Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyatakan
Cahaya senja itu jatuh dengan cara yang unik. Tidak terlalu menyilaukan, tapi cukup untuk membuat segalanya tampak sebenarnya. Tidak ada bayangan berlebihan, tidak ada warna yang menipu. Alvaro berdiri beberapa langkah dari Aurellia, kamera menggantung di lehernya, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada teknis.
Tangannya masih mengingat klik terakhir. Foto terakhir. Wajah Aurellia yang tenang, damai, namun penuh emosi—seolah dia berada di titik di mana tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.
Alvaro menurunkan kameranya dengan lembut.
“Aku udah ngerasa cukup,” ujarnya pelan.
Aurellia menoleh. “Tapi baru dikit yang kefoto. ”
“Justru itu,” jawab Alvaro. “Aku nggak mau kebanyakan. ”
Mereka berdiri berhadapan, jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi cukup membuat Alvaro merasakan detak jantungnya lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu yang mengganggu sejak ia mengambil foto terakhir. Bukan keragu-raguan. Bukan ketakutan. Lebih kepada… waktu yang tidak bisa ditunda.
Alvaro mengusap tengkuknya, menarik napas dalam-dalam. “Rel…”
Nada suaranya terdengar berbeda. Aurellia segera menyadarinya.
“Iya? ” jawabnya perlahan.
“Aku udah lama mikir,” kata Alvaro, lalu terdiam sejenak. Ia menatap Aurellia, benar-benar menatap, bukan sebagai seorang fotografer, bukan sebagai teman nongkrong di kafe, tetapi sebagai seseorang yang ingin berbicara jujur.
“Aku ngerasa takut,” lanjutnya akhirnya.
Aurellia mengedipkan matanya. “Takut kenapa? ”
“Takut kalo aku terlalu lama diam,” katanya. “Takut kalo aku kebanyakan mikir sampai pada akhirnya… kamu ngerasa kalo aku nggak pernah serius. ”
Pernyataan itu membuat Aurellia menarik napas pendek. Dadanya bergetar halus.
Alvaro melangkah setengah langkah lebih dekat. “Aku bukan orang yang mudah ungkapin perasaan. Biasanya aku simpen di pikiran. Di kamera. Di hal-hal yang nggak langsung. ”
Ia tersenyum kecil, getir. “Tapi hari ini, waktu aku motret kamu… aku sadar satu hal. ”
Aurellia menahan napas. “Apa itu? ”
“Aku nggak cuma pengen lmotret kamu,” kata Alvaro dengan tulus. “Aku pengen ada dalam hidup kamu. Bukan cuma dalam waktu yang sama. Bukan cuma di kafe. Tapi beneran… bersama. ”
Kesunyian meliputi mereka. Bukan kesunyian yang kosong, tetapi kesunyian yang sarat makna. Aurellia merasakan matanya mulai hangat. Ia menunduk cepat, seolah bisa menahan sesuatu yang sudah muncul ke permukaan.
Alvaro memperhatikan. “Aku nggak maksa kamu buat jawab sekarang,” katanya cepat. “Aku cuma pengen kamu tahu—aku menyukaimu, Rel. Bukan hanya sesaat. Bukan karena kebiasaan. Tapi karena kamu. ”
Pernyataan itu memecahkan sesuatu di dalam diri Aurellia.
Air matanya mengalir tanpa peringatan.
Alvaro panik seketika. “Eh—Rel? Apa aku salah ngomong? Aku—”
“Enggak,” potong Aurellia cepat, sambil mengusap pipinya. Namun air mata itu tidak mau berhenti. “Maaf… aku nggak ngira. ”
Alvaro berdiri kaku. Tangannya terangkat setengah, ragu untuk menyentuh. “Apa aku bikin kamu sedih? ”
Aurellia menggeleng, tertawa kecil di antara tangis. “Aku bahagia. ”
Satu kata itu membuat dada Alvaro terasa lebih lega.
“Aku bahagia,” ulang Aurellia, suaranya bergetar. “Cuma… aku nggak biasa denger orang ngomong sejujur itu sama aku. Terus terang. Tanpa drama. ”
Ia mengusap wajahnya lagi. “Aku pikir aku bakal siap. Tapi ternyata waktu itu terjadi… rasanya berbeda. ”
Alvaro tersenyum pelan. “Beda bagaimana? ”
“Kayak… akhirnya ada seseorang yang ungkapin apa yang selama ini aku rasain sendirian,” jawab Aurellia lirih.
Ia mengangkat wajahnya, matanya basah, tetapi tatapannya tegas. “Aku juga suka sama kamu, Var. ”
Kata-kata tersebut sederhana. Namun, cukup membuat Alvaro menutup mata sejenak dan menghela napas panjang—merasa lega, seperti seseorang yang baru saja selesai menahan napas dalam waktu yang lama.
"Boleh aku. . . " Alvaro terhenti, menunjuk ke dirinya sendiri.
Aurellia mengangguk.
Alvaro memeluknya. Tidak terlalu ketat, tidak terburu-buru. Sebuah pelukan yang hati-hati, layaknya seseorang yang menyadari betapa rentannya momen itu. Aurellia membalas pelukan tersebut, wajahnya bersandar di dada Alvaro, air matanya membasahi kaus yang dikenakannya.
"Aku nggak ekspek bakal nangis," bisik Aurellia.
"Gapapa," jawab Alvaro pelan. "Justru aku seneng kamu tulus. "
Mereka berdiri dalam keheningan yang lama, hingga tangisan itu mereda dengan sendirinya. Tidak ada yang perlu dikejar. Waktu seolah memberikan kesempatan untuk mereka.
