NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Yuki

Cinta Untuk Yuki

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Yatim Piatu / Pelakor jahat / Selingkuh
Popularitas:948
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.

Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.

Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Pemulihan dengan Kehangatan dan Energi Positif

Hari itu udara segar pagi menyelinap melalui jendela besar, menyinari ruangan mewah rumah Kai. Yuki duduk di ruang tamu sambil memegang cangkir teh hangat, matanya menatap cahaya yang menembus dedaunan di halaman. Ibu Kai duduk di kursi di sebelahnya, senyum lembut menghiasi wajahnya.

“Yuki, Nak,” ucapnya, mencondongkan tubuh, “hari ini aku ingin kau melakukan sesuatu yang membuat hatimu lebih ringan.”

Yuki menatap Ibu, ragu-ragu. “Apa maksud Ibu?”

“Berkebun, memasak, olahraga ringan. Sesuatu yang bisa mengalirkan energi positif ke tubuhmu. Agar trauma yang kau rasakan tidak menetap terlalu lama,” jawab Ibu Kai, suaranya hangat tapi tegas.

Yuki menarik napas panjang, pikirannya bercampur aduk. “Tapi aku… aku tidak terbiasa. Rasanya canggung.”

Ibu Kai menepuk tangannya pelan. “Tidak apa-apa. Aku akan menemanimu, menuntunmu langkah demi langkah. Tidak perlu sempurna, cukup nikmati prosesnya.”

Di halaman belakang rumah, Yuki melihat deretan tanaman hijau dengan bunga berwarna-warni. Bau tanah basah menyatu dengan aroma segar daun, memberikan sensasi menenangkan. Ibu Kai menyerahkan sarung tangan dan sekop kecil. “Mulailah dengan yang sederhana. Sentuh tanah, rasakan udara. Biarkan setiap gerakan menenangkan pikiranmu.”

Yuki menekankan telapak tangannya pada tanah lembab, merasakan dinginnya yang menyebar perlahan hingga lengan. Napasnya mulai stabil, detak jantungnya sedikit melambat. Ibu Kai tersenyum, melihat perubahan halus di wajah Yuki.

Kai muncul di teras belakang, matanya sedikit terbelalak melihat mereka. “Berkebun?” tanyanya, nada suaranya memadukan rasa heran dan kagum.

Ibu Kai menoleh, tersenyum cerdas. “Ya, Nak. Ini cara sederhana untuk mengalirkan energi positif. Trauma Yuki perlu diimbangi dengan aktivitas fisik dan kreatif, bukan hanya ketenangan pasif.”

Kai menunduk sedikit, menatap Yuki yang sedang menata tanaman. Sebuah senyum tipis muncul di bibirnya. “Aku tidak menyangka… ini ide yang cemerlang, Ibu.”

Yuki menoleh ke arah Kai, wajahnya memerah tipis. “Aku… tidak tahu harus bagaimana. Tapi… rasanya… lebih tenang.”

Ibu Kai menepuk bahunya. “Lihat? Kau sedang belajar memberi tubuhmu kesempatan untuk sembuh, Nak. Aktivitas fisik dan sentuhan alam membantu menyeimbangkan pikiranmu.”

Seiring pagi berganti siang, mereka pindah ke dapur. Aroma rempah dan sayuran segar memenuhi udara. Ibu Kai mengajarkan Yuki cara menyiapkan hidangan sederhana namun sehat. “Fokus pada setiap gerakan, rasakan tekstur bahan makanan, hirup aroma alami. Energi positif akan masuk bersamaan.”

Yuki menirukan gerakan Ibu Kai, sedikit canggung, namun setiap langkah memberi rasa pencapaian. Kai berdiri di dekat pintu dapur, matanya tetap tertuju pada Yuki. Ia tersenyum melihat bagaimana Ibu Kai membimbingnya. Hatinya tersentuh, sekaligus merasa campur aduk. Ada rasa bangga, rasa lega, tapi juga cemburu halus karena Yuki begitu nyaman dengan sosok ibunya.

“Lihat, Nak,” kata Ibu Kai sambil memegang tangan Yuki, “perubahan kecil memberi hasil besar. Kau tidak menyadarinya, tapi energi positif itu sudah mengalir.”

Yuki menarik napas, tersenyum tipis. “Aku merasa… sedikit lebih kuat. Seperti… bisa bernapas lebih lega.”

