Erlaga, suasana masjid menjadi riuh rendah oleh kekaguman.
Erlaga dengan gagah mengenakan PDU perwiranya dan Syafina dengan gaun putih mutiara yang elegan benar-benar pemandangan yang sempurna.
Erlaga berdiri menyambut Syafina. Saat tangan mereka bersentuhan untuk pertama kalinya sebagai suami istri, ada sengatan listrik yang membuat keduanya sama-sama terpaku.
Syafina mencium punggung tangan Erlaga dengan takzim, tanda bakti yang tulus.
Erlaga kemudian menarik perlahan cadar tipis yang menutupi wajah istrinya. Saat wajah cantik Syafina terlihat jelas, Erlaga tidak tahan untuk tidak tersenyum lebar. Ia menangkup wajah Syafina, lalu mendaratkan kecupan lama di keningnya.
Namun, seolah ingin menegaskan kepemilikannya setelah drama Dokter Prita yang menguras emosi, Erlaga sedikit menundukkan wajah. Di depan keluarga Erkana dan keluarga Dallas yang menonton dengan haru, Erlaga mengecup bibir Syafina dengan lembut namun penuh penekanan.
Sebuah ciuman pertama yang halal, yang membuat Syafina nyaris lemas jika tidak segera dipeluk pinggangnya oleh tangan kekar Erlaga.
"Mulai detik ini, tidak ada yang bisa menyentuhmu atau menghinamu lagi, Syafina Patikelana," bisik Erlaga tepat di depan bibir istrinya. Syafina hanya bisa merona hebat, menyembunyikan wajahnya di balik pundak bidang sang suami.
Resepsi yang digelar siang harinya di sebuah hotel bintang lima berlangsung sangat mewah. Dan kini mereka akan melakukan tradisi Pedang Pora.
Erlaga dan Syafina berdiri di ujung lorong panjang. Para rekan sejawat Erlaga, para perwira muda, sudah berdiri berjajar dengan pedang terhunus ke atas, membentuk gapura perunggu yang mengkilap.
Setiap langkah yang mereka ambil diiringi dentingan pedang yang beradu di atas kepala mereka. Syafina merasa seperti di alam mimpi. Ia menggandeng lengan Erlaga dengan erat, sementara Erlaga berjalan dengan dagu terangkat, bangga memamerkan "daun muda" yang menurut Prita tidak selevel dengannya. Namun, di mata Erlaga adalah berlian yang paling bersinar.
Di tengah prosesi, tim korps musik memainkan lagu yang romantis namun gagah. Erlaga sempat berbisik di tengah keramaian, "Lelah, Sayang?"
Syafina menggeleng, senyumnya tidak luntur sedikit pun. "Selama ada Kak Laga di samping Fina, lelahnya tidak terasa."
"Tahan sebentar lagi," bisik Erlaga dengan nada yang tiba-tiba berubah sedikit nakal. "Setelah ini, Kakak tidak akan membiarkanmu berbagi senyum dengan orang lain lagi. Hanya untuk Kakak sendiri."
Acara resepsi yang dihadiri ribuan tamu itu akhirnya berakhir saat matahari mulai terbenam di ufuk barat.
Syafina sudah merasa kakinya sedikit bengkak karena high heels, sementara Erlaga pun mulai merasa gerah dengan seragam lengkapnya.
Begitu mereka masuk ke dalam lift khusus menuju Bridal Suite, suasana mendadak berubah. Jika tadi di pelaminan mereka harus menjaga jarak dan bersikap formal, kini di dalam kotak besi yang sempit itu, Erlaga langsung menarik Syafina ke sudut lift.
Ia mengunci tubuh Syafina dengan kedua lengannya. Napas Erlaga yang hangat menerpa wajah Syafina yang masih tertutup tile tipis.
"Kak... ada CCTV," cicit Syafina, jantungnya berdebar tidak karuan melihat sorot mata Erlaga yang tampak "lapar".
"Biarkan saja. Mereka tahu kita baru menikah," sahut Erlaga cuek. Ia mencium leher Syafina sekilas, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Syafina, kamu tahu? Menunggumu selesai menyalami tamu tadi rasanya lebih lama daripada menunggu masa satgas berakhir."
Syafina hanya bisa menunduk, meremas jas PDU Erlaga. Ia tahu, suaminya ini sedang menahan diri dengan sangat keras.
Pintu kamar hotel terbuka. Wangi mawar merah langsung menyeruak. Kamar itu sudah disulap menjadi tempat yang paling romantis dengan lilin-lilin kecil dan taburan kelopak bunga di atas ranjang king size.
Syafina masuk dengan langkah ragu. Ia merasa sangat gugup. Ini adalah malam pertamanya, dan ia sama sekali tidak punya pengalaman. Syafina merasa tegang. Ia duduk di pinggir ranjang, mencoba melepaskan hiasan kepala yang berat.
Erlaga menutup pintu dengan bunyi klik yang sengaja dibuat terdengar jelas. Ia melepaskan kancing kerah seragamnya satu per satu sambil berjalan mendekati Syafina. Topi perwiranya ia letakkan di meja dengan asal.
"Perlu bantuan, Sayang?" tanya Erlaga dengan suara bariton yang berat dan serak.
Syafina menoleh, melihat Erlaga yang kini sudah membuka jas seragamnya, menyisakan kemeja putih yang pas di badan, memperlihatkan otot-otot dadanya yang tercetak jelas. "I-itu, Kak... payet di belakang gaunnya agak susah diraih."
Erlaga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh arti. Ia duduk di belakang Syafina, memutar tubuh istrinya agar membelakanginya. Dengan jemari yang kasar namun penuh kelembutan, ia mulai menyentuh kancing-kancing di punggung Syafina.
Setiap kali kulit jari Erlaga tidak sengaja bersentuhan dengan punggung polos Syafina, gadis itu berjengit kecil. Erlaga bisa merasakan tubuh istrinya gemetar.
"Kenapa gemetar, hmm?" bisik Erlaga di tengkuk Syafina, lalu mengecup pundaknya yang sudah terbuka sedikit.
"Fina... Fina hanya gugup, Kak."
Erlaga memutar tubuh Syafina kembali menghadapnya. Ia menatap dalam mata bening Syafina. "Kakak sudah menunggu momen ini sejak pertama kali melihatmu di butik Mama Syafana. Tapi Kakak tahu, kamu pasti lelah. Mandilah dulu, bersihkan dirimu."
Syafina merasa sedikit lega, namun juga sekaligus semakin deg-degan. "Kakak nggak mandi?"
Erlaga mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. "Kakak mandi di kamar mandi sebelah. Jangan lama-lama, Sayang. Kakak bukan pria yang sabar jika sudah menyangkut dirimu."
Erlaga memberikan satu kecupan singkat di hidung Syafina sebelum berdiri dan membiarkan istrinya masuk ke kamar mandi dengan langkah terburu-buru. Di balik pintu kamar mandi, Syafina memegang dadanya yang berdegup kencang.
Sementara di luar, Erlaga menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya yang sudah meledak-ledak.
Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang bagi sang perwira dan Syafina sang makmum.
Eh... Eh... Gimana? Lanjut gak bab 25?