Ketika mereka akhirnya melepaskan pelukan, Aurellia menarik napas dalam-dalam. "Kamu tahu? Sejak awal aku merasakan ada yang berbeda pada dirimu. "
"Berbeda dalam hal apa? " tanya Alvaro.
"Kamu nggak pernah bikin kamu ngerasa harus buru-buru," balasnya. "Dan hari ini. . . kamu juga nggak maksain aku. "
Alvaro tersenyum. "Aku pengen kita menjalani ini tanpa membuat salah satu dari kita ngerasa capek. "
Aurellia mengangguk. "Aku pengen itu. "
Langit mulai gelap saat mereka kembali. Sepeda motor menjadi saksi sekaligus teman. Kali ini, tangan Aurellia melingkar lebih jelas di pinggang Alvaro. Tanpa keraguan. Tanpa setengah hati.
Di depan rumah Aurellia, mereka berhenti. Tidak ada kata-kata yang dramatis. Tidak ada janji yang berlebihan.
"Hati-hati perjalanan pulangnya," ungkap Aurellia.
"Siaaaappp," balas Alvaro. Lalu, setelah ragu sesaat, ia menambahkan, "Aku seneng hari ini. "
"Aku juga," jawab Aurellia, sambil tersenyum—senyum yang masih basah, tetapi utuh.
Malam itu, Alvaro duduk di kamar kosnya, membuka laptop, dan melihat foto-foto Aurellia sekali lagi. Ia tidak melakukan penyuntingan. Ia tidak menambah apa pun. Ia hanya menatap, kemudian menutupnya kembali.
Folder itu ia ganti namanya.
Bukan lagi Rel — sore.
Melainkan: Rel — awal.
Sementara itu, di kamarnya, Aurellia berbaring sambil memeluk bantal, matanya menatap langit-langit. Tangisannya sudah berhenti, namun hatinya masih terasa hangat.
Ternyata begini rasanya ketika diakui, pikirnya. Bukan berapi-api. Melainkan tenang. Aman.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut pada apa yang akan terjadi esok hari—karena hari ini sudah cukup membuktikan bahwa perasaan ini nyata.
Kabar tersebut tidak diumumkan secara resmi, namun entah bagaimana, selalu ada orang yang lebih awal mengetahuinya. Nara adalah yang pertama menyadari perubahan tersebut. Pagi hari setelah Aurellia pulang dengan mata merah tetapi senyumnya sulit untuk disembunyikan, Nara segera duduk di hadapan kakaknya saat sarapan.
“Kak,” ujarnya seraya meminum teh. “Kakak baru aja nangis ya? ”
Aurellia hampir tersedak. “Hah? Enggak kok. ”
“Boong,” Nara tersenyum lebar. “Nangis bahagia. ”
Aurellia menatap adiknya lama, lalu menyerah. “Iya. ”
Nara menepuk meja pelan. “AKHIRNYA. ”
“Pelan-pelan dong,” Aurellia tertawa, tapi pipinya terasa hangat.
“Jadi mas itu orangnya? ” tanya Nara, matanya bersinar. “Mas fotografer itu? ”
Aurellia mengangguk. Nara langsung bersandar pada kursi dengan ekspresi puas. “Pantesan. ”
Bu Dewi tahu tanpa perlu diumpakan. Seperti biasa, ia bisa membaca anaknya dari cara Aurellia yang membantu di dapur dengan lebih semangat, serta cara dia bersenandung kecil saat mencuci piring. Ketika akhirnya Bu Dewi bertanya, suaranya tenang.
“Dia baik? ” tanya Bu Dewi saat memotong bawang.
Aurellia mengangguk yakin. “Baik, Bu. Nggak terburu-buru. Nggak memaksa. ”
Bu Dewi tersenyum lembut. “Itu yang paling penting. ”
Ia tidak menanyakan lebih dalam. Tidak melakukan interogasi. Namun saat Aurellia hendak masuk ke kamar, Bu Dewi menepuk bahunya dengan lembut. “Ibu seneng kalo kamu bahagia. ”
Pernyataan itu cukup membuat Aurellia menahan air mata lagi—kali ini karena rasa lega.
Di sisi lain kota, Roni mendengar kabar tersebut dengan cara khas mereka: obrolan singkat, nada santai, tetapi sangat bermakna.
“Jadi… kalian udah resmi? ” tanya Roni saat bertemu Alvaro di kafe.
Alvaro mengangguk, sedikit malu. “Yoi, Ron. ”
Roni menatapnya beberapa detik, lalu tertawa. “Gue udah nunggu sejak lama. ”
“Apaan anjir ngapain lo nunggu-nunggu gue segala. ”
“Serius,” kata Roni. “Lo keliatan lebih hidup. Lebih… ada. ”
Alvaro mengaduk minuman americanonya. “Gue juga ngerasain. ”
Roni menepuk pundaknya. “Jaga yang ini ya. Jangan terlalu banyak mikir. Jangan terlalu banyak melarikan diri. ”
Alvaro tersenyum. “Gue bakal belajar. ”
Malam itu, masing-masing orang membawa reaksi mereka sendiri—ada yang bersemangat, ada yang tenang, ada yang hanya mengangguk puas. Namun satu hal terasa seragam: tidak ada yang tidak setuju. Tidak ada yang ragu.
Dan bagi Alvaro serta Aurellia, dukungan kecil itu—tanpa perhatian berlebih, tanpa batasan—menjadi dasar yang perlahan menguatkan langkah mereka ke masa depan.