Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ke Desa Nenek
Paman tertua yang dulu begitu perkasa saat mengusir kami, kini hanyalah bayang-bayang seorang pria yang sedang menunggu ajal. Kabar tentang rumah panggung Nenek yang hendak dijual oleh sepupu-sepupuku karena utang judi mereka sendiri, terasa seperti sebuah ironi yang getir.
Selama lima belas tahun aku berjuang untuk membangun benteng di kota, sementara di desa, istana yang dulu menjadi sengketa berdarah itu justru sedang diambang keruntuhan.
"Jangan ke sana, Maya," cegah Ibu saat aku sedang mengemas beberapa helai pakaian ke dalam tas kecil "Tempat itu hanya berisi kenangan pahit. Biarkan saja mereka menjualnya. Itu bukan urusan kita lagi."
Ibu tampak trauma. Baginya, desa itu adalah tempat di mana ia kehilangan harga diri dan suaminya kehilangan semangat hidup. Namun, aku merasakan dorongan yang berbeda.
Aku tidak pergi ke sana untuk menolong Paman karena rasa cinta, aku juga tidak pergi untuk balas dendam dengan cara yang kasar. Aku pergi untuk memutus rantai ketakutan yang masih sering mencekikku saat malam tiba. Mas Aris, dengan kebijaksanaannya yang biasa, memutuskan untuk menemaniku.
"Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi hantu-hantu masa lalumu sendirian," ujarnya singkat. Kami menitipkan Nayla kepada Bayu dan Sari, yang kini sudah menjadi penjaga rumah kami yang paling setia.
Perjalanan ke desa memakan waktu lima jam. Semakin dekat dengan gerbang desa, dadaku semakin terasa sesak. Hamparan pohon jambu monyet yang dulu sering kupanjat masih ada di sana, namun tampak tidak terawat. Dan akhirnya, mobil kami berhenti di depan sebuah rumah panggung yang kayu-kayunya sudah mulai menghitam dimakan usia.
Di teras rumah itu, Paman tertua duduk di kursi roda. Tubuhnya kurus kering, kulitnya yang dulu sering digunakan untuk memaki kami kini tampak kendor dan pucat.
Di sekelilingnya, anak-anaknya yaitu sepupu-sepupuku yang dulu sering merundungku tampak sedang berdebat dengan seorang pria berpakaian rapi yang memegang beberapa lembar dokumen.
"Pokoknya minggu depan rumah ini harus kosong! Ayah kalian sudah menjaminkan sertifikat ini untuk utang kalian di meja judi!" teriak pria berpakaian rapi itu.
Langkah kakiku terdengar tegas di atas tanah kering halaman rumah Nenek. Semua orang menoleh. Sepupu-sepupuku terdiam, mereka menatapku dengan tatapan antara malu, benci, dan penuh harap. Mereka tahu siapa aku, mereka tahu aku adalah Maya yang sukses, Maya yang punya rumah dari hasil keringat sendiri di kota.
"Siapa kalian yang berani menjual rumah Nenekku?" tanyaku dengan suara rendah namun sangat dalam.
Paman tertua menatapku. Matanya yang sayu mulai berair. "Maya... kamu datang..." bisiknya parau.
Salah satu sepupuku maju, mencoba bersikap ramah yang dipaksakan. "May, kamu kan banyak uang. Bantu kamilah. Bayarkan utang kami, atau belilah rumah ini supaya nggak jatuh ke tangan orang lain. Kamu kan sukses di kota."
Aku menatapnya dengan rasa muak yang tak tertahankan. Mereka masih sama. Masih menjadi parasit yang menganggap orang lain sebagai sumber uang. Aku berjalan melewati mereka, naik ke atas rumah panggung itu. Tangga kayunya berderit, suara yang sama yang kudengar saat aku lari ketakutan dari kejaran pria tetangga itu dulu.
Aku masuk ke dalam rumah. Baunya masih sama bau kayu tua dan kenangan yang membusuk. Aku berdiri di ruangan tempat aku dulu sering mengupas bawang sendirian. Di sanalah, di sudut ruangan itu, aku seolah melihat bayangan diriku saat berusia sembilan tahun, sedang menangis dalam diam. "Maya," panggil Aris dari belakangku. Ia menyentuh pundakku dengan lembut. "Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Aku ingin membeli rumah ini, Mas," jawabku mantap.
Aris terkejut. "Untuk apa? Kamu mau tinggal di sini?".
"Bukan. Aku ingin membelinya agar aku bisa merobohkannya," kataku.
Aku tidak ingin rumah ini menjadi tempat bagi sepupu-sepupuku untuk terus bermalas-malasan dan menjadi benalu. Aku juga tidak ingin rumah ini menjadi saksi bisu bagi penderitaan anak kecil lainnya di masa depan.
Aku ingin membeli hak atas tanah ini, mengusir parasit-parasit itu dengan cara yang sah, dan membangun sesuatu yang lebih bermanfaat atau setidaknya, memastikan tidak ada lagi kegelapan yang tersisa di sini.
Aku keluar kembali ke teras. Aku berdiri di depan si penagih utang dan sepupu-sepupuku.
"Berapa sisa utang mereka?" tanyaku pada pria berpakaian rapi itu.
Setelah menyebutkan angka yang cukup besar hampir setara dengan sisa cicilan rumahku yang baru saja lunas aku menatap sepupu-sepupuku.
"Aku akan membayar utang kalian. Sertifikat ini akan jatuh ke tanganku. Tapi dengan satu syarat , kalian semua keluar dari sini hari ini juga. Jangan pernah menginjakkan kaki di tanah Nenek lagi. Dan Paman," aku menoleh ke arah pria tua di kursi roda itu, "Paman akan saya pindahkan ke panti jompo yang layak di kota. Bukan karena saya sayang, tapi karena saya tidak ingin kematian Paman menodai rumah ini lebih jauh lagi."
Suasana mendadak hening. Kebencian di mata mereka berganti dengan ketakutan. Mereka sadar bahwa saat ini, akulah pemegang kendali. Cicilan rumahku di kota memang sudah lunas, tapi hari ini aku baru saja membuka cicilan baru: cicilan untuk membeli kembali kehormatan keluargaku yang dulu mereka injak-injak.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun, aku tidur di desa itu bukan di dalam rumah panggung, tapi di sebuah penginapan kecil di dekat pasar. Aku menatap langit desa yang penuh bintang. Hantu-hantu masa lalu itu masih ada, tapi mereka tidak lagi berani mendekat. Aku sudah menjadi pemilik dari tanah ketakutanku sendiri.
mirisss tpi in sring terjadi... bhkn kita yang membantu tak ditengok sma skli..