Kai melangkah maju, menepuk bahu Yuki perlahan. “Aku senang melihatmu tersenyum. Rasanya… lega, melihatmu memulihkan diri.”

Siang hari berlanjut dengan olahraga ringan di halaman belakang. Yuki mengikuti gerakan yang ditunjukkan Ibu Kai—stretching sederhana, langkah kaki lembut, pernapasan teratur. Tetes keringat menempel di dahi, namun setiap gerakan membuat tubuhnya terasa lebih hidup. Ai Chikara tertidur di kursi ayun di samping, aman dan nyaman.

“Energi tubuh dan pikiran harus selaras, Nak,” kata Ibu Kai. “Setiap gerakan menenangkan emosi, setiap tarikan napas mengurangi ketegangan.”

Yuki menatap langit biru, menarik napas panjang. “Aku… merasa lega… seperti beban yang menekan dadaku perlahan menghilang.”

Kai tersenyum tipis, menunduk melihat Yuki yang sedang fokus. “Aku bisa merasakan perubahan itu, Yuki. Aku senang kau mau mencoba.”

Ibu Kai menepuk tangan mereka berdua. “Lihat, Nak? Trauma bisa diredakan jika hati dan tubuh bekerja sama. Kau harus memberi waktu untuk dirimu sendiri, tanpa menekan perasaanmu.”

Hari berganti sore, udara menjadi hangat. Yuki mulai menata tanaman kembali, mengatur posisi pot-pot bunga. Setiap gerakan sederhana memberi kepuasan tersendiri. Kai duduk di bangku dekatnya, menonton sambil memikirkan masa depan. Ia merasa perlu menjaga jarak emosional tanpa membuat Yuki merasa sendiri, namun hatinya tetap ingin selalu berada di dekatnya.

“Yuki… kau tahu aku selalu ada untukmu, kan?” ucap Kai perlahan.

Yuki menoleh, tersenyum tipis. “Aku tahu, Kai. Tapi… aku juga ingin belajar mandiri. Aku… ingin bisa menghadapi rasa takut tanpa tergantung sepenuhnya padamu.”

Kai menunduk, menahan perasaan campur aduk. “Itu yang aku inginkan juga. Tapi tetap… jangan ragu memanggilku saat kau merasa gentar.”

Malam hari, mereka duduk di ruang keluarga, Yuki menatap Ai Chikara yang sedang bermain dengan mainan sederhana. Ibu Kai duduk di sofa lain, tersenyum melihat kehangatan itu. “Lihat, Nak… kegiatan sederhana bisa menenangkan hati. Kau bahkan mulai tersenyum tanpa merasa bersalah.”

Yuki menatap Ibu Kai dengan mata berkaca-kaca. “Aku… merasa diterima. Aku merasa aman… dan aku tahu aku masih belajar. Tapi… rasanya berbeda, Bu. Aku tidak takut sepenuhnya.”

Kai menarik napas panjang, hatinya panas dan hangat sekaligus. “Aku senang melihatmu pulih… tapi aku juga tidak bisa menahan rasa cemburu karena kau merasa nyaman dengan Ibu Kai.”

Yuki menoleh, tersenyum tipis. “Kai… kau pelindungku, tapi aku juga membutuhkan bimbingan Ibu. Itu tidak mengurangi rasa aman yang aku rasakan bersamamu.”

Ibu Kai tersenyum, menepuk bahu Kai. “Itulah pelajaran, Nak. Membiarkan orang lain menolongmu bukan berarti kehilangan kendali. Justru itu kekuatan, bukan kelemahan.”

Hari demi hari berlalu, Yuki semakin sering melakukan aktivitas yang dia sukai: berkebun, memasak, berolahraga ringan, dan menyusun dekorasi rumah kecil. Kai terus memperhatikan, kadang tersenyum, kadang menahan perasaan cemburu halus. Ia belajar menyeimbangkan jarak emosional tanpa mengabaikan perlindungan yang dibutuhkannya.

Baik! Aku lanjutkan ceritanya dengan fokus pada pemulihan emosional Yuki, perkembangan Ai Chikara yang sekarang 8 bulan, dan interaksi Kai-Yuki-Ai Chikara. Cerita ini akan menekankan kebahagiaan keluarga kecil mereka, perkembangan karakter, dan peran Ibu Kai sebagai pendukung. Aku akan menyusunnya panjang dan rapi.

---

Pagi haru bersinar, matahari hangat menembus tirai jendela kamar. Suara riang bayi bersahutan memenuhi ruangan. Ai Chikara, yang kini menginjak usia delapan bulan, tengah duduk di kursi makan bayi, tangannya menjulurkan sendok kecil ke mangkuk berisi bubur lembut. Matanya bersinar, bibir mungilnya mengerut lucu setiap kali ia menelan suapan.

Yuki berdiri di sampingnya, tangan menahan punggung bayi agar tetap tegak. Wajahnya berseri, tersenyum lebar melihat anaknya tumbuh ceria. “Bagus, Ai… suap pertama, ayo, Nak,” ucapnya lembut. Suara Yuki kini berbeda, lebih tenang dan damai dibandingkan masa lalu yang penuh ketakutan.

Ibu Kai masuk membawa nampan kecil berisi potongan buah dan yogurt. “Yuki, jangan lupa makan juga, Nak. Kau perlu energi untuk mengurus Ai,” katanya sambil tersenyum hangat.

Yuki menoleh, matanya berbinar. “Iya, Bu… terima kasih. Aku merasa… lebih ringan sekarang. Rasanya… aku bisa berdamai dengan masa lalu.”

Kai muncul dari arah pintu kamar dengan pakaian kasual, langkahnya pelan agar tidak mengejutkan mereka. Ia menatap Yuki dan Ai Chikara, senyum tipis muncul di bibirnya. “Pagi yang menyenangkan,” ucapnya rendah. “Bayi ini sudah lapar ya?”

Yuki menunduk, tersenyum malu. “Ya, Nak… kadang aku kewalahan, tapi sekarang… aku senang bisa mengurusnya sendiri. Tapi jika aku kelelahan, kau mau bantu, kan?”

Kai mengangguk. “Tentu… aku akan membantumu, kapanpun kau butuh. Jika aku tidak ke kantor atau sedang libur, aku bisa menemanimu memberi makan Ai.”

Ai Chikara menatap Kai, matanya berbinar, lalu tersenyum kecil. Ia meraih tangan Kai dengan antusias. “Kai… nak… kau juga ikut makan?” ucap Yuki sambil tertawa kecil.

Kai tersenyum tipis, menepuk kepala bayi itu lembut. “Aku akan ikut, Nak. Tapi kau harus mau menunggu sebentar sampai aku duduk di sini.”

Yuki tertawa pelan, menggeser kursi Kai agar dekat dengan meja makan bayi. Ai Chikara menepuk tangan kecilnya dengan gembira. “Sepertinya dia senang, Kai,” kata Yuki sambil menatap Kai yang mulai menyendokkan bubur ke mulut bayi itu.

Kai menunduk, penuh perhatian. “Ya… lihat senyumnya… rasanya semua lelah semalam hilang begitu melihatnya bahagia.”

Ibu Kai duduk di sofa dekat meja makan, menatap mereka dengan mata berbinar. “Ini… pemandangan yang indah. Yuki, lihat, anakmu tumbuh sehat, ceria, dan penuh energi. Kau berhasil melewati masa sulit, Nak. Kau bisa bahagia lagi, dan melihat Ai bahagia adalah bukti nyata.”

Yuki menunduk, tersenyum hangat. “Aku tidak bisa melupakan malam-malam gelap itu, Bu… tapi berkat Ibu, berkat Kai, aku belajar bahwa ada kehidupan baru yang bisa aku nikmati. Aku… bahagia sekarang.”

Kai menatap Yuki, wajahnya serius namun lembut. “Aku senang mendengar itu… tapi aku juga ingin kau tahu, Yuki, aku di sini untuk kalian berdua. Aku akan tetap mengurus, melindungi, dan menemani kalian. Tidak ada yang akan menyakiti kalian lagi.”

Ai Chikara menggapai sendok Kai, tertawa riang ketika bubur sedikit tercecer di mangkuk. Kai tertawa pelan, menatap Yuki. “Lihat, Nak… Ai sudah lucu sekali sekarang. Usianya delapan bulan, sudah mulai bisa makan sendiri sedikit-sedikit.”

Yuki tertawa, matanya berkaca-kaca. “Ya… dia semakin pintar. Aku senang bisa melihat perkembangannya setiap hari. Rasanya… hidupku sekarang jauh lebih penuh warna.”

Ibu Kai menepuk tangan mereka berdua. “Ini memang saat yang tepat untuk membangun kebahagiaan. Trauma masa lalu tetap ada, tapi energi positif yang kalian ciptakan bersama membantu mengimbanginya. Kau lihat sendiri, Nak, Ai bahagia, dan kau bisa tersenyum tanpa beban.”

Kai menunduk, hatinya campur aduk. “Aku ingin memastikan semuanya berjalan lancar… tapi aku juga… belajar menahan rasa cemburu halus karena Yuki tampak begitu nyaman bersama Ibu.”

Yuki menatap Kai dengan mata lembut, tangan menepuk bahunya. “Kai… aku menghargai rasa pedulimu. Tapi kau tidak perlu cemburu. Aku butuh Ibu untuk bimbingan, tapi aku butuhmu… untuk perlindungan, untuk cinta, untuk rasa aman.”

Kai menarik napas panjang, tersenyum tipis. “Baik… aku akan tetap di sini. Aku ingin menjadi pelindung yang kalian percayai, dan aku akan belajar menyeimbangkan jarak emosional agar kau tetap kuat tanpa kehilangan dukungan dari orang lain.”

Hari itu dihabiskan dengan rutinitas bahagia. Yuki memberi makan Ai Chikara sambil tersenyum, Kai membantu ketika ia lelah, Ibu Kai mengawasi dengan penuh perhatian. Setiap tawa bayi menjadi energi positif bagi mereka semua.

Siang menjelang sore, Yuki dan Kai memindahkan Ai Chikara ke halaman belakang untuk bermain sebentar. Rumput lembut dan udara segar memberi rasa kebebasan bagi bayi itu. Ia merangkak, tertawa lepas, menepuk tangan kecilnya. Kai tersenyum melihatnya, sedangkan Yuki ikut tertawa, merasakan kebahagiaan sederhana yang jarang ia rasakan sebelumnya.

“Lihat, Ai begitu ceria… rasanya hatiku ikut melompat,” kata Yuki.

Kai menunduk, menatap anaknya, lalu Yuki. “Ya… dan aku senang bisa melihat senyummu juga. Kau pantas merasakan kebahagiaan ini setelah semua yang terjadi.”

Ibu Kai menatap mereka dari teras rumah. “Ini yang ibu harapkan. Trauma bisa diredakan perlahan dengan aktivitas positif, perhatian, dan cinta yang tulus. Yuki, kau sekarang mampu berdamai dengan masa lalumu, dan Kai, kau belajar menyeimbangkan rasa cemburu dengan kewajiban menjaga mereka.”

Malam hari, setelah Ai Chikara tertidur pulas, Yuki duduk di sofa dekat Kai. “Kai… aku merasa kuat sekarang. Energi positif yang masuk hari ini… rasanya aku bisa bernapas lebih lega.”

Kai menatapnya, tangan menepuk pundak Yuki pelan. “Aku senang mendengar itu. Aku akan tetap di sini, Nak… untuk menjaga kalian berdua, tanpa mengurangi ruangmu untuk tumbuh dan kuat sendiri.”

Yuki menunduk, tersenyum. “Terima kasih… Kai. Aku tahu aku masih belajar, tapi aku bahagia sekarang. Dan aku merasa… siap menghadapi hari-hari mendatang, bersama kalian berdua.”

Kai menatap langit malam dari jendela, matanya memantulkan cahaya bulan. “Aku pun bahagia… melihat keluarga kecil ini tumbuh, bahagia, dan aman. Ini adalah tujuan yang sebenarnya… melindungi bukan hanya dengan kekuatan, tapi juga dengan cinta, kesabaran, dan pengertian.”

Dan malam itu, di rumah mewah keluarga Kai, ketiga jiwa itu—Yuki, Ai Chikara, dan Kai—merasakan kedamaian. Trauma masa lalu tidak hilang sepenuhnya, tapi energi positif dari Ibu Kai, kasih sayang Kai, dan kebahagiaan Ai Chikara perlahan menyeimbangkan luka hati Yuki. Senyum mereka menjadi bukti nyata: masa lalu bisa diterima, hidup bisa dijalani, dan kebahagiaan bisa dibangun kